Bab 7

1138 Kata
"Bunda, jeluknya mana? Tadi kata Bunda, di lumah Oma sama Opa banyak jeluknya." Suara lucu Rafa memecah keheningan di antara kami. Aku yang masih sedikit terkejut, berjalan mendekati putraku yang tengah berdiri di samping Naya yangㅡsepertinya mematung. "Rafa, minta jeruknya nanti saja ya?" Aku mengelus puncak kepalanya, seraya menyunggingkan senyumanku. Aku tidak mau putraku ini merasa bingung dengan suasana aneh yang tercipta saat ini. "Lho, kenapa Bun? Rafa udah pengen makan jeluk, tadi Rafa cuma makan satu buah aja, itupun halus dibagi sama Mbak Naya yang ngidam, 'kan kata Bunda tadi jeluknya udah habis, dan Bunda nggak beliin lagi." Aku meringis mendengar ucapan panjang yang terlontar dari mulut kecil Rafa. Rasanya aku ingin menangis, aku bukan ibu yang baik. Untuk membeli jeruk saja harus bersusah payah. Salahku memang, yang tidak pernah mau menerima bantuan kedua orang tuaku. Jika saja aku mau menerima uang yang Ayahku berikan, mungkin hidupku tidak akan sesusah ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mau merepotkan mereka. Sudah cukup aku mencoreng nama keluargaku dengan hamil di luar nikah, sudah cukup aku membuat keluargaku mendapat cemoohan dari banyak orang. Cukup sudah aku membuat mereka kecewa. Aku tidak mau membuat mereka kesusahan dengan aku yang menjadikan beban hidupku pada mereka. "Rafa, Rafa main sama Oma dulu ya? Bunda mau ngobrol-ngobrol sama Opa dan yang lainnya dulu," kata Bunda yang sudah berjongkok di sebelahku. "Rafa nggak mau main, Rafa pengennya makan jeluk, Oma." Aku tersenyum mendengar ucapan Rafa, begitupun dengan Bundaku. "Iya, nanti Oma kasih jeruk yang banyak buat Rafa. Jeruknya besar-besar dan rasanya sangat manis," kata Bundaku sambil membelai puncak kepala Rafa. Senyum lebar terpatri dari bibir mungilnya. Rafa mengangguk antusias. "Mau Oma, Rafa mau. Jeluknya benelan banyak 'kan? Benelan, besal-besal 'kan? Benelan manis 'kan?" Tanya Rafa dengan nada antusias. Bunda mengangguk pasti. Dengan cepat Rafa naik ke gendongan Bunda dan tanpa malunya langsung mengalungkan tangannya ke leher neneknya itu. "Ayo Oma! Rafa udah nggak sabal makan jeluk!" Bundaku terkekeh dan langsung menopang tubuh Rafa. Bunda berdiri, aku pun ikut berdiri. Kami saling berhadap-hadapkan. "Berbicaralah dengan kepala dingin, emosi tidak akan menyelesaikan masalah." Bunda tersenyum lembut ke arahku. Aku tahu, meskipun Bunda berbicara sambil menghadapku, tapi sebenarnya kalimat itu Bunda tujukan pada Naya. Aku melirik Naya, ia masih mematung. Matanya tak lepas menatap Reanta. Binar matanya tampak menunjukkan kesedihan sekaligus penyesalan. Sedang kedua orang tua Reanta tampak kebingungan dengan apa yang sudah terjadi. Aku melihat Ayahku, Ayahku hanya diam, sepertinya Ayah mulai mengerti dengan apa yang terjadi. "Kami pergi dulu, ya," kata Bunda sebelum melenggang pergi menuju dapur. Aku menatap punggung Bunda dan kepala Rafa yang menyembul di balik pundak Bunda, aku tersenyum tipis. Lalu, perhatianku teralih pada Nayaㅡaku lebih suka memanggil nama perempuan di hadapanku kini dengan nama Naya, mungkin karena aku sudah terbiasa. "Naya, ayo ke sana. Sepertinya banyak hal yang harus dibicarakan," ucapku lirih, namun berhasil menyentak Naya dari keterkejutannya. "A-aku..." katanya menganggantung. Tanpa menunggu jawabannya lagi, aku langsung menarik tangannya dan menuntunnya menuju sofa. Aku sengaja mendudukkan Naya di sebelah Mas Reanta, yang sudah memfokuskan matanya pada perut besar Naya. Suasana begitu hening, tak ada yang berniat memulai pembicaraan ini. Naya menundukkan kepalanya, tangannya sibuk memainkan jari-jemarinya. "Selama ini kamu hamil?" Itulah kalimat pertama yang Reanta lontarkan setelah lama terdiam. Naya tak menjawab, ia terus menundukkan kepalanya. Tidak aku sangka sebelumnya, Reanta langsung memeluk Naya. Naya tampak tetkejut, mulutnya sedikit membulat. Kedua orang tua Reanta pun tak kalah terkejutnya dengan diriku. "Kenapa kamu nggak bilang? Aku ingin mempertanggung jawabkan kehamilan kamu, kenapa kamu malah menghilang? Aku mencari-cari kamu sejak dulu, aku mencintai kamu Ra, sangat. Sera, aku sangat mencintaimu, aku merindukanmu." Aku mulai mengerti sekarang, mungkin kehamilan Naya itu dikarenakan Reanta. Makanya, wajah mereka terlihat sama-sama terkejut. Aku pikir mereka melakukan hubungan itu atas dasar suka sama suka, sama seperti aku danㅡaku tak mau mengingat nama laki-laki itu lagi. Meski nyatanya nama laki-laki tak bertanggung jawab itu, masih terpatri jelas dalam ingatanku. Perbadaan pada kisah Naya-Reanta, Naya menghilang dan Reanta tak mampu menemukan keberadaan Naya. Aku teringat cerita Naya dulu, yang mengatakan ia di usir dari rumah orang tuanya. Naya tak berani mendatangi laki-laki yang menghamilinya karena ia takut mendapat penolakan yang lebih menyakitkan lagi. Kisah yang cukup rumit memang. Sebenarnya aku merasa janggal dengan yang diceritakan oleh Naya, tapi aku berusaha berpikir positif tentangnya. Satu kenyataan yang sampai saat ini aku belum ketahui, nama panjang Naya. Aku tidak pernah bertanya tentang nama panjangnya, yang ternyata di namanya itu tersemat nama Nasera. Tapi ... aku masih bingung, bagaimana bisa Reanta laki-laki dewasa yang bahkan umurnya jauh di atasku, memiliki hubungan dengan gadis SMA seperti Naya? Dan kenapa pula, Reanta mau menerima perjodohan ini? Kenapa hidupku bisa dipenuhi teka-teki serumit ini? Aku pusing memikirkannya. Oh ya, ngomong-ngomong tentang beda usia Reanta dan Naya. Kata Ayahku tadi, usia Reanta terpaut enam tahun dari usiaku, aku berusia 22 tahun, dan berarti Reanta berusia 28 tahun. Jika dibandingkan dengan usia Naya yang masih berusia 17 tahun, beda usia Naya dan Reanta adalah 11 tahun. "Kak Rean, kenapa Kaㅡ" ucapan Naya terpotong saat Mas Reanta menggelengkan kepalanya. Ehm, aku sedikit curiga dengan gerak-gerik mereka. "Reanta, jelaskan ini semua sama Mama dan Papa." Itu suara dari Mama Reanta, Reanta meregangkan pelukannya dari Naya. Ia menatap Mamanya dengan pandangan sendu. "Dia perempuan yang sudah mencuri hati Reanta, Ma, Pa. Rean jatuh cinta saat Sera melempar botol bekas air minum ke mobil Rean, karena Rean yang buang sampah sembarangan. Dan Seraㅡ dia perempuan yang tanpa sengaja Rean nodai." Masㅡ aku sedikit geli memanggil laki-laki yang terpaut enam tahun dariku itu, dengan sebutan MasㅡReanta tampak meremas lembut tangan Naya. Kisah cinta yang diawali dengan kejadian kecil kah? Oh, lagi-lagi ada kesamaan dengan kisahku. Aku membenci mendengarnya. "Kenapa kamu tidak pernah bilang pada kami, Reanta? Jika tahu begini, kami tidak akan susah-susah menjodohkanmu. Dan, kamu! Bisa-bisanya kamu merusak anak gadis orang!" Suara bariton dari Ayah Reanta mengisi keheningan ruangan yang baru saja tercipta. "Maaf Pa, ini terlalu rumit dan aku benar-benar tidak tahu jika kekasihku ini tengah mengandung. Kami memang pernah melakukannya, hanya sekali karena itu bukan kesengajaan. Reanta benar-benar tidak sengaja melakukannya," jelas Reanta yang kembali memeluk Naya. Ternyata Naya tengah menangis saat ini. Terbukti dari isakannya yang mulai mengeras. Akhirnya aku menemukan satu perbedaan diantara kisah kami. Mereka melakukan hubungan itu, bukan berdasarkan kesengajaan, melainkan kecelakaan kecil. Dan satu lagi yang aku temukan, Reanta laki-laki yang bertanggung jawab, tidak seperti laki-laki itu. Aku melihat kedua orang tua Reanta membeku, aku tahu mereka belum terlalu siap dengan kenyataan yang baru mereka dapat. Tapi, takdir berkata lain. Memang seharusnya mereka tahu itu semua. "Jadi, bagaimana dengan perjodohan anak kita, Pak Windranata, Bu Windranata?" Tanya Ayahku menyebut nama belakang keluarga Reanta. Apa ini? Bukankah Ayah sudah melihat jelas, jika masalah ini mulai terpecahkan? Kenapa Ayahku memulai masalah baru lagi? ***** Tbc...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN