20. Apartement dan dinner

2459 Kata
Alle membereskan pekerjaan kantornya dengan sedikit cepat saat menerima pesan dari Jayden yang mengatakan jika dia sudah di depan kantornya. Hari ini dia cukup kesepian karena Jonathan juga ikut dinas keluar kota dengan Naka. Namun, karena Jayden, Alle menjadi cukup terhibur dan tak kesepian. Beberapa pegawai tadi sempat menggoda Alle karena mereka melihat Alle bersama Jayden. Alle hanya terkekeh menanggapi godaan itu. Alle sudah menyiapkan segalanya untuk menerima respon Naka nanti bila mendengar kabar jika Alle bersama Jayden. Terlebih lagi Karin juga bertemu dengannya dan Jayden tadi. Alle berjalan keluar kantor mendapati Jayden yang sudah berdiri disamping mobilnya dengan kedua tangan yang dia masukan ke kedua kantong celananya, menambah kesan cool pada pria yang sudah berusia kepala tiga itu nampak seperti anak muda. Alle tertawa pelan dan berjalan mendekati Jayden. Jayden langsung merentangkan tangannya namun dipukul Alle. "Apaan sih? Malu di lihat banyak orang ih!" Jayden tertawa kemudian merangkul Alle dan menariknya untuk masuk ke mobil. Alle sedikit heran karena Jayden membuka pintu belakang bukan depan. "Kok di belakang?" "Saya bawa supir pribadi." Alle hanya mengangguk dan masuk ke mobil diikuti Jayden. "Pale lu supir pribadi!" omel Julian yang ternyata menempati kursi kemudi. Alle sempat terkejut karena ucapan Julian. Julian menoleh ke belakang dan mengulurkan tangannya. "Julian Mahendra, panggil aja Julian, panggil sayang juga boleh." Alle menatap Julian sebentar sebelum akhirnya menjabat tangan Julian setelah ingat nama Julian adalah nama salah satu teman Jayden. "Alle." "Tau kok, kakaknya Juna. Pantes aja bos besar Jayden Siregar kekeh banget berjuang, orang modelannya kaya gini," celetuk Julian. Jayden langsung menolehkan kepala Julian agar kembali menghadap depan. "Jalan pak!" "Pak Pak Pak, gue keplak sini pala lu, Jay! Etdah, nyesel gue numpang kalau dijadiin supir beneran!" "Yaudah turun, naik taksi online sana!" "Gak deh, udah deket kantor gue. Hemat. Gak apa-apa sementara jadi supir." Julian mulai menginjak gas dan melajukan mobilnya. "Kita antar Julian ke kantor dulu gak apa-apa kan?" tanya Jayden pada Alle. Alle tersenyum dan mengangguk. "Oh iya, Julian ini yang punya perusahaan IT dia juga yang punya toko laptop, komputer sampai tablet elektronik yang saya ceritain. Tablet yang mau kamu kasih buat Juna, udah saya minta Julian buat nyari." "Wahh.. makasih mas Julian." "Eh Julian aja, kita seumuran kayaknya," ujar Julian. "Kalian seumuran," bisik Jayden. Alle awalnya sedikit tak percaya, namun setelah mendengar bisikan Jayden dia jadi percaya. Julian mulai menjalankan mobil untuk meninggalkan area perkantoran Alle. Di perjalanan mereka mengobrol, dari mulai Julian kepo pertemuan awal Alle dengan Jayden hingga hubungan Alle dan Jayden sekarang yang masih tak jelas statusnya. Alle juga menjadi tau dari mana sikap humoris dan kelakuan petakilan Jayden selama ini, itu semua sepertinya karena lingkungan Jayden. Melihat bagaimana kelakuan Julian yang tak jauh beda dengan Jayden. Dan candaan mereka berdua yang bisa menyatu. Alle bahkan tak berhenti tertawa saat mendengar Julian dan Jayden berbicara hingga saling menghujat satu sama lain hingga mereka berhenti disebuah gedung. Mata Alle terbelalak saat melihat gedung itu. "Julian kerja disini?" tanya Alle. "Oh gue bosnya hehe." Alle semakin yakin jika tak selamanya bos itu bersikap tegas dan kaku seperti Naka. Buktinya Jayden dan Julian, kelakuan seperti bocah tapi ternyata mereka memiliki posisi tinggi dalam pekerjaannya. "Kaget ya?" "Iya, ini perusahaan IT terbaik dan ternama di negara kita. 5 besar perusahaan IT terbaik di Asia Tenggara. Beneran Julian?" Julian tertawa melihat wajah tak percaya Alle. "Wawancara Jayden aja. Dia bisa jawab. Gue turun yak. Dah. Thanks bos." Julian langsung turun dari mobil Jayden diikuti Alle dan Jayden yang juga turun dari mobil untuk pindah duduk di depan. "Mas? Temen-temen mas tuh emang orang yang punya posisi tinggi apa gimana?" Jayden terkekeh sambil menginjak gas mobilnya. "Julian, kamu udah tau kerjanya kan. Tama atau dokter Tama yang kerja satu rumah sakit sama temen kamu itu si Karin, dia anaknya direktur utama rumah sakit yang jelas nanti dia juga yang bakal gantiin posisi ayahnya. Dyaksa, yang punya firma hukum terbaik di sini. Jasanya sering di pakai artis bahkan petinggi." Alle langsung terdiam. Mencerna cerita Jayden. Satu circle nya tidak ada yang gagal. Semuanya berhasil, ini bahkan bukan sekedar berhasil tapi sangat berhasil. "Biasanya orang kaya seperti mas dijodohin. Mas gak di jodohin? Kenapa malah ngejar saya yang statusnya masih pacar orang lain?" "Keluarga saya bukan penganut sistem perjodohan, Alle. Eh, dulu pernah sih hampir menganut kaya gitu, tapi untungnya aku berhasil nolak. Mereka menghargai semua keputusan anaknya. Anaknya mau buka usaha, anaknya mau cari jodoh, anaknya mau ngapain, semua dihargai dan didukung selama gak merugikan keluarga. Gak semua orang kaya dijodohkan." "Mas tau gak sih produk camera tersembunyi yang dari perusahaan Julian? Yang jadi camera terbaik se-asia." Jayden menoleh sebentar ke Alle kemudian kembali fokus menyetir. Dia tak menyangka jika Alle tau produk seperti itu dan tau itu produk yang diciptakan oleh perusahaan milik Julian. Jayden menjawabnya dengan anggukan. "Saya punya satu di apartemen, saya mau beli satu lagi, mas Jayden bisa bantu masang gak? Biar saya gak usah nunggu teknisi dari perusahaannya Julian soalnya lama karena antri kan yang pakai jasanya banyak." "Bisa sih. Saya juga pasang kok di rumah mama dan di apartemen, itu saya pasang sendiri sama dibantu Julian sih. Ngomong-ngomong kenapa kamu pasang itu?" Jayden dapat mendengar Alle menghela nafasnya dan menyandarkan dirinya ke punggung jok mobil. "Naka membuat ancaman buat saya. Saya juga harus mengumpulkan bukti yang bisa jadi ancaman balik untuk Naka." "Alle, jujur saya penasaran apa yang dijadikan Naka ancaman buat kamu? Tapi saya paham kamu belum siap cerita. Mungkin saja saya bisa bantu kamu. Bilang kalau kamu butuh bantuan." "Saya mau usaha dengan usaha saya sendiri dulu mas. Kalau saya gak bisa saya bakal cerita dan minta bantuan mas Jayden. Tapi, saya bakal tetep cerita semuanya ke mas walaupun usaha saya sendiri berhasil. Tunggu ya mas, tunggu saya siap." Mereka kembali diam. Jayden fokus menyetir sedangkan Alle fokus menatap jalanan. Sepanjang jalan hanya musik klasik yang Jayden putar sebagai teman mereka menuju ke apartemen. Mereka tak bicara lagi setelah pembicaraan mereka soal Naka tadi. Jayden memang penasaran dengan masalah Alle dan Naka. Jayden sangat ingin membantu perempuan yang dia cintai itu, namun Alle masih bungkam dan belum terbuka pada Jayden. "Alle kita ke grocery dulu gimana?" Jayden akhirnya memecah keheningan dengan menawarkan perempuan yang duduk disampingnya itu untuk berbelanja bulanan ke grocery market. "Heem, boleh." "Habis itu beli makan, nanti kita makan malam bareng Juna juga ya? Gak boleh nolak!" Mobil Jayden sudah berada di area parkir grocery market. Alle mendadak jadi tukang parkir pribadi untuk membantu Jayden dalam memarkirkan mobilnya karena tukang parkir disana tidak ada. Setelah mobil terparkir rapi, Jayden dan Alle memasuki area grocery market. Mereka berjalan ke arah trolli yang ada di depan pintu masuk. Alle mencoba mengambil satu trolli namun gagal. "Mas gak bisa!" "Ck, kebiasaan kamu tuh!" Jayden hanya dengan sekali tarikan saja berhasil menarik satu troli yang akan mereka gunakan untuk berbelanja. "Hehe. Emang spesialisnya mas Jayden ini mah," ledek Alle dan berjalan mengikuti Jayden dari belakang. "Heh, sini sebelahan, jangan kaya bodyguard gitu di belakang saya!" Jayden menarik Alle agar mendekat kesampingnya kemudian menyerahkan trolli agar di dorong oleh Alle sedangkan Jayden dengan tiba-tiba melingkarkan satu tangannya ke pinggang Alle dan berjalan dengan santai begitupun Alle yang diam dan santai saja. Namun, Alle menjadi tidak santai saat Jayden tiba-tiba mengecup sekilas rambut Alle pada puncak kepalanya membuat Alle langsung menjatuhkan satu pukulan di bahu Jayden. "Mas ih malu! Tempat umum tau!" Jayden mendapat omelan hanya tertawa saja dan mulai mencari apa yang memang sedang dia butuhkan. Setelah berbelanja dan membeli makan malam, kini Jayden dan Alle sudah sampai di apartemen. Alle memasukan sandi apartemennya, belum saja Alle melangkah masuk, Jayden sudah menerobos masuk ke apartemen Alle sambil membawa kantung belanjaannya. "Jun!" sapa Jayden pada Juna yang sedang menonton tv. "Oi bang?" "Nih buat kamu, cemilan." Juna langsung berdiri dan mendekati Jayden yang membongkar barang belanjaannya. "Mas ih, kok di bongkar disini? Ini kan punya mas!" protes Alle yang baru saja masuk dan meletakan beberapa kantung plastik berisi makan malam mereka. "Orang ini buat Juna. Punya saya udah saya pisahin tuh di kantung satunya." Juna terkekeh mendengar perdebatan kecil antara kakaknya dan Jayden. Namun kekehannya berhenti saat dia merasa tak asing dengan suasana ini. Suasana yang dulu juga Juna rasakan bersama Naka dan Alle. "Eh Jun. Tolong bantu siapin makan malam ini ke piring ya. Abang sama kakak kamu mandi dulu," ujar Jayden. "Hah? Kalian mau mandi bareng?" Jayden langsung menyentil kening Juna. "Sembarangan! Mandi sendiri-sendiri lah! Abang di apartemen abang. Kakak kamu disini. Tapi kalau Alle mau mandi bareng ya gass aja!" "SINTING!" seru Alle dan Juna bersamaan. Alle langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri, begitupun Jayden yang keluar dari apartemen Alle menuju ke apartemennya sendiri untuk mandi dan berganti baju. Sedangkan Juna sibuk mengeluarkan makanan dari bungkusnya dan menatanya di piring. Tak butuh waktu lama, Jayden sudah kembali dan langsung duduk di meja makan bersama Juna yang duduk di hadapannya. "Kakak kamu belum selesai?" "Gak tau bang, coba samperin aja bang." "Ya kamu dong Juna, masa abang? Gak sopan dong," ujar Jayden. Juna malah tersenyum meledek ke Jayden. "Gak usah sungkan gitu bang. Udah nginep bareng juga ... eh, iyaa bang iya ampun, ini Juna samperin kak Alle." Juna yang awalnya meledek Jayden langsung memohon ampun ke Jayden karena Jayden menatapnya tajam dan bersiap untuk menghabisi Juna. Juna langsung berlari ke kamar Alle sambil tertawa. "Kak?" Juna melihat Alle sudah duduk diatas tempat tidurnya dengan baju tidur nightgown berbahan satin dengan warna pink salem yang ia kenakan, Alle juga menambahkan peignoir atau baju tidur bermodel jubah dengan warna senada dengan nightgown yang dia jadikan sebagai luaran nightgown yang ia kenakan agar bajunya tak terlalu terbuka. "Kak, ditunggu bang Jay buat makan malam." Alle menoleh ke Juna. "Hah? Oh kalian duluan aja. Kakak belum laper, nanti menyusul." "Okey!" Juna kembali keluar dari kamar dan duduk dihadapan Jayden. "Mana Alle?" "Katanya belum lapar." Jayden menghela nafasnya kemudian dia berdiri dan masuk ke kamar Alle. "Ayo makan!" "Kamu duluan aja mas." Jay den menghela nafasnya kemudian duduk di pinggir ranjang Alle. "Kamu bohong kalau masih kenyang. Ini udah jam 7 malam, mana mungkin kamu masih kenyang? Ayo makan!" ujar Jayden sambil membenarkan Peignoir Alle yang sedikit turun dan menampilkan bahu indahnya. "Saya beneran ...." "Saya maksa kamu!" Jayden menarik Alle pelan. Mau tak mau Alle menuruti Jayden dan berjalan mengikuti Jayden. Jayden menarikan satu kursi disampingnya untuk di duduki Alle. Alle melirik Juna sejenak sebelum akhirnya duduk dan ikut makan. Namun sepanjang makan malam itu Jayden dapat merasa jika Alle tampak gelisah, sampai akhirnya Alle meletakan sendoknya dan berniat membereskan makannya. "Saya udah kenyang, saya beresin dulu punya saya. Nanti punya kalian taruh aja ...." Alle berbicara sambil berdiri dari duduknya namun terpotong karena Jayden mencekal pergelangan tangan Alle. "Habisin Alle." "Saya kenyang mas." "Jangan bohong. Kamu kenapa? Gak nyaman? Karena saya? Tapi sebelum-sebelumnya kamu nyaman aja. Apa saya ada salah?" Juna diam memperhatikan drama dihadapannya. Drama antara Alle dan Jayden tentunya. "Bukan gitu, saya udah kenyang." "Alle, di luar sana banyak orang yang kesulitan untuk makan. Kamu harusnya bersyukur bisa makan dengan layak seperti ini. Salah satu cara kamu bersyukur dengan menghabiskan makanannya, jangan dibuang!" Alle tertegun mendengar ucapan Jayden kemudian dia kembali duduk. Diam-diam Juna mengacungkan jempol pada Jayden karena berhasil membuat Alle kembali makan dan dibalas senyuman oleh Jayden. "Kakak takut, kamu gak nyaman sama kakak Jun. Kamu sendiri yang bilang gak sudi makan bareng kakak kan? Kakak gak mau kamu makan dikit karena ada kakak." Jayden mengeryitkan dahinya dan menatap Juna lalu Alle secara bergantian. Sekarang Jayden tau alasan Alle terlihat gusar saat makan bersama dan ada Juna. "Juna gak maunya kalau ada bang Naka juga. Kalau cuma kakak sama bang Jayden juga gak masalah," jawaban Juna membuat Jayden tersenyum kemudian Jayden mengusap rambut Alle sebentar. "Tuh denger kan? Juna gak masalah, ayo makan." Alle langsung memukul tangan Jayden yang ada di rambutnya. "Tangan mas kotor ya? Kena makanan! Saya baru selesai keramas ya!" "Ya maap sengaja," jawaban Jayden membuat Alle langsung menghujami Jayden dengan pukulan-pukulan kecil di badan Jayden. Hal ini tidak membuat Jayden kesakitan justru Jayden dan Juna tertawa melihat kelakuan Alle. Setelah selesai makan, Alle membereskan meja makan dan meletakan piring-piring serta sendok ke washtafel cuci piring. "Kakak aja yang cuci. Kamu mandi sana, katanya tadi belum mandi?" tanya Alle saat melihat Juna hendak menyentuh piring di washtafel. "Dih jorok banget sih Jun? Seharian gak kuliah juga masa gak mandi? Sana mandi, udah biar saya aja Le yang cuci piring." Juna hanya cengegesan kemudian masuk ke kamarnya. "Yaudah mas Jayden yang cuci." "Lah? Langsung kamu iyakan?" "Ya kan mas Jayden sendiri yang minta tadi. Yaudah." "Gak sok-sokan kamu larang gitu? Biar akhirnya kita cuci piring berdua kaya di drama?" Alle langsung memukul kening Jayden. "Kebanyakan nonton drama lu orang tua!" setelah mengucapkan kalimat kurang ajar itu Alle langsung berjalan ke sofa dan menyalakan televisi, dia menidurkan dirinya di atas sofa sambil menonton televisi. Membiarkan Jayden mencuci piring sendirian. Tak lama setelah itu Jayden menghampiri Alle dan duduk di space yang masih ada pada sofa yang Alle tiduri sekarang. "Udah selesai?" Jayden mengangguk. "Dirapihin gak piringnya? Awas kalau berantakan!" "Rapi tau, kamu geser dikit dong!" "Ck, apa sih? Kan itu ada tempat lagi disana!" Jayden tak memperdulikan ucapan Alle dan justru memaksa berbaring disamping Alle membuat Alle mau tak mau mengeser tubuhnya dan membiarkan Jayden berbaring disampingnya sambil merengkuh tubuhnya. "Gini dulu bentar, saya capek!" pinta Jayden sambil terus memberikan kecupan pada kening Alle. "Isshh nanti dilihat Juna. Awas ih!" "Bentar aja, lagian dia mandinya juga lama, konser dulu di kamar mandi." Alle akhirnya pasrah dan membiarkan Jayden mendusel-dusel pada dirinya, sesekali menjatuhkan kecupan pada wajah Alle membuat Alle berdecih kesal namun juga tak menolak perbuatan Jayden itu. Tangan Jayden juga sesekali mengusap pipi Alle membuat Alle memejamkan matanya dan menghirup aroma khas Jayden yang memiliki aroma khas dari parfum white suede yang memiliki perpaduan bau antara saffron, suede, dan sandalwood. "Kalau saya langsung nikahin kamu aja gimana?" Alle langsung membuka matanya saat Jayden melontarkan kalimat tersebut. "Jangan lupa mas. Saya masih milik Naka. Belum milik mas seutuhnya." "Halah status doang yang milik Naka. Perasaan kamu mah udah dipindahin ke saya. Ya walaupun belum sepenuhnya. Nanti saya bantu kamu biar perasaan kamu cuma buat saya aja!" Alle terkekeh mendengar ucapan Jayden barusan. Rasanya Jayden selalu saja lancar untuk mengucapkan kalimat-kalimat romantis hingga cringe pada Alle. Mereka tenggelam dalam suasana mereka dan obrolan mereka yang ringan dengan posisi saling berhadapan dan saling mengaitkan tangan mereka ke pinggang satu sama lain, sampai akhirnya Juna membuka pintu kamarnya membuat Alle dan Jayden reflek sama-sama menjauhkan diri dan sialnya hal ini justru membuat Jayden jatuh ke lantai. "Mas!" "Bang!" seru Alle dan Juna bersamaan saat melihat Jayden tergeletak di lantai. Jayden berusaha berdiri sambil memegangi pinggangnya. Alle langsung duduk dan memegang pinggang Jayden.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN