21. Naka tau segalanya

2142 Kata
"Sakit?" "Pake ditanya lagi!" "Astaga. Juna tolong ambilin koyo dong!" Juna mengangguki ucapan Alle lalu mengambilkan koyo di kotak p3k dan menyerahkannya pada Alle. "Sini saya pasangin. Maaf ya saya buka dikit bajunya." "Banyak juga gak apa-apa kok Le." Juna menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar reaksi Jayden barusan. Dengan cepat Alle memasang koyo di pinggang Jayden dan dengan sengaja dia menepuk koyo cukup keras hingga membuat Jayden meringgis. "Sakiittt Alleeeee!" "Hahahaha astaga lucu banget. Maaf sengaja!" Alle menirukan ucapan Jayden saat makan malam tadi. "Pasti nanti malah sakit tuh bang. Gak bisa tidur," ledek Juna sambil menyiapkan PS nya karena dia dan Jayden memang ada rencana untuk bermain PS bersama. "Yaudah nanti minta kelonin kakak kamu lah Jun." Juna langsung memukul Jayden dengan bantal sofa karena berbicara sembarangan. "GAK USAH NGADA-NGADA LU BANG! UDAH AYO PS KITA!" "HAYUKLAH GAS!" Alle kembali menidurkan dirinya di sofa sambil melihat Jayden dan Juna yang bermain PS. Jayden dan Juna duduk di lantai berdua. Hal ini mengingatkan kembali Alle pada ingatannya saat bersama Naka sebelum semuanya seperti sekarang. Dulu Naka dan Juna sering bermain PS bersama. Alle kembali tersenyum melihat kedekatan Juna dan Jayden. Mungkin semuanya sekarang terasa de javu bagi Alle ataupun Juna, tetapi Alle bisa melihat ada perbedaan antara Jayden dan Naka. Sikap Jayden yang jauh lebih baik dan lebih dewasa dari Naka, Jayden yang lebih mengalah dibanding Naka, Jayden yang membuat Alle merasa lebih aman saat disisinya. Senyuman Alle luntur saat mendengar seseorang membuka pintu apartemennya. Baik Alle, Jayden, maupun Juna sama-sama menoleh. Mereka mendapati Naka yang kini berdiri mematung dengan sebuah tas di tangannya. "Ahh sorry ada tamu ya?" ujar Naka saat menyadari keberadaan Jayden. Jayden membalasnya dengan senyuman. "Apa kabar pak Jayden?" ujar Naka basa-basi. "Haha santai aja kali, ini diluar jam kerja. Jadi gak usah se-formal itu Ka, panggil gue Jayden aja." Naka mengangguk. Alle langsung berdiri dan mendekati Naka yang masih berdiri di tempatnya sejak tadi. "Mas ngapain kesini? Mas kan baru aja pulang dari dinas?" tanya Alle pelan namun penuh penekanan. "Iya aku langsung kesini, mau ketemu kamu." "Gila ya? Harusnya mas itu pulang nemuin istri mas dulu bukan saya ...." Alle menghentikan ucapannya, takut bila didengar Juna dan Jayden. Alle langsung menarik Naka ke dalam kamarnya dan menutup kamarnya rapat-rapat. Jayden dan Juna saling menatap satu sama lain dan saling berdiam diri, mencoba mendengar apa yang Alle bicarakan, namun nihil. "Mas Naka mending pulang," ujar Alle yang saat ini berhadapan langsung dengan Naka di dalam kamarnya. "Kamu usir aku? Aku kangen sama kamu Alle! Kamu gak mau peluk aku dulu?" "Mas? Tolong sekali ini coba dengerin aku ngomong. Istri sama anak kamu nunggu di rumah. Apa pantas suaminya menemui perempuan lain dulu? Aku tanya mas, apa pantas?" Naka diam menatap Alle tajam. "Kenapa? Apa karena Jayden?" "Mas! Bisa gak sih gak usah bawa orang lain ke urusan kita? Mas Jayden itu tetangga aku dia dekat sama Juna, mereka emang mau main PS bareng, masa aku usir mas Jayden? Juna yang ngajak! Tolong dong atur kecemburuan kamu!" bentak Alle. Naka semakin terdiam, Alle kini berani membentaknya. Bahkan semakin hari bentakan Alle semakin berani padanya. "Oke, maaf, maaf aku egois. Harusnya aku temui Karin sama Cio dulu. Lagi pula besok kita bertemu di kantor." Naka melangkah mendekati Alle dan merengkuh tubuh Alle kedalam dekapannya dengab erat. Namun Alle tak membalasnya dia hanya diam dan Naka merasakan itu. Naka memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang kini ia rasakan, untuk pertama kalinya, Alle tak merespon love language dari dirinya. Naka menjauhkan diri dari Alle dan menatap perempuan itu lamat-lamat. Matanya menatap ke bahu indah Alle yang kini terekspos karena peignoir-nya sedikit melorot. Naka terdiam saat melihat bahu Alle, tangannya yang memegang tas kini mencengkram tali tas itu dengan erat. Tangannya terulur membenarkan posisi peignoir milik Alle. "Alle, aku gak tau apa yang sebenarnya terjadi dibelakang aku. Jangan sampai tertangkap basah," bisik Naka. "Maksudnya?" tanya Alle karena bingung dengan maksud Naka. Naka menjawabnya dengan gelengan dan senyuman. "Jangan sampai jatuh peignoirnya, udara lagi dingin. Kamu istirahat ya? Aku pulang dulu," ujar Naka kemudian melangkah keluar kamar diikuti Alle di belakangnya. Alle bisa melihat Juna dan Jayden yang sama-sama menoleh ke arah Alle dan Naka. "Bang Naka pulang ya Jun. Jaga kakak kamu," ujar Naka pada Juna. "Jay gue balik, jangan main sampe malam, apartemen cewe nih." Setelah mengatakan hal tersebut, Naka melangkah keluar dengan Alle yang mengantarkannya keluar apartemen.  "cih, situ gak ngaca apa suka disini sampai pagi," ujar Juna lirih dan hanya di dengar oleh Jayden. Jayden hanya bisa menahan tawanya sambil terus memperhatikan Naka dan Alle yang keluar. Sampai di depan pintu, Naka kembali menatap Alle kemudian beralih ke bahu Alle yang masih tertutup peignoir pink salem yang ia kenakan. "Aku sayang sama kamu. Aku harap kita bisa mengembalikan semuanya ke keadaan semula. Maaf, aku banyak kecewain kamu." Alle tak mengubris ucapan Naka. "Pulang mas. Istri kamu nunggu." Naka mengangguk kemudian pergi dari hadapan Alle. Alle menghela nafasnya berat kemudian kembali masuk ke dalam apartemen, melewati Jayden dan Juna untuk menuju ke balkon apartemennya. Alle melihat ke bawah, memantau Naka apakah sungguh pulang? Tak lama setelah itu Alle dapat melihat mobil Naka meninggalkan area apartemennya, tangan Alle mencengkram pembatas balkon yang terbuat dari besi. Rasanya sesak. Bohong jika Alle tak lagi mencintai Naka, she still love him, 4 tahun bersama Naka bukanlah waktu yang singkat. Banyak moment bahagia dan sedih yang mereka lalui bersama, terlebih Naka menjadi salah satu orang yang sempat menjadi semangat hidupnya setelah Juna. Naka menjadi tempat ternyaman Alle setelah Juna. Naka juga menjadi rumahnya untuk pulang. Sulit bagi Alle untuk membuang perasaan itu pada Naka, namun dia harus melakukannya. Itu juga menjadi salah satu alasan Alle menjauh dari Naka akhir-akhir ini dan lebih dekat pada Jayden. Alle menaruh harapan pada Jayden, berharap Jayden mampu menjadi penganti Naka baik dalam hidupnya maupun dalam hatinya. Juna memperhatikan Alle dari dalam apartemen. Melihat Alle menunduk dan bahunya yang awalnya tegak berubah menjadi merosot seolah menjadi lemah tiba-tiba. Juna langsung menepuk Jayden yang ada disebelahnya. "Gak sekarang Juna, kakak kamu butuh ruang," balas Jayden yang mengerti maksud Juna. "Kakak butuh orang cerita. Kakak akhir-akhir ini tertutup sama Juna. Mungkin bang Jayden bisa jadi tempat kakak cerita? Setidaknya bang Jayden disamping kak Alle. Juna gak bisa, ego Juna masih mendominasi Juna bang." Jayden berdecih. "Ego aja digedein kamu! Ilangin ego kamu. Alle cuma punya kamu!" Juna mengangguk setelah mendapat omelan dari Jayden. "Juna ke kamar. Juna kasih ruang buat abang sama kak Alle. Juna percaya bang Jayden." Setelah Juna masuk kedalam kamar, Jayden menghampiri Alle di balkon. "Kenapa masih di luar? Dingin, baju kamu tipis juga." Alle menoleh sebentar ke Jayden kemudian menggeleng dan menatap langit. "Are you okay, Valleria?" Alle hanya tersenyum. "Karena Naka?" "Mas Jayden?" Jayden menoleh ke Alle, menatap Alle lekat, sepertinya ada sesuatu yang Alle ingin bicarakan. "Saya rasa saya tau kenapa saya sulit bertindak untuk melepaskan diri dari Naka. Sejak awal saya sebenarnya bisa lepas, tapi saya gak bisa. Perasaan saya yang buat saya tidak bisa bertindak. Saya masih sayang sama Naka tapi saya harus melepasnya. Dan malam ini, saya putuskan buat merelakan Naka, dan melepaskan diri dari Naka." Jayden terdiam mendengarnya. Ada rasa sakit dan sesak saat mendengar penuturan Alle, kini ia tau, hati Alle masih untuk Naka. "Saya mau merelakan Naka dan membuang perasaan saya jauh-jauh karena ada beberapa alasan mas. Juna dan mas Jayden alasan utama saya mau memulai semuanya dari awal. Saya mau mulai belajar mencintai mas Jayden. Saya mau membuka lembaran baru dalam hidup saya, menjadikan lembaran hidup saya dengan Naka sebagai kenangan dan pelajaran. Mas Jayden mau bantu saya?" Jayden terdiam, dia cukup terkejut dengan ucapan Alle terlebih lagi Alle kini menangis dihadapannya. Jayden langsung mendekap Alle erat dan membiarkan perempuan itu menangis dalam pelukannya. Jayden bisa merasakan jika perempuan yang ada didekapannya saat ini sedang hancur. Jayden membiarkannya hingga tenang. "Makin malam, anginnya makin kenceng. Masuk yuk, nanti kamu sakit," ujar Jayden setelah Alle lebih tenang. Dia menuntun Alle masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu penghubung balkon. "Ayo saya temani sampai kamu tidur, nanti saya pulang." Alle mengangguk dan masuk ke kamar diikuti Jayden yang mengekor di belakangnya. Jayden membaringkan tubuhnya di samping Alle yang sudah melepas peignoir-nya dan menyisakan nightgown yang dia kenakan. Jayden merapikan selimut Alle hingga menyelimuti tubuh Alle sebatas perutnya. Kemudian dia meraih satu tangan Alle dan mengusap-usapnnya dengan pelan. "Jangan terlalu mikir yang berat, kalau butuh apa-apa panggil saya aja. Jangan lupa juga besok kita ketemu Julian buat ambil hadiah untuk Juna." Alle mengangguk. "Belum ngantuk." Tangan Jayden beralih mengusap rambut Alle berharap memberikan kenyamanan agar Alle terlelap. "Mas?" "Hm?" "Saya merasa aman di sisi mas Jayden. Berbeda saat dengan Naka, dengan Naka saya merasa nyaman tapi tidak aman. Tapi maaf, saya belum mendapatkan kenyamanan itu saat bareng mas Jayden." Jayden tersenyum kemudian mengecup pipi Alle sekilas. "Pelan-pelan, nanti kamu akan saya buat merasa aman sekaligus nyaman disisi saya. Saya gak mau banyak janji sih tapi, saya mau buktikan aja ke kamu. Saya serius sama kamu Alle." "Saya juga serius mau mulai lembaran baru sama mas Jayden." "Alle, kamu punya impian atau cita-cita apa?" "Impian saya cuma ingin hidup bahagia dan Juna juga bahagia gak ngerasain susah. Gak apa-apa saya yang susah, tapi Juna jangan. Cuma itu impian saya." Jujur saja saat ini Jayden merasa terharu dengan ucapan Alle. Alle melakukan segala hal bukan untuk dirinya namun untuk Juna, adiknya. Jayden menyayangkan sikap Juna yang kini dipengaruhi egonya sendiri. Jika saja Juna tau kalau Alle banting tulang hanya untuk membahagiakan Juna, mungkin Juna tidak akan bersikap seperti sekarang. "Ada lagi impian saya ...." lanjut Alle. "Saya mau bikin yayasan sosial untuk anak yang di terlantarkan orang tuanya. Untuk anak-anak yang bernasib sama seperti saya dan Juna." Lagi-lagi Jayden di buat terenyuh, Jayden langsung mendekap Alle. "Semoga suatu saat nanti kita bisa wujudkan impian kita buat bikin yayasan sosial ya?" Alle menatap Jayden. "Kita?" Tanyanya. "Salah satu impian saya juga mendirikan yayasan sosial untuk anak terlantar. Saya belum bisa kasih tau alasannya, tapi nanti, saat kamu memilih menetap dengan saya. Saya akan cerita semua sama kamu, Alle. Nanti kita wujudkan bersama ya impian kita?" Alle tersenyum kemudian menenggelamkan wajahnya pada dadda bidang Jayden dan memejamkan matanya. Jayden tidak pergi setelah Alle tertidur karena Jayden juga ikut ketiduran di samping Alle. Berbeda dengan Alle dan Jayden. Naka, kini tengah berdiri di balkon rumahnya. Pikirannya tertuju pada Alle, sikapnya sangat terlihat jika dia memang menjauhi Naka, dan Naka merasakan itu. Naka semakin gusar dan khawatir karena tau jika Alle akhir-akhir ini dekat dengan Jayden. Beberapa hari lalu Naka juga tidak sengaja mendengar pembicaraan beberapa pegawainya dengan Alle yang mengatakan jika mereka bertemu dengan Alle dan Jayden di grocery bahkan di tempat makan ada yang tak sengaja bertemu Alle. Pikiran Naka buyar saat ponselnya berdering. "Halo," "Pak Naka. Orang baru yang saya kirim untuk mengawasi Alle kembali tertangkap. Sepertinya, Alle juga ada yang mengawasi pak, orang yang mengawasi Alle yang menangkap anak buah saya" Naka menghembuskan nafasnya kasar. "Dalam sehari 2 anak buahmu tertangkap? Kalian cuma cukup mengawasi Alle kenapa bisa gagal?" "Maaf pak, ini diluar kendali kami. Kami tidak tau kalau ternyata ada orang yang mengawasi atau mungkin melindungi Alle. Dari laporan terakhir yang saya terima, Alle dengan seorang pria pergi ke grocery, setelah itu anak buah saya tertangkap. Tapi dia sempat mengirimkan beberapa foto." "Kirimkan ke saya" "Baik pak" Naka memutus telfonnya. Tangannya mencengkram kuat pembatas balkon. Sampai akhirnya ada sebuah tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya dan membuat Naka terkejut. "Astaga ... Karin kamu ngagetin tau gak?" Karin terkekeh. Naka kemudian menarik Karin agar berdiri di sampingnya. "Kenapa mas? Ada masalah? Kok tadi nama Alle di sebut?" tanya Karin. Naka cukup terkejut karena Karin ternyata mendengar Naka menyebut nama Alle. "Oh itu, iya. Ada masalah kantor dikit. Anggota timnya Alle sih. Tapi udah clear kok" Karin tersenyum kemudian mengusap pipi Naka. "Jangan terlalu capek atau sibuk memforsir diri, nanti kalau sakit kasihan kamu juga." "Iya. Cio udah tidur?" "Udah tuh. Tadinya mau tidur bareng kamu tapi dianya udah ketiduran dulu. Oh iya ngomongin Alle aku jadi inget sesuatu." "Apa?" "Tadi siang aku dan Cio makan siang bareng Alle" Naka nampak tertarik dengan topik yang baru saja Karin bicarakan. Bagaimana tak tertarik? Kali ini istri dan pacarnya makan siang bersama? Tak dapat Naka bayangkan kalau Karin tau yang sebenarnya, dia akan berbuat apa pada Alle. "Alle sama pacarnya. Pantesan selama ini Jo kalau godain Alle dia gak pernah baper. Ternyata udah ada pawang." Seketika tubuh Naka menegang ketika mendengar Karin mengatakan jika Alle memiliki pacar. "Pacar Alle? Alle punya pacar?" "Iya, Jayden namanya. Ternyata dia CEO JYDcorp. Mereka juga patnernya perusahaannya mas kan?" Naka terdiam. Dia benar-benar bingung dan juga marah. Alle dan Jayden? Pikirnya. "Mas? Kenapa? Kok diam?" "Eh enggak, aku ngantuk. Tidur yuk udah malam." Karin mengangguk lalu berjalan bersama Naka masuk ke dalam kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN