Karina

1140 Kata
Vega mengguyur tubuhnya di bawah shower lebih lama dari biasa. Menggosok tubuhnya lebih keras berharap bekas yang di berikan Altair hilang di tubuhnya, tertutama tanda merah di leher yang begitu mencolok. Namun bekas itu malah terlihat semakin memerah. Orang yang melihatnya pasti akan salah sangka. Ini harus di tutupi. Vega mencoba untuk mengenakan syal, tapi sepertinya terlalu mecolok karena ini musim panas dan aneh jika menggunakan syal dengan dalih penghangat. Vega pun memilih menempel hansaplas pada bekas yang diberikan Tristan. Berharap tidak akan ada yang menanyakannya. Tapi saat keluar dari kamar. Kakaknya adalah orang pertama yang menanyakan hal yang paling ingin Vega hindari itu. “Lehermu kenapa?” “Ah ini, kakak tahu ‘kan aku alergi kacang? Semalam aku makan cemilan, aku tidak sadar ada kacang didalamnya. Jad masih ada bekas merah di leher dan aku tutupi pakai plester.” Lyra khawatir dia mendekati Vega. “Coba sini kakak lihat.” Spontan Vega menepisnya, tak ingin Lyra melihat tanda merah dilehernya, dia takut ketahuan. “Aku baik-baik saja.” “Mau di ambilkan obat alergi?” “Tidak perlu. Aku sudah minum obat alergi semalam.” Vega mengambil satu roti, menaruh selai srikaya di rotinya. “Kakak, tolong panggil supir, aku mau berangkat sekolah sekarang.” Lyra mengernyit. “Sepagi ini?” dia heran, “Altair sudah ada di depan rumah dari 10 menit yang lalu, menunggu mu. Tidak enak kalau kau malah berangkat sekolah dengan supir.” Vega hampir tersedak mendengar nama itu. “Dia sekarang di mana?” “Ada di-” “Aku ada di sini, Vega.” Suara baritone mengintrupsi perkataan Lyra. Vega menengok ke belakang. Altair berada tak jauh darinya, tengah tersenyum hingga kedua matanya menyipit. Setelah apa yang terjadi antara mereka. Kenapa Altair masih bisa tersenyum padanya seolah tidak terjadi apa pun antara mereka? Apa ternyata Altair yang dia kenal itu sebrengsek ini? Dan sifat baiknya selama ini hanya untuk menutupi sifat buruknya? “Sepertinya Altair sudah jenuh menunggumu yang lama sekali mandinya. Sana kalian pergi sekolah. Semangat, besok sudah masuk weekend dan kalian bisa beristirahat selama dua hari.” Vega tidak merespon ucapan Lyra, sementara Altair hanya mengangguk singkat. Lelaki itu memberikan isyarat pada Vega untuk mengikuti langkahnya menuju mobil yang terparkir di halaman depan rumah Vega. Biasanya, mereka memang sering berangkat sekolah bersama. Vega menyukai itu, karena sepanjang perjalanan menuju sekolah terasa lebih seru ada teman bicara, di banding bersama supir yang hanya bicara seperlunya saja. Tapi sekarang rasanya lebih nyaman di antar jemput dengan supir pribadi. Terlebih lagi berdua di satu tempat seperti ini dengan Altair rasanya…menakutkan. “Jangan buat orang lain curiga,” ucap Altair ketika sudah mengemudikan mobil cukup jauh dari kediaman mereka. “Maksudmu?” “Sikap mu itu. Kalau ada aku, kau bersikap seolah kita ini tidak saling kenal dan jangan hindari tatapan mata ku begitu. Orang lain bisa curiga.” Vega menunduk dalam. “Oh maaf,” balanya singkat. Rambu warna merah. Altair menunggu dengan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mendekati Vega, yang duduk diam layaknya batu. Lelaki itu menyeriang, “kecuali kalau kau mau orang lain tahu apa yang sudah kita lakukan kemarin.” Tangan kekar itu mengusap pipi Vega mengarahkan wajah cantik itu untuk melihatnya. “Kau mau orang lain tahu?” “Jangan.” Vega melepaskan tangan Altair dari wajahnya. “Lagi pula tidak untungnya buat mu kalau orang lain tahu.” Vega melihat bibir Altair sedikit terbuka, seperti hendak mengaatakan sesuatu padanya. Namun di urungkan, entah karena sudah rambu hijau atau Altair tidak ingin mengatakannya, Vega juga tidak tahu. Vega tidak berminat untuk bertanya. Dia tidak ingin mendengar ucapan Altair yang kemungkinan besar bisa membuatnya terluka. Selama sisa perjalanan menuju sekolah Vega hanya diam, tenggelam dalam pikirannya, dan mungkin Altairjuga sama. Lelaki itu baru mengeluarkan suara ketika mereka sudah berada di halaman sekolah. “Pulang sekolah aku jemput di sini.” “Kau pulang duluan saja. Aku hari ini ada ekskul.” “Pulang jam berapa? Biar aku jemput.” “Tidak perlu aku-” “Vega. Aku paling malas mengulang ucapan yang sama berkali-kali,” ucap Altairmemaksa. “Sekitar jam 5 sore,” jawab Vega akhirnya. “Kalau begitu, nanti aku pulang dulu. Jam 5 sore aku jemput lagi.” “Iya.” Vega lebih dulu turun dari mobil Altair, sementara Altair masih memarkirkan mobilnya. Sekolah masih sangat sepi, seolah baru mereka berdua yang datang. Ini bagus menurut Vega, tak ada yang melihat dirinya keluar dari satu mobil yang sama dengan Altair, dan menimbulkan gossip miring di mana Vega dan Altair masih dekat walau sudah punya pasangan masing-masing. “Oh, Vega?” Sialnya, hari ini Karina juga datang sepagi ini. Karina melihat Vega dan mobil Altair yang berjalan menuju parkiran. Sorot mata yang menunjukan kecemburuan, namun dalam beberapa detik kemudian Karina seperti mencoba menyingkirkan rasa cemburunya dengan mencoba memberikan sedikit senyuman dan berjalan mendekati Vega. “Kau dan Altair berangkat sekolah bersama?” tanya Karina Dengan gugup Vega berusaha menjelaskan. “Jangan salah paham, rumah kami bersebelahan, kami juga sering berangkat sekolah sama-sama.” “Ah iya, tenang saja. Aku tidak salah paham,” balas Karina. “Oh iya Vega, kelas kita satu arah, ayo jalan bersama. Aku sekaligus ingin dekat denganmu, kau ‘kan teman Altair dari kecil.” “Boleh.” Vega tidak mungkin menolaknya. Walau pun sebenarnya Karina adalah orang yang sangat ingin dirinya jauhi. Mengingat apa yang Altair perbuat padanya. Jika Karina tahu hal ini, tidak mungkin perempuan itu tidak merasa hancur juga. Terlebih lagi saat melihat padangan tulus dari perempuan itu pada Altair. “Ku dengar kamu itu kekasihnya Orion ya?” “Iya,” jawab Vega singkat. “Orion tidak cemburu kau dekat dengan Altair? Meski dia tahu kalian berdua memang teman dari kecil, apa tidak ada sedikit rasa cemburu darinya?” “Aku rasa tidak.” Orion hanya berstatus sebagai kekasihnya saja. Tapi rasa suka lelaki itu masih tertuju kepada Karina. Mana mungkin Orion cemburu? “Pulang sekolah nanti kau sibuk? Aku masih mau bicara denganmu,” ajak Karina. “Hari ini ada jadwal ekskul. Tapi nanti aku beri kabar kalau kita bisa bertemu.” Karina merogoh saku roknya. “Aku minta nomor mu ya.” Vega mengambil ponsel Karina. Sebenarnya bisa saja Karina langsung meminta Vega untuk mengetik nomor teleponnya. Namun ketika Vega melihat wallpaper ponsel Karina adalah foto Karina dengan Altair. Karina yang mengambil foto selfie dirinya dengan Altair yang sedang bermain ponsel di belakangnya. Vega tahu mengapa Karina sengaja memberikan ponselnya, seolah ingin memberi penegasan tanpa kata. Jika Altairadalah miliknya, lelaki itu mencintainya. Jadi, Vega harus sadar diri. Vega paham jika Karina cemburu padanya. Yang tidak Vega paham adalah, jika Altair benar-benar mencintai Karina. Mengapa Altair memperkosanya? Padahal Altair bisa melakukan dengan Karina tanpa ada unsur pemaksaan seperti yang dilakukan lelaki itu kepada Vega. “Ini nomorku.” Vega mengembalikan ponsel Karina. “Jam pulang sekolah aku hubungi ya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN