Aku merasakan dadaku mendadak sesak. Tubuhnya dan tubuhku bersentuhan, hampir tidak ada sekat yang memisahkan kami selain pakaian yang kami kenakan. Aku memejamkan mataku, berharap ini semua hanya mimpi. Aku berharap bayang-bayang tubuh besar yang tengah mendekapku ini segera menghilang, dan aku akan benar-benar bersyukur jika itu terjadi.
Aku kembali membuka mataku, harapanku pupus begitu saja. Ini memang bukan mimpi, dia masih memelukku, aku merasa pelukannya semakin kuat di tubuhku. Kalau sudah seperti ini, apa yang harus aku lakukan? Ini kejadian yang belum aku pikirkan dan duga sebelumnya.
"Siapa nama anak kita Len? Aku perlu tahu, aku Ayahnya aku berhak mengetahuinya," katanya yang membuatku menghela napas kecil.
Aku kembali memejamkan mataku. Aroma parfum yang dipakainya masih sama dengan aroma parfum yang dikenakannya dulu. Hampir tidak ada yang berubah dari laki-laki ini, dia masih tampan dan lebih matang. Aku menghirup pelan aromanya itu, mencoba menaruh ingatan tentang harum tubuhnya di kotak memoriku.
Batinku bertentangan. Antara, apakah aku harus memberitahunya atau tidak. Aku memikirkan resiko-resiko yang mungkin saja terjadi jika aku memberitahunya atau tidak. Aku sama sekali tidak berniat memberitahu kebenarannya, bahkan tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya jika laki-laki itu, akan mengetahui tentang keberadaan Rafa secepat ini. Sebenarnya, aku takut jika dia akan mengambil putraku dan membawanya pergi jauh, tidak membiarkan aku bertemu dengan putraku sendiri.
"Akan ada saatnya Anda tahu, untuk saat ini, saya rasa bukan waktu yang tepat."
Aku rasa jawabanku ini adalah jawaban yang paling tepat. Kalau pun dia benar-benar ingin tahu, kenapa dia tidak berusaha mencaritahu sendiri? Atau mungkin, caranya mendekatiku dengan dalih bertanya siapa nama anak kami pun, hanya ia gunakan sebagai ajang bersenang-senang? Dan ingin lebih puas mempermainkanku? Apakah sepicik itu pemikirannya?
"Tapi, aku--"
"Tidak ada tapi-tapian, jika kamu benar-benar ingin tahu, kenapa kamu tidak mencaritahunya sendiri? Sudahlah, lebih baik kamu pergi dari hadapanku, aku muak melihat wajah kamu." ucapku dengan bahasa yang lebih santai, belum selesai dia berucap aku sudah memotong ucapannya terlebih dahulu. Lagipula, menggunakan kosa kata 'Anda-saya' terlalu sering, membuatku sedikit tidak nyaman. Lebih enak bicara non formal sebenarnya.
Aku benar-benar berharap laki-laki itu menghilang dari hadapanku sekarang juga. Kalau perlu, sejauh-jauhnya. Aku sendiri sebenarnya bingung dengan otak dan hatiku, yang kadang tidak sinkron. Aku ingat sedikit, sebelum kesadaranku benar-benar terenggut, aku merasa senang berada di dekatnya. Dan sekarang, setelah kesadaranku sudah pulih sepenuhnya aku merasa emosi berdekatan dengannya.
Satu pertanyaannya kecil, muncul di otakku. Ehm, sebesar apa aku mencintainya dulu, hingga rela menyerahkan tubuhku secara cuma-cuma padanya?
Hah, ternyata satu pertanyaan itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang lain, yang bahkan lebih sulit dari pertanyaan sebelumnya. Apa aku sebodoh itu? Apa aku senaif itu? Atau, pergaulanku yang terlalu bebas? Masih banyak lagi pertanyaan yang bersarang di otakku. Aku merasa semakin lelah dengan drama kehidupanku.
"Terima kasih sudah berbicara lebih santai denganku. Baiklah, aku yang akan mencari tahu sendiri. Aku permisi dulu." Setelah mengucapkan kalimat itu, si Lele melepas pelukannya, menatapku sebentar dan pada akhirnya berlalu pergi keluar dari ruangan yang aku tempati saat ini.
Untuk yang kesekian kalinya aku menghela napas. Ada perasaan tidak rela melihat punggungnya yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu. Aku benar-benar frustasi dengan perasaanku sendiri.
Seseorang tolong bantu aku!
****
Aku mengusap dahi Rafa yang tampak mengkerut, aku menantinya untuk bercerita tentang pengalaman barunya hari ini. Setelah dari rumah sakit, Aku tadi langsung berkunjung ke rumah Bunda. Tentu saja karena aku ingin menjemput putra tampanku ini. Dan saat ini aku dan Rafa masih berada di perjalanan menuju rumah kami, tentunya dengan di antar oleh Pak Ujang.
"Jadi, Rafa dapet apa hari ini?" Tanyaku menatap mata bulatnya yang berbinar.
"Hali ini Rafa dapet banyak pelajalan Bun. Bunda tahu, telnyata seekol anak ayam juga punya ayah, bukan hanya induknya aja, Bun," ucapnya bersemangat. Aku tersenyum miris, merasa mengerti dengan arah pembicaraannya nanti.
"Kata Bu Gulu, semua manusia dan hewan itu punya Ayah, Bun. Rafa kan manusia, jadi Rafa punya Ayah dong? Tapi, Ayah Rafa ke mana? Kenapa Rafa nggak pelnah ketemu Ayah? Kan Rafa udah kangen sama Ayah, pengen ketemu Ayah," ucapnya yang kali ini dengan nada sendu.
Benarkan, kalau anakku ini mau membicarakan sesuatu hal mengenai sosok 'Ayah'. Aku tidak tahu jawaban apa yang tepat untuk menjawab pertanyaannya yang sebenarnya sangat sederhana itu.
"Rafa sayang, Bunda dulu kan pernah bilang kalau Ayah lagi kerja jauh. Suatu saat nanti, kalau udah waktunya Rafa juga bakal ketemu Ayah. Malahan Ayah dulu, yang akan menemui Rafa. Sekarang Rafa nggak boleh bersedih, nanti kegantengannya Rafa ilang gimana? Rafa nggak mau kan, punya wajah jelek?" Aku menciumi kedua pipi tembamnya bergantian.
"Rafa nggak mau kegantengan Rafa ilang. Nantinya banyak pelempuan yang bakal jauhin Rafa, kalena wajah Rafa yang jelek. Rafa nggak mau, Bun." Rafa merubah ekspresi sedihnya menjadi ekspresi senang.
Pak Ujang yang berada di bangku kemudi pun tampak tersenyum tipis mendengar celetukan Rafa yang kelewat polosnya itu. Sejak kapan putraku yang masih berusia 5 tahun ini tahu tentang perempuan? Zaman benar-benar sudah berubah.
"Nah, gitu dong. Kan kalo Rafa senyum, kadar kegantengan Rafa tambah banyak. Bunda sayang banget sama Rafa." Aku kembali menciumi pipi gembulnya yang membuatku kecanduan untuk menciumnya.
"Bunda Rafa lapel, Rafa pengen makan sate. Yanh dibakal tapi ya?!" Ucap Rafa. Tumben sekali putraku ini menginginkan sate. Padahal, biasanya dia bakal minta jeruk.
Dan yah, sate memang dibakar kan?
"Rafa beneran mau makan sate?" Tanyaku memastikan.
"Benel Bunda, tadi Rafa ngelihat olang makan sate di televisi. Rafa sampe ngilel ngelihat olang-olangnya makan sate, jadinya Rafa kepengen sate Bun, nanti kita beli ya Bun," katanya lagi setengah merengek.
"Iya sayang, nanti kita beli." Kataku padanya.
"Pak Ujang, nanti kita mampir ke warung sate, ya? Anak saya lagi ke pengen sate," ucapku yang kali ini kutunjukan pada Pak Ujang.
"Iya, Mbak."
Pak Ujang mengendarai mobil ini mencari warung sate terdekat. Suasana mobil tampak ramai karena Rafa yang sedari tadi mengoceh. Sesekali aku menanggapi ucapan pangeran tampanku ini.
"Sudah sampai Mbak," ucap Pak Ujang, ketika mobil yang kami tumpangi sudah berhenti di depan sebuah warung sate yang tampak ramai.
"Terima kasih, Pak. Bapak mau ikut, biar saya yang bayarin," tawarku pada pria paruh baya yang bekerja sebagai supir keluargaku itu.
"Tidak perlu Mbak, saya sudah makan, dan saya juga masih kenyang." Kata Pak Ujang menolak dengan halus, aku mengangguk seraya menampilkan senyumku.
Kemudian, aku pun menggendong Rafa dan keluar dari mobil. Aku mendudukkan Rafa di salah satu bangku memanjang, ketika kami sudah berada di dalam warung itu.
"Bu, saya pesan satenya dua porsi. Satu pedas, dan satunya lagi tidak." Aku memesan pada seorang ibu-ibu yang sepertinya pemilik warung ini. Ibu itu mengacungkan jempolnya, pertanda menyetujui pesananku.
"Bunda Rafa haus," kata Rafa yang membuatku menoleh padanya.
"Sebentar, Bunda ambilin minumnya dulu," ucapku. Lalu bangkit berjalan menuju tempat minum. Aku mengambil dua gelas plastik air mineral bermerek Aqua, dan membawanya ke bangku kami lagi.
"Eh maaf Mbak, saya nggak sengaja," ucap seoseorang yang baru saja menabrak tubuhku. Aku yakin dia ini wanita, terbukti dari suaranya yang halus dan khas wanita. Sepertinya aku mengenal suara ini.
Buru-buru aku mengangkat kepalaku dan menatap wanita yang saat ini masih berada di hadapanku. Mataku membulat melihatnya.
"Kamu..."