Bab 10

1693 Kata
"Bunda!" Aku tersenyum mendengar seruan Rafa yang tengah digendong Omanya. Anakku ini terlihat senang sekali melihat kedatanganku. Setelah beberapa saat, mendengar penjelasan dari Pak Adam beserta sekeretarisnya tentang apa yang harus aku kerjakan, mereka memperbolehkan ku untuk pulang terlebih dahulu. Sebenarnya sesi penjelasan itu belum selesai, dan aku juga belum terlalu mengerti. Bagiku itu bukan masalah, karena aku merasa jika aku memang belum mampu, aku juga bukan seseorang yang memiliki IQ tinggi. "Hey, sayang. Jangan lari, nanti jatuh, loh." Aku berkata saat melihatnya turun dari gendongan Bunda dan hendak berlari menuju aku yang masih berada di ambang pintu. Rafa tidak menghiraukan seruanku, ia terus berlari hingga pada akhirnya tubuhnya masuk ke dalam dekapanku. Melihatnya berlari, membuatku rasa khawatirku mulai terusik. Aku takut jika dia terjatuh dan pada akhirnya akan terluka. Aku jadi teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, saat aku baru pulang dari tempat kerjaku, putraku ini sudah menyambutku di emper rumah kami. Ia berlari menuju diriku yang masih di tepi jalan. Mungkin karena terlalu antusias dengan kedatanganku, sampai-sampai dia tidak sadar kalau ada batu besar di hadapannya. Alhasil, pangeran kecilku itu terjatuh. Buru-buru aku dan Nayaㅡyang waktu itu sudah bersama kami, langsung menghampiri Rafa. Putraku itu menangis melihat darah yang menguncur dari kedua lutut dan siku kanannya. Aku segera mengambil tindakan untuk membersihkan dan mengobati lukanya. Rafa masih saja menangis. Aku sempat bingung untuk menghentikan tangisnya yang tak kunjung reda. Untung saja dengan sogokan dua buah jeruk mandarin putraku itu mau menghentikan tangisnya. "Bunda, mana jeluk Rafa? Rafa pengen makan jeluknya." Aku terkekeh mendengar ucapannya, ternyata putraku ini masih ingat dengan janjiku tadi. Jeruk, kenapa selalu jeruk yang ada di otaknya? Sungguh unik bukan? "Maaf sayang, Bunda lupa mampir ke toko buah. Nanti ya, setelah Bunda mandi, kita pergi ke super market buat beli jeruknya, sekalian kita pulang ke rumah." Aku mengelus surai rambutnya yang halus. Mata putraku berbinar senang, ia mengangguk antusias. "Sip, Bun. Rafa mau, Bunda cepet mandinya, bial kita bisa cepet-cepet beli jeluknya." Katanya seraya mengeluarkan seulas senyum lebar, yang membuat gigi-gigi putihnya terlihat. "Iya Rafa, anak kesayangan Bunda," ucapku seraya terkekeh, aku mencium kedua pipi tembamnya yang selalu menggodaku. "Len, kamu beneran mau balik lagi ke rumah kontrakan kamu itu? Gimana Rafa? Oh ya, gimana pekerjaan kamu, kamu jadikan ngelamar jadi asistennya? Jangan bilang kamu malah ngelamar jadi OG," Tanya Bunda berbondong-bondong, beliau sudah berada di sampingku saat ini. Aku yang tadinya berjongkok menyesuaikan tinggi tubuhku dengan Rafa, kemudian berdiri dan menatap Bunda. Agar lebih sopan tentunya. "Iya Bun. Alena nggak enak kalau harus tinggal di sini terus, takut banyak orang ngegunjingin keluarga kita. Alena takut orang-orang itu jatuhin derajat Ayah dan Bunda. Dan Alhamdulillah Alena di terima di perusahaannya. Alena diterima jadi asisten bos di sana," jawabku diakhiri dengan helaan napas pendek. Bunda menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menepuk pundakku. Seulas senyum terpatri dengan sempurna di bibirnya. "Nggak usah meduliin kata orang. Semua derajat manusia itu, sama di mata Allah, tidak apa-apa jika derajat kita turun di mata orang lain, yang terpenting jangan membuat derajat kita turun di mata Allah. Allah maha tahu segalanya, orang yang suka menggunjing itu, juga bakal dapat balasannya," tutur Bunda, aku hanya tersenyum kecil membalas ucapannya. Aku tidak tahu, harus dengan kata apa aku membalas ucapan beliau yang memang benar adanya. "Tapi Bun, Alena masih tetap nggak enak. Alena perlu mikirin hal itu lagi, dan Alena rasa Bunda ngerti gimana perasaan Lena sekarang ini." Aku memilih menatap Rafa yang memandangku dengan bingung. Aku tersenyum untuk menghilangkan kebingungan putraku itu. "Ya sudah, Bunda ngerti. Tapi gimana dengan Rafa? Besok kamu kerja, kan? Siapa yang bakal jagain anak kamu ini? Naya kan udah sama calon suaminya?" Tanya Bunda, aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Bingung juga mau jawab pertanyaan Bunda ini. "Hm, mungkin Alena titipin di TPA." Tempat penitipan anak? Kurasa bukan hal yang buruk. "Kalau Rafa nggak bisa beradaptasi gimana? Gini aja deh, besok sepulang sekolah, biar Bunda yang jemput Rafa dan bawa Rafa ke rumah ini, kalau kamu udah pulang kerja, kamu bisa jemput Rafa. Ini lebih aman, gimana? Kamu setuju kan, sama usulan Bunda?" Aku menghela napasku mendengar kalimat panjang yang Bunda ucapkan. Benar juga. Kalau Rafa di titipin di rumah Bunda, bakal lebih aman dan aku tidak perlu mengeluarkan biaya lagi. "Iya Bun, Alena setuju. Alena ke kamar dulu, mau mandi." Aku tersenyum ke arah wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanku itu. Lalu, pandanganku teralih pada si kecil Rafa. "Sayang, Bunda mau mandi. Kamu main sama Oma lagi, ya?" Ucapku sambil mengelus pipi gembulnya. "Oke, Bun. Siap laksanakan!" Rafa membuat gerakan seperti seseorang yang tengah hormat bendera. Aku terkekeh seraya mengecup pipinya lagi. Kemudian aku bangkit dan berjalan menuju kamarku. **** "Bunda, Alena sama Rafa pamit dulu ya? Sampaiin salam Lena ke Ayah, sayang sih Ayah belum pulang. Tapi mau gimana lagi, udah mau malem juga," Kataku sebelum mencium punggung tangan Bunda. "Iya nanti bunda sampaiin ke Ayah," balas Bunda. "Rafa, salim sama Oma. Cium Oma juga." Kataku pada Rafa, Rafa mengangguk dan meraih tangan Bunda, lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya yang telah melahirakku itu. "Rafa pelgi dulu, Oma. Kapan-kapan Rafa main ke sini lagi," ucap Rafa dengan logat khasnya. "Iya Rafa sayang, cucu Oma yang paling ganteng. Kalian hati-hati di jalan, udah gih kalian pergi, kasihan Pak Ujang kalau nunggunya terlalu lama," ujar Bunda halus. "Iya Bun. Wassalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan." Aku menggendong Rafa dan berjalan keluar dari kediaman kedua orang tuaku ini. Aku menghampiri Pak Ujang yang berdiri di samping mobil pribadi milik Ayah. "Pak kita berangkat," ucapku memberinya instruksi. "Baik Mbak." Beliau membukankan kami pintu belakang mobilnya, dengan cepat aku masuk dan mendudukan Rafa di jok mobil, akupun mengambil duduk di sebelah Rafa. "Pak nanti kita mampir ke toko buah atau super market, saya mau beli buah untuk anak saya nanti," kataku pada pria paruh baya ini. "Iya, Mbak." Tidak lama, mobil pun melaju. Selama beberapa menit perjalanan ini, hanya diisi dengan keheningan. Aku juga bingung ingin membahas topik apa dengan Pak Ujang. Maklum saja, lama tidak bertemu membuatku sedikit canggung padanya. "Mbak, kita sudah sampai di super marketnya." Aku sedikit tersentak mendengar ucapan Pak Ujang. Dengan cepat aku menyunggingkan senyumku, ke arahnya. "Ah iya, Pak. Saya keluar dulu, tolong jaga Rafa ya? Anak saya lagi tidur soalnya," ucapku seraya menurunkan Rafa yang sejak ia tertidur tadi, sudah berada di pangkuanku. "Iya Non," jawab Pak Ujang seraya mengangguk takzim. Aku pun keluar dari mobil dan melangkahkan kakiku menuju super market itu. Hah, pasti aku akan sedikit kesusahan mencari letak gerai buah-buahannya. Aku sangat jarang berbelanja di super market, biasanya aku berbelanja di pasar atau lebih sering lagi ke tukang sayur. Saat sudah memasuki super market itu, aku langsung melangkahkankan kakiku menuju tempat buah-buahan. Keberadaan penunjuk arah benar-benar membantuku sekarang ini. Tidak seberapa lama berjalan, aku sudah sampai di bagian buah-buahan. Banyak sekali jenis buah yang dijual disini, mulai dari buah lokal sampai buah impor. Aku kembali melangkahkan kakiku, aku berjalan menuju gerai jeruk, di sana juga ada jeruk lokal dan jeruk impor. Rafa lebih menyukai jeruk lokal, katanya jeruk lokal itu lebih manis dan segar, meskipun terkadang rasanya juga asam. Aku mengambil beberapa buah jeruk dan memasukkannya ke dalam keranjang kecil yang sempat aku ambil sewaktu berjalan ke sini tadi. Setelah selesai aku langsung berjalan menuju kasir aku memang tidak berkeinginan untuk membeli sesuatu, selain jeruk ini tadi. Aku menyodorkan beberapa lembar uang pada petugas kasir, setelah ia menunjukkan nominal uang yang harus aku bayar. Aku buru-buru keluar dari super market itu, aku takut jika Rafa terbangun dan mencari keberadaanku. Putraku itu tipe anak yang akan menangis, jika seseorang yang bersamanya tadi tiba-tiba tidak ada. Atau lebih parahnya lagi dia akan mencari orang itu, dan hal ini sudah pernah terjadi. Rafa mencari Naya yang waktu itu sebenarnya tengah pergi ke rumah tetangga kami. Karena Rafa tidak mengetahuinya, anakku itu terus berjalan hingga ia pergi cukup jauh dari rumah kami. Aku sangat bersyukur, Tuhan masih mau berbaik hati mempertemukan aku dan Rafa waktu itu. Jika kami tidak bertemu, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi. Aku tidak sanggup membayangkan kejadian-kejadian buruk yang bisa saja menimpa putraku. Aku mengernyit melihat ada laki-laki berjas tengah memarahi Pak Ujang yang tengah menggendong Rafa. Posisi laki-laki itu memunggungiku, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Putraku tampak ketakutan dengan laki-laki itu, otomatis rasa khawatirku mulai terusik. Sepertinya Rafa tadi terbangun, dan mencari keberadaanku. Tapi aku tidak tahu, kenapa laki-laki itu marah-marah, apa Rafa sudah melakukan sesuatu padanya? Tapi apa? Anakku itu bukan anak laki-laki yang bandel. Dengan cepat aku menghampiri mereka. "Kamu masih kecil kurang ajar banget, sih? Orang tua kamu nggak bisa ngajarin kamu, ya? Mana Papa dan Mama kamu, biar saya kasih tahu ke dia cara yang benar mendidik anak!" Aku merasa tidak asing dengan suaranya, tapi itu bisa aku pikirkan nanti, apa yang laki-laki itu ucapkan membuat emosiku sedikit tersulut. Darimana laki-laki itu tahu bagaimana caraku mendidik Rafa? Aku sudah berusaha mendidik Rafa dengan baik, meskipun tanpa seorang suami di sisiku. Dan selama ini Rafa juga sudah berlaku baik, tahu apa laki-laki ini sehingga memarahi putraku. "Maafin anak majikan saya, Pak." Pak Ujang meminta maaf pada laki-laki yang posisinya memunggungiku ini, aku mendengar pria itu berdecih. "Maaf Om galak, Rafa nggak punya Papa sama Mama. Rafa cuma punya Bunda, dan Bunda Rafa udah ngajalin Rafa dengan baik, buktinya Rafa jadi anak pintal sekalang." Aku terkekeh kecil mendengar jawaban spontan Rafa, meskipun putraku itu tengah ketakutan, tapi ia masih bisa mengeluarkan kelucuannya. "Oh, pasti kamu anak haram, buktinya kamu cuma punya Bunda, dan kamu nggak punya Ayah!" Kalimat yang laki-laki barusan ucapkan membuat amarahku tiba-tiba melambung. Anak haram? Cih, bukankah di dunia ini tidak ada anak haram? Semua anak terlahir dengan suci, meskipun hadirnya dengan cara yang kotor sekalipun. Intinya, tidak pernah ada anak haram, di sini orang tuanya lah, yang bersalah, jangan pernah menyalahkan seorang anak. Haram? Emang hasil curian, dibilang haram? "Anak halam itu apa Om? Anaknya hasil culian, ya?" Rafa bertanya dengan polosnya. Aku sudah kehilangan kendali emosiku, dengan cepat aku berjalan ke hadapan laki-laki itu. Aku melayangkan tamparanku tepat pada pipinya, kepala pria itu sedikit terpental. Mungkin karena terlalu kasarnya tamparanku. "Maaf Pak, jaga bicara Anda. Anak saya bukan, anak ha--" "Kamu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN