BAB 11

950 Kata
"Kamu?" Katanya hampir seperti bisikan, matanya sedikit membola menatapku. Begitupun dengan diriku yang juga terkejut. "Laki-laki itu? Leon?" Aku hanya mampu mendesis. "Alena?" Suara itu mengalun dengan merdunya di telingaku, aku menatap laki-laki yang ada di hadapanku ini dengan nyalang. Laki-laki yang sudah membuat hidupku menderita. "Alena? Kamu kok ada di sini? Dan anak itu, anak kamu? Anak kamu sama siapa? Kamu sudah menikah lagi? Atau anak kamu sama dosen di kampus kamu? Kamu kan wanita murahan." Tanyanya bernada santai, seulas senyum sinis terangkat di sudut bibirnya, melihatnya yang mengesalkan seperti ini membuat emosiku semakin meledak. Apa dia bilang tadi? Anakku dengan dosenku? Bahkan aku saja tidak melanjutkan pendidikanku. Dan ya, aku murahan? Murahan siapa, dia atau aku, yang sebenarnya menjadi korban ini. Dasar laki-laki tidak berperasaan, dia yang menebar benih, tapi dia yang tidak mau mengakui. "Hei bocah, pasti Ayahmu laki-laki tua berjenggot, dengan kepala botak dan perut yang membuncit, kan?" Katanya yang kali ini laki-laki itu tunjukan pada Rafa. Rafa yang berada di gendongan Pak Ujang mengerutkan dahinya bingung. "Om gimana sih? Masa Bunda mau sama kakek-kakek tua, lagian kata Bunda, Ayah Rafa itu ganteng. Om kok bodoh banget, kayak Patlik. Patlik aja kadang pintel, meski dibantu Spongebob. Oh ya, Om juga kasal, ngeselin kayak Dilux di Tobot. Untung Tobot-nya kelen, bikin Rafa suka." Rafa mengerucutkan bibirnya, sebenarnya ini moment lucu, dan bisa saja aku tertawa. Namun, tawa itu seakan menghilang ketika mataku menangkap bayangan wajahnya. Kembali emosi menguasai diriku. "Wow, kamu masih anak kecil tapi berani bantah omongan orang yang lebih tua. Bener ya, kamu pasti anak haram!" Ucap laki-laki itu, aku terlalu malas menyebut namanya. Jangankan menyebut, membatin namanya saja aku tidak berniat. Tapi, kenapa ekspresi wajahnya seperti tidak ikhlas gitu, bilang kalau Rafa anak yangㅡaku tidak sanggup menyebutnya. Atau mungkin ia tahu kalau anak yang tengah berdebat dengannya itu, adalah darah dagingnya sendiri? Aku menyesal sempat menyebut namanya tadi, andai saja waktu dapat diputar ulang, aku tidak akan mau bersusah payah menyebut namanya. Laki-laki yang ada di hadapanku itu, sungguh membuat emosiku mudah sekali memuncak. "Om udah tua? Rafa balu sadal, pasti sebental lagi pelut Om bakal membesal, lambut Om botak, telus dagu Om banyak bulu-bulunya," celetuk Rafa yang lagi-lagi sangat menggemaskan. Sadar tidak sadar, sebenarnya laki-laki ini sudah menyebut dirinya sendiri sebagai laki-laki tua, karena dialah ayah dari bocah yang diajaknya berdebat itu--putraku, Rafa. Aku ingin tertawa, namun lagi-lagi amarah menguasaiku, saat mataku tanpa sengaja melihat wajahnya. "Maaf saya menyela. Apa Anda bilang tadi? Murahan? Ya, saya memang murahan, tapi setidaknya derajat saya lebih tinggi dibanding Anda, yang sama sekali tidak mau bertanggung jawab. Anda boleh menghina saya, tapi jangan sekalipun Anda menghina putra saya. Sekali lagi saya tegaskan, anak saya bukan anak haram Pak Leon yang terhormat, permisi dan semoga kita tidak bertemu lagi!" Kataku yang sudah tidak tahan dengan wajah belagunya, jelas sekali terdengar nada marah di dalam kalimat yang baru aku ucapkan ini. Dapat aku lihat, senyum sinis di wajah laki- laki yang ada di hadapanku ini memudar seketika. Laki-laki yang sebenarnya malas aku sebut namanya itu terdiam membeku dengan wajah anehnya, yang aku duga tengah terkejut. Ah, aku menyesal kembali menyebut namanya. Huh, menyebalkan sekali. Dia laki-laki yang bodoh, sama dengan yang diucapkan Rafa barusan. Anakku memang yang terbaik, lihat saja wajah menggelikannya itu. Baru sadar, heh? Dengan mudahnya dia bilang darah dagingnya sendiri anak haram, dengan mudahnya dia memarahi Rafa-ku. Dia pikir dia siapa? Ayahnya? Tidak akan aku biarkan dia menjadi Ayah putraku, meskipun kenyataan menyebutkan, jika dia ayah biologis putraku. "Apa maksud kamu?" Itu tidak seperti pertanyaan, karena yang aku lihat wajahnya berubah panik. Entahlah, aku tidak mengerti. Aku meliriknya sinis, tanpa membalas ucapan dengan nada bergetarnya itu, aku mengajak Pak Ujang yang tengah menggendong Rafa memasuki mobil Ayah. Aku tidak peduli dengan laki-laki tak bermoral itu. Aku sempat bingung, kenapa aku bisa mencintainya dulu? Dan kenapa laki-laki ini bisa menjadi guru, yang harusnya mencotohkan hal positif pada muridnya? Pak Ujang yang bingung pun, tanpa bertanya-tanya mengikuti perintahku, kami memasuki mobil. Rafa pun sudah beralih ke gendonganku, kepalanya ia senderkan di bahuku, aku tahu anakku ini tengah menahan tangis. Biarpun ia belum mengerti dengan kejadian barusan, tapi kata 'Ayah' yang sempat terucap tadi, pasti membuat hatinya tersentuh. Aku tahu, anak ku ini sangat ingin bertemu dan mengetahui siapa sosok Ayahnya, sudah sejak lama putraku ini menanyakan perihal Ayahnya. Namun aku belum sanggup memberitahunya. Aku takut jika putraku belum mampu mencerna dan memahami apa yang akan aku beritahu nanti. Dia masih anak-anak, dan tentu saja otaknya belum mampu memahami masalah orang dewasa. "Bunda, kapan Rafa ketemu Ayah?" Tanya Rafa lirih, aku mengerjapkan mataku yang terasa pedas, karena air mataku yang sudah membendung. "Nanti sayang," jawabku lirih. Kamu udah ketemu sama Ayah kamu, Sayang. Lanjutku membatin. "Pak Ujang, kita jalan." Aku berusaha menormalkan nada suaraku, lalu memerintah Pak Ujang agar menjalankan mobil yang kami tumpangi. Sebelum kami benar-benar pergi, aku sempat melirik laki-laki itu. Aku mengernyit ketika seorang wanita menghampirinya, wajah laki-laki itu berubah, seulas senyumㅡyang terlihat dipaksakanㅡ tersungging menyambut wanita itu. "Sayang, siapa orang-orang tadi? Dan, siapa anak kecil tadi? Wajahnya mirip dengan wajah kamu. Jangan bilang dia anak kamu!" Samar-samar aku mendengar ucapan wanita itu. Hah, siapa wanita itu? Apa dia istrinya? Atau hanya kekasihnya saja? Masa bodoh! Bukan urusanku. "Dia bukan anakku. Kamu jangan ganggu mereka!" Tapi, kenapa rasanya sesakit ini? Aku sudah tidak mencintainya, bukan? Aku hanya membencinya, bukan? Tapi, kenapa melihat mereka bermesraan membuat hatiku sakit? Kenapa saat pikiranku berkata kalau mereka sepasang suami-istri membuat hatiku sakit? Rasa apa ini? Ya Allah, jika benar aku masih mencintainya, tolong hapus rasa itu. Tolong jangan membuat hamba mencintai laki-laki itu, Ya Allah. Sebenarnya, dia laki-laki yang aku cintai atau yang aku benci?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN