Bab 29

1534 Kata

Aku menarik napasku dalam-dalam, dadaku ini rasanya sangat sesak. Bunda dan Ayah yang duduk di hadapanku, memandangku dengan tatapan bersalah mereka. Bunda menggenggam tanganku dan mengusap punggung tanganku dengan lembut. Sementara Ayah, beliau tengah memangku Rafa yang tengah asik dengan dua buah jeruk mandarinnya. Aku tidak perlu khawatir Rafa akan mendengar perbincangan kami, karena putraku itu jika sudah fokus terhadap sesuatu, dia tidak akan memedulikan lingkungan sekitarnya. Andai saja terjadi gempa, mungkin saja putraku itu tidak akan memedulikannya. "Bunda dan Ayah minta maaf Len, karena selama ini udah nyembunyiin kebenarannya dari kamu," ucap Bundaku mengawali pembicaraan kami. Aku menatap beliau, jujur saja aku merasa kecewa, tapi apa boleh buat? Semua sudah terjadi, dan aku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN