Setelah kepergian Ibu dan Bu Sri aku menekuk kakiku ke bawah, berlutut dihadapan Aya, kuraih tangannya dan kugenggam erat. Kukatakan semua isi hatiku pada Cahaya, aku berulang kali meminta maaf padanya. Aku mengakui kesalahanku dan berjanji dengannya akan berlaku adil mulai sekarang. Aya dengan berderai air mata masih meragukan kesungguhan ku. Dia sangat marah ketika kukatakan akan berlaku adil. Baginya, selama ini aku sudah berlaku zalim dan tidak pernah adil sama sekali dengannya. Waktuku banyak kuhabiskan untuk Salma, bukan, tapi Kia. Aku menyesali semua itu, aku bulatkan tekad untuk membagi raga dan cintaku sama besarnya untuk mereka berdua. Aya bergeming. Ia konsisten dengan pendiriannya. Ia bahkan menyatakan kalau aku tidak perlu berpura-pura mencintainya. Ia juga menganggap kalau

