Bianca tampak sekali gugup bahkan beberapa kali melihat jam di pergelangan tangannya. Tetapi setiap kali dia melihat jam, jarum jam tersebut begitu cepat berjalan membuat Bianca semakin gugup saja kenapa waktu berlalu begitu cepat.
Padahal tadi seingatnya dia baru saja sarapan bersama keluarganya dan sekarang dia sedang di ruang tengah menunggu kedatangan Radi. Seperti yang tadi malam kekasihnya itu katakan, dia akan menjemput Bianca untuk bertemu dengan orang tuanya.
“Gugup amat sih, Kak,” ucap Rayhan melihat kakaknya yang tampak sekali gugup.
Bianca saat gugup memang selalu memainkan tangannya, yang pasti tak akan pernah diam. Rayhan sedari tadi memang berada di hadapan Bianca, adiknya itu tengah menonton tayangan kartun sepak bola, namun perhatiannya teralihkan kepada kakaknya.
“Aduh kamu diem aja deh,” balas Bianca.
Rayhan berdecak. "Masa aku gak boleh mengeluarkan suara,” ucapnya.
Bianca tak membalas perkataan adiknya, dia memilih untuk memainkan handphone sambil menunggu Radi.
Tak lama Bianca mendengar suara mobil yang sepertinya baru saja sampai di depan rumah. Bianca pun segera beranjak dari duduknya.
“Kayanya itu Radi, kamu temenin dulu ya, bilang kakak masih di kamar,” ucap Bianca kepada Rayhan, gadis itu langsung berlari ke kamarnya.
Rayhan menggelengkan kepala melihat tingkah Kakak perempuannya, “Dasar! Ngapain juga ke kamar, bukannya tadi lagi nungguin Kak Radi. Giliran orangnya udah datang malah kabur,” gumam Rayhan kemudian segera membukakan pintu setelah mendengar suara bel rumahnya.
**
Radi mematikan mesin mobilnya saat sudah sampai di depan rumah Bianca, sengaja dia memakai mobil untuk menjemput kekasihnya karena mereka akan membeli beberapa bahan masakan yang di minta oleh ibunya tadi saat tahu dia akan menjemput Bianca.
Sang ibu tampak bersemangat saat tahu kalau Bianca akan ke rumah untuk bertemu, membuat Amira pun menyuruh Radi untuk berbelanja terlebih dahulu bersama Bianca agar dia bisa memasak dengan kekasih dari anaknya itu.
“Lagian Mama ada-ada aja, kenapa anaknya yang harus belanja. Tapi belanja sama Bianca berasa pasangan pengantin baru,” gumam Radi saat dia keluar dari mobilnya. Radi tersenyum tipis membayangkannya.
Radi menekan bel rumah dan menunggu seseorang membukakan pintu, tak lama Radi melihat pintu rumah Bianca terbuka, dan Rayhan ada di balik pintu tersebut. Menyapanya kemudian menyuruh Radi masuk ke dalam.
“Kakak kamu mana?” tanya Radi pada Rayhan.
“Masih di kamar, Kak. Sebenernya Kak Caca tadi lari ke kamar gitu waktu dengar suara mobil Kak Radi. Aneh banget kan, padahal tadi aja nungguin di sini,” ucap Rayhan.
Kalau saja Bianca mendengarnya sudah pasti Rayhan akan kena timpuk, adiknya ini memang tak bisa di ajak untuk kompakan. Ember bocor!
Radi tersenyum geli mendengar perkataan Rayhan, kemudian suara yang dia kenal membuat Radi menoleh ke asal suara.
Bianca sudah siap dengan memakai pakaian berwarna putih di padukan dengan rok yang panjangnya semata kaki, berwarna cokelat dan tak lupa rambut yang diikat satu.
Astaga kekasihnya ini begitu cantik bahkan Radi tak bisa berhenti menatap Bianca.
Sungguh memukau.
Sementara Bianca yang sadar tengah diperhatikan oleh Radi dengan begitu intens tersenyum malu, membuat kedua pipinya merona.
Apa penampilannya sekarang ini terlalu berlebihan?
Tadi dia memang mengganti pakaiannya, sebelumnya dia memakai celana jeans yang akhirnya di ganti dengan rok ini.
“Maaf ya nungguin lama,” ucap Bianca kepada Radi.
“Nggak kok, kan aku baru sampe,” balas Radi tersenyum menatap kekasihnya.
“Kalau gitu kita langsung pergi aja ya,” lanjutnya mengajak Bianca.
Bianca mengangguk, “Dek, Kakak pergi dulu. Nanti kasih tahu sama Bunda ya Kak Caca pergi sama Kak Radi,” ucap Bianca pada Rayhan.
“Oke siap!” balas Rayhan.
**
“Emang Bunda kamu ke mana?” tanya Radi setelah mereka keluar dari rumah.
“Kemarin kan aku bilang kalau di rumah ada arisan, eh taunya pindah lokasi. Tapi tetep sih makanan yang kemarin Bunda bikin di bawa. Soalnya gak jauh dari sini,” balas Bianca.
“Oh, pantesan tadi sepi banget di rumah. Padahal kamu bilang ada arisan. Oh iya, kita ke supermarket dulu ya. Disuruh belanja sama Mama katanya mau masak sama kamu, tau kamu mau ke rumah Mama semangat banget,” ucap Radi sambil membuka pintu mobil untuk Bianca.
“Makasih,” ucap Bianca kemudian masuk ke dalam mobil.
“Sama-sama, Sayang,” balas Radi dan menutup kembali pintunya. Radi pun segera masuk di pintu sebelah lagi.
“Belanja apa aja?” tanya Bianca saat mobil Radi keluar dari halaman rumahnya.
“Gak tahu, tadi aku di kasih catatan gitu deh. Kayanya ada di saku jaket aku, Yang. Coba liat di kursi belakang jaketnya,” ucap Radi.
Bianca pun mengambil jaket Radi dan mencari catatan tersebut, ternyata benar ada selembar kertas yang terdapat daftar belanjaan.
“Kayanya mau bikin kue,” ucap Bianca setelah membaca daftar belanjaan tersebut.
Bianca tahu beberapa nama bahannya karena dia juga sering diminta untuk belanja bahan-bahan kue oleh sang ibu.
“Oke. Aku serahin sama kamu, aku mana tahu sama yang begituan.”
“Oh iya, tadi katanya ada yang buru-buru pergi ke kamar waktu dengar suara mobil,” lanjut Radi mengingat kembali apa yang Rayhan katakan.
Bianca refleks menatap Radi dengan wajah yang memerah malu, “Ah Rayhan comel!” pekik Bianca menutup wajah dengan kedua tangannya.
Kenapa adiknya malah mengatakan hal itu pada Radi. Bianca kan malu. Apalagi sekarang Bianca mendengar tawa Radi, sudah double malunya,
Rayhan nyebelin!
**
“Kamu mau beli apa, Yang?” tanya Radi saat ini mereka berada di supermarket.
Radi sedang mendorong troly sementara Bianca yang memilih bahan-bahan yang di perlukan sesuai dengan daftar belanjaan.
“Gak beli apa-apa.”
“Kita udah kaya pengantin baru ya,” celetuk Radi yang membuat Bianca terkekeh.
“Kamu ada-ada aja. Ini udah selesai semuanya, tinggal bayar aja,” ucap Bianca setelah memastikan kembali apa yang ditulis di kertas sudah dia dapatkan.
“Lah kan bener, kaya pasangan pengantin baru yang lagi belanja bulanan. Kamu beneran gak akan beli sesuatu?” tanya Radi lagi.
“Gak ada. Kamu kali ada yang mau di beli gak?”
“Camilan deh buat nanti di rumah, ini beneran udah kan?”
“Iya udah. Tinggal bayar.”
“Oke, kalau gitu kita cari camilan dulu abis itu kita bayar.”
**
Radi dan Bianca sudah sampai di kediaman keluarga Radi. Bianca kembali gugup setelah kembali menyadari kalau dia akan bertemu dengan orang tua Radi. Padahal tadi dia sudah biasa saja tetapi saat sampai di rumah Radi, rasa gugupnya itu kembali melanda. Radi yang menyadari kekasihnya tengah gugup, menggenggam sebelah tangan Bianca. Mereka memang masih di dalam mobil.
“Tenang, Mama gak akan makan kamu,” ucap Radi. Dia ingin menenangkan kekasihnya tetapi malah berkata seperti itu membuat Bianca mengerucutkan bibirnya.
“Kamu kira Mama kamu suka daging aku,” ketus Bianca yang malah membuat Radi tertawa pelan.
“Bercanda Sayang. Lagian kenapa gugup banget sih, gak akan ada apa-apa jadi tenang aja. Sekarang kita keluar ya, aku ambil belanjaan dulu,” ucap Radi mengajak Bianca keluar dai mobil. Radi pun keluar dari mobil dan membuka pintu belakang untuk membawa belanjaan mereka tadi.
Bianca menarik napas pelan. Sudah seperti akan bertemu dengan mertua saja kenapa dia sampai gugup begini. Dirasa sudah sedikit tenang, Bianca pun keluar dari mobil dan menghampiri Radi yang sudah menunggunya. Mereka sama-sama masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan Mama-nya Radi.
“Kalian udah sampai,” suara wanita membuat Radi dan Bianca menoleh dan terlihat mamanya Radi tengah berjalan menghampiri mereka. “Halo, jadi ini yang namanya Bianca,” lanjutnya.
Bianca tersenyum dan mencium tangan Amirai, “Iya Tante, aku Bianca,” ucap Bianca ramah.
“Akhirnya kita bisa ketemu ya, ayo Masuk-masuk tadi Tante lagi siap-siap di dapur. Kita kan mau masak,” ucap Amira dengan begitu semangat.
“Ma, masa mau langsung masak sih. Disuruh duduk dulu gitu,” ucap Radi melihat Mama-nya sudah menarik sang kekasih.
“Oh iya! Mama terlalu semangat, kalau gitu kita di sini aja dulu. Kamu simpen belanjaannya sana!” ucap Amira meyuruh Radi. Sementara dia sudah mengajak Bianca untuk duduk di ruang keluarga.
“Kok kamu mau sih sama Radi yang kaku gitu,” ucap Amira. Bukannya memuji Radi di depan Bianca, Amira malah mengatakan Radi Kaku. “Pasti dipaksa ya sama anak Tante,” lanjutnya membuat Bianca tersenyum.
“Ma, Radi kan udah bilang mana ada Radi maksa-maksa,” bukan Bianca yang menjawab melainkan Radi yang entah sejak kapan sudah bergabung dengan mereka berdua.
“Lah kan itu kata kamu, gak tahu kalau kata Bianca,” ucap Amira.
“Bener ko Tante Radi gak maksa Bianca,” ucap Bianca membuat Radi tersenyum lebar karena memiliki pendukung.
“Senang ada yang belain,” ucap Amira menatap anaknya.
“Harusnya Mama juga senang karena Radi punya pacar.”
“Iya Mama senang banget. Soalnya Mama pikir kamu bakalan jadi jomblo abadi.”
Perkataan sang ibu membuat Radi mencebikkan bibirnya, Bianca bahkan tertawa geli melihat kekasihnya yang bisa bersikap seperti ini. Bianca seperti merlihat anak kecil saja saat melihat sikap Radi yang begitu pada Mama-nya.
**
Bianca dan Amira manatap hasil kue yang mereka buat berdua dengan penuh kepuasan. Amira bahkan begitu senang karena untuk pertama kalinya ada yang membantu dan menemani dia membuat kue setelah selama ini hanya dia sendiri yang sibuk di dapur karena memang di rumahnya tak memiliki asisten rumah tangga.
Semuanya dia kerjakan sendiri, karena sejak dulu dia selalu ingin menjadi ibu rumah tangga yang mengurus semua keperluan suami dan anaknya.
Meski selama ini juga dia kerap kali kesepian di rumah sendiri dan tak memiliki teman untuk bisa memasak bersama, karena anaknya laki-laki yang hanya tinggal tahu makan saja. Sekarang ada Bianca, Amira jadi begitu semangat.
“Kamu sering bikin kue ya, Ca?” tanya Amira. Kali ini sesuai dengan permintaan Bianca, Amira memanggil Bianca dengan nama Caca. Nama panggilan di rumahnya.
“Nggak juga ko, Tan. Paling kalau lagi rajin aja bantuin Bunda pas lagi bikin kue,” balas Bainca tersenyum malu.
“Tapi udah tahu sama semua bahannya. Kaya sering banget bikin.”
“Ya belajar dikit-dikit, Tan. Kalau disuruh bikin sih, Bianca mikir-mikir dulu kecuali kalau emang bahan sama cara bikinnya muda. Oke aja itu.”
“Kalau gitu nanti Tante kasih resep. Gampang ko, ini kue kesukaan Radi. Jadi nanti kamu bisa buat sendiri, Radi pasti senang. Aduh Tante gak sabar mau jadiin kamu mantu Tante,” ucap Amira membuat Bianca lagi-lagi tersenyum malu mendengar perkataan Mama-nya Radi.
“Udah selesai belum, Ma?”
Radi menghampiri kedua perempuan yang tengah asyik di dapur. Sedari tadi dia memilih untuk bermain game di handphonenya sambil menunggu kue yang Bianca dan Mamanya buat selesai.
“Kamu datang-datang malah nanyain kue-nya jadi apa belum. Bukannya bantuin,” omel Amira melihat kedatangan anaknya.
“Kan udah ada Bianca, Ma. Masa harus dibantuin Radi juga.”
“Alasan, bilang aja gak mau bantu.”
“Nah itu tau!”