19. Penguntit

1896 Kata
Setelah mengantar Karin dan Cio, mobil Jayden kini sampai di depan kantor Alle. Jayden menatap Alle sejenak sebelum membuka kunci pintu mobil. "Gak telat kan?" "Gak, santai aja, bosnya lagi perjalanan dinas. Kalau ada dan ketauan saya sama cowo lain bisa habis saya dicemburuin," jawab Alle sambil memasukan ponsel ke dalam tasnya. Sebelum turun Alle menatap Jayden yang sejak tadi menatapnya. "Nanti mas Jayden jemput saya kan?" Jayden mengangguk. "Kabari saya kalau udah mau selesai kerja ya? Biar nanti saya gak telat jemput kamu." Tangan Jayden beralih merapikan rambut Alle. "Iya nanti saya kabarin. Makasih udah ajak saya makan siang sama antar jemput saya." Jayden tersenyum. Tak bisa Alle pungkiri, tatapan Jayden saat menatapnya sangat teduh dan hangat. Tangan Jayden beralih dari rambut Alle menuju ke pipi Alle dan mengusapnya lembut. "Semangat kerjanya!" Alle tersenyum saat Jayden mengucapkan kalimat itu. "Mas Jayden hati-hati dijalan jangan ngebut!" "Iya, saya masih mau liat kamu nanti malam, besok, dan seterusnya, jadi saya gak bakal sia-siakan nyawa saya." "Ih, mas denger suara gak?" "Suara apa?" "Buaya! Barusan ngomong," celetuk Alle. Jayden langsung berdecak dan mencubit pipi Alle. "Sakit tau!" "Makanya jangan ngomong sembarangan." "Hehe. Udah ahh, saya mau kerja. Mas juga kerja yang bener biar gak bangkrut! Katanya mau ngajak saya serius?" "Ya nanti saya lepasin kamu dari Naka dulu. Terus saya ikat kamu biar gak kabur." "Apaan sih garing. Udah saya turun nih." Baru saja Alle akan membuka pintu, tangannya di tahan oleh Jayden. "Ada yang ketinggalan." "Apa?" tanpa aba-aba Jayden langsung memberikan kecupan singkat pada kening Alle membuat Alle cukup terkejut, namun dia mencoba menetralkan dirinya. "Lain kali, salam dulu mas. Saya kaget!" Jayden tertawa kemudian membiarkan Alle turun dari mobilnya. Dari luar mobil Alle melambaikan tangan ke Jayden dan dibalas Jayden dengan senyum manisnya sebelum akhirnya Jayden meninggalkan kawasan kantor Alle. Baru beberapa meter dia meninggalkan kantor Alle, Julian menelfonnya. Jayden menepikan mobilnya sebentar dan mengangkat telfon Julian. "Apa?" "Gue udah tugasin orang buat ngawasin Naka. Dan orang yang ngawasin Alle sama adiknya juga. Ada sesuatu Jay" "Sesuatu apa?" "Alle, perempuan itu--" "Alle kenapa?" "Etdah sabarrr gue belum selesai ngomong!" "Buruan!" "Gue rasa Alle diikuti orang. Orang yang gue suruh buat ngawasin Alle barusan bilang. Orang yang ngikutin Alle udah ditahan di markas anak buah gue. Dia ngefoto Alle sama lu. Gue rasa dia suruhan Naka buat ngawasin Alle." "Gue ke markas lu sekarang" "Okey" Jayden melajukan mobilnya sedikit lebih cepat dibanding sebelumnya. Tujuannya bukan lagi ke kantornya namun ke tempat yang baru saja Julian katakan. Jayden penasaran dengan orang yang mengikuti Alle dan dirinya. Tak butuh waktu lama, mobilnya memasuki sebuah rumah cukup mewah. Tidak seperti markas layaknya di film atau sinetron yang digambarkan dengan wujud gubuk kosong ditengah hutan. Markas yang dimaksud Julian justru rumah mewah di kawasan elit. Jayden memarkirkan mobilnya asal dan langsung memasuki rumah berwarna putih dengan nuansa eropa itu. Disana ada beberapa orang mulai dengan pakaian serba hitam hingga pakaian santai. "Pak Jayden ya?" sapa seorang pria. "Iya, Julian bilang orang itu disini." "Iya pak, mari ikut saya." Tidak ada rasa takut pada diri Jayden. Ini bukan pertama kalinya dia kesini bertemu dengan anak buah Julian yang jumlahnya tak terhitung lagi. Pria berpakaian hitam itu berjalan mendahului Jayden. Jayden mengikutinya dengan santai. Mereka melewati lorong rumah yang mengantarkan mereka ke sebuah pintu. Pria itu membuka pintu tersebut yang mana langsung terhubung pada sebuah tangga yang mengarah ke bawah tanah. Ruangan bawah tanah, ruangan rahasia yang ada dirumah yang mereka sebut markas. "Ck, Julian udah kaya mafia aja," ujar Jayden yang disambut tawa oleh pria berpakaian hitam itu. "Ini gudang tempat mesin yang rusak pak. Gara-gara orang itu berisik, jadi kita bawa aja ke gudang." Jayden mengangguk sambil terus mengikuti langkah pria itu hingga dia dihadapkan dengan seorang pria yang diikat di kursi. "Dia orangnya pak." Jayden berjalan mendekati pria itu dan berjongkok di hadapannya. Memeriksa wajah pria itu, ada lebam dipipinya mungkin karena pukulan anak buah Julian. "Siapa yang menyuruhmu?" tanya Jayden. Pria itu hanya diam. "Kami sudah menanyakannya tapi dia tetap bungkam," ujar anak buah Julian. Jayden mengeluarkan ponselnya kemudian menunjukan sebuah foto pada pria yang terikat itu. "Dia yang menyuruhmu kan? Ganaka?" Pria itu memalingkan wajahnya. "Oke, saya anggap itu sebagai jawaban iya " "Mana ponsel dia?" tanya Jayden pada anak buah Julian. "Ini pak. Memorinya sudah saya ambil, foto-foto itu ada di memori." Jayden mengambil ponsel itu dan mengotak atiknya. "Berikan memorinya padaku!" "Baik pak, nanti saya berikan." Jayden memfoto pria yang diikat itu dengan ponsel pria itu, kemudian dia mengirimkan pesan melalui ponsel pria itu. "Nomer bosmu sama dengan Naka. Tenang, bosmu sudah tau kalau kamu tertangkap," ujar Jayden sambil menunjukan isi pesan yang baru saja dia kirim ke Naka dengan ponsel milik pria itu. "Lepaskan saja dia. Terserah mau kalian apakan. Kalian jebloskan ke penjara dengan tuduhan karena menguntit orang juga silahkan." "Baik pak." "Ahhh, bilang ke atasanmu siapapun itu. Jangan coba-coba ada yang menguntit Alle lagi, atau kalian akan ku habisi," ujar Jayden sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu. Jayden duduk di ruang tamu rumah itu, salah satu anak buah Julian mengatakan pada Jayden bahwa Julian sedang dalam perjalanan menuju ke rumah itu, akhirnya Jayden memutuskan untuk menunggu. Jayden mengambil memori ponsel yang tadi dia ambil dari penguntit Alle. "Ada hp tidak terpakai? Aku mau lihat hasil fotonya!" seruan Jayden langsung di respon oleh anak buah Julian. Dengan cepat dia masuk ke sebuah ruangan dan kembali lagi dengan ponsel di tangannya, dia bahkan membantu Jayden memasangkan memori ke ponsel tersebut. "Makasih." Tentu Jayden tak lupa mengucapkan terimakasih pada pria itu. Jari Jayden mulai menekan-nekan layar ponsel dan membuka isi galeri ponsel tersebut. "Itu juga foto dari hasil camera yang dia bawa, kami sudah pindahkan semua di memori itu Pak Jayden." Jayden hanya mengangguk dan kembali melihat hasil foto tersebut. Menurut Jayden, Alle terlihat cantik meskipun tak sadar kamera. Jayden bahkan menyunggingkan senyumannya saat melihat foto-foto tersebut. Foto Alle sedang berjalan, foto Alle keluar dari kantor, hingga foto Alle bersamanya saat makan siang dan berada di mobil. Layaknya foto pre-wedding, Jayden dan Alle terlihat sangat romantis di dalam foto tersebut. "Fotonya bagus. Tanyain ke dia mau gak jadi fotografer pre-wed saya." ucapan Jayden membuat beberapa anak buah Julian yang ada di sana tertawa. Memang mereka sudah mengenal Jayden. Sikap Jayden dan bos mereka tidak jauh berbeda, mereka sama-sama orang yang jenaka, menghargai orang lain sekalipun itu bawahan mereka. Menganggap bawahan mereka seperti teman dan keluarga. Bukan berarti mereka tidak memiliki ketegasan, mereka bisa bersikap tegas bila memang bawahan mereka melakukan kesalahan fatal. Namun, pada dasarnya sifat mereka sebagai atasan memang sangat hangat. "Bebasin aja dia, kalau berulah lagi, terserah kalian apakan." Tak lama setelah Jayden mengucapkan kalimat itu, pria yang menguntit Alle keluar dari ruang rahasisa bersama dua anak buah Julian. Pria itu diminta berdiri dihadapan Jayden. Dia menunduk. "Sekali lagi kamu tertangkap oleh kami, kamu tidak akan bebas," ujar Jayden dengan tegas dan penuh penekanan. Pria itu mengangguk. Seorang anak buah menyerahkan tas berisi kamera dan ponsel milik orang itu. "Ahh dan juga ini ... karena hasil fotomu sangat bagus, dan aku menyimpannya. Aku tidak mau terkesan mencuri gambarmu, jadi aku beli gambar itu." Jayden memberikan beberapa lembar uang yang di jumlah melebihi satu juta. Pria itu menatap Jayden bingung namun menerima uang dari Jayden. "Aku bukan menyuapmu. Aku membeli hasil fotomu. Terimakasih sudah mengambil gambar Alle dengan baik. Ahh juga, ini kartu namaku. Pergi jauh-jauh dari lingkungan Naka, cari pekerjaan lain, dan jika kamu memang membutuhkan pekerjaan, hubungi nomerku." "Pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan mengurungmu disini." Pria itu mengangguk lalu berjalan pergi. Tidak sendirian, dia di antar anak buah Julian karena Jayden yang meminta. Dia diantar sampai di tempat kendaraan dia di parkirkan. Jayden kembali duduk di sofa, menanti Julian yang entah kapan datangnya. Tak lama setelah itu Julian datang dengan wajah masam dan tampak kelelahan. "Lu keterlaluan! Gue telfon gak lu angkat, ban gue bocor di tengah jalan!" omel Julian. Bukannya merasa bersalah, Jayden malah tertawa. "Lu punya anak buah banyak, gak lu telfon?" "Eh? Gak kepikiran." Jayden menggelengkan kepalanya saat tahu kebodohan temannya pada hal-hal seperti ini masih saja dipertahankan. "Pak Juli, mobilnya udah di bengkel?" tanya seorang anak buah Julian. "Ah, iya udah, tadi dibawa sama pihak bengkel. Nanti tolong kalian ambil aja, bawa kesini gak apa-apa. Nanti saya nebeng Jayden." "Gak bisa! Gue mau jemput Alle!" "Yaelahh Jaayyy, bentar doang. Gue yang nyetir mobil." "Yaudah." Hening. Mereka duduk berhadapan dan sibuk dengan ponselnya masing-masing. Hingga akhirnya Julian melontarkan pertanyaan yang dia tahan sejak tau jika Alle adalah kekasih orang lain yang sedang diperjuangkan Jayden. "'Kenapa perempuan itu?" tanya Julian. "Maksudnya?" "Valleria, perempuan yang lu perjuangkan sekarang. Dia pacar orang lain, bro. Gue tau lu butuh pendamping juga tapi ya gak pacar orang juga. Apalagi, her boyfriend is Ganaka, CEO of Ganaka Company. Perusahaan patner dari perusahaan lu!" Jayden menyandarkan tubuhnya ke sofa. Menatap Julian sejenak kemudian menghela nafas. "She need me, i don't know why, but i think ... dia dibawah ancaman Naka." "Maksud lu? Alle gak baik-baik aja sama Naka? Dia mau lepas dari Naka tapi gak bisa, dan kalian akhirnya memulai hubungan di belakang Naka. You Know, bro? It's mean ... lu selingkuhannya Alle." Jayden tertawa mendengar ucapan Julian yang sepenuhnya tidak salah. "Naka menyalakan api lebih dulu. Dia selingkuh dari Alle tapi dia tidak mau melepas Alle dan malah mengancam Alle." "Gue kira Naka udah nikah, ternyata masih pacaran, backstreet pake selingkuh lagi. Ancaman apa yang Naka pakai?" "Gak tau, Alle belum mau cerita. Tapi gue rasa serius. Alle bahkan berniat kabur ke luar negeri. Dia bilang itu satu-satunya cara agar dia tetap bebas dari ancaman itu." "Oh my god ... kayaknya ini serius, man ... gila gak nyangka gue sekelas Naka ngancam perempuan sampai kaya gitu." "Ahh dan juga, gue curiga, Naka kayaknya agak keras ke Alle entah sengaja atau gak, tapi mungkin ini terjadi pas mereka bertengkar. Karena gue lihat beberapa bekas memar mungkin sejenis terbentur sesuatu, di bahu belakang Alle" Julian langsung terdiam. Sekarang dia paham kenapa Jayden sangat mempertahankan Alle. "Do you love her?" "Gue bahkan udah sayang ke dia, bukan cuma cinta. Gue rasa gue udah jatuh terlalu dalam pada Alle, Jul. Dia punya pesona sendiri, dan cara dia menghadapi hidupnya, menyembunyikan kesedihan dan masalahnya. Dia wonder woman setelah mama gue. Fyi, dia kakaknya Juna." Julian yang baru saja minum langsung tersedak saat Jayden menyebut nama Juna. "Juna? Bocah yang di samping apart lu itu?" Jayden mengangguk. "Gue rasa, Alle menyembunyikan sesuatu dari Juna dan itu membuat mereka terlibat dalam kesalah pahaman, sampai akhirnya Juna membenci Alle, tapi gak pure benci, dia tetap sayang ke Alle. Dia cuma marah karena Alle masih mempertahankan hubungannya dengan Naka. Dia orang pertama yang lapor ke Alle kalau Naka selingkuh." "Wooahh, rumit ... lu harus bisa tau apa yang bisa membuat Alle sampai dia pertahankan hubungannya dengan Naka. Setelah lu tau itu, lu bisa bantu dia. Jangan sungkan minta bantuan gue atau Dyaksa. Kalau ancaman Naka serius, bisa dibawa ke hukum, dan Dyaksa pakarnya. Jangan sia-siain temen lu tuh pinter-pinter." Jayden tertawa dan menepuk bahu Julian kemudian dia mengambil satu batang rokok yang baru saja dikeluarkan Julian. "Anjir punya gue Jay!" "Minta lah, pelit!" "Ck, ambil dah ambil!" "Ahh satu lagi Jul. Juna dan Alle sama seperti Narendra" "Banyak kejutan ya? Kalau lu berhasil menangin perempuan itu, lu gak boleh sia-siain atau lu sakitin Jay. Jaga dia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN