7 : Rencana

1821 Kata
Radi berjalan ke luar kelas setelah lima menit guru mereka meninggalkan kelas, seperti biasa dia akan menunggu Bianca di depan kelas kekasihnya saat bel pulang sudah berbunyi.  Hal ini bukan karena Radi bucin atau mungkin memang seperti itu, Radi tak tahu dan tak mau tahu yang jelas baginya dia tak boleh lengah sedikitpun saat memiliki pacar seperti Bianca.  Kekasihnya itu gadis yang cukup populer di sekolah mereka, wajar kan kalau Radi menjaga Bianca dari siapa pun apalagi siswa laki-laki di sekolah ini yang pastinya mengagumi Bianca atau bahkan akan secara terang-terangan menunjukkan perhatiannya kepada Bianca.  Mana mau Radi kalau sampai kekasihnya mendapat perhatian dari laki-laki lain, cukup darinya saja. “Gue sih berharap bisa sekelas sama Bianca, biar kalau di kelas gak keruh kan ada yang seger gitu." Perkataan seorang siswa membuat Radi menghentikan langkah kakinya. Radi menggeram kesal, apa Bianca yang di maksud tadi adalah kekasihnya, tetapi bukannya hanya ada satu nama Bianca di sekolahnya. Seenaknya saja siswa laki-laki itu mengatakan ingin satu kelas dengan kekasihnya.   Radi hendak memberikan pelajaran pada siswa tersebut sebelum suara dari gadis yang dia kenal membuat dia akhirnya mengurungkan niat. Meski masih kesal tetapi dia tak ingin di cap sebagai berandal di hadapan Bianca.  “Aku panggil dari tadi, kamu kenapa?” tanya Bianca saat Radi sudah berada di hadapannya.  Sejak tadi dia memang memanggil Radi saat melihat laki-laki itu masih berada di depan kelas yang bersebelahan dengan kelasnya. Radi yang tengah menatap dua siswa yang duduk di depan kelas dengan begitu tajam sampai Bianca merasa takut sendiri melihat tatapan Radi.  “Gapapa, kita pulang sekarang,” ucap Radi sambil merangkul bahu kekasihnya. Banyak yang memerhatikan mereka dan tak jarang iri melihat Bianca.  Siapa yang tak iri kalau ternyata bisa menjadi kekasih dari laki-laki populer di sekolahan. Siapa pun pasti ingin menjadi kekasih dari Radi. **  “Ini tumbenan banget kita berdua, Marcel sama Devon ke mana?” tanya Biaca.  Mereka baru saja sampai di parkiran dan tak melihat keberadaan Marcel dan Devon yang biasanya selalu bersama dengan Radi.  Sementara Laura dan Adel tadi memang mereka pamit pulang lebih dulu, karena Adel ingin membeli hadiah untuk ibunya di antar oleh Laura, tadinya sih Bianca akan ikut tapi mengingat dia belum ijin pada Radi, jadi Bianca memilih tak ikut saja, minta ijin pun apalagi mendadak seperti ini sudah pasti Radi tak akan memberikan ijin.  Lama-lama Radi memang posesif sekali sampai ke manapun harus lapor padanya. Menyebalkan! Tapi kenapa juga dia sayang. “Kamu kenapa malah nanyain cowok lain sih, yang jelas-jelas aku ini pacar kamu lho!” ucap Radi kesal mendengar Bianca malah menanyakan keberadaan kedua sahabatnya. Nah kan!  Apa Bianca bilang, Radi memang menyebalkan padahal Bianca hanya bertanya saja dan tak ada maksud apapun.  Astaga, ini sifat aslinya si Kapten basket yang paling populer di sekolahnya.  “Aku nanya aja, Radi. Biasanya kan mereka selalu ada gitu barengan sama kamu jadi aku aneh pas sekarang mereka gak ada, itu aja ko. Kenapa kamu marah-marah sama aku,” balas Bianca jadi ikutan jengkel. “Aku gak marah, Sayang.” “Tapi kamu tadi marah-marah sama aku.” “Oke. Aku minta maaf ya, sekarang masuk mobil.”  Radi membukakan pintu samping mobilnya untuk Bianca, gadis itu langsung masuk saat Radi menyuruhnya.  Radi mengembuskan napas pelan, kenapa mereka jadi berdebat seperti ini. Oke, mungkin dia memang salah, tapi kan dia hanya tak suka saja mendengar kekasihnya yang malah menanyakan laki-laki lain. Oh Radi lupa poin pertamanya adalah laki-laki itu selalu salah. ** Radi sedang merebahkan tubuhnya di sofa sambil menonton tayangan di televisi. Setelah mengantarkan Bianca tadi ke rumah, dia memang langsung pulang dan tak ada kegiatan apa pun. Apalagi Bianca yang tengah sibuk membantu ibunya membuat kue, katanya sambil belajar juga membuat Radi tak bisa mengajak kekasihnya keluar rumah.  Radi juga senang karena Bianca mau belajar membuat kue, bahkan dia sampai membayangkan bagaimana nanti jika mereka sudah menikah pasti Radi setiap hari akan selalu menyantap makanan masakan Bianca.  Radi tersenyum kecil mengingat bahwa dia sudah memikirkan hal sejauh itu, tetapi tak apa, kan. Anggap saja doa untuk mereka agar bersama sampai nanti. Amira -mama Radi- yang baru saja membuat jus dari dapur dan hendak memberikan kepada sang anak laki-lakinya, melihat Radi tengah tersenyum sendiri.  Hal itu membuat Amira begitu penasaran karena tak biasanya sang anak tersenyum seperti itu, sudah pasti ada hal yang membahagiakan untuknya.  Amira juga perhatikan akhir-akhir ini Radi tampak selalu bahagia, berbeda sekali dengan Radi sebelumnya yang mungkin bisa di bilang terlalu dingin bahkan untuk tersenyum pun sulit. “Ada apa sama anak Mama, kok kaya yang senang gitu,” ucap Amira kemudian duduk di samping Radi membuat anaknya menoleh ke arahnya dengan senyum yang masih tampak jelas membuat Amira semakin penasaran. “Gak ada apa-apa, Ma,” ucap Radi namun masih tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya.  Amira mengelus rambut anaknya dengan begitu pelan, anak satu-satunya yang begitu dia sayangi namun Radi sejak dulu tak pernah manja kepada dirinya dan suami. Radi bisa di bilang anak yang mandiri meski merupakan anak tunggal. “Jadi Mama gak boleh tahu ni?” tanya Amira.  Selama ini Radi memang selalu menceritakan apa pun kepada kedua orang tuanya, meski di luar Radi tampak begitu dingin dan bicara saja kalau perlu tetapi jika sudah di rumah Radi akan selalu menceritakan apapun kepada orang tuanya, terutama Mama-nya. “Aku cerita dari mana ya, Ma,” ucap Radi yang hendak memulai ceritanya tetapi dia jadi bingung sendiri apa yang akan dia ceritakan lebih dulu kepada mamanya. “Ya dari hal yang bikin kamu ini senyum lah.” “Mama tau gak dulu aku pernah cerita yang anak cewek pernah aku lihat di pinggir jalan gitu lagi sama pengamen?” “Iya. Kamu dulu cerita kan, yang ternyata cewek itu satu sekolah sama kamu tapi beda kelas gitu,” ucap Amira yang mulai ingat anaknya pernah menceritakan tentang seorang gadis yang baru saja dia lihat. Bahkan Amira sempat tak percaya juga senang saat Radi mau menceritakan hal ini kepadanya. “Nah dia namanya Bianca, Ma.” “Bianca? Cantik ya namanya, orangnya juga pasti cantik.” “Cantik banget, Ma. Bukan cuma wajah tapi hatinya juga,” ucap Radi tersenyum mengingat Bianca yang memang cantik hatinya. Amira ikut tersenyum, sepertinya dia mulai tahu anaknya tengah jatuh cinta pada gadis yang bernama Bianca.  Amira senang sekali, bahkan dia juga ingin tahu bagaimana sosok gadis yang bisa membuat senyum di wajah Radi muncul seperti ini. “Kayanya anak Mama lagi jatuh cinta,” ucap Amira yang membuat Radi menoleh ke arah mamanya. “Terus gimana sekarang? Apa lagi yang bikin kamu sampe senyum terus kaya tadi?” tanya Amira kembali setelah melihat Radi yang malah terus tersenyum sambil menatapnya. “Jadi udah lama sih, Ma. Radi pacaran sama Bianca.”  Amira ikut senang mendengarnya. Jadi ini alasan kenapa Radi tampak bahagia akhir-akhir ini. Ternyata anaknya sudah memiliki kekasih, yang ternyata gadis bernama Bianca itu. “Mama senang banget. Akhirnya anak mama punya pacar, padahal dulu Mama kira kamu gak akan bisa punya pacar apalagi kamu yang cuek banget kayanya. Tapi Mama jadi penasaran kok Bianca mau ya sama cowok cuek gini kaya kamu, mana ngomong aja kalau di luar rumah irit banget. Kaya Papa banget sih kamu waktu lagi jaman muda.” “Ya kan aku anak papa, Ma. Jadi pasti lah sama, masa aku anak tetangga. Lagian Bianca mana bisa nolak, orang dianya juga suka sama aku dari lama,” ucap Radi dengan nada penuh bangga mengatakan Bianca menyukainya sejak lama. “Masa? Mama gak percaya, ini pasti kamu yang paksa dia ya buat terima kamu?” Amira menatap penuh selidik pada Radi. “Yah Mama, masa gak percaya. Tanya aja nanti sama Bianca.” “Kalau gitu kenalin dong sama Mama, masa gak di kenalin udah punya pacar.” “Nanti aku ajak ke sini ya, Ma.” “Iya pokoknya Mama tunggu deh, kalau bisa besok biar Mama cepet kenal terus ada teman buat ngobrol bahas seputar perempuan. Selama ini Mama kan gak ada teman ngobrol, sama kamu, sama Papa, gak nyambung obrolannya. Masa bahas sepakbola terus, kan Mama gak ngerti masalah yang kaya gitu.” “Iya deh, nanti aku bilang sama Bianca dulu,” ucap Radi membuat Amira senang.  Dia jadi tak sabar ingin bertemu dengan kekasih dari anaknya, sekaligus ingin berterima kasih kepada Bianca karena sudah membuat Radi tersenyum seperti ini. ** Radi :  Kok telepon aku gak kamu angkat, Yang? Radi :  Sayang. Radi  : Kamu ngapain sih? Radi : Astaga, jangan bikin aku lari ke rumah kamu ya. Radi  : Bianca! Bianca baru saja selesai mandi dan berpakaian, kemudian mengambil handphonenya yang ternyata sudah banyak notifikasi pesan masuk dari grup maupun chat pribadi.  Salah satunya dari Radi yang sampai lima pesan di kirim dengan jarak hanya berbeda satu menit saja setiap pesannya.  Bianca pun mengembuskan napas pelan setelah membaca pesan yang Radi kirimkan kepadanya. Sudah tahu dia sedang mandi, kenapa Radi seheboh ini sih. Sabar kan bisa, astaga Bianca jadi gemas sendiri. Bianca : Aku habis mandi. Tak sampai satu menit pesan tersebut sudah bercentang biru dan handphone berdering menandakan telepon masuk. Ya siapa lagi kalau bukan dari kekasih posesifnya bernama Radi Arzan Ravindra. “Aku kira kamu pergi ke mana,” ucap Radi saat Bianca baru saja hendak berkata “halo” “Aku gak ke mana-mana, kamu kan bilang kalau aku pergi harus kasih kabar ke kamu. Seharian ini aku di rumah bantuin Bunda bikin kue buat arisan besok di rumah,” balasnya. “Abisnya kamu gak angkat telepon aku.”  Bianca ingin sekali tertawa mendengar nada Radi yang merajuk, apakah ini benar-benar Radi, kekasihnya? “Kan lagi mandi, mana aku tau kalau kamu telepon. Biasanya juga selalu aku angkat cepat,” ucap Bianca dengan penuh kelembutan.  Tipe kekasih yang seperti Radi ini harus dengan perkataan yang lembut agar luluh. Kalau sama-sama keras bisa jadi perang dunia yang kesekian kalinya. “Besok aku jemput ya,” ucap Radi. “Kita mau ke mana?” “Ke rumah aku. Mama mau ketemu sama kamu,” ucap Radi dengan nada entengnya padahal Bianca yang berada di seberang telepon tampak terkejut karena perkataan Radi.  Ibunya Radi ingin bertemu dengannya, kenapa Bianca jadi gugup seperti ini padahal Radi juga pernah mengatakan akan mempertemukan Bianca dengan ibunya tetapi Bianca kira masih lama, ternyata besok. “Sayang, kamu dengar aku kan?” suara Radi kembali terdengar membuat Bianca tersadar dari keterkejutannya. “Iya, aku dengar. Emang harus besok ya ketemunya?” tanya Bianca dengan nada pelan. “Iya. Mumpung ada waktu juga, jadi kamu sama Mama bisa cepat kenalan. Kenapa kamu gak mau besok?” “Hah?! Mau! Iya besok aja. Lagian gak enak sama mama kamu kalau udah bilang besok aku mau ke rumah. Masa jadi batal.” “Oke kalau gitu besok aku jemput jam sepuluh pagi ya,” ucap Radi. “Iya.”  Setelah itu mereka pun memutuskan panggilan. Bianca bahkan kembali gugup, besok dirinya akan bertemu dengan Ibu Radi.  Dia harus apa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN