Aku menidurkan Rafa di ranjang kecil milik kami. Putraku ini sudah terlelap dengan pulasnya. Kemudian, aku melirik jam kecil yang melingkar di pergelangan tanganku, ternyata waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam. Hmm, cepat sekali waktu berlalu, sungguh tidak terasa.
Lalu, aku pun bangkit dari dudukku, dan berjalan menuju dapur. Sebentar lagi jam makan malam, dan Rafa pasti segera terbangun.
Aku mencari-cari bahan makanan, yang seingatku kemarin aku taruh di atas meja yang berada di dekat kompor. Aku menaruhnya di baskom berukuran sedang berwarna merah muda.
"Itu dia," gumamku saat melihat baskom tersebut.
Aku pun mengambil baskom itu dan memperhatikan isinya satu-persatu. Aku mendesah lirih, saat melihat beberapa sayuran yang ada di baskom itu sudah layu, bahkan ada yang daunnya sudah menguning siap membusuk.
Andai saja aku memiliki kulkas, mungkin saja sayuran ini akan bertahan lebih lama. Dan aku tidak perlu membuang uang lebih banyak, untuk membeli sayuran baru yang masih segar.
Tapi, bagaimana mau membeli kulkas, lha wong tegangan listriknya saja tidak stabil. Untuk menyetrika dan menonton tv secara bersamaan saja, tegangan listrik di rumah ini tidak mampu, dan lebih sering lagi sampai sambungan listriknya terputus.
Hah, ya sudahlah. Memang tidak seharusnya aku membeli kulkas. Lagipula, uang dari mana tho Al, Al. Makan saja sering kesusahan. Mau gaya-gayaan membeli kulkas, lihat isi dompetmu dulu lah. Cukup ndak belinya? Enggak kan?
Aku menghela napasku secara kasar, hal ini kulakukan untuk menghentikan gerutuan hatiku yang kerap mengeluh ini.
Aku memperhatikan baskom itu, mencari sayuran yang kiranya masih baik untuk dimakan. Hanya ada beberapa buah tomat dan mentimun serta beberapa tangkai kangkung saja. Sekiranya, masakan apa yang bisa aku masak dengan bahan seminim ini?
Sambal tomat dan mentimun? Rafa tidak menyukai makanan pedas. Bisa-bisa kalau aku memberi makan anakku dengan sambal, perut anakku itu akan sakit. Dan aku tidak sanggup melihat wajah kesakitannya.
Ah, aku tahu. Aku tumis saja kedua bahan ini. Seingatku, Bunda pernah membuatkan aku tumis tomat, tapi tomat yang dulu Bunda pakai, itu tomat muda bukan tomat tua seperti tomat ini. Tapi tidak masalah, aku bisa memodifikasi masakan ini, nantinya. Aku juga bisa mencampurnya dengan mentimun, semoga saja hasilnya akan enak.
Aku meletakkan baskom itu di meja, aku memilih sayur yang masih bisa dimasak. Aku pun meletakkan sayur-sayur yang masih layak, ke dalam baskom satunya lagi, yang sudah kupersiapkan tadi.
Aku hendak mengambil beras yang ada di gentong, untuk ditanak. Aku memekik senang, saat netraku melihat satu butir telur berada di gentong berasku itu. Ternyata telur sisa kemarin masih ada. Syukurlah, paling tidak aku bisa memenuhi asupan gizi putraku.
Dengan cekatan aku mulai memasak bahan-bahan makanan yang sederhana itu. Aku harap Rafa tidak terbangun terlebih dahulu sebelum aku selesai masak. Bukankah aku pernah bilang jika putraku itu tidak suka kalau terbangun tanpa ada seseorang di dekatnya, jadi sebisa mungkin aku harus menyelesaikan prosesi memasakku.
****
"Bunda, Rafa haus." Aku membalikkan badanku ketika indera pendengaranku menangkap suara khas anak kecil yang baru terbangun dari tidurnya. Di ambang pintu dapur, Rafa tengah membawa guling kecil yang is peluk dengan kedua tangannya. Aku meletakkan mangkok kecil yang saat ini aku pegang ke atas meja. Aku berjalan mendekati pangeran tampanku itu, seulas senyum aku tampilkan saat sudah berada di hadapannya.
"Rafa haus, mau minum apa? Teh? s**u?" Tanyaku seraya membelai surai halusnya.
"s**u, Bun. Eh, nggak jadi. Teh aja," jawabnya dengan tangan yang mengucek-ucek matanya.
"Ya udah, Bunda buatin, Rafa duduk di sini dulu ya." Aku yang sebelumnya sudah mengangkat tubuh Rafa, kemudian mendudukkan Rafa di kursi kecil, satu-satunya kursi yang ada di area dapur ini.
Aku pun membuatkan Rafa satu gelas teh, setelah dua menit kurang teh yang aku buat pun akhirnya jadi. Aku meletakkan gelas itu beserta satu lemperan kecil ke hadapan Rafa. Mata Rafa berbinar senang, putraku ini bukan tipe anak yang menyukai s**u atau semacamnya, ia lebih menyukai teh.
Menurut anak kecil yang usianya masih kisaran lima tahunan ini, teh itu memiliki aroma yang unik, yang bisa membuat pikiran menjadi tenang. Aku bingung, darimana putraku ini mendapat pengetahuan sedemikian itu? Aku rasa di playgroupnya tidak dijelaskan tentang pengetahuan itu? Lalu, kenapa otaknya bisa secerdas ini?
"Alomanya enak, Bun. Rafa suka," katanya.
Aku kembali tersenyum, kemudian tanganku berpindah mengelus surai hitamnya. Aku memperhatikan Rafa yang tengah meniup air teh agar suhunya menurun atau minimal menjadi hangat.
"Bunda, Rafa boleh nanya nggak?" Tanya Rafa setelah menelan satu tegukan air teh itu.
"Iya sayang, mau nanya apa?"
"Gini Bun, kan bebelapa hali yang lalu, Bu Gulu nanya apa nama-nama binatang. Telus, Bu Gulu ngasih gambal hewan-hewan kecil sama hewan-hewan besal. Bu Gulu nyuluh masang-masangin gambalnya. Bu Gulu nyuluh Rafa masangin gambal hewan-hewan itu sama gambal induknya." Rafa menghentikan ucapannya dan kembali menyeruput tehnya.
"Terus?" Tanyaku penasaran.
"Bunda, Bunda, 'kan di gambal yang Bu Gulu kasih ada gambal kepiting sama paus. Kalo di Spongebob, kepiting itu Tuan Klab, telus paus itu anaknya Tuan Klab, Peall. Rafa pasangin kepiting sama paus, tapi temen sekelas Rafa banyak yang ketawa. Emangnya Rafa salah apa ya?" Tanyanya yang sudah berganti dengan raut wajah penasaran.
Polos sekali putraku ini? Aku sendiri sebenarnya juga tidak mengerti, kenapa seekor kepiting bisa memiliki anak seeokar paus. Pertanyaan mengenai hal itu, selalu muncul di otakku setiap aku menonton kartun yang pemeran utamanya sebuah spons itu. Begitupun, dengan pertanyaan, apa pekerjaan Patrick? Dari mana Patrick mendapat uang? Sementara, ia tidak terlihat bekerja.
"Mereka tertawa karena jawaban Rafa masih salah, nggak ada yang namanya kepiting punya anak seekor paus. Rafa tahu kan, kalo paus itu ukurannya besar, dan kepiting itu kecil? Apalagi, ukuran kepiting dewasa malah lebih kecil dari ukuran paus muda." Rafa mengangguk kecil mendengar ucapanku.
"Tapi Bun, kok Peall sama Tuan Klab ukulannya hampil sama? Itu kenapa?" Tanyanya lagi, aku menghela napasku. Ini tidak akan selesai dalam waktu singkat.
"Rafa Sayang, Pearl sama Tuan Krab itu cuma kartun, nggak sungguhan. Itu emang disengaja mengenai ukurannya yang hampir sama, malahan plankton itu sebenarnya nggak kelihatan kalo di dunia nyata, tapi di Spongebob disengaja ukurannya diperbesar. Itu tujuannya semata-mata untuk dijadikan hiburan. Sekarang Rafa udah ngerti kan?" Jelasku diakhiri dengan sebuah pertanyaan.
"Jadi gitu, ya Bun? Rafa belum paham." Katanya seraya mengerucutkan bibirnya lucu. Aku menjawil puncak hidungnya yang mancung.
"Nanti kalo Rafa udah besar, Rafa pasti mengerti. Mending Rafa makan malam dulu, itu dibahas besok-besok aja, ya?" Aku mengusap dahi Rafa yang mengkerut. Putraku ini mendesah kecewa, tapi tak urung menganggukkan kepalanya.
Aku pun bangkit dan mulai menyiapkan makan malam untukku dan juga Rafa.
****
Aku menghela napasku dengan lega. Syukurlah, aku belum terlambat. Setelah mengantar Rafa ke playgroup aku langsung meluncur ke kantor. Aku menatap pintu lift yang hendak tertutup, secepat kilat aku berlari menuju lift itu.
Kalaupun aku bisa menunggu hingga lift kembali turun, aku pasti akan menunggu. Tapi masalahnya, lift itu akan turun dengan lama, sementara waktuku tidak lah banyak. Kemarin saja saat aku hendak ke lantai bawah waktu pengenalan lingkungan kantor, aku harus menunggu lift ini sekitar sepuluh menit. Dan aku takut hari pertamaku bekerja akan kacau karena keterlambatanku.
Aku kembali menghela napas legaku, ketika ada tangan besar yang menghentikan pintu lift itu. Buru-buru aku melangkahkan kakiku memasuki lift.
"Terimakasih Pak ... Adam," kataku mengucap terima kasih pada orang yang ternyata Pak Adam itu. Pak Adam menyunggingkan senyum tipisnya seraya mengangguk.
Merasa canggung, aku segera berjalan munuju belakang Pak Adam. Aku berjalan menunduk karena masih merasa canggung dengan sekelilingku.
"Hati-hati, Nona." Aku mendongak, ternyata aku sudah menabrak punggung seseorang, seorang laki-laki lebih tepatnya. Laki-laki itu membelakangiku, aku rasa dia tengah menelpon seseorang. Terbukti dengan sebuah ponsel yang masih menempel di telinganya.
Aku baru sadar, jika di dalam lift ini hanya ada kami bertiga. Maksudku, aku, Pak Adam, dan laki-laki yang baru aku tabrak tadi.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja." Aku berkata lirih. Mataku memandang ke lantai lift.
"Ya, tidak ap--- Alena?"
Aku mendongakkan kepalaku memandang laki-laki tadi. Mataku membola saat melihat wajahnya yang begitu aku kenali. Aku mendesah lirih, tak mampu berucap. Ingatkan aku jika diruangan ini, bukan hanya ada aku dan laki-laki sialan ini.
"Loh, Alena, Leon, kalian saling kenal?" Suara Pak Adam membuatku dan laki-laki itu menoleh ke sumber suara.
Suasana hening tercipta seketika. Tak ada yang buka suara antara aku dan laki-laki itu. Hingga...
Grek!
Hingga goncangan keras yang terjadi pada lift ini, yang membuat kami bertiga terduduk ke lantai. Aku meraskan keram dibagian pinggulku.
Apa yang terjadi?