Persahabatan yang Retak

1584 Kata

Fatimah duduk di sudut apartemennya, tubuhnya gemetar. Ia memeluk lututnya erat, menyandarkan punggung pada dinding dingin. Suara detak jam di ruangan kecil itu terasa begitu keras di telinganya, seolah menghitung setiap detik dari kecemasan yang tak kunjung hilang. Ia sudah mematikan ponselnya sejak tadi pagi, ketika pesan dan panggilan masuk tak henti-hentinya memenuhi layar. Teman-temannya, dosen-dosen, bahkan keluarganya, semua ingin tahu satu hal: apakah gosip itu benar? "Astaghfirullah," bisiknya pelan, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia tak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Jamal. Nama itu terngiang-ngiang di benaknya, membangkitkan rasa sesak yang sulit ia jelaskan. Tiba-tiba, terdengar ketukan keras di pintu apartemennya. Ketukan i

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN