Hatinya tak tenang sejak tadi. Dia gelisah, tapi tidak tahu kenapa. Sejak tadi dia terus mengecek ponselnya hanya untuk memastikan apa ada pesan lagi dari Vega atau tidak. Padahal Altair sudah mengijinkan Vega untuk bertemu dengan Karina. “Kau tidak apa-apa, Altair?” tanya Tristan. Altair tersentak tersadar dari lamunannya. “Tidak apa-apa.” Beruntung hari ini adalah jadwalnya meeting dengan perusahaan milik Tristan. Kalau tidak, mungkin dia akan di cap tidak professional karena ditengah membahas kerjaan, pikirannya entah berada di mana. “Kalau kau sedang tidak baik-baik saja kita undur jadwal saja.” Tristan menaruh pisau dan garpu menyilang di atas piring tanda selesai dengan makanannya. Begitu pula dengan Altair. “Maaf. Sepertinya aku butuh istirahat dalam hal kerjaan.” “Apa pikira

