Puncak Andong

1539 Kata

Said tersenyum kecil mendengar jawaban Raisa. “Kalau begitu, kita bisa daki bersama, ya. Lagi pula, lebih baik ada teman kan daripada sendirian?” Raisa merasakan senyum kecil di bibirnya semakin melebar. “Iya, Kak. Aku setuju.” Girang lah kalau diajak bareng gini kan ya? Mereka mulai berjalan bersama, menelusuri jalur pendakian yang masih gelap. Said berjalan di depan, menerangi jalan dengan senter yang ia bawa. Raisa mengikuti di belakang, mencoba menyembunyikan perasaan canggung yang masih menyelinap di antara mereka. Namun, perlahan, keduanya mulai bercakap-cakap, berbagi cerita tentang pendakian, tentang kuliah, dan banyak hal lainnya. Said terlihat lebih terbuka saat bercerita tentang pengalaman pendakian sebelumnya, bagaimana ia bisa fokus dalam menulis atau mencari inspirasi di t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN