6 : Kelas

1762 Kata
Bianca masuk ke dalam kelasnya setelah Radi pergi, kekasihnya itu memang keras kepala. Sudah dia bilang kalau Radi tak perlu mengantar sampai kelas tetapi Radi tak mendengarnya, Radi dengan sengaja mengantarkan Bianca sampai depan kelas, benar-benar sampai di depan pintu.  Astaga memangnya Bianca anak sekolah dasar yang harus di antar sampai depan pintu oleh orang tuanya, bahkan anak sekolah dasar jaman sekarang paling di antar sampai gerbang sekolah. Di kelasnya cukup ramai tetapi Bianca hanya melihat Laura saja yang tengah asyik dengan buku di tangannya.  Laura itu memang pintar sampai di waktu senggang pun baca  buku pelajaran. Malah Bianca pikir, Laura tak pernah punya waktu untuk sekedar mengistirahatkan otaknya seolah setengah bagian dari hidup Laura itu adalah belajar. Bianca saja kalau setiap saat belajar, otaknya akan panas, kalau error kan nanti bakalan ribet. Bianca menghampiri Laura dan duduk di kursi samping sahabatnya itu, “Lau, dari tadi lo datang ke kelas ini, lo langsung baca materi pelajaran?” tanya Bianca sambil mengeluarkan buku tugasnya karena tadi malam dia belum mengerjakan sebagian tugas yang hari ini akan di kumpulkan, bukan Bianca malas mengerjakan tetapi memang tadi malam dia tak berkonsentrasi dan saat mengerjakan pun dia tak mendapatkan jawaban. Kalau pagi ini kan otaknya sudah kembali segar, Bianca bisa kembali berpikir. Laura menoleh ke arah samping, dia baru menyadari keberadaan sahabatnya karena sejak tadi benar-benar fokus pada buku yang ada di tangannya.  “Iya, abisnya semalam gue masih gak ngerti materi ini, lo udah ngerti belum, Bi?” ucap Laura sambil menunjuk materi yang sedang dia baca. “Oh itu, nanti gue jelasin. Gue mau beresin tugas Pak Ilham dulu ni, semalam gue gak nemu jawabannya, siapa tau kali ini gue dapat pencerahan,” balas Bianca.  Laura mengangguk dan mereka pun kembali dengan fokus masing-masing. “Super sekali dua orang pintar ini ya, yang satu lagi baca materi, yang satu lagi ngerjain tugas. Emang cuma gue aja yang santai kaya di pantai.”  Adel baru saja datang dan melihat kedua sahabatnya tengah serius dengan buku mereka. Tak heran juga sih mengingat memang Bianca dan Laura itu siswa yang berprestasi di bidang akademik, Bianca selalu juara satu di kelas dan Laura yang juara dua di kelas.  Kalau dirinya?  Ya sudah pasti bukan juara ketiga, tetapi masih ada lah nama Adel di deretan sepuluh besar di kelasnya. Bianca dan Laura menoleh secara bersamaan menatap Adel dengan wajah protes mereka karena Adel berisik di waktu yang tidak tepat.  “Mukanya selow dong, Mbak-mbak, kompak amat,” ucap Adel saat melihat wajah keduanya yang menatapnya dengan tajam.  Ya maklum dia kan spesies langka di antara mereka, tetapi bukannya ini yang namanya saling melengkapi. Di saat keduanya yang memiliki sifat tenang, ada Adel yang menjadi peramai di dalamnya.  Lengkap kan, jadi mereka tak terlalu sepi. “Lo semenit aja bisa gak itu suara di pelanin dikit, mengganggu konsentrasi belajar tau,” ucap Bianca.  Beruntung dia sudah menyelesaikan soal terakhir saat tadi Adel datang ke kelas. Kalau tidak sudah pasti kacau karena Adel pasti merusuh.  Entah mengajak mereka bergosip atau bertanya-tanya yang sama sekali tak penting. Untung saja mereka sudah sahabatan dari lama jadi satu sama lain tahu sifat masing-masing, walau terkadang jengkel. Terutama pada Adel yang selalu berulah, kalau kata Adel dirinya selalu ternistakan. “Gak bisa, Bi. Gue ini apa adanya tanpa di tutup-tutupi, emangnya lo mau punya sahabat bermuka dua, mending gini yang asli-asli aja. Jadi terimalah kekurangan dan kelebihan Adelia yang manis baik hati tidak sombong ini,” cerocos Adel membuat Bianca mendelik. “Iya deh, terserah lo aja. Gue udah kebal sama sifat dan sikap lo ini,” ucapnya. “Nah gitu dong! Eh btw ya, ini kita kan bentar lagi naik kelas ni. Katanya kelas kita mau di acak lagi, jadi kemungkinan kita gak akan sekelas. Gue jadi galau kan, ya syukur kalau ternyata kita bisa sekelas lagi, kalau nggak, gue pasti bakalan kangen sama kalian berdua,” ucap Adel begitu penuh ekspresi. “Emangnya kata siapa, Del?” tanya Laura yang sedari tadi masih membaca materi tetapi teralihkan saat Adel membahas tentang kelas mereka yang akan kembali di acak.  Entahlah apa di sekolah yang lain sama atau tidak, tetapi di sekolah mereka terkadang saat kenaikan kelas dan berada di kelas baru maka siswa yang di dalamnya bukan lagi siswa yang sama, tetapi akan ada pergantian yang di atur sistemnya, mungkin secara acak saja. “Tadi gue denger dari kelas lain, ya info di sekolah kan cepat banget nyebarnya.” “Jadi kemungkinan kita sekelas itu menipis? Wah gue harap gue masih bisa sekelas sama Laura, kalau sama lo ngeri gue, Del,” ucap Bianca membuat Adel memberenggut kesal.  Nah kan Adel terlukai. Dasar sahabat tak tau peri kesahabatan! Batinnya. “Lo emang jahat sih, Bi. Gue yang kalem gini selalu tersakiti, tak pernahkah kau sadari akulah yang kau sakiti,” ucap Adel yang malah menyanyikan sebuah lirik lagu. “Kumat deh kumat!” Adel tertawa,”Ya pokoknya gue santai lah sama siapa pun, kan masih di sekolah yang sama bukan pindah ke luar negeri,” ucap Adel. “Nah tumben omongan lo agak bener,” celetuk Bianca.  Laura yang mendengar percakapan keduanya hanya tersenyum saja, sudah sering terjadi perdebatan antara Bianca dan Adel tetapi ya begitulah mereka. ** “Jadi bener gosip terbaru di sekolah ini, kalau tahun depan kelasnya bakalan di acak lagi?” tanya Devon. Mereka sedang berada di lapangan basket sambil menunggu bel masuk berbunyi. “Iya, tadi gue denger sih gitu,” ucap Marcel. “Padahal kan udah nyaman di kelas ini, apalagi di masa-masa terakhir sekolah. Masa orang-orang di kelasnya beda lagi, harusnya gak usah di ganti. Biar kita makin kompakan gitu.” “Alah bilang aja lo gak mau pisah kelas dari Maya,” celetuk Marcel. “Ah lo tau aja.” “Nah kan! Ketebak banget njirr!” Radi hanya diam menyimak percakapan keduanya, kalau benar kelas mereka nanti akan kembali di pecah maka akan ada kesempatan Radi untuk satu kelas dengan Bianca, mengingat itu Radi senang sekali apalagi selama kelas satu sampai sekarang kelas dua mereka sama sekali tak pernah satu satu kelas. “Ngapain lo senyum-senyum sendiri, mikir jorok ya lo!” ucap Marcel saat melihat Radi yang tersenyum sendiri padahal mereka sedang mengobrol. Radi menatap Marcel dengan tatapannya yang tajam, “Kepo lo!” balas Radi. “Lo nggak peka banget, Cel. Gini ya kalau kita beda kelas lagi, kemungkinan 50-50 Radi bisa satu kelas sama pacarnya alias Bianca, ya jelas lah dia senang. Lo juga kalau sekelas sama Monica bakalan jingkrak-jingkrak.” “Lah iya ya, gue baru kepikiran. Kalau gitu sih gue juga semangat apalagi kalau bisa sekelas sama Ayang gue.” “Jijik kampet! Ayang-ayang pala lo kayang!” “Sirik aja lo!” ** “Karena ini semester terakhir kita di tahun ini, jadi Ibu harap kalian bisa fokus untuk ujian apalagi nanti sudah masuk kelas tiga. Dan seperti yang sudah terdengar kabar di sekolahan kita, untuk tahun depan kelas ini akan berbeda. Yang artinya siswa dan siswi yang sekarang berada di kelas yang sama kemungkinan besar tidak akan kembali satu kelas. Kenaikan kelas nanti kelas kembali di acak dan baru,” penjelasan Bu Ika -wali kelas Bianca- membuat semuanya melayangkan kata protes.  Jelas karena mereka merasa sudah nyaman selama dua tahun ini bersama-sama dan seharusnya di tahun terakhir menjadi tahun yang berkesan untuk mereka bersama dengan teman-teman yang sama di kelas mereka. Tetapi sekarang harus terpisah, ya tetap berkesan tetapi dengan teman-teman yang berbeda meski satu sama lain masih tetap kenal dengan teman mereka di luar kelas. “Itu udah di jamin kebenaranannya, Bu?”  Adel mengangkat tangannya, menyerukan apa yang mungkin ingin di katakan oleh teman-temannya. Memang dia yang selalu berani untuk bertanya saat yang lain memilih untuk diam. Adel itu mungkin menyebalkan dan tukang berisik, tetapi dia bisa menjadi penyelamat di kelas. Begitulah kata mereka selama dua tahun berada di satu kelas dengan gadis berambut lurus itu. “Sudah, semua guru sudah sepakat. Jadi anggap saja minggu-minggu ini perpisahan untuk kalian di kelas masing-masing. Selesaikan yang harus di selesaikan, akhiri yang harus di akhiri. Ibu harap meski kalian tidak berada di kelas yang sama nanti, tetapi pertemanan kalian tetap terjaga karena semua yang berada di sekolah ini teman. Kalau begitu sekian materi hari ini dan pengumuman mengenai kelas baru nanti, selamat istirahat,” pamit Bu Ika dan keluar dari kelas.  Setelah mereka tahu gurunya keluar mereka pun mulai  ramai membahas kembali pengumuman tadi. “Nah perhatian teman-teman!” ucap sang ketua kelas, Reno. “Seperti yang tadi di sampaikan oleh Bu Ika kalau di tahun nanti kita gak akan satu kelas lagi, gue sebagai ketua kelas mohon maaf kalau ada salah-salah selama dua tahun ini menjabat sebagai ketua kelas. Sebenernya gue gak rela kita pisah kaya gini,” ucap Reno yang diakhiri dengan penuh drama. “Gini kata Bu Ika tadi kita kan gak sekelas ni nanti, tapi kita masih berteman. Apalagi kenangan kita udah banyak banget, dari mulai kemah sekelas, terus piknik juga, terus yang paling berkesan acara pekan olah raga antar kelas. Gue jadi sedih,” ucap Adel yang ikut maju ke depan teman-temannya.  Yang lain pun setuju, banyak kenangan yang mereka ukir selama ini, jadi akan sangat berat jika mereka tak satu kelas lagi, tetapi mau bagaimana lagi ini memang akan terjadi hanya saja mungkin bagi mereka terjadi di waktu yang tak tepat karena harus pisah kelas pada saat masa-masa terakhir menjadi siswa yang mengenakan seragam putih abu. Mereka pun memilih untuk makan siang bersama di kelas, membawa makanan mereka ke dalam kelas di bandingkan harus pergi ke kantin.  Kelas Bianca memang termasuk kelas yang kompak dalam hal apa pun jadi pasti akan sangat berat meninggalkan kelas ini, begitu juga yang dirasakan oleh Bianca, Adel dan Laura. Radi : Kamu nggak ke kantin?  Bianca membaca pesan yang baru saja masuk dari Radi, hampir saja dia lupa memberitahu kekasihnya tentang ini. Binca : Hari ini aku makan sama yang lain di kelas, kamu tahu kan tahun depan kelasnya bakalan di acak. Ini kita makan sekelas ko. Radi : Ok. Nanti aku jemput depan kelas. Bianca : Iya siap! Kan kamu selalu kaya gitu. Radi :  Suka-suka aku. “Iyalah suka-suka kamu, orang kamu gak bisa dibantah,” gumamnya setelah membaca pesan dari Radi. Setelah itu tanpa membalas pesan tersebut, Bianca memilih untuk kembali bergabung dengan obrolan teman-temannya.  Mereka menikmati waktu bersama di kelas mereka, begitu menyenangkan dan Bianca pasti akan merindukan masa-masa ini bersama dengan tema satu kelasnya, juga dengan Adel dan Laura meski dengan kedua sahabatnya itu pasti akan selalu bersama, tetapi tetap saja kalau tidak bisa satu kelas akan aneh rasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN