Bab 09

1016 Kata
09 Sepanjang hari itu Bryan lebih banyak diam. Pikirannya terpusat pada ucapan Odettis yang membuat Bryan kesal. Sudah dua kali hubungan mereka putus, lalu menyambung kembali. Namun, kali itu sang duda sudah lelah dan enggan membujuk Odettia, seperti yang dulu dilakukannya. Malam kian larut, tetapi mata Bryan tak jua terpejam. Lelaki berkaus merah itu akhirnya bangkit duduk. Dia mengamati sekeliling, sebelum beringsut ke tepi kasur dan menjejakkan kaki ke sandal. Sekian menit berlalu, Bryan telah berada di ruang santai. Dia duduk di kursi panjang sembari memandangi langit yang dipenuhi jutaan bintang. Ingatan Bryan mengembara ke beberapa tahun silam. Dia merunut dari saat percerainnya dengan Dewinta. Kemudian hati Bryan mengembara dari satu perempuan ke yang lainnya. Sebelum Odettia, sosok Michelle, kembali melintas dalam ingatan Bryan. Tidak seperti saat bersama Odettia yang selalu berakhir dengan pertengkaran, hubungan pertemanan antara Bryan dan Michelle masih terjalin cukup baik. Kendatipun Michelle telah menikah dan memiliki anak sendiri, perempuan tersebut masih datang berkunjung untuk menjenguk Karin dan Lucky. Tentu saja dia hadir bersama suami dan anaknya. Setelah hubungannya dengan Michelle berakhir 4 tahun silam, Bryan menjalin kasih dengan Odettia. Namun, hanya 8 bulan mereka bersama, kemudian putus. Selanjutnya, dua perempuan lain melintas dalam hidup Bryan. Hingga dia kembali menjalin kasih dengan Odettia, yang ternyata harus kandas untuk kedua kalinya. Bryan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia lelah untuk mencari sosok istri yang bisa menyayangi kedua anaknya dengan setulus hati. Pria berhidung bangir tersebut berencana untuk meminta dicarikan jodoh pada ibunya, saat Bryan dan anak-anaknya berkunjung ke Bogor, menjelang lebaran nanti. Ibu Bryan, Gemala, kehilangan suaminya saat masih muda. Kala itu Bryan berusia 8 tahun dan Gemala fokus membesarkan putranya sendirian. Bryan berusia 11 tahun ketika Gemala bertemu dan jatuh hati pada Hendra, seorang duda beranak satu. Setahun kemudian mereka menikah, setelah sebelumnya Gemala berpindah keyakinan menjadi seorang muslim. Akan tetapi, Gemala dan Hendra tidak memaksakan jika Bryan harus mengikuti agama mereka. Keduanya membiarkan Bryan tetap menjadi umat Kristiani sesuai dengan agamanya sejak lahir. Bryan sempat ikut orang tuanya menetap di Jepang, hingga dia selesai jadi sarjana. Kemudian Bryan dan keluarganya kembali ke Indonesia. Namun, setahun kemudian Bryan ditugaskan ke Sydney oleh perusahaannya. Di kota itulah Bryan berjumpa dengan Dewinta yang tengah menyelesaikan kuliah pascasarjana, sekaligus bekerja di perusahaan yang sama jenisnya dengan tempat kerja Bryan. Keduanya hanya setahun lebih menjalin kasih, kemudian mereka menikah. Pada awalnya rumah tangga Bryan dan Dewinta berjalan lancar. Namun, semuanya berubah setelah Dewinta melahirkan Lucky. Dewinta terlibat cinta terlarang dengan bosnya yang seorang duda. Kondisi Bryan yang saat itu belum berlimpah materi, menjadikan Dewinta memutuskan untuk bercerai dan meninggalkan Bryan dengan dua anak yang masih kecil. Saat itulah Bryan bertemu dengan Aruna di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka jadi akrab dan Bryan banyak dibantu Aruna serta keluarganya. Panggilan seseorang dari belakang mengagetkan Bryan. Dia spontan menoleh dan tertegun melihat Angga menyambangi sambil membawa ponsel. "Bang Wirya nelepon. Ada hal penting," cakap Angga sembari memberikan ponselnya pada sang bos. Bryan mengambil benda itu dan mendekatkannya ke telinga kanan. "Ya, Wir?" tanyanya. "Mas, aku dapat kabar dari ketua sekuriti proyek Kensington, kalau ada kelompok preman yang mendatangi mereka, sekitar satu jam lalu," terang Wirya. "Apa? Kok, nggak ada yang laporan ke aku?" "Dia nelepon Mas, tapi nggak diangkat. Ke Henley juga sama." "Henley lagi di Brisbane. Nanti kutelepon dia buat meluncur ke Kensington." "Satu lagi, Mas." "Ya?" "Aku sudah tahu, kenapa Tarendra bisa bekerja di Palmer Grup." "Ehm, gimana?" "Dia nolong Edric Palmer yang mau dirampok di Bali, sekitar bulan Oktober. Lalu, Tarendra diajak kerja ke Australia. Dari ketiga kota pilihan, yaitu Sydney, Melbourne dan Canberra, Tarendra milih Sydney." "Berarti dia sudah tahu kalau Sekar sering bolak-balik ke sini." "Betul. Apalagi Mbak Sekar selalu update status tengah berada di mana. Tarendra pasti jadi pengikut rahasia." "Ehm, ya. Kamu benar. Sekar memang hobi update lagi di mana. Kecuali saat di unitnya." "Mungkin Mas bisa mengusulkan supaya Mbak Sekar mengurangi hobi itu. Maksudku, agar Tarendra nggak tahu berbagai rutinitasnya." "Kamu ngomong ke Heru. Dia kakaknya. Aku bukan siapa-siapa buat Sekar." "Aku tahu kalau kalian pernah menginap di hotel. Bukan dari Chatur dan Angga, mereka nggak ada ngelaporin tentang itu." "Kami beda kamar." "Jangan bohong, Mas. Aku tahu semuanya." "Kamu hanya menggertak, dan aku nggak mempan diintimidasi." Gelakak Wirya menguar dari seberang telepon. Sedangkan Bryan mengulum senyuman. Dia tidak tersinggung, karena tahu jika Wirya hanya bercanda. *** Hari berganti. Siang itu, Sekar baru selesai rapat dengan klien di salah satu restoran di pusat kota. Sebab hendak berbelanja oleh-oleh buat Tania, Sekar mengajak Chatur dan Siska untuk menuju pusat perbelanjaan. Puluhan menit berlalu, mereka tengah berada di salah satu toko ketika seseorang memanggil Sekar. Perempuan tersebut terdiam sesaat, sebelum memutar tubuh dan memandangi lelaki berkemeja krem yang sedang menghampirinya. "Apa kabar?" tanya Lewis Marinus Smith sembari menyalami Sekar. "Kabarku baik. Terima kasih," jawab Sekar seraya tersenyum. "Sedang berbelanja?" "Ya. Aku membeli oleh-oleh untuk keponakan dan keluargaku." "Kamu mau pulang ke Indonesia?" "Yups." "Kapan?" "Tiga hari lagi." "Apa aku boleh ikut?" Sekar membulatkan matanya. "Are you sure?" "Yes. Aku sudah lama tidak berkunjung ke Indonesia. Terakhir, 3 tahun lalu." "Ehm, okay. Tapi, mungkin aku tidak bisa sering-sering mengajakmu jalan. Hanya bisa di akhir pekan, karena aku masih harus bekerja." "Tidak apa-apa. Aku bisa jalan-jalan sendiri. Maksudku, dengan pengawal." Lewis menunjuk kedua pria berbadan tinggi besar di depan toko. "Aku masih belum bisa lepas dari mereka, sama sepertimu," terangnya. Sekar mengangguk paham. Dia teringat peristiwa setahun silam, saat Lewis dan sopirnya dihadang sekelompok orang, kemudian mereka dikeroyok hingga babak belur. Semenjak itu, Lewis menyewa bodyguard, tetapi bukan dari PBK. "Apa belanjamu sudah selesai?" tanya Lewis. "Belum. Aku mau mencari hadiah buat sepupuku. Dia akan menikah awal bulan April nanti." "Sepupumu, yang mana?" "Maudy. Kalian pernah bertemu beberapa kali." "Oh, i see." Lewis memindai sekitar, kemudian dia berkata, "Kalau begitu, aku juga mau memberikannya hadiah. Dan kamu harus membantuku memilihkannya." Sekar mengangguk mengiakan. Keduanya jalan bersisian, dengan diikuti keempat ajudan. Mereka menyusuri lorong panjang, sebelum turun satu lantai menggunakan eskalator. Dua orang pria yang sejak tadi mengawasi Sekar, memotret kelompok tersebut untuk dijadikan bahan laporan pada bos. Kemudian mereka mengikuti langkah kelompok itu dari jarak aman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN