Berulang kali aku menghela napasku, entahlah aku tidak menghitung seberapa banyaknya aku menghela napas dalam waktu kurang dari satu menit. Rasanya dadaku ini sangat sesak, seperti ada batu besar yang menghimpitnya, begitupun dengan hidungku yang rasanya seperti tersumbat oleh sesuatu, padahal saat ini aku tidak sedang flu.
Aku melirik pintu lift, pintu itu masih tertutup rapat, tidak ada celah yang dapat kulihat. Pasokan udara--maksudku oksigen diruangan ini mulai menipis, dan petugas-petugas yang sedang memperbaikinya pun sepertinya mengalami kesulitan.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terjebak di dalam ruangan sempit yang bernama lift ini, aku tak mampu menggerakkan tubuhku lebih leluasa.
Rasanya, sendi-sendiku mulai melemah, bahkan aku sudah terduduk di lantai. Aku melirik sekitarku, kondisi Pak Adam dan Lele kurang lebih sama sepertiku, hanya saja si Lele masih mampu berdiri, menyenderkan tubuhnya di sudut lift.
Kondisi Pak Adam lebih mengenaskan, tubuhnya sudah terkapar di lantai, matanya terpejam rapat. Deru napasnya terdengar bersahut-sahutan, seperti dia tengah berlomba meraup oksigen sebanyak mungkin.
Aku bisa mengerti mengapa kondisi Pak Adam bisa separah ini, mungkin karena seringnya bekerja hingga larut malam dan tak memperhatikan pola makannya, daya tahan tubuh Pak Adam melemah, dan membuatnya mudah sakit.
"Pak, Anda tidak apa-apa?" Tanyaku lirih, suaraku tertelan oleh rasa pusing akibat kekurangan oksigen. Saat ini saja, aku melihat sekelilingku berputar-putar.
"Ya." Pak Adam hanya membalas singkat, dan dengam nada suara yang cukup lirih. Bahkan hampir tak terdengar.
Aku kembali diam, memejamkan mataku dan berharap rasa pusingnya cepat hilang. Aku membuka mataku, menatap pintu lift yang masih tertutup rapat.
Terdengar beberapa suara bersahut-sahutan, penuh kebisingan dari luar lift. Tampaknya ada banyak orang di luar sana, dan mereka sedang menonton aksi petugas teknisi dalam meperbaiki lift ini. Aku merasa semakin pusing, napasku mulai tersenggal.
"Len, kamu nggak pa-pa?" Aku mendengar suara itu, tapi aku tidak mampu menjawabnya, untuk menggelengkan kepala pun aku merasa tidak mampu.
Aku mengedipkan mataku sebagai jawaban, wajahnya tampak pias, syarat akan kekhawatiran. Hah, apa dia mengkhawatirkanku? Kenapa tiba-tiba aku merasa senang, dengan presepsiku yang mengakatan bahwa laki-laki itu mengkhawatirkanku? Apa aku masih mengharapkan cinta laki-laki itu? Entahlah, aku tidak ingin memikirkan itu di saat-saat seperti ini.
"Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini. Bang Adam, bangun! Ya Tuhan, Bang Adam, Alena, kalian harus bertahan. Sebentar lagi pintu liftnya pasti terbuka," katanya, yang seperti orang bingung. Beberapa kali Leo---ralat Lele. Lele menggoncangkan tubuh Pak Adam yang aku rasa sudah dalam kondisi tak sadarkan diri. Dan sepertinya sebentar lagi aku akan menyusul Pak Adam ke dalam lubang bawah sadar.
Mataku mulai berat, tubuhku semakin terasa lemah, padanganku juga mulai mengabur. Aku melihat Lele yang mendekat ke arahku, ia mengusap keningku dan pipiku bergantian, ia membawaku ke dalam dekapannya yang terasa hangat dan---nyaman.
Aku masih merasakan kenyaman itu, rasa yang sama seperti beberapa tahun yang lalu, saat kami bersama. Aku tersenyum tipis saat melihat wajahnya yang tampak khawatir, mulutnya tampak bekomat-kamit menggumamkan sesuatu, namun indera pendengaranku tak mampu menangkap suaranya, aku benar-benar lemah saat ini. Aku merasakan ketenangan.
Ya Tuhan, semoga ini bukan akhir dari hidupku. Aku belum membahagiakan putraku, aku belum menyelesaikan masalahku.
Aku berdoa, sebelum kesadaranku benar-benar menghilang.
"Alena, aku mohon bertahanlah, jangan meninggalkan aku lagi. Ada banyak hal yang belum kamu ketahui, ada banyak hal yang belum aku jelaskan, ada banyak hal yang belum aku perbaiki. Bertahanlah, jika kamu ingin mengetahui rahasiaku."
Samar-samar aku mendengar suara itu. Aneh, padahal beberapa waktu yang lalu, aku sama sekali tidak bisa mendengar suaranya.
Apa itu hanya imajinasiku saja, atau hanya suara-suara yang tercipta sesaat sebelum ketidak-sadaran merenggutku? Tapi, entah mengapa aku merasa suara itu begitu nyata. Membuat sebagian hatiku juga berharap, jika barusan kalimat yang aku dengar itu nyata.
Baiklah, aku pasrah. Masalah ini akan aku pikirkan nanti saja, aku sudah tidak kuat. Aku tidak mampu menahan kelopak mataku agar tetap terbuka, rasanya aku sungguh...
Mengantuk.
*****
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, bau obat-obatan langsung menyeruak hingga memenuhi indera penciumanku. Aku dapat menyimpulkan bahwa saat ini aku tengah berada di rumah sakit. Aku menghela napasku penuh lega, ketika menyadari bahwa aku masih bisa menghirup udara bumi. Dalam kata lain, aku masih hidup.
Aku tidak tahu, bagaimana pintu lift itu terbuka, dan bagaimana kami diselamatkan. Bahkan aku tidak tahu, siapa orang yang mau bersusah payah menggendong tubuhku hingga ke tempat ini. Aku harus mengucapkan terimakasih pada orang itu, yang aku kira ialah seorang laki-laki. Karena tidak mungkin jika ada perempuan yang mau bersusah payah mengangkat tubuhku.
"Alhamdulillah, kamu udah sadar. Bagaimana keadaan kamu?" Aku menolehkan kepalaku pada sumber suara, aku kembali menghela napas, kali ini bukan simbol kelegaan, namun dengusan kekesalan.
"Baik." Aku menjawabnya dengan singkat, tanpa melihat wajahnya.
Rasa empatiku beberapa waktu yang lalu langsung sirna begitu saja, saat melihat wajahnya yang berekspresi mengesalkan. Ia tersenyum seperti tak pernah terjadi apa-apa. Aku tidak melihat rasa bersalah di matanya, seperti beberapa saat yang lalu--saat kami masih terjebak di dalam lift.
"Ehm ... ba-bagaimana keadaan ka-kamu setelah beberapa ta-tahun ini?" Nada suaranya terdengar kaku saat berucap.
"Saya baik. Sangat baik tanpa kehadiran Anda."
Aku masih mengingat jelas ucapannya sebelum kami berpisah, berbicara formal dan bersikap seperti orang yang tidak saling kenal. Senyum di wajahnya mulai luntur, berganti dengan wajah muramnya, yang persis sewaktu kami masih terjebak di lift tadi.
Aku menarik harapanku tadi, aku akan menghapus harapanku tentang nyata atau tidaknya kata-kata yang aku dengar sebelum kesadaranku terenggut.
"Maaf. Maaf atas semuanya," katanya masih dengan suara lirih. Ke mana perginya suara sinis waktu itu?
Aku diam, melihat sekelilingku yang tampak sepi. Kemudian pandangkanku beralih pada jam berbentuk bundar di dinding, waktu menunjukan pukul sebelas siang. Berarti aku terjebak di dalam lift sekitar empat jam-an. Cukup lama juga ternyata, aku tidak menyangka hari pertama bekerjaku akan diawali dengan kondisi tak mengenakan seperti ini.
"Anak kecil itu, anak kamu? Anak kita?" Dia kembali bertanya, masih dengan nada lirihnya. Ia menatapku penuh harap.
"Bukankah Anda pernah berkata kalau dia anak haram. Jadi, ambil lah jawaban yang sudah Anda simpulkan, tidak perlu mencari tahu dari saya. Bukankah kita tidak saling mengenal?" Kataku.
Aku tidak memperhatikannya lagi. Aku mencari-cari ponselku untuk menghubungi Bunda, aku ingin menanyakan keadaan Rafa pada Bunda. Sekaligus ingin bertanya, apa Bunda sudah menjemput Rafa atau belum.
"Len?" Dia memegang tanganku, menggenggam kedua tanganku dengan tangan besarnya. Aku mengurungkan niatku untuk menghubungi Bunda.
"Aku mohon, jangan seperti ini. Lupakan masa lalu kita, lupakan kata-kataku waktu itu," katanya.
Aku terdiam untuk beberapa saat, aku ingin berbicara namun ku urungkan. Aku ingin mendengar kata-katanya lagi.
"Aku minta maaf telah menganggapnya anak haram. Aku menyesal, aku menyesal Len. Waktu itu aku kalut, aku terbawa emosi. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku mohon maaf." Aku tidak ber-reaksi, masih menunggu kalimat yang akan diucapkannya lagi.
"Len, please ... katakan, dia anak kita kan? Anakku dan kamu. Buah cinta kita?" Kembali dia bertanya. Aku mendengus, baru kali ini dia mau mengakui anaknya? Ke mana saja dia? Bahkan, saat anak itu masih di dalam kandungan, dia sudah menyuruhku menggugurkannya. Dan sekarang, dia datang dan mengaku-ngaku kalau Rafa anaknya.
Aku masih diam, aku sama sekali tak berniat menanggapi ucapannya.
"Siapa namanya, siapa nama putra kita Len? Jawab aku, aku mohon."
Dia berjongkok, dia masih menggenggam tanganku. Matanya menatapku dengan memohon. Apa dia sudah lupa dengan kejadian beberapa hari yang lalu, kalau tidak salah putraku sudah menyebutkan namanyanya sendiri.
"Anda tidak perlu tahu. Tidak ada gunanya Anda tahu. Lebih baik Anda pergi, sebelum kesabaran saya habis."
"Alena..." dia berdiri dan tiba-tiba memelukku. Tubuhku membeku seketika. Ia memelukku dengan erat.
Aku selalu bertanya-tanya, ada apa dengan laki-laki ini. Kenapa laki-laki yang tengah memelukku ini selalu memiliki sisi misterius yang sulit untuk kutebak.