Aku memandang keluar dari jendela kamar rawatku ini untuk mengalihkan kesedihan di hati. Tampak taman depan penuh dengan bunga dan tanaman beraneka warna. Indah. Melihatnya, mengingatkanku akan kenangan bersama Ibu. Kami sering menyiram bersama atau sekedar duduk santai memandangi keindahan mereka. Aku mengerjap. Air mata menetes dari kedua sudut mata. Kuhirup oksigen dalam-dalam lalu menghembuskannya keluar. Lega? Belum. Masih ada yang berdenyut di dalam sini. Kusentuh dan kutekan d**a ini, berharap sakitnya hilang. Namun tidak mau juga, rasa itu masih betah bersemayam di di sana. Entah kapan dia akan pergi. *** "Kak," sapa Fajar membuyarkan lamunanku. "Ya." Aku menoleh sebentar ke arahnya. "Semua sudah beres, kita bisa pergi sekarang," ujarnya memberitahu. Aku mengangguk dan tersen

