Alle dan Jayden akhirnya berangkat bersama meskipun berbeda kantor. Alle sedikit santai hari ini karena tidak perlu takut ketahuan oleh Naka kalau dia bersama pria lain selain Jonathan dan Juna. Naka dan Jonathan hari ini masih dalam perjalanan dinas.
"Kenapa takut banget kalau pacar kamu tau kamu jalan sama cowok lain? Padahal jalan doang gak selingkuh kaya dia?" tanya Jayden sambil fokus menyetir. Alle hanya mengedikan bahu. Tak mungkin dia menjawab jika Naka marah karena cemburu akan sangat menakutkan karena Naka terkadang tak segan memukul Alle.
"Emm Alle, sorry ada yang mau aku tanyain," ujar Jayden yang kemudian memasang tatapan seriusnya.
"Apa?"
"Tapi maaf, kalau kamu gak nyaman. Ini soal semalam. Ah bukan, aduh gimana ya nanyanya?"
"Semalam kenapa? Karena kita lakuin itu bareng?"
"Iya tapi bukan ... aduh saya bingung mau nanya. Tapi saya penasaran. Itu, tadi malam saya sempat lihat di badan kamu ada kaya memar gitu." Alle terdiam. Iya itu bekas dia bertengkar dengan Naka beberapa waktu lalu. Sudah memudar tapi dia tak tau kalau ternyata Jayden notice luka itu.
"Oh itu, kebentur," jawab Alle dengan santai.
"Kebentur?"
"Heem. Mas enaknya saya kado Juna apa ya?" Alle mencoba mengalihkan pembicaraannya agar Jayden tak membahas soal itu.
"Juna lagi pengen drawing tablet baru tau, Le. Lucu ya dia anak hukum tapi suka gambar komik gitu. Dia bilang ke saya kalau dia punya akun buat post komik online gitu. Dia bikin komik online juga." Alle mengangguk. Dia tau itu hobi adiknya selain bermusik.
"Kalau gitu saya beliin digital drawing tablet aja kali ya mas? Mas Jay tau gak yang bagus apa?"
"Saya ada temen yang jago IT gitu, dia juga punya perusahaan IT, dia ada toko elektronik kaya gitu juga, pokoknya toko-toko komputer gitu lah. Kalau mau besok saya kontak dia gimana?" Alle mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
"Kalau gitu saya kado dia gitar baru aja kali ya? Kemarin saya sama dia sempet jalan-jalan ke toko alat musik, ada gitar yang dia mau," ujar Jayden. Alle menatap Jayden dalam. Tak menyangka Jayden tau sedalam itu soal Juna. Bahkan Jonathan tak akan tau sebanyak itu soal Juna karena mereka memiliki hobi dan kesukaan yang berbeda. Sedangkan Juna dan Jayden banyak memiliki kesamaan.
"Mas Jayden tau banyak ya soal Juna."
"Kan saya udah bilang, Juna itu mirip adek saya bahkan kesukaan mereka sama. Makanya Juna udah saya anggap kaya adek sendiri," jawab Jayden. Alle berdecih, "iya ... iya udah berkali-kali mas Jayden bilang gitu!"
"Udah sampai"
Alle menatap kedepan, gedung perusahaannya sudah terpampang disana.
"Ah, makasih udah diantar mas."
"Nanti saya jemput. Kabari kalau udah kelar kerjanya. Nanti malam kita makan bareng sama Juna. Jangan nolak. Juna itu adek kamu juga, masa kamu nolak makan bareng dia?"
"Iya." Alle hendak turun namun ditahan oleh Jayden.
"Apalagi?"
"Bayaran buat nganterinnya mana? Masa gak ada?" Jayden menunjuk pipinya. Membuat Alle terkekeh kemudian memukul pelan lengan Jayden.
"Masih aja minta upah, pamrih banget jadi orang."
"Yaudah sini kamu aja yang saya cium." Sebelum Jayden mencium Alle, Alle sudah dengan cepat mencium kedua pipi Jayden.
"Udah hehe, saya kerja dulu ya mas? Mas juga kerja yang rajin biar gak jatuh miskin. Semangat kerjanya, hati-hati dijalan. Bye." Alle turun dari mobil. Dari luar dia melambaikan tangannya ke Jayden membuat Jayden tertawa pelan kemudian pergi.
"Sama siapa mbak Alle?" Alle terkejut saat ada pegawai yang mengagetkannya dengan tiba-tiba. Tidak hanya satu tapi dua pegawai.
"Kalian ini ngagetin saya aja," gerutu Alle.
"Haha maaf mbak, habis mbak Alle keliatan sumringah gitu sampai gak fokus kalau ada kita hehe"
"Siapa tuh mbak? Pacar?" Alle hanya tersenyum.
"Udah ah ayo kerja bentar lagi ada briefing pagi."
Disisi lain, Jayden berjalan di sebuah perusahaan IT yang cukup terkenal di sana. Langkah tegap dan wajah seriusnya membuat beberapa pegawai menyapanya dengan hati-hati. Rahang Jayden sedikit mengeras saat dia mengingat beberapa luka di tubuh Alle dan bagaimana Alle menghindari Naka.
Tanpa aba-aba dan tanpa mengetuk pintu, Jayden membuka ruangan direktur perusahaan itu dengan sedikit keras.
"HEH NGAGETIN GUE LU!" bentak seorang pria yang tak kalah tampan dari Jayden.
"Jul Jul gue butuh bantuan."
Julian, laki-laki satu geng dengan Jayden, Tama dan Dyaksa. Laki-laki yang waktu ikut di apartemen Jayden.
"Apa?"
"Ada produk drawing tablet terbaru dan terbagus gak?"
"Oh itu. Mana gue tau, pegawai gue lah yang tau. Ntar gue tanyain. Kalau ada gue kabarin!"
"Harus ada!" tegas Jayden.
"Etdah sekate kate lu!"
"Gue serius Jul"
"Iya iyaaa gampang. Buat bos Jayden bisa diatur."
"Besok harus siap."
"Nyesel gue mau bantu," celetuk Julian.
"Ada satu lagi Jul, gue tau lu bakal bisa lakuin tugas ini. Tugas yang lebih gampang daripada nyari tablet." Julian mendekat ke Jayden. Julian paham, Jayden akan pasti akan mengajaknya berbisnis sedikit kriminal jika sudah seperti ini.
"Kali ini gue harus nyuruh orang buat ngawasin siapa?" tanya Julian tiba-tiba. Jayden langsung tersenyum saat sahabatnya itu paham dengan maksud kedatangan Jayden.
"Naka. CEO Ganaka company." Jayden mengeluarkan foto Naka dan menunjukan pada Julian.
"Awasi dia, apa yang dia lakukan, dan apa yang dia sembunyikan. Termasuk dia pergi kemana dan dengan siapa. Semua yang dia lakukan awasin dan laporin ke gue. Bayarannya lebih gede dari sebelumnya." Julian langsung mengambil foto itu dan mengantunginya.
"Siap. Tapi gue tanya. Kenapa lu suruh gue awasin dia? Naksir Ganaka lu?" Jayden langsung menendang kaki Julian.
"Sembarangan! Ada orang yang sedang gue jaga sekarang. Tapi kayaknya dia keganggu sama Naka. Jadi gue mau cari tau. Dia gak mau cerita soalnya kenapa Naka ganggu banget."
"Perempuan ya?" tebak Julian. Jayden mengangguk dan berhasil membuat Julian heboh.
"AKHIRRNYAA BOSSS!!! BENTAR LAGI JIANO PUNYA MAMI BARU!" teriak Julian.
"Diam lu! Jangan bocor dulu."
"Siaapp bosss!"
"Lakuin tugas lu yang bener Jul."
"Ya elah kaya gak tau anak buah gue se- pro apa?"
Jayden tertawa kemudian mengacungkan jempolnya untuk Julian. Julian, ahli IT yang juga cukup ahli untuk menjalankan kriminal dengan IT. Menemukan hacker bukan hal yang sulit baginya, memulihkan data yang di hack bukan apa-apa baginya, melacak hacker? Sudah keahliannya. Menjadi mata-mata pun bisa Julian dan anak buahnya lakukan. Itulah kenapa Jayden mempercayai Julian untuk hal memata-matai atau mengawasi orang yang memang ingin Jayden awasi.
***
Saat jam makan siang, Alle kembali bertemu dengan Jayden karena Jayden mengajaknya untuk makan siang bersama. Tak ada alasan untuk Alle menolak Jayden. Lagipula hari ini dia dikantor sendirian tanpa Naka dan Jonathan yang biasanya menemani Alle makan siang.
"Kamu pesen dulu ya? Saya cari kursi, rame banget soalnya."
"Siap bos!"
Alle memesan beberapa makanan termasuk makanan untuk Jayden. Sambil menunggu Jayden Alle mengecek ponselnya sejenak sampai sebuah suara mengalihkan atensinya.
"Alle?"
"Eh? Bu Karin ... Halooo Cio!" sapa Alle pada Karin yang menyapanya.
"Halooo tantee Alle," balas Cio. Alle dengan gemas mencubit pipi cubby Cio.
"Kamu makan siang disini?" Alle mengangguk.
"Habis jemput Cio pulang sekolah ya bu? Masih pakai seragam sekolah." Alle terekekeh sambil mengusap rambut Cio.
"Iya nih, sekalian mau makan siang diluar. Udah lama sebenernya mau nyoba disini sama mas Naka. Eh dia malah ada perjalanan dinas," Uuar Karin. Alle tersenyum, sedikit dia paksakan. Lagi-lagi perasaan bersalah muncul. Alle merasa dia benar-benar akan merusak keluarga itu.
"Haha kan besok udah pulang bu" Balas Alle.
"Kamu disini sendirian?" Baru akan menjawab, Jayden datang mendekati Alle.
"Ada meja di ujung. Kita kesana gak apa-apa kan." Jayden belum menyadari kalau ada orang lain disana sehingga dia langsung bertanya pada Alle. Karin menatap heran ke Jayden.
"Eh, mas Jay. Kenalin ini bu Karin." Jayden langsung menoleh ke Karin. Dan mengulurkan tangannya.
"Jayden."
"Karin."
"Bentar ... pacarnya Alle ya?" tanya Karin. Jayden dan Alle sama-sama tak menjawab, mereka hanya tertawa garing karena mereka sendiri tidak tau status mereka apa sekarang.
"Doakan aja bu. Semoga segera di sah-kan saya sama Alle secara hukum dan agama," balas Jayden. Alle langsung memukul Jayden pelan membuat Karin tertawa melihat interaksi dua orang dihadapannya.
"Bu Karin gabung aja sama kita. Meja udah penuh bu. Kita diujung sana. Satu meja ada empat kursi kan pas buat kita berempat," ujar Jayden dan disetujui oleh Alle. Mata Jayden menangkap sosok yang sejak tadi berada di samping Karin.
"Eh siapa ini ganteng?" Jayden berjongkok menyamai tinggi Cio dan menyapa Cio dengan ramah. Alle sedikit terkejut saat melihat Jayden ternyata pandai memberikan treat untuk anak-anak. Buktinya sekaramg Cio sedang berjalan bersama Jayden menuju ke meja mereka.
"Ganteng loh Le. Cocok sih sama kamu. Dia juga suka anak kecil, udah siap jadi bapak lah itu Le," goda Karin.
"Haha apa sih bu. Yaudah bu Karin pesen aja. Nanti kita susul mereka. Saya khawatir kalau Cio sama mas Jay, gak meyakinkan." Karin tertawa mendengar penuturan Alle barusan.
Setelah mereka memesan, mereka berempat duduk di meja yang sama. Baik Alle maupun Karin tak menyinggung nama Naka sama sekali. Jayden juga tak tau siapa sebenarnya Karin. Dia hanya berpikir kalau Karin rekan kantor Alle.
"Pantes ya Jo kamu tolak terus. Ternyata ada pawangnya," goda Karin. Alle kembali tertawa.
"Bentar, Jo itu Jonathan?" tanya Jayden. Alle dan Karin kompak mengangguk.
"Dia suka sama kamu? Dia kan kakak angkat kamu?" tanya Jayden. Alle langsung membungkam mulut Jayden dengan selada.
"Kepo kamu. Ntar aja lah ceritanya. Atau kamu tanya ke Juna sana," balas Alle.
"Cocok sih kalian. Jayden ganteng, Alle cantik. Udah lah mending nikah aja kalian."
"Doakan ya bu. Semoga Alle bisa jadi ibu untuk anak-anak saya," balas Jayden. Alle menatap Jayden dan tersenyum.
"Iyaa saya doakan. Undangannya sampai lah ke saya."
"Pastilah. Cio sama suami ibu ajak ya?" ujar Jayden. Mimik wajah Alle langsung berubah saat Jayden menyinggung suami Karin. Alle takut kalau Jayden tau bahwa suami Karin adalah Naka. Alle belum siap jika Jayden tau dan akan menjauhi Alle karena tau jika Alle berpacaran dengan suami orang lain, karena sejauh ini, Alle merasa aman di samping Jayden.
"Pastilah saya datang sama suami saya."
"Suami bu Karin kerja dim---" ucapan Jayden terhenti saat Alle tiba-tiba memegang tangan Jayden.
"Kenapa?"
"Hah? Oh enggak, itu hp mas kayaknya bunyi," Jayden mengecek ponselnya.
"Gak ada apa-apa."
"Masa sih? Tadi geter gitu."
"Kamu salah denger kali. Dasar!" Jayden menyentil kening Alle.
"Sakit ih mas!"
"Haha astagaa, bener-bener ya kalian ini lucu banget," ujar Karin.
"Eh iya, bu Karin naik apa kesini?"
"Tadi sama supir sih, tapi saya suruh pulang dulu soalnya harus jemput mama saya supirnya. Saya sama Cio gampang bisa naik taksi online," jawab Alle.
"Saya antar aja gimana bu? Sekalian nanti saya antar Alle."
"Mas, bu Karin ini bukan pegawai di kantor aku ish, dia harus pulang kerumahnya," ujar Alle. Karin terkekeh saat Jayden menggira dia rekan kerja Alle.
"Oh yaudah gak apa-apa. Kita antar bu Karin sama Cio dulu. Nanti habis itu ke kantor kamu."
"Eh gak usah. Takut ngerepotin kamu sama Alle. Soalnya rumah sama kantor Alle berlawanan arah," jawab Karin.
"Eh gak apa-apa kok bu. Mas Jayden ini bakatnya banyak, salah satunya jadi supir. Jadi tenang aja bu gak ngerepotin," ujar Alle. Jayden langsung mencubit pipi Alle gemas.
"Ledek teruss gak apa-apa kok, untung sayang," celetuk Jayden.
"Bu Karin gak ke rumah sakit hari ini?" Karin menggeleng.
"Saya gak ada jadwal hari ini, makanya saya bisa jemput Cio juga."
Karin adalah seorang psikiater di salah satu rumah sakit. Saat ada waktu luang dia akan menyempatkan diri untuk menjemput Cio atau sekedar mampir di kantor Naka untuk bertemu suaminya itu.
"Eh? Bu Karin kerja di rumah sakit?" tanya Jayden.
"Iya saya kerja di rumah sakit Culture." Jayden menghentikan aksi mengunyahnya saat Karin menyebut nama rumah sakitnya.
"Wah saya ada temen kerja disitu bu. Namanya Gastama."
"Ohh dokter Tama? Dia temen kamu? Kok mau sih temenan sama orang petakilan kaya Tama?"
Alle memperhatikan percakapan antar Jayden dan Karin yang tiba-tiba membicarakan Tama.
"Tama itu yang mana mas? Yang temennya Jo?" tanya Alle yang mulai penasaran karena dia hanya tau satu teman Jayden dan itu saja hanya tau wajahnya.
"Bukan yang itu, itu Dyaksa. Tama yang ganteng, tapi gantengan saya." Karin tertawa mendengar penuturan Jayden sedangkan Alle hanya menggelengkan kepalanya. Dia sudah mulai terbiasa dengan sikap pd Jayden.
"Lain kali dikurangin lah pede nya tuh. Capek saya nanggepin kamu mas," balas Alle.
"Lah emang saya ganteng. Tadi aja bu Karin bilang saya ganteng, kamu cantik, cocok deh kita. Langsung aja gimana Le?"
"Langsung apa?"
"Ya kita langsung nikah aja!" Alle langsung mencubit lengan Jayden.
"Aduh kok di cubit. Serius loh. Bu Karin, ada saran wedding organizer gak bu? Buat saya sama Alle."
Setelah makan siang dan mengobrol, Jayden dan Alle akhirnya mengantarkan Karin dan Cio ke rumahnya.
"Makasih ya Alle, Jayden, maaf banget ngerepotin."
"Eh gak apa-apa bu. Kan saya bilang juga apa tadi? Supir saya ini suka nganterin orang kok." Alle berujar sambil merangkul Jayden membuat Jayden menyentil kening Alle dengan mudah karena dia sembarangan bicara.
"Hahaha kalian ini. Semoga langgeng ya? Undangannya harus sampai ke saya ya?"
"Siappp bu! Kalau gitu saya sama Alle pergi dulu ya bu? Mau antar tuan putri ke kantornya juga."
"Eh iya, makasih loh. Cio makasih dulu sama tante Alle sama om Jayden." Cio langsung berteriak ke Alle dan Jayden.
"TERIMAKASIH BANYAK TANTE ALLE DAN OM JAYDEN! Om Jayden kapan-kapan kita beli es krim ya?" Jayden terkekeh kemudian mengacungkan jempolnya sebelum akhirnya mereka meninggalkan pekarangan rumah Karin dan Naka.