"Ayah! Rafa kangen!" Putraku langsung turun dari gendongan Pak Adam dan dengan cepat berlari ke arah si Lele biadab. Dua laki-laki berparas mirip itu saling memeluk. Aku dapat melihat binar kebahagiaan dari sorot mata keduanya. Bahkan, aku dapat melihat satu bulir kristal jatuh dari sudut mata si Lele biadab. Apakah dia merindukan putraku? Atau sangat merindukan putraku? Atau, ini hanya kamuflasenya agar Rafa betah berdekatan dengannya, dan perlahan-lahan dia akan mengambil Rafa dari sisiku? Oh, licik sekali dia. Di luar itu semua, aku merasa sangat kesal, hampir saja aku mengumpat karena kejadian ini. Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Kenapa laki-laki itu ada di rumah ini? Oh iya, ini kan rumah orang tuanya jadi wajar kalau dia ada di sini. Ya Tuhan, akan seperti apa jadinya? Apa sem

