"Hai, apa kabar?" Widia datang ke kamar Vira dengan senyuman. Sedangkan Vira masih berada di tempat tidur, di jam yang sudah siang. "Tumben kamu datang?" Vira malah balik bertanya. "Iya, aku sedang ingat dirimu, makanya aku datang," jawab Widia asal. "Si alan kamu, Wid!" Vira mengambil satu bantal kemudian dia melemparkannya ke arah Widia. Widia yang sudah siap akan tindakan sahabatnya, lantas menangkap bantal itu dengan derai tawa. Vira hanya diam dengan tatapan kesal ke arah Widia. "Kamu ditelepon Mama kan?" tanya Vira menatap menyelidik ke arah Widia. Widia akhirnya mengangguk pasrah, karena dia memang di telepon Lusi untuk datang. Sedikit cerita mengenai pernikahan yang dibatalkan, sahabat Vira itu sudah tahu. "Ayo mandi dan kita akan pergi keluar. Nanti Ana juga akan ikut ber

