Bab 9

2282 Kata
Aku menatap tampilanku pada cermin. Aku sudah selesai bersiap-siap, rambutku sudah aku gelung rapi, blezerku tidak terlalu ketat, dan rokku juga tidak terlalu pendek. Aku bersyukur, ternyata Bunda masih memiliki pakaian seperti ini di lemarinya. Huh, kalau begini aku tidak perlu bersusah payah pulang ke rumah, dan mengambil pakaianku yang tak seberapa bagusnya itu. Ya, meskipun hari ini aku hanya ingin melamar kerja sebagai OG. Aku dengar, hari ini juga ada interview untuk menjadi sekretaris dan asisten pimpinan. Aku ingin mengikuti salah satu interviewenya, tidak ada salahnya bukan aku mencoba? Meskipun aku hanya lulusan SMA. Tapi, mungkin saja Allah memberiku keberuntungan. "Bunda mau ke mana? Kok udah lapi aja, sih? Rafa nggak diajak nih?" Celetuk Rafa sambil menarik-narik ujung blezerku. Aku tersenyum menatapnya, lalu akupun berjongkok untuk mensejajarkan posisiku dengan Rafa. "Bunda mau cari uang yang banyak, sayang. Jadi, nanti Rafa main di rumah Oma sama Opa dulu, ya?" Kataku sambil membelai puncak kepalanya. "Bunda mau nyali uang ya? Belalti Bunda nanti dapet uang yang banyak, dong? Nanti beliin Rafa jeluk ya Bun," ucapnya seraya tersenyum manis. Aku terkekeh, otak anakku ini tidak pernah jauh dari buah yang satu itu. Selalu saja jeruk, jeruk, dan jeruk. Sampai heran aku. Padahal jeruknya yang tadi malam saja masih ada, bahkan di dapur juga masih banyak persediaannya. "Iya Rafa sayang, nanti Bunda beliin jeruk yang banyak, Rafa nggak usah khawatir." "Hole, nanti Rafa dapat jeluk yang banyak. Bunda cepet belangkat gih, bial Rafa cepet dapat jeluknya." Kembali aku terkekeh mendengar celotehannya, dengan gemas aku mencium pipi tembamnya itu. "Ya udah, kita sarapan ke bawah, yuk!" Aku mengangkat tubuh Rafa ke gendonganku. Sebenarnya ini bisa membuat penampilanku sedikit berantakan, tapi jika aku tidak menggendongnya aku takut anak laki-lakiku ini akan terjatuh dari tangga. Biar bagaimanapun putraku ini sangat jarang naik-turun tangga. Memang dasarnya aku yang terlalu khawatir, tapi memang tidak ada salahnya kan, seorang ibu khawatir pada anaknya? Justru itu hal yang bagus. Dan tidak ada salahnya aku mengantisipasi kejadian buruk itu. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai di meja makan. Tampak Bunda dan Ayah yang tersenyum menatapku. Aku pun menurunkan Rafa dari gendonganku. "Rafa, mana salamnya ke Oma sama Opa?" Kataku menginstrupsi Rafa agar memberi salam pada kakek dan neneknya. Rafa hanya mengangguk membalas ucapanku, ia berjalan menuju kakeknya kemudian menyalami tangan kakeknya itu. Rafa pun beralih pada neneknya, dan ia pun menyalami tangan bundaku. "Udah Bunda, Rafa udah salaman sama Oma dan Opa, sekalang gililan Bunda yang kasih salam," ucap Rafa yang saat ini sudah duduk di samping Bunda. Bunda dan Ayahku terkekeh bersamaan melihat tingkah Rafa. Akhirnya aku pun menyalami tangan ayah dan Bunda, lalu mengambil duduk di sisi kiri Ayah--karena sisi kanan sudah ditempati Bunda. "Len, kamu nanti beneran mau cari lowongan pekerjaan?" Tanya Ayah membuka percakapan di antara kami. Aku yang dalam kondisi meminum air putih pun, langsung meletakkan gelas yang kupegang ke atas meja. "Iya Yah, habisnya kerja di toko nggak terlalu menghasilkan. Jadi, Alena pengen nyari pekerjaan lain yang lebih menghasilkan." "Loh Len, kenapa kamu nggak kerja di kantor Ayah saja?" Bunda yang tadinya sibuk menggoda Rafa, ikut angkat bicara. "Kalo Lena kerja di kantor Ayah, Lena nggak bakal berkompeten Bun. Lagian, Alena takut kalau ada banyak orang yang bakal berpikir buruk tentang kinerja Ayah nantinya. Pasti Ayah juga bakal mempatin Lena di jabatan yang lumayan tinggi, bener kan, Yah? Dan sedangkan Alena hanya lulusan SMA, bukan sarjana." Aku menatap Ayahku yang hanya tersenyum kecil seraya mengangguk untuk menanggapi ucapanku. "Kenapa kamu nggak kuliah aja, Len? Ayah sama Bunda mampu kok, biayainnya." Bunda kembali berbicara. "Nggak Bun, kalo Lena kuliah lagi, siapa yang bakal ngurusin Rafa? Lena bakal sibuk sama tugas kuliah Lena nantinya," kataku menyanggah, aku bergidik ngeri membayangkan tumpukan tugas yang banyak itu, atau mungkin melibihi banyaknya tugas orang kantoran? Bunda dan Ayah menghela napasnya bersamaan. "Kamu ini Len, dibilangin masih aja keras kepala," ucap Ayah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Begitupun dengan Bunda, si kecil Rafa yang tidak mengerti apa-apa pun, juga ikut menggeleng-gelengkan kepalanya. Seolah dia mengerti dengan pembicaraan ini. Ah, anakku itu sungguh menggemaskan. "Atau gini aja. Ayah, di perusahaan milik rekan Ayah itu ada lowongan pekerjaan kan?" Ayah mengangguk mendengar pertanyaan Bunda. "Alena kerja di situ aja, kayaknya nggak bakal ada masalah," usul Bunda yang membuat Ayah mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bener juga ya, Bun. Ya udah Len, nanti kamu coba daftar kerja ke sana, siapa tahu kamu bakalan diterima," ucap Ayah. "Emang di perusahaan mana Yah?" Aku pun bertanya. "Di AB Company. Ayah kenal mereka kok, nanti coba Ayah hubungin mereka kalau kamu mau ngelamar kerja di sana." "Nah, iya tuh Len." Bunda ikut menyahut. Aku mengangguk. AB Company, adalah perusahaan yang semula menjadi tujuanku untuk melamar pekerjaan dan ternyata Ayahku mengenal pemilik perusahaan itu. "Enggak usah kasih tahu Yah, Alena mau berusaha karena jerih payah Alena sendiri. Ayah dan Bunda doain aja Lena bakal keterima, meski nantinya cuma jadi OG." Aku menolak usulan Ayah. Biarpun kemungkinan aku di terima di posisi yang tinggi, itu sangat besar, tapi jika itu bukan keahlianku tetap saja, pada akhirnya aku nanti akan dipecat. **** Aku menatap gugup jam tanganku, sebentar lagi interviewku akan di mulai. Oh, Ya Allah, semoga semua berjalan lancar. "Mbak, bisa pinjam pulpennya sebentar?" Aku menatap orang yang--menurutku tengah mengajakku berbicara ini dengan dahi berkerut. Di depanku, seorang laki-laki tampan dengan aksen wajah kebarat-baratannyaㅡsatu lagi, gigi depannya maju beberapa senti, tapi biarpun begitu wajahnya terlihat tampan di matakuㅡyang aku perkirakan berusia sekitar tiga puluhan lebih, tengah menatapku dengan wajah memohonnya. Tapi dia cukup ramah, aku suka nada suaranya yang sopan itu. "Buat apa ya, Mas?" Tanyaku. Meskipun ini hanya sebuah pulpen, tapi aku harus memastikan untuk apa laki-laki di hadapanku ini memerlukan pulpen. "Eh, anu ... mau, mau apa ya? Saya nggak bisa jelasinnya." Aku tahu laki-laki ini benar-benar membutuhkan pulpen, itu bisa dilihat dari wajahnya yang terlihat khawatir. Tapi masalahnya, aku juga membutuhkan pulpen ini, menurut persyaratan yang aku baca tadi. Aku harus mengisi sebuah surat formalitas, dan tentunya itu menggunakan pulpen. "Tapi Mas, saya juga butuhin pulpen ini. Gimana dong?" Kataku dengan nada prihatin. Pemuda itu tampak kalut--tapi, kenapa wajah kalutnya agak beda dengan orang kalut lainnya? Apa mungkin karena wajah tampannya? Oh, otakku! Kenapa malah berpikir seperti ini? "Tapi Mbak, dari tadi saya udah minjem pulpen ke sana, ke mari. Tapi nggak ada yang mau minjemin pulpennya. Padahal saya udah gunain wajah ganteng saya ini untuk memelas, tapi tidak ada yang mau memberinya juga. Please Mbak, pinjemin ya?" Aku jadi kasihan dengan wajah tampannya yang memelas ini, apalagi giginya yang maju itu membuatku merasa semakin kasihan. Mungkin, kebanyakan orang menolak meminjaminya karena giginya itu yang maju. Apa aku harus meminjamkan pulpenku pada laki-laki ini? Kasihan juga, mungkin dia memang sangat membutuhkan pulpen ini. Lagipula, jika dipikir-pikir aku bisa meminjam pulpen ke orang lain di ruangan itu. Ah iya, aku memutuskan untuk mencoba melamar pekerjaan sebagai asisten pimpinan daripada OG, siapa tahu kalau nanti aku bakalnberuntung? Sebenarnya aku ingin menjadi sekretaris, tapi persyaratan utama yang harus kupenuhi ialah aku harus memiliki gelar minimal sarjana. "Ini Mas." Aku menyerahkan pulpenku pada laki-laki yang belum kuketahui namanya itu. "Terimakasih banyak Mbak, saya nggak nyangka di dunia semodern ini, masih ada yang berbaik hati minjemin barang ke orang yang tidak dikenalnya. Semoga interview Mbak, bisa berjalan lancar dan diterima oleh perusahaannya." Aku tersenyum melihat wajahnya yang memancarkan aura senangnya. "Aamiin Mas, semoga saja saya diterima." "Kalau begitu saya pergi dulu, Mbak." Aku mengangguk membalasnya. Setelah laki-laki tadi pergi, aku kembali berkutat dengan jam yang melingkar ditanganku. Ah, aku kembali gugup mengingatnya. **** Tak terasa, sudah tiba giliranku. Aku mulai minder melihat betapa percaya dirinya mereka yang sudah melakukan interview. Jika dilihat dari penampilan mereka, aku yakin jika mereka semua adalah lulusan sarjana atau bahkan lebih. Pasti hanya aku yang lulusan SMA ini tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Di ruangan ini, tidak hanya terdapat calon karyawan yang melamar sebagai sekretaris, tetapi ada juga yang seperti dirikuㅡmelamar untuk menjadi asisten pimpinan. Dengan jantung yang berdegup, aku membuka pintu ruangan interview itu. Seorang wanita menginstruksiku untuk duduk di kursi yang ada di tengah ruangan. Posisinya sama dengan kursi yang ada di pengadilan. Di depanku, duduk tiga orang, satu wanita dan dua pria. Si wanita duduk di sebelah kanan laki-laki yang sedikit misterius menurutku--karena ia duduk dengan posisi membelakangi kami. Dan sebelah kiri laki-laki misterius itu, ialah seorang pria paruh baya. "Ceritakan mengenai dirimu," instruksi dari si pria paruh baya. Aku menghela napasku sebelum menceritakan beberapa hal tentang diriku. Dan aku pun mulai menceritakannya. "Jadi kamu hanya lulusan SMA?" Tanya laki-laki misterius itu memotong ucapanku, padahal aku belum selesai berbicara. Dan nada suaranya terdengar sinis. "Apa kamu pikir lulusan SMA bisa mengerjakan semua tugas-tugas ini? Ah, jangan harap kamu bisa. Orang yang lulusan sarjana pun, belum tentu bisa mengerjakannya." Katanya lagi, membuat angan-anganku langsung terhempas ke dasar jurang. Sungguh ini penghinaan, dan aku benci orang yang berpikiran sesempit itu. Bukannya, pada persyaratan awal untuk menjadi asisten pimpinan tidak diharuskan lulusan pendidikan tinggi? Lalu kenapa sekarang ini dipermasalahkan? "Tanpa melihat kamu pun, saya sudah tahu kalau kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jika perusahaan menerima kamu, sudah bisa dipastikan perusahaan ini akan bangkrut." Mataku mulau berkaca-kaca mendengar ucapannya. Bahkan dua orang yang juga meng-interview ku pun, tampak tak percaya dengan ucapan yang dikatakan oleh laki-laki misterius itu. "Kamu bisa keluar sekarang juga," ucap pria itu dengan nada sinisnya. Bahkan aku pun belum sempat mengisi surat-surat formalitasnya. Ah, sudah bisa dipastikan jika aku akan ditolak. Dengan berat hati aku bangkit dari dudukku, dan berjalan lesu keluar ruangan. Namun, saat di ambang pintu, sebuah pemikiran kecil mendatangiku. "Maaf sebelumnya, saya memang lulusan SMA, tapi jangan menilai seseorang dari luarnya saja. Anda tidak tahu bagaimana ke depannya nanti, jangan mendahului takdir. Saya memang bodoh dan tak pantas untuk dihargai, tapi orang yang tak mau menghargai orang lain, jauh lebih kotor dibanding orang bodoh. Sekian, dan terimakasih." Aku menutup pintu itu dengan pelan, aku menghela napasku kasar. Apa lebih baik aku pulang saja? Lagipula sudah jelas jika aku akan ditolak. Tapi tidak ada salahnya aku menunggu. Mungkin saja, orang sombong itu berubah pikiran. Ya, mungkin saja. Baiklah aku akan menunggu. "Bagi seluruh peserta interview, dipersilakan masuk ke ruang interview sekarang juga." Baru juga mau duduk, sudah dapat instruksi saja. Dengan lesu aku melangkahkam kakiku kembali memasuki ruangan itu. Saat aku sudah di dalam ruangan itu, wanita yang sama yang memberiku instruksi duduk tadi, menyuruh kami berjajar. Aku mencuri pandang ke arah laki-laki misterius itu, yang tak kunjung menampakkan wajahnya. Aku jadi penasaran bagaimana wajahnya. Apa dia pria tua? Atau pria tampan seperti yang di novel-novel? Huh, bukan saatnya aku memikirkan itu. Laki-laki misterius itu membalik kursinya, sehingga wajahnya sudah mengahadap kami. Aku terkejut, benar-benar terkejut. Bahkan wanita-- ah ralat, semua wanita yang ada di sebelahku sampai menjerit melihat laki-laki itu. Biar aku beritahu, jika semua yang melamar bekerja di sini, adalah seorang yang bergender wanita. Mereka cantik dan seksi, membuatku yang kumuh ini terlihat seperti sebuah plastik di tengah-tengah tumpukan emas. Dia laki-laki yang sama, dia yang meminjam pulpenku tadi. Dan ... dia yang juga menghinaku. Bedannya, gigi majunya sudah tidak ada. Atau mungkin, karena mereka orang yang berbeda? Aku mendengus kesal mengingat wajah memelasnya tadi. Aku tidak menyangka jika dia seorang laki-laki yang sombong. Laki-laki sombong itu bangkit dari duduknya, aura mencengkam mulai terasa. Di mana sikap memelas nan ramahnya sewaktu meminjam pulpenku tadi? Apa sudah menghilang tersapu ombak kekuasaan? Ah, yang benar saja. "Saya rasa kalian sedang bertanya-tanya tentang siapa saya. Baiklah, perkenalkan nama saya Adam Abimanyu, putra dari Herjunot Abraham pemilik perusahaan ini. Saya baru diberi amanah untuk menjadi Pimpinan di perusahaan ini. Saya rasa, kalian sudah tahu, jika interview ini diadakan karena saya mencari seorang sekretaris dan juga asisten pribadi." Laki-laki bernama Adam itu memperkenalkan dirinya, nada suaranya berubah datar. Kenapa seperti di novel-novel, CEO berwajah dingin, tampan bak Dewa Yunani, yang mungkin sebagian dari orang yang menyebut bak Dewa Yunani, tak pernah bertemu dengan Dewa Yunani-nya sendiri. "Baiklah, dan seperti yang kita ketahui pula. Kalian berkumpul di sini, untuk mengetahui siapa di antara kalian yang akan terpilih menjadi sekretaris saya," ucapnya masih dengan nada dingin. Aku bergidik ngeri mendengar suaranya yang jauh dari kata ramah itu. "Saya sebagai CEO di perusahaan ini, mengucapkan selamat pada Nona Alena dan Nona Dinda, karena kalian telah diterima di perusahaan ini." Bagai disambar petir di siang bolong, apa yang diucapkan laki-laki itu membuatku terkejut. Aku diterima? Sungguh di luar dugaan. Tapi apa alasan dia menerimaku bekerja di sini? Bukankah laki-laki ini sudah menghinaku tadi? Dan berkata jika aku akan membuat perusahaan ini bangkrut? "Loh, Pak. Bukannya wanita ini hanya lulusan SMA?" sepertinya ada yang tidak setuju dengan keputusan CEO itu. Aku meringis, pantas saja sejak tadi mereka menjaga jarak dariku, ternyata mereka tahu jika aku hanya seorang wanita lulusan SMA saja. "Jika kalian bertanya apa alasan saya menerima dia yang hanya lulusan SMA. Dan tidak menerima di antara kalian yang lulusan perguruan tinggi. Itu karena di perusahaan ini memerlukan orang yang bertoleransi tinggi, mau membantu orang lain yang kesususahan sementara dia sendiri juga dalam keadaan susah, dan juga seseorang yang tetap menjujung kesopanan meskipun telah dihina sedemikian rendahnya, sewaktu saya meminjam pulpen tadi, tidak ada satupun dari kalian yang mau meminjamkan sebuah pulpen pun ke saya. Kalian lebih mementingkan diri kalian, dan pada akhirnya kalian tahu kalau tidak ada proses isi-mengisi kertas di interview tadi. Dan dari kalian semua, hanya wanita ini yang memiliki kriteria itu. Bahkan meskipun dia hanya lulusan SMA, moralitasnya lebih tinggi di banding kalian semua." Aku benar-benar tercengang dengan penjelasan laki-laki itu. Oh, ternyata itu semua termasuk tes untuk bekerja di perusahaan ini. Sungguh suatu syarat yang berbeda dengan syarat perusahaan lain. Aku mulai memahami ini semua. Maaf Pak CEO, karena sempat mengumpatimu tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN