bc

Godaan Liar Sang Bodyguard

book_age18+
24
IKUTI
1K
BACA
family
HE
boss
bxg
campus
like
intro-logo
Uraian

Elandra Mireille adalah bintang muda yang bersinar terlalu cepat—dan terbakar lebih cepat lagi. Skandal panas menghancurkan kariernya, membuatnya diburu media dan ditinggalkan dunia yang dulu memujanya. Saat segalanya runtuh, muncullah Kaelen, pengawal pribadi dengan tatapan membunuh dan aura mematikan.Mereka seharusnya hanya terikat kontrak. Tapi godaan itu terlalu liar untuk dihindari. Tatapan Kaelen membakar, sentuhannya memabukkan, dan perlindungan yang ia tawarkan... terlalu dalam untuk sekadar profesional. Tapi cinta mereka bukan kisah manis—melainkan racun manis yang bisa membunuh.Karena di balik pelukannya yang panas, Kaelen menyimpan kebenaran paling kelam: orang yang ia cintai adalah darah dari musuh yang paling ingin ia hancurkan. Sekarang, ia harus memilih—mencintai wanita yang menghidupkannya kembali, atau menyeretnya ke dalam neraka yang sama yang pernah menelannya.Dan Elandra... harus memutuskan, apakah ia siap jatuh cinta pada pria yang mungkin datang untuk membunuhnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Hei, Pengawal!
Semua sudah rata dengan tanah. Rumah megah itu kini hanya tumpukan abu. Dalam hitungan menit, si jago merah melahap segalanya—bangunan, kenangan, dan... keluarganya. Ayah, Ibu, dan Sheril—semuanya tewas. Kenapa hanya dia yang selamat? Kenapa bukan mereka? Ia duduk diam di antara puing-puing, wajah tertanam di lutut, tubuhnya gemetar. Isak tertahan menyelinap di sela-sela keheningan. Sirene pemadam kebakaran meraung—terlambat. Semuanya sudah habis. Untuk apa mereka datang? Sebuah sentuhan lembut membuatnya mendongak. Di hadapannya, seorang gadis kecil berdiri dengan mata sembab. Iba dan ngeri menyatu di wajah mungil itu. Tapi ia tak peduli. Ia membuka mulut, hendak menjerit, tapi tak ada suara keluar. Ketakutan membekukan pita suaranya. Ia terlalu kecil untuk kehilangan segalanya dalam satu malam. “Ela...” bisiknya lirih. Gadis itu mengangguk pelan. “Aku tahu... Aku juga kehilangan mereka.” Ia menggigit bibir, matanya kembali basah. “Kenapa aku selamat? Wajahku... rasanya terbakar.” “Tak apa,” ucap Ela, menggenggam tangan kirinya. “Kau tetap temanku.” “Lihat wajahku! Ini mengerikan! Kau tidak takut?” Ela menggeleng. “Kau tetap tampan. Kau bisa memanggil Ayah dan Ibuku sebagai orang tuamu.” Ia menatap lekat pria dewasa di belakang Ela—ayahnya. Ia hanya diam, seolah menyerah pada takdir. --- Beberapa Tahun Kemudian “Giliranmu, Elandra!” Botol kosong itu berhenti berputar, mengarah padanya. Klub malam berkelas itu dipenuhi musik dan cahaya. Di ruang VIP, sahabat-sahabatnya menyorakinya dengan semangat. Elandra dan para sahabatnya sedang merayakan keberhasilannya yang memenangkan banyak hadiah dari acara award yang disiarkan di salah satu channel TV. Alih-alih merayakannya dengan pesta mewah, mereka malah memilih merayakan dengan cara mengadakan permainan konyol dare or dare. Permainan yang biasa dilakukan anak remaja. Dan mereka jelas bukan remaja. Elandra mengerucutkan bibir. “Kalian serius kita memainkan permainan konyol ini?” “Itu namanya merayakan! Tantanganmu: ambil sabuk pria pertama yang masuk dari pintu utama. Tanpa tanya, tanpa drama.” “Bukan mencium orang asing? Kupikir akan lebih gila dari itu.” “Besok, mungkin,” sahut salah satu dengan tawa renyah. Ponselnya bergetar. Nama ‘Mom’ tertera. Ia mengabaikan. Notifikasi lain menyusul, dari sang Ayah. > Bodyguard sudah dalam perjalanan. Keluar sebelum kau diseret paksa. Elandra mendecak. “Benar-benar menyebalkan.” Melempar ponselnya ke tas, Elandra kembali melanjutkan langkahnya, bertepatan dengan seseorang yang baru masuk dari pintu utama. Pria dengan perawakan yang sangat tinggi, hmm Elandra menebak sekitar 190 cm. Melihat penampilannya yang serba hitam Elandra menebak pria itu adalah pengawal yang dimaksud oleh Ayahnya. Anggapan Elandra diperkuat dengan adanya earphone nirkabel yang bertengger di telinganya. "Pasti ini orangnya,” gumamnya kesal. "Akan kubuat pria tua itu menyesal karena mengirimmu!" Dengan langkah cepat dan percaya diri, Elandra mendekat. Tanpa aba-aba, ia menarik tangan pria itu, mencoba membuka sabuknya. Cengkeraman kuat langsung menghentikan gerakannya. Refleks. Tegas. Pria itu memandangnya tajam. “Diamlah, aku hanya ingin meminjam sabukmu!” bentak Elandra. “Sabukku bukan untuk leluconmu, Nona.” Nada suaranya dingin. Pendek. Mematikan. Elandra terkesiap. Suara itu… asing, tapi ada sesuatu yang familiar. Tatapan itu... menusuk seperti ujung belati. Ia mendongak angkuh. “Sabukmu memang bukan lelucon, tapi aku juga bukan teman debatmu. Tugasku bukan menuruti perintahmu. Tugasku memerintah. Turunkan pandanganmu dan lepaskan sabukmu, Pengawal!” *** Elandra melenguh dalam tidurnya, sesekali meringis. Kepalanya terasa berat seperti ditimpa batu. Haus. Tenggorokannya kering. Ia mencoba mengingat—klub, minuman, teman-teman. Dan ya, ia tidak tahan alkohol. Cahaya dari jendela menusuk matanya. Seseorang membuka tirai. Ia mengumpat lirih, lalu perlahan membuka mata. Samar-samar, sesosok pria tinggi berdiri di hadapannya. “Malaikat?” gumamnya lemah. "Ck!" Bukan malaikat. Malaikat tidak berdecak kesal. Ia mengerjap—pria itu nyata, tinggi, besar, dan hanya mengenakan handuk. "Pengawal," desisnya, menyadari ia tak berada di kamarnya. Pria itu basah kuyup, rambutnya meneteskan air, otot-ototnya menonjol. Tubuh kecokelatan itu terlalu jelas terlihat. "Puas menikmati tubuhku?" Elandra melotot. "Apa kau kira tubuhmu menarik? Dasar c***l! Kenakan pakaianmu, sekarang!" Si pengawal menaikkan sebelah alis, tetap berdiri di tempat. Elandra bangkit dari ranjang dengan kesal. Tapi ia lupa—ia tidak mengenakan apa pun di tubuhnya. Tatapan si pengawal turun, menilai tubuh polos itu. Fantasinya terpicu, tapi logikanya tetap berfungsi. Ia bukan pria murahan. Tidak menyentuh tanpa izin, meski ia takkan menolak jika diminta. "Aku memintamu mengenakan pakaian!" "Kenapa bukan kau yang melakukannya?" Nafas Elandra memburu. “Siapa namamu?Sadarkah kau siapa aku?” “Jangan busungkan dadamu begitu,” katanya ringan. Ia melirik ke jendela. “Wartawan sudah menunggu di bawah.” Elandra menoleh cepat, berjalan ke arah jendela. Sorot kamera langsung menyambutnya. “Bodoh! Apa yang kau lakukan?” pria itu menggertaknya. “Aku? Jangan pikir kau boleh seenaknya hanya karena tampan. Ingat kedudukanmu!” Si pengawal membelakangi jendela, menghindari sorotan kamera. “Lihat dirimu. Kau baru saja memamerkan tubuhmu ke dunia.” Elandra mengernyit. “Apa maksudmu?” “Kau polos, Nona.” Elandra menunduk, baru menyadari kondisinya. Detik selanjutnya, “aaaarrggghhh!” Elandra langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangan mungilnya. Wajahnya pucat pasi membayangkan sudah berapa lama pengawal cabulnya itu menikmati tubuhnya. Mengabaikan gosip tentang dirinya yang beberapa menit lagi akan menjadi trending, Elandra lebih mengkhawatirkan apa yang sudah mereka lewati tadi malam. Bagaimana bisa ia bertelanjang, dan ya kenapa mereka bisa berada di dalam satu kamar hotel. Apa mereka sudah..? Tidak! Elandra menolak dengan tegas, berjalan mundur, dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Matanya mencari-cari sesuatu di atas seprei. “Tidak ada bercak darah.” “Hanya karena kamu tidak menemukan apa-apa di sana, itu tak berarti kita tak melakukannya.” Oh Tuhan, katakan di mana ayahnya menemukan pengawal licik seperti pria c***l di hadapannya itu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
222.7K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
19.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.1K
bc

TERNODA

read
203.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.4K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook