"Ayah, Ayah tadi keren!" Ucapku seraya bertepuk tangan. Ayahku tersenyum penuh bangga, ia membusungkan dadanya, membuat perutnya yang membucit ikut membusung. Aku terkekeh melihatnya.
"Ayahnya siapa dulu, dong?" Kekehnya seraya tertawa kecil. Aku tersenyum kecil menanggapi ucapannya. Aku tidak menyangka, ternyata Ayah sama sekali tak mempermasalahkan batalnya perjodohanku dengan Reanta. Justru ia meresponya dengan candaan.
Ayahku memang suka bercanda, mungkin kalimat yang ucapkan tadi tentang bagaimana kelanjutan perjodohanku dengan Reanta, terdengar serius dan menuntut kepastian. Namun, nyatanya ucapannya itu hanya sebuah candaan yang diakhiri dengan tawa menggelegar. Dan memang seperti itulah Ayahku.
Terlihat serius, dingin, dan menyeramkan, tapi aslinya ia sangat baik, lembut, dan penyayang. Aku sangat mencintai Ayah dan Bundaku. Aku menyesal, benar-benar menyesal telah membuat mereka dicemooh dan digunjing banyak orang.
Andai saja waktu dapat diputar, mungkin aku bisa merubah semua, aku tidak akan membiarkan hal buruk itu terjadi. Namun, jika aku bisa merubah semuanya, Rafa tidak akan terlahir di dunia ini. Aku tidak akan melihat anak selugu dan semanis putraku itu. Serta, aku tidak akan pernah mendengar rengekan manjanya.
Oh, tidak seharusnya aku menyalahkan takdir. Tidak ada gunanya berandai-andai. Ini semua sudah menjadi takdirku, dan aku wajib menjalaninya dengan lapang d**a. Karena semua keluhanku, andai-andaianku itu percuma, mungkin aku memang tidak bisa merubah semuanya, tapi aku bisa memperbaikinya dengan hal-hal yang lebih baik.
"Len, kamu mau ke mana? Kok udah bawa tas segala?" Tanya Bunda yang berjalan sambil menggendong Rafa. Rafa tampak tak acuh dengan sekelilingnya, ia lebih asik dengan jeruk-jeruk yang ada di tangannya.
"Mau pulang, Bun." Aku menghampiri Bunda, dan mengambil Rafa dari gendongan Oma-nya.
"Loh, kok pulang Len? Ini udah malam, loh." Aku menolehkan kepalaku pada Ayah yang sudah bersikap seperti semula. Aku tersenyum pada Ayah dan Bunda.
"Kan Lena memang harus pulang, Yah, Bun," jawabku sebelum mencium pipi tembam Rafa.
"Jangan pulang, dong Len. Ini udah malam. Kasihan Rafa-nya, itu ... dia udah ngantuk. Lagipula, bukannya kamu tadi bilang, kalo besok kamu mau nyari lowongan pekerjaan. Terus siapa yang bakal jaga Rafa? Naya? Naya kan udah diboyong sama calon suami dan calon mertuanya," ucap Bundaku yang mulai cerewet. Ups ... maafkan aku Tuhan, karena sudah menyebut ibuku sendiri dengan sebutan cerewet.
Oh ya, tentang Naya. Reanta meminta Naya untuk tinggal bersamanya, hal itu dilakukan karena Reanta ingin menjadi Ayah siaga, yang bisa bertindak cepat jika sewaktu-waktu ibu dari anaknya itu akan melahirkan. Dan keputusan Reanta itu disetujui oleh kedua orang tua Reanta, Naya sempat menolak, tapi akhirnya ia mau juga.
Rencananya, Reanta dan Naya akan melangsungkan ijab kobul mereka sebelum Naya melahirkan, dan melakukan resepsi setelah Naya melahirkan. Dan aku tidak sabar menunggu kabar bahagia dari mereka. Aku senang melihat Naya yang bahagia, aku berharap wanita itu selalu bahagia dan dapat menjadi istri yang baik untuk suaminya.
"Lena? Len?" Aku mengerjap mendengar ucapan Bunda, aku tidak sadar jika aku tengah melamun.
"Eh, iya Bun?" Aku mendengar helaan napas Bunda. Memangnya kenapa?
"Kamu mendingan nggak usah pulang aja, nginep di sini. Lagipula, besok kamu bisa nitipin Rafa ke Bunda, Bunda nggak sibuk, kok. Kalo kamu tetep pulang, siapa yang bakal jaga Rafa besok? Playgroup Rafa masih libur, kamu tega biarin anak kamu di rumah sendirian? Atau kamu berencana bawa Rafa? Enggak kan?" Bunda memberondongku dengan asumsi-asumsinya yang tak sepenuhnya salah.
"Tapㅡ"
"Nggak ada tapi-tapian, kamu dan Rafa nginep di sini. Lebih bagus lagi kalau kamu kembali tinggal di sini," kata Bunda tegas. Aku tak pernah mendengar nada setegas itu keluar dari mulut Bunda. Aku menghela napasku, aku menatap Rafa yang masih sibuk dengan jeruk-jeruknyaㅡada tiga buah jeruk di tangan putraku itu.
Meskipun masih asik dengan jeruk-jeruknya, mata Rafa terlihat sayu. Aku tahu jika dia mengantuk. Dan jika dipikir-pikir, tidak ada salahnya aku menginap di rumah ini.
Besok aku tidak bisa menjaga Rafa, dan Naya sudah pergi bersama calon suaminya. Sementara aku tidak mungkin membawa Rafa lontang-lantung mencari pekerjaan. Tidak ada cara lain lagi, selain aku menginap dan menitipkan Rafa di rumah Ayah dan Bunda.
"Iya, Len. Apa yang diucapkan Bundamu itu benar, lebih baik kamu menginap di sini saja. Kamu tidak perlu khawatir dengan Rafa, karena pastinya kami akan menjaga Rafa sebaik mungkin," ucap Ayah menimpali. Akhirnya aku pun mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Tapi, Lena sama Rafa tidur di mana, Yah, Bun?"
"Ya, di kamar kamu lah Len, memangnya di mana lagi? Di dapur? Kan nggak mungkin. Atau kamu pengen tidur bareng Ayah sama Bunda?
Nggak juga, kan?" jawab Bundaku, Bundaku terkekeh kecil.
"Jangan-jangan kamu lupa di mana kamar kamu?" Kembali Bundaku terkekeh, aku tersenyum melihatnya sedang Ayah tertawa sumbang--jenis tawa yang tak begitu ikhlas.
Sangat jarang Bundaku ini mengeluarkan candaannya, meskipun harus kuakui jika candaan Bunda ini sedikit garing. Bunda selalu berdalih jika dia bukan pelawak atau pun komika makanya candaannya itu selalu berakhir garing.
"Alena masih ingat, Bun. Alena cuma mastiin aja," kataku seraya menunggingkan senyum tipisku.
"Ya udah, mending kamu ke atas gih, Rafanya udah ngantuk tuh," ucap Ayah.
Aku mengangguk. Masih dengan menggendong Rafa, aku berjalan menuju kamarku yang terletak di lantai dua rumah ini.
"Rafa udah ngantuk banget, ya?" Tanyaku ketika ketika kami sudah berada di depan kamarku yang dulu.
"Iya, Bun," jawab Rafa lirih, mungkin ia terlalu mengantuk. Kepalanya ia letakkan di cerukan leherku, selain itu kedua tangan mungilnya masih memegang jeruk.
"Kita masuk ya, ini kamar Bunda dulu." Tanpa berkata-kata Rafa mengangguk.
Aku membuka pintu kamar ini dengan sebelah tanganku, sementara satu tanganku menyangga tubuh Rafa yang sama sekali tak berpegangan karena tangannya ia gunakan untuk membawa jeruk.
Aku memasuki kamar itu, hal pertama yang menyapaku hanya ruangan yang gelap. Aku meraba dinding, mencari sakelar yang untungnya masih kuingat jelas di mana letaknya.
Ketika lampu menyala, aku sedikit terkejut. Tidak ada yang berubah dari kamar ini. Cat dindingnya masih sama, bewarna biru laut. Banyak foto-fotoku di sepanjang dinding, aku terus mengedarkan pandanganku. Hingga mataku terpaku pada satu foto di sudut ruangan, fotoku bersama laki-laki itu--Lidah dan hatiku masih kelu untuk menyebutkan namanya.
Kenapa aku lupa untuk mencopot foto itu? Sepanik dan sekacau apakah hingga aku melupakan foto memuakan itu? Argh, aku benci mengakui jika ingatan tentang laki-laki b***t itu masih terekam jelas di kepalaku.
"Bunda, Rafa udah ngantuk. Kapan tidulnya?" Pertanyaan Rafa membuatku tersentak.
"Ah, iya. Sebentar sayang."
Aku membaringkan Rafa di ranjang milikku dulu. Semua barang-barang yang ada di kamar ini masih sama--hanya sepreinya yang berubah. Dan untungnya kamar ini masih tetap bersih.
"Rafa, jeruknya Bunda taruh di nakas dulu, ya?" Aku hendak mengambil tiga buah jeruk yang berada di dekapan Rafa. Namun Rafa lamgsung menghentikan gerakanku.
"Enggak Bun, nanti jeluk Rafa diambil monstel. Rafa mau jagain jeluk Rafa," katanya dengan logatnya yang khas. Aku tertawa kecil mendengar alasannya. Mana ada monster di dunia ini? Terlebih lagi, yang berniat mengambil jeruk. Ada-ada saja anakku ini.
"Rafanya Bunda, monster itu nggak ada, monster itu adanya cuma di kartun dan film-film doang." Aku mengelus puncak kepalanya. Rafa memicingkan matanya.
"Masa?" Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang tengah mengejek. Aku tersenyum dan langsung mencubit gemas pipi gembulnya.
"Rafa nggak percaya sama Bunda? Bunda nggak bohong, loh. Suwer!" Kataku sambil mengangkat dua jari tengahku.
"Rafa pecaya sama Bunda, tapi kalau besok jeluk Rafa ada yang hilang, Bunda halus menggantinya dua kali lipat. Bunda halus setuju!" Ucap Rafa berusaha membuat wajahnya seram. Bukannya wajah seram yang kudapat, melainkan wajah menggemaskan putraku ini.
"Iya, Rafa sayangnya Bunda. Udah, kamu tidur gih." Aku mengambil jeruk yang ada di dekapan Rafa, kemudia meletakkannya di nakas. Setelah itu, aku menarik selimut yang berada di ujung ranjang dan langsung menyelimutkannya ke tubuh Rafa.
Aku sempat menggeleng-gelengkan kepalaku, darimana sifat perhitungan dan keras kepala anakku ini? Apa dari ... ayahnya? Ah, tentu saja. Kalau tidak, dari siapa lagi? Aku bukan orang yang perhitungan, hanya saja sedikit keras kepala.
"Rafa doa dulu ya, sebelum tidur. Biar monsternya nggak berani deketin Rafa, karena takut sama malaikat-malaikat yang jagain Rafa." Rafa mengangguk dan langsung menengadahkan kedua tangan mungilnya.
"Bismika Aluhumma ahya wabismika amut." Aku tersenyum mendengar lantunan doanya yang sudah fasih. Putraku ini cepat sekali menerima sesuatu, seperti ayahnya yang juga berotak cerdas. Namun sayang, otak cerdasnya itu, ia gunakan untuk menyakiti orang--ah, maksudku menyakiti hatiku.
Tak lama terdengar suara dengkuran halus, ternyata anak laki-lakiku ini sudah tertidur. Cepat sekali? Biasanya membutuhkan waktu yang lama untuk menidurkannya. Apa karena tempatnya yang kelewat nyaman atau memang putraku ini sudah terlalu mengantuk? Ah, mungkin saja.
Aku membaringkan tubuhku di samping tubuh Rafa. Ikut masuk ke dalam hangatnya selimut tebal ini. Sebelum mataku terpejam, tanpa sengaja mataku ini kembali menatap foto tadi--posisinya terlalu strategis untuk kuhindari. Maksudku dulu meletakkan foto itu di sana, karena aku ingin laki-laki itu menjadi yang terakhir yang kulihat sebelum aku aku tertidur, dan menjadi yang pertama yang kulihat setelah aku terbangun. Dengan segera aku memalingkan wajahku, aku menutup mataku rapat-rapat. Berharap kantuk segera menghampiriku.
Aku tidak boleh banyak berpikir, besok aku harus mempersiapkan diriku untuk mencari pekerjaan. Tidak ada gunanya memikirkan laki-laki b***t tak bertanggung jawab itu.
****
Tbc
Maaf untuk typonya...