Kupacu mobil dengan kecepatan tinggi. Ibu saja sampai terhentak raganya karena laju mobil yang kukemudikan. "Bintang! pelankan mobilmu! Kamu mau Ibu mati?" teriak Ibu yang duduk di sampingku dengan mata melotot menatapku tajam. Dalam keadaan marah saja tak dapat kutolak perintahnya. Laju mobil kupelankan. Kudengar Ibu mendesah lega sembari memperbaiki letak hijab di kepalanya. "Kamu kenapa sih Nak, menyetir seperti itu, marah sama Ibu?" tanyanya lembut. Tidak berteriak seperti sebelumnya. Sudah tahu tapi masih nanya, itulah Ibu. Apa mungkin aku bisa protes akan keputusannya? Itu tidak mungkin. Aku terlalu penurut. Persis seperti yang sering dikatakan Salma. "Jawab dong! 'kan anak Ibu punya mulut," bujuk Ibu sambil mengusap lenganku. Ibu paling bisa membujuk. Mana mungkin aku bisa

