10
"Apa cuma perasaanku saja, ya? Kayak ada yang menguntit kita," tukas Siska sembari mengecek dari spion kiri.
"Memang ada, tapi itu bukan penjahat," balas Chatur.
"Maksudnya, tim pengintai Bang W?"
"Ya. Tapi aku nggak kenal. Mungkin anak-anak baru."
"Abang tahu? Aku dan teman-teman bodyguard lady, punya pikiran kalau Bang W merekrut orang-orang pengintai, tapi dilatih diklat sendiri, dan hanya para senior yang jadi pengajarnya."
"Itu aku tahu. Tim pengajarnya adalah para Bapak lapis satu, Bang Varo dan Bang W. Sistem diklatnya beda. Bukan kayak kita."
"Terus, gimana?"
"Sebenarnya tim pengintai itu para peserta diklat level dua juga. Tapi mereka nggak ditempatkan di unit kerja, melainkan langsung masuk kelas materi di mess rumah Pak Sultan."
"Oh, pantas saja, teman-teman di kantor pusat nggak ada yang tahu, siapa saja anggota tim rahasia."
"Yang orang lama cuma Yahya, Izzan, Dani dan Feri. Selanjutnya aku nggak tahu. Semuanya orang-orang baru."
"Aku kenal Bang Yahya dan Bang Izzan. Yang dua lagi, cuma dengar nama dan nggak tahu orangnya yang mana."
"Kalian ngomong apaan?" tanya Sekar sembari memajukan badannya hingga mendekati celah antara dua kursi depan.
"Tim pengintai, Bu," jelas Chatur.
"Apa mereka lagi membuntuti kita?"
"Ya. Mobil SUV marun."
Sekar manggut-manggut. "Wirya membuktikan janjinya untuk menjagaku secara maksimal."
"Betul. Ke semua bos, Bang W juga begitu. Bahkan, menurutku ke Pak Bryan dan seluruh keluarganya, Bang W over protektif."
"Itu karena mereka sering bersinggungan dengan lawan bisnis."
"Iya, sih. Apalagi sekarang di proyek Kensington, lagi tegang."
"Kenapa?"
"Biasa, kelompok preman mau meras. Untungnya pekerja dan sekuritinya pada sangar. Enggak sampai perang, cuma saling pelototan."
Sekar mendengkus. "Di negara mana pun pasti ada preman. Padahal pembangunan proyek artinya bisa membuka lapangan pekerjaan baru. Harusnya mereka ngelamar dan kerja halal."
"Masih banyak orang-orang sumbu pendek. Mereka nggak mikir, kalau kerja itu artinya mendapatkan penghasilan jangka panjang. Kalau jadi preman, duit nggak seberapa, dan ujung-ujungnya jadi foya-foya."
"Betul. Mentalnya lemah," sela Siska. "Di Indonesia, biasanya karena pola asuh yang salah. Anak dimanjakan dan nggak tahu caranya berjuang," lanjutnya.
"Itu juga jadi pikiranku. Mas Heru sibuk kerja. Tania cuma diawasi Ibu yang manjain dia luar biasa," keluh Sekar.
"Tania hatinya baik, Mbak. Dia paham mana yang benar dan salah. Walaupun Pak Heru nyaris nggak punya waktu, tapi Tania punya orang tua asuh yang banyak," timpal Siska.
"Ya, aku bersyukur banget punya Adik sepupu yang sigap membantu mengawasi Tania," ungkap Sekar. "Dia juga punya orang tua angkat yang baik. Renata dan Mas Bas, sayang banget ke Tania. Begitu juga dengan Mas Tio, Koko Dante dan Hadrian," lanjutnya.
"Kalau nggak ada mereka dan Aric, aku nggak tahu gimana nasib Tania. Aku nggak bisa selamanya merawat dia, karena aku juga ingin memiliki keluarga sendiri," papar Sekar. "Aku, tuh, kesal, Mas Heru masih gagal move on dan nggak nikah-nikah!" sungutnya.
"Pak Heru cinta mati ke almarhumah istrinya," celetuk Chatur.
"Iya, tapi dia juga harus melanjutkan hidup. Apalagi ada Tania yang butuh Mama baru. Jangan ngandalin aku, Ibu, Maudy, Tari dan Naysila buat jadi Mama pengganti."
Sementara itu di tempat berbeda, orang yang tengah diperbincangkan, sedang mengusap telinganya yang berdengung. Heru penasaran siapa yang telah menggosipkannya, hingga dengungan itu berlangsung cukup lama.
Heru menengadah ketika namanya dipanggil Benigno, yang tengah memimpin rapat di ruang pertemuan kantor Janitra.
"Melamun terus," ledek Benigno sembari duduk ke kursinya.
"Telingaku berdengung. Mungkin ada yang lagi ngomongin," jawab Heru.
"Jangan-jangan, itu cewek bayaran yang belum kamu transfer, Ru," seloroh Baskara.
"Apa? Mas Heru punya sugar baby?" tanya Ethan.
"Daripada sugar baby, mending sugar istri. Uang yang kita kasih akan jadi pahala buat kita," sela Tio.
"Ustaz Tio sedang khotbah," kelakar Ivan.
"Kalau Mas Tio lagi serius gitu, aku merinding," papar Hadrian.
"Kok, merinding?" tanya Rahagi.
"Auranya beda," jelas Hadrian.
"Level Tio sudah beda dengan kita," canda Andra.
"Kita baru nyampe lobi, Tio sudah di lantai 7," cetus Anto.
"Kalian merendah. Aku belum ada apa-apanya dibandingkan Mas Heru," tukas Tio.
"Aku, tuh, penasaran. Gimana caranya Mas Heru kuat nggak anu selama bertahun-tahun?" desak Theo. "Aku tiap pulang dinas, bawaannya pengen langsung nyeret istri ke kamar. Padahal cuma misah seminggu," keluhnya.
"Bedalah. Dia nggak ada lawan tanding, jadi menguatkan hati. Paling jadinya nganu di toilet," timpal Benigno yang langsung diteriaki rekan-rekannya.
"Aku ngomong apa adanya. Itu jalan satu-satunya dan jelas aman dari penyakit menular," imbuh Benigno sembari memasang tampang serius. "Sekaligus penghematan, supaya rekening nggak jebol harus bayar orang," sambungnya.
"Ben, omonganmu memang benar. Tapi itu menohok hatiku!" desis Heru.
"Ru, jangan-jangan, kamu impoten," ledek Baskara.
"Ngawur!" geram Heru.
"Masih bisa tegak, nggak?"
"Iyalah."
"Habisnya aneh. Bisa kuat gitu."
"Otakku nggak m***m kayak kamu!"
"Level mesumku sudah turun. Sekarang Dante nomor satu."
"Heh! Sembarangan! Aku alim!" seru Dante.
"Sesama penyebar benih, jangan berantem," cibir Tristan yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Tristan sok suci. Padahal dulu, dia juga petualang cinta," cela David.
"Sejak ketemu Natasha, aku beneran tobat, Dav. Apalagi anakku perempuan. Ngeri, nanti karmanya kena ke dia, kalau aku mempermainkan hati perempuan," kilah Tristan.
"Dengar, tuh, Ru," cakap Baskara yang menyebabkan sahabatnya tersebut merengut.
***
Kehadiran Bryan di unitnya, malam itu, mengejutkan Sekar. Dia bertambah bingung ketika pria tersebut mengajaknya bicara di tempat lain. Supaya obrolan mereka tidak didengar para ajudan.
Sekian menit terlewati, keduanya telah berada di salah satu kafe lantai 1 gedung itu. Sekar mendengarkan penjelasan Brian sambil sekali-sekali mengangguk paham.
Percakapan itu terjeda ketika pelayan kafe menghidangkan pesanan. Setelah pelayan pergi, Bryan dan Sekar menyeruput minuman masing-masing. Lalu, mereka melanjutkan perbincangan.
"Apa Odettia tahu tentang itu, Mas?" tanya Sekar.
"Enggak. Aku nggak ada ngomong apa pun. Karena dia langsung menuduhku kayak gitu," terang Bryan.
"Ehm, kalau Mas masih cinta, mending datangi dia dan minta maaf."
Bryan menggeleng. "Percuma. Hubungan kami nggak akan bisa diteruskan."
"Kenapa?"
"Dia nggak suka anak-anak. Maunya aku hanya buat dia."
Sekar menaikkan alisnya. "Kok, gitu? Harusnya dia bisa menerima Mas satu paket utuh."
Bryan mengangkat bahunya. "Entahlah. Tapi itu yang menghambatku untuk melamarnya."
"Terus, sekarang, gimana?"
"Aku nggak mau mikirin dia. Harus fokus sama kerjaan dan anak-anak."
"Ya, itu yang terbaik."
Bryan mengamati perempuan berbaju biru di kursi seberang. "Makasih, sudah mau mendengarkan curhatku."
"Sama-sama, Mas."
"Aku nggak mungkin cerita tentang ini ke Aruna. Dari dulu dia nggak suka sama Odettia. Ke Vlorin, aku kurang dekat. Cerita ke Bu Rianti, aku bakal diceramahin panjang lebar."
Sekar mengulaskan senyuman. "Ibu-ibu memang begitu. Ibuku juga sama."
Bryan turut tersenyum. "Kamu juga nanti akan seperti itu."
"Ehm, mungkin iya, mungkin juga tidak."
"Maksudnya?"
"Aku nggak tahu, apa bisa menemukan pria yang bisa memahamiku."
"Pasti ada."
"Nyarinya itu, di mana, coba? Sudah mutar-mutar dari Jakarta, Bandung, Kediri, sampai sini. Nggak ketemu juga."
"Mau sama orang sini? Maksudku, bule."
"Aku lebih suka orang kita. Biar penyesuaiannya gampang."
"Sama aku, mau?"
Sekar tertegun sesaat. "Kita punya perbedaan yang paling krusial. Yaitu, agama. Aku nggak mungkin berpindah keyakinan, Mas juga, kan?" desaknya yang menjadikan Bryan terdiam.