Arinee berlari kecil menuju kamarnya. Dadanya sesak, teramat sesak. Sudah belasan tahun ia tidak bertemu dengan Haidar, luka yang di buat Haidar masih menganga sampai sekarang dan seumur hidup mungkin Arinee tidak akan bisa menyembuhkan luka yang terlalu dalam itu. Wanita itu memukul pelan dadanya, tangannya meremas kain yang menutupi bagian d**a tersebut, ia duduk di pinggir ranjang dengan nafas yang tidak beraturan. Selama di dalam bis tadi…. Dia menahan air mata supaya tidak jatuh di kedua pipinya dan sekarang air mata itu sudah tidak terbendung lagi. Buliran air tersebut sudah menggenang dan membentuk telaga di kedua matanya yang bening lalu bercucuran di kedua pipinya. “Haidar….” Suaranya berdesis. Nada kebencian bercampur kerinduan yang tiada tara. Arinee sangat membenci Haidar ta

