“Mas….” Arinee merunduk malu, wajahnya masih merona kemerahan. Dia tidak mampu memandang pria yang masih terbaring di sampingnya. Selimut Arinee tarik tinggi hingga menutupi sebagian wajahnya. “Hmmm….” Pria itu merubah posisi tidur menjadi menyamping, menghadap Arinee. Dia sangat bahagia sekaligus bangga karena menjadi orang pertama yang tidur dengan gadis yang baru saja dia ambil kegadisannya. “Aku takut,” cicit wanita itu. “Takut kenapa?” tanyanya dengan suara serak. Arinee terdiam, apa yang dia takutkan? Arinee sendiri juga tidak tahu bagaimana menyampaikannya pada Haidar, pria yang sudah menjalin hubungan dengannya selama dua tahun ini. Yang jelas, mereka melakukan hubungan ini atas dasar suka sama suka, tidak ada yang memaksa. Arinee dengan sukarela menyerahkan semua tubuhnya pada

