“Katanya kamu punya pacar, Kak?” tanya Fely –Ibu Bianca.
Bianca menatap sang ibu yang tengah tersenyum jahil kepadanya.
Dari mana Ibunya tahu dia punya kekasih?
Lalu pandangannya teralih pada sang adik yang tengah duduk di atas karpet sambil makan mie. Seolah merasakan ada yang menatapnya Rayhan -adik Bianca- mendongakkan kepala menatap sang kakak.
“Apa? Bukan Ray yang bilang, Bunda tau sendiri, iya kan, Bun?”
Rayhan menatap sang ibu dengan meminta bantuan. Padahal memang dia yang bercerita pada Ibu mereka karena beberapa hari ini kakak perempuannya sering di antar jemput oleh seorang laki-laki dengan seragam yang sama.
“Alah! Bohong banget, kakak tau ya kamu itu suka comel ke mana-mana,” sembur Bianca menatap sang adik dengan begitu tajam.
Rayhan cengengesan, "Tapi bener kan kakak punya pacar. Jangan suka bohong, dosa tau,” ucapnya di balas dengan cibiran oleh Bianca.
“Kalau punya pacar juga gapapa, dulu Bunda juga punya pacar pertama waktu seumur Kakak. Biar masa remajanya gak melulu sibuk belajar, pusing juga kan kalau belajar terus. Masa remaja itu harus di nikmati tapi masih dalam batas wajar, antara belajar sama cinta emang salah satu bakalan ada yang harus di korbankan, tetapi bukan berarti gak boleh memulai cinta cintaan,” jelas Fely kepada Bianca. Gadis itu mengangguk paham dengan apa yang sang ibu jelaskan.
“Terus pacar Kakak siapa namanya?” tanya Rayhan yang masih kepo pada laki-laki yang sering menjemput Kakaknya.
“Kepo banget,” jawab Bianca.
“Idih. Kepo is care, care is kepo,” celetuk Ray.
“Halah! Kamu masih kecil gak usah tau cinta-cintaan.”
“Aku udah kelas 2 SMP.”
“Bunda juga pengen tau siapa nama pacar Kakak,” ucap Fely menjadi penengah antara kedua anaknya sebelum Bianca kembali membalas perkataan adiknya.
“Radi, Bun,” ucap Bianca akhirnya.
Kalau sudah ibunya yang berbicara ya mana bisa dia mengelak atau berbohong dengan alasan tak punya pacar. Felling seorang ibu itu selalu kuat kalau berhubungan dengan anaknya.
“Nanti kenalin ya, Kak,” ucap sang ibu membuat Bianca menatap ibunya dengan tatapan tak percaya.
Secepat itu ibunya ingin bertemu dengan Radi?
Astaga kenapa dia jadi grogi, padahal Radi yang akan bertemu dengan ibunya.
“Iya, Bun. Nanti Kakak ajakin ke sini,” putus Bianca akhirnya.
**
“Iya beneran, kata Bunda tadi Bunda mau kenalan sama kamu,” ucap Bianca saat berbicara dengan Radi lewat telepon.
“Ya kenalan aja,” balas Radi dari seberang telepon.
“Yakin?”
“Emang kenapa? Kan tinggal ketemu, kenalan, udah.”
“Ya gapapa sih.”
“Terus nanti giliran kamu yang kenalan sama orang tua aku.”
“Hah?!”
Bianca sampai terduduk dari posisinya yang tengah berbaring di atas tempat tidur. “Ngapain?” tanya Bianca dengan nada tak santai.
“Kenalan juga, biar impas,” ucap Radi. Bianca tak tahu saja kalau Radi tengah tertawa karena membayangkan ekspresi kekasihnya yang pasti menggemaskan sekali saat terkejut.
Lagi pula benar kan, biar mereka sama-sama kenal dengan orang tua masing-masing. Kalau memang orang tua Bianca mau bertemu dengan Radi, berarti orang tuanya juga bisa bertemu dengan Bianca.
“Iya deh, tapi jangan dadakan. Aku harus siap-siap juga,” ucap Bianca.
“Buat apa?”
“Ya buat ketemu sama orang tua kamu.”
“Kenapa harus siap-siap?”
“Ih! Pokoknya jangan dadakan titik!” putus Bianca membuat Radi tersenyum tipis.
“Iya, Sayang. Ya udah tidur sana, besok aku jemput agak pagi ya sekalian ketemu Bunda kamu,” ucap Radi.
“Mau ngapain?”
“Kan tadi mau ketemu sama aku katanya.”
“Cepet amat.”
“Ya lebih cepat lebih baik, tidur sana. Selamat tidur, Sayang,” ucap Radi kembali perkataannya terdengar begitu merdu di telinga Bianca.
“Selamat tidur juga, Radi.”
**
Bianca bangun lebih pagi dari biasanya, ini karena Radi yang semalam bilang akan menjemput dia lebih pagi karena hendak bertemu dengan ibunya.
Bianca tengah membantu sang ibu menyiapkan sarapan, karena di rumahnya memang tak ada asisten rumah tangga.
Seluruh pekerjaan rumah tangga di lakukan oleh sang ibu, kecuali di hari sabtu dan minggu maka Bianca dan Rayhan yang akan mengerjakan, hitung-hitung hadiah untuk sang ibu karena hampir setiap hari sibuk di rumah.
Tetapi memang sejak kecil mereka sudah di ajarkan untuk membereskan rumah, seperti menyapu dan mengepel juga pekerjaan lainnya yang di kerjakan sang ibu, akhirnya terbawa sampai remaja dan tak kaku lagi mengerjakan semuanya.
“Bun, hari ini katanya Radi mau kenalan,” ucap Bianca sambil memotong sosis untuk di masukkan nanti sebagai pelengkap nasi goreng.
“Lho! Hari ini?” tanya Fely.
“Iya, katanya lebih cepat lebih baik,” jawab Bianca.
“Ini aku goreng ya, Bun,” lanjutnya sudah mengambil alih alat memasak.
Mulai memasak nasi gorreng, menu sarapan yang lumayan dia kuasai, kalau masak yang lain dia masih dalam tahap belajar.
Fely mengangguk,“Datang jam berapa Radi?” tanyanya.
“Paling sebentar lagi, Bun.”
“Ya udah nanti ajak sarapan bareng.”
Bianca mengangguk, “Ayah gapapa kan, Bun?” tanya Bianca mengingat sang ayah sama sekali belum tahu kalau dirinya sudah memiliki kekasih.
Entahlah bagaimana respon ayahnya tetapi kalau Bianca kira-kira sih tak jauh seperti ibunya.
“Ayah udah tau kok,” sahut Fely dengan santai.
“Lho! Kapan? Kok kakak nggak tau,” ucap Bianca menoleh ke arah ibunya yang tengah membereskan piring.
“Semalam, Bunda cerita.”
Fely terkekeh melihat wajah cemberut anaknya. “Lagian lama-lama juga Ayah tau, jadi ya udah Bunda cerita semalam,” lanjutnya.
“Emang susah kalau mau rahasia sama Ayah dan Bunda udah tau,” keluh Bianca.
“Iya dong Bunda sama Ayah gak ada rahasia-rahasia. Satu sama lain kalau namanya pasangan apalagi suami istri harus saling terbuka dan gak ada yang di tutup-tutupi.”
“Iya deh iya,” ucap Bianca kemudian melanjutkan kegiatan masaknya yang sebentar lagi nasi gorreng buatannya akan matang.
Bianca jadi ingat kalau Radi sarapan bersama keluarganya berarti Radi juga makan nasi gorreng buatannya, dengan buru-buru Bianca kembali mencicipi nasi goreng tersebut, kalau sampai terlalu asin bisa gawat. Sementara Fely yang tengah memperhatikan anak gadisnya tersenyum kecil melihat tingkah Bianca.
“Awas kalau asin berarti kamu mau cepet nikah,” celetuk Fely membuat Bianca menatap sang ibu dengan tatapan protes. Itu sih mitos, batinnya.
**
Radi menatap anak laki-laki di hadapannya yang juga menatap Radi dengan penuh tanya. Dia baru saja sampai di rumah Bianca dan saat menekan bel rumahnya, pintu di buka oleh seorang anak laki-laki yang memakai seragam putih biru. Wajahnya sih mirip Bianca sedikit hanya matanya saja yang lebih sipit.
“Kakak siapa?” tanya Rayhan melihat laki-laki berseragam SMA di hadapannya, “Oh pasti pacarnya Kak Caca,” lanjut Rayhan saat ingat laki-laki yang selalu menjemput Kakaknya.
Radi mengernyit,”Kak Caca?”
“Iya, Kak Caca alias Kak Bianca, aku manggilnya Kak Caca,” ucap Rayhan melihat Radi yang kebingungan.
Radi pun mengangguk, jadi kalau di rumah Bianca di panggil dengan nama Caca. Lucu juga, batinnya.
“Masuk kalau gitu, Kak,” ucap Rayhan mengajak Radi masuk ke dalam rumah.
Radi pun mengikuti Rayhan yang sudah lebih dulu memasuki rumah setelah Radi menutup pintu rumah karena remaja itu malah berlalu begitu saja.
“Bunda ada pacar Kak Caca!!” teriak Rayhan bahkan membuat Radi terkejut karena suarara Rayhan yang begitu keras.
Fely yang berada di meja makan menghampiri Rayhan yang berjalan dengan seorang laki-laki berseragam SMA. Fely menyambut Radi dengan senyuman, “Jadi ini namanya Radi?” tanya Fely saat Radi mencium tangannya.
“Iya tante, saya Radi,” ucap Radi tersenyum.
“Biancanya masih di kamar, tunggu aja ya. Kita sarapan sama-sama,” ajak Fely.
“Gak usah repot-repot, tan. Radi tunggu di depan aja.”
“Jangan dong. Masa mau berangkat sekolah gak sarapan, udah kita sarapan sama-sama sekalian ketemu sama ayah Bianca juga.”
“Terima kasih tante, maaf jadi ngerepotin.”
“Gapapa, ya udah tante masih siapin sarapan. Kamu tunggu aja sama Ray,” ucap Fely.
Radi mengangguk kemudian menghampiri Rayhan yang tengah duduk dengan buku yang begitu berserakan di hadapannya.
“Ngerjain apa?” tanya Radi mencoba untuk mengakrabkan dirinya dengan adik Bianca.
“Ini Kak, tugas dari sekolah semalam belum selesai,” jawab Rayhan yang tengah pusing menatap soal matematika di hadapannya ini.
Semalam dia memang mengerjakan tetapi baru beberapa saja karena soal yang lainnya begitu sulit.
“Pelajaran apa?” tanya Radi.
“Matematika, dua soal lagi tapi susah banget dari semalam. Mau tanya Kak Caca, dianya udah tidur susah di bangunin,” curhat Rayhan yang entah kenapa bisa begitu nyaman bersama dengan Radi. Mungkin karena sama-sama laki-laki jadi Rayhan cepat akrab.
Radi tersenyum kecil. “Sini, Kak Radi bantu yang belumnya,” ucapnya membuat kedua mata Rayhan berbinar karena mendapatkan bantuan dari kekasih Kakaknya.
Radi pun mengerjakan soal yang di tunjukkan oleh Rayhan sambil menerangkannya. Rayhan tampak serius memperhatikan penjelasan Radi bahkan apa yang di jelaskan Radi mudah dia pahami, Radi juga memberikan cara yang mudah, cepat dan tepat untuk menjawab soal jika nanti dalam ujian harus berperang dengan waktu.
“Serius amat.”
Bianca baru saja turun dari kamar lalu menghampiri Radi saat mengetahui Radi sudah datang dari sang ibu. Radi dan Rayhan kompak menoleh ke arah Bianca. “Ngerjain apa?” tanya Bianca duduk di samping Rayhan.
“Tugas matematika, semalam Kakak udah tidur waktu aku mau tanya,” ucap Rayhan.
Bianca mengangguk, “Udah selesai sekarang?” tanyanya.
“Udah dong, di bantuin Kak Radi,” jawab Rayhan tersenyum lebar.
“Emang kamu bisa?”
Kali ini Bianca menatap Radi yang duduk di sisi kanan Rayhan membuat adiknya berada di antara mereka berdua.
“Kamu ngeremehin aku.”
“Bercanda doang.”
Bianca terkekeh membuat Radi mengacak rambut kekasihnya. “Ih! Berantakan lagi,” protes Bianca. Rayhan yang berada di tengah-tengah Kakak dan kekasih Kakaknya perlahan menjauh dari pada harus ikut dalam urusan rumah tangga keduanya.
“Kak Caca, Kak Radi, makan kata Bunda!” teriak Rayhan yang sudah berada di meja makan.
“Lah kapan itu bocah ke sana,” ucap Bianca yang baru sadar Rayhan sudah tak ada di sebelahnya. Radi menggeleng tak tahu juga.
“Ya udah kita sarapan dulu, yuk!” ajak Bianca.
Radi pun mengikuti Bianca berjalan menuju ruang makan. Pertama kalinya dia sarapan bersama Bianca dan keluarganya, agak grogi sih tapi Radi bisa menutupi itu semua.
**
“Nah ini, Ayah yang namanya Radi,” ucap Fely pada Barra –suaminya.
Barra tersenyum ramah menatap Radi yang baru saja bergabung dengan mereka, Radi duduk di samping Bianca setelah menyalami tangan Barra.
“Jadi pacarnya Kakak ni?” Barra tersenyum jahil pada anak gadisnya.
Bianca jadi malu sendiri karena ini pertama kalinya dia mengajak laki-laki ke rumah bertemu dengan kedua orang tuanya. Belum lagi bukan sekedar tema tetapi sudah memiliki status kekasih.
“Iya Ayah,” jawab Bianca jujur.
“Lebih ganteng Ayah atau Radi?” tanya Barra lagi namun setelahnya tertawa karena melihat Bianca yang wajahnya memerah malu.
“Ayah, iseng banget deh sama anaknya. Kasian Kakak malu,” ucap Fely meski akhirnya dia pun sama begitu iseng pada Bianca.
“Ah Bunda sama Ayah sih sama aja,” celetuk Rayhan yang sejak tadi memperhatikan kedua orang tuanya tengah usil pada Kakaknya.
“Jaga anak Om ya, Om percaya sama kamu,” ucap Barra dengan nada yang serius.
Radi mengangguk dan mengiyakan apa yang Barra minta, menjaga Bianca. Radi tak akan mengecewakan.
Setelah sesi usil kedua orang tua Bianca berakhir, mereka pun mulai sarapan dengan masakan buatan Bianca. Radi tak berkomentar apa pun saat Fely -ibu Bianca- bilang nasi gorreng ini di buat oleh Bianca, tetapi hal itu membuat Bianca sebal. Dia kan ingin mendengar komentar dari Radi tentang masakannya, emang dasar Radi tak peka.
**
“Kamu bawa mobil?” tanya Bianca saat mereka keluar dari rumah setelah berpamitan kepada kedua orang tua Bianca.
“Iya, kenapa?” Radi malah balik bertanya.
Dia memang sengaja membawa mobil karena menurut pra kiraan cuaca, siang ini akan turun hujan dan Radi tak ingin nanti saat mereka dalam perjalanan pulang hujan turun dan Bianca kehujanan. Akhirnya dia pun memilih untuk membawa mobil ke sekolah untuk pertama kalinya.
“Ya gapapa, tiba-tiba aja gitu.”
“Masuk,” ucap Radi setelah membuka pintu samping untuk Bianca.
Setelah mereka berdua di dalam mobil, Radi belum menyalakan mesin mobilnya membuat Bianca menoleh ke arah kekasihnya dengan tatapan bertanya.
Radi tersenyum menatap kedua mata Bianca. Kedua tangannya mengelus rambut Bianca dengan penuh kasih sayang.
Radi tahu Bianca menunggu komentarnya tentang nasi goreng yang tadi Bianca buat, Radi bukan tak ingin berkomentar karena masakan Bianca tak enak, justru bagi Radi masakan Bianca sangat enak meski masih sedikit asin kalau untuknya, tetapi justru dia ingin makan lagi masakan Bianca. Radi tak berkomentar karena dia menunggu saat mereka hanya berdua.
“Makasih ya sarapannya, masakan kamu enak, nanti garamnya kurangin dikit ya, Sayang” ucap Radi masih mengelus rambut kekasihnya.
Bianca mengerucutkan bibirnya, “Asin banget ya?” tanya Bianca.
“Nggak, pas kalau buat kamu. Aku gak begitu suka asin jadi buat aku kurangin dikit lagi. Tapi masakan kamu enak kok, nanti bikinin aku sarapan lagi ya,” pinta Radi.
Bianca tersenyum dan mengangguk. Komentar Radi membuat Bianca jadi tahu kalau kekasihnya tak begitu suka makanan yang terlalu asin.