Kelas baru dan suasana baru, begitu lah yang Bianca rasakan sekarang. Tak terasa memang, dia sudah menduduki bangku kelas tiga mulai hari ini. Dan benar yang di katakan Wali kelasnya dulu kalau kelas mereka akan kembali mengalami perubahan, di atur secara acak.
Tetapi kali ini Bianca beruntung karena masih bisa sekelas dengan Laura, sahabatnya. Sementara Adel harus berpisah kelas dengan mereka berdua.
Bukan hanya itu saja, kali ini Bianca juga satu kelas dengan kekasihnya -Radi- yang pasti membuat Radi sangat bahagia mengetahui hal tersebut. Kedua sahabat Radi satu kelas dengan Adel, di kelas sebelah.
Sebenarnya tak masalah bagi mereka karena di luar sekolah pun mereka masih bisa bertemu bahkan saat jam istirahat pun masih tetap berkumpul makan siang bersama.
“Apes banget gue, sekelas sama si Devon,” keluh Adel, saat ini dia sedang berada di kelas Bianca sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Untung saja kelas dia dan Bianca juga Laura masih bersebelahan jadi dia gampang kalau bertemu dengan mereka berdua. Coba kalau kelas mereka berjauhan, malas sekali pastinya Adel untuk jalan dari kelasnya ke kelas Bianca.
Bianca yang melihat sahabatnya sangat tak semangat tersenyum mengelus pundak Adel, “Sabar ya, ujian buat lo. Lagian bukannya enak bisa satu kelas sama saudara sendiri. Jadi kalau ada apa-apa bisa minta tolong sama dia, ada yang jagain lo juga, Del,” ucap Bianca.
“Jagain gimana, yang ada gue kena timpuk tu sama pacar dia yang astaga banget. Masa dari dulu gak percaya banget kalau gue ini saudara Devon, masih aja nganggep gue perebut pacar orang. Emang stress tu orang!”
“Lah masih aja kaya gitu, gue kira si Maya udah biasa aja. Lagian lo juga sih kalau jelasin ke orangnya ya yang kalem dikit, ini pake urat juga mana mau dia paham,” ucap Laura menimpali perkataan Adel.
“Ya dia yang duluan pake urat. Bakso urat enak, ini malah bikin emosi.”
“Lo bilang aja sama Devon, suruh jelasin sama Maya biar gak sinis sama lo mulu orangnya,” Bianca memberikan saran yang diangguki oleh Adel. Sepertinya akan dia coba, lagi pula kenapa jadi dia yang ribet padahal Maya itu kekasih Devon.
Selama ini memang tak ada yang tahu kecuali sahabatnya, kalau dia dan Devon memang masih bersaudara. Jadi kedekatan Devon dan dirinya di sekolah dianggap sebagai pasangan kekasih. Kalau bukan saudara pun mana mau Adel memiliki kekasih seperti Devon yang menyebalkan.
“Kenapa ni, sebut nama gue.”
Bianca, Adel dan Laura sama-sama menoleh ke arah suara. Ternyata Radi dan yang lainnya baru saja datang dan bergabung dengan mereka. Kenapa jadi semua berkumpul di sini, membuat mereka jadi pusat perhatian di kelas.
“Diem lo! Sebel gue sama lo!” ketus Adel yang membuat Devon menatap saudaranya itu dengan tatapan penuh tanya. Dia salah apa.
“Kenapa sih lo sensi amat sama gue, Del.”
“Emang! Bilang sama pacar lo tu, jangan suka nuduh sembarangan. Masa gue dikatain pelakor, emang k*****t banget itu mulut!” cerocos Adel begitu menggebu-gebu.
“Kenapa pacar gue?” tanya Devon yang masih belum mengerti, kenapa juga Adel menyebut pelakor dan juga pacarnya.
“Maya salah paham terus sama Adel. Dikira dia, Adel mau ngerebut lo dari dia, padahal kan kalian dekat juga karena masih saudaraan,” jelas Bianca kepada Devon.
Devon manggut-manggut, “Kalau gitu nanti gue jelasin deh. Sorry kalau lo ke bawa-bawa terus. Maklum orang ganteng jadi gini kalau punya pacar,” ucap Devon dengan so gantengnya di depan semua.
“Terlalu kepedean lo, Dev,” ucap Marcel melihat kelakuan sahabatnya yang alaynya mulai kumat kembali. Untung hanya satu, kalau sampai punya sahabat dua-duanya seperti ini Marcel tak akan kuat.
“Udah sana lo pada masuk kelas, ngerusuh banget di kelas gue,” ucap Radi kali ini mengusir sahabatnya dari kelas. Devon dan Marcel menatap Radi kelas, mereka baru saja ke sini sudah diusir. Bukannya tadi Radi sendiri yang mengajak mereka, dasar aneh.
“Ya udah ke kelas dulu lah, bentar lagi bel,” ucap Adel beranjak dari kursi yang sedari tadi dia duduki. Entah kursi siapa. Devon dan Marcel pun memilih untuk menyusul Adel yang sudah pergi ke kelasnya. Menyisakan Radi, Bianca dan juga Laura yang menatap kepergian sahabat mereka.
“Kamu gak duduk sama aku?” tanya Radi melihat Bianca yang malah duduk bersama dengan Laura di kursi di depannya.
“Ya gak enak lah sama Laura, masa aku duduk sama kamu,” ucap Bianca mendapat tatapan protes dari Radi. Mereka kan sudah satu kelas kenapa malah tak bisa satu bangku juga. Tetapi meski begitu mau tak mau Radi pun mengangguk dengan lesu, tak ingin memaksa Bianca.
**
Seperti sebelumnya, Bianca dan Radi juga sahabat mereka tengah menikmati makan siang bersama. Di meja yang biasa mereka tempati, seolah itu sudah milik mereka karena tak ada yang berani menempati apalagi tahu kalau tempat itu yang sering di pakai oleh Radi, mantan Kapten basket mereka.
Popularitas Radi memang tak diragukan lagi bahkan setelah melakukan serah terima jabatan sebagai Kapten basket, Radi tetap menjadi idola khususnya siswi di sekolah mereka, belum lagi siswa angkatan baru yang sekali melihat Radi langsung terpesona. Hal itu kadang membuat Bianca cemburu, memiliki kekasih yang terlalu populer benar-benar ujian untuknya.
“Tumbenan banget lo gak sama cewek lo,” ucap Adel pada Devon. Mengingat beberapa hari ini Devon lebih sering bersama dengan Maya -kekasihnya- saat jam istirahat.
Ya apalagi kalau bukan karena Maya tak ingin Devon dekat dengan Adel, yang selalu dianggapnya sebagai saingat. Padahal sudah jelas Devon dan Adel itu saudara.
“Ya suka-suka gue dong, lo kenapa sewot amat,” balas Devon. “Lo cemburu ya kalau gue sama Maya terus,” lanjutnya membuat Adel mendengus.
“Siapa juga yang cemburu. Gue nanya aja, Devon. Tau gitu gue gak usah nanya aja,” ucap Adel ketus. Punya saudara menyebalkannya sudah tingkat akut, bikin dia naik darah saja sama persis dengan Maya, kekasihnya.
“Canda doang, Del. Lo lagi PMS ya, perasaan dari pagi ketus banget sama gue. Tenang, lo mau gue jelasin kan sama Maya, udah gue jelasin. Sekarang dia ngerti ko, mangkanya gue bisa gabung ni sama kalian. Dia udah gak curiga lagi,” ucap Devon menjelaskan.
“Syukur deh kalau gitu, biar gue gak kena imbasnya. Gue gak salah pake di bawa-bawa terus,” balas Adel.
“Eh, si Marcel ke mana?” tanya Radi menatap Devon.
“Lah iya, gue baru nyadar juga.”
“Biasanya sama lo kan, Dev.”
“Gak tahu, tadi gue kira dia ngikut gue ke kantin. Paling lagi mojok sama si Monica.”
“Mojok-mojok pala lo mojok!” ucap Marcel menjitak kepala Devon. “Gue dari toilet, pake dibilang mojok segala lo,” lanjutnya kemudian duduk di samping Devon yang tengah meringis karena jitakan sahabatnya tadi.
“Sakit jir! Gue kira tadi kan mojok,” timpal Devon.
“Lo aja yang sering mojok. Gue sih kagak,” balas Marcel tak mau kalah. Mereka menjadi tontonan Bianca dan yang lainnya. Memang kelakuan dua anak manusia itu selalu saja ribut, entah Devon yang memulai, atau Marcel yang memulai. Pokoknya mereka berdua selalu membuat Radi sakit kepala karena sering berdebat tak jelas.
“Makan-makan gak usah main urat mulu,” ucap Adel menghentikan perdebatan antara Devon dan Marcel. Kalau tak begitu, mereka mau mulai makan kapan, bisa-bisa bel masuk kembali berbunyi.
Mereka pun kali ini makan dengan tenang, setelah perdebatan Devon dan Marcel yang sebenarnya tak begitu penting. Di saat mereka tengah menikmati makanan masing-masing, seorang siswa perempuan menghampiri mereka, Bianca yang pertama kali menyadari ada seseorang yang datang ke meja mereka.
“Permisi, Kak,” ucapnya. Kali ini semua perhatian tertuju pada siswa tersebut, yang tampak sekali gugup berhadapan dengan mereka.
“Ada apa, Dek?” tanya Bianca tersenyum ramah. Bianca tahu kalau siswa tersebut adik kelas mereka, karena beberapa waktu lalu dia sempat melihat saat penerimaan anggota baru organisasi kesenian yang memang Bianca sebagai ketuanya, dulu.
“Ini Kak, aku mau kasih ini buat Kak Radi,” ucapnya sambil menyerahkan satu kotak makanan juga cokelat batangan.
Radi menatap tajam siswa tersebut membuat sang siswa menunduk takut, tetapi mau bagaimana lagi dia sudah berniat untuk memberikan makanan dan cokelat ini kepada Radi, Kakak kelas yang dia suka sejak pertama kali masuk ke sekolah ini. Belum lagi ini juga karena permainan truth or dare yang dilakukannya bersama dengan teman-teman di kelas, membuat dia harus melakukan tantangan untuk menyatakan cinta pada orang yang disukai di sekolah.
“Gue gak butuh,” ucap Radi.
“Kamu jahat banget,” tegur Bianca yang melihat adik kelas mereka semakin menunduk karena mendengar perkataan Radi. “Terima aja, kalau ada yang ngasih itu harus kamu terima. Sayang kan makanannya,” lanjut Bianca membuat Radi mau tak mau mengiyakan apa yang dikatakan kekasihnya. Radi memang penurut sekali.
“Aku juga mau bilang, aku suka sama Kak Radi,” ucapnya setelah makanan dan cokelat di terima oleh Radi. Perkataan tersebut membuat semuanya melotot kaget, berani sekali adik kelas mereka mengatakan hal seperti tadi, apalagi di depan Bianca yang tak lain adalah kekasih Radi.
“Gue suka ini keberanian lo,” ucap Marcel menepuk pundak siswa tersebut. Posisi duduk Marcel memang dekat dengan siswa tersebut, di depan Radi juga.
“Tapi kalau gue boleh saran ya, Dek. Mending lo ke kelas aja sebelum Kak Radi ngamuk dan lempar makanan itu sama lo,” lanjut Marcel mengingatkan. Marcel sangat tahu bagaimana sikap Radi yang terkadang tak melihat siapa orangnya, perempuan atau laki-laki, Radi akan tetap kejam.
“Lo udah denger kan apa yang dibilang sama Marcel,” ucap Radi dengan nada yang begitu dingin. Siswa itu mengangguk pelan, kemudian memilih untuk pergi dari hadapan Kakak kelasnya, yang penting dia sudah mengatakan kalau dia menyukai Radi. Tantangan dari teman-temannya sudah dia lakukan.
“Luar biasa, baru sekarang gue lihat ada yang seberani itu. Depan lo, Bi,” ucap Adel memecah keheningan, setelah siswa itu berlalu dari hadapan mereka.
“Cari perkara banget itu bocah,” celetuk Devon.
“Susah jadi orang ganteng,” ucap Marcel.
“Tapi gue salut sama cewek tadi,” ucap Bianca yang membuat Radi menatap ke arah kekasihnya.
“Kamu gak cemburu?” tanya Radi.
Bianca menggeleng membuat Radi berdecak sebal, kenapa kekasihnya ini tak ada rasa cemburu padahal sudah jelas sekali tadi di hadapan Bianca ada yang terang-terangan mengatakan kalau menyukai kekasihnya, tetapi apa respon Bianca. Sama sekali tak cemburu. Kalau Radi yang mengalami itu, mungkin akan beda lagi ceritanya.