22. New version of Alle is here now

1938 Kata
Jayden terbangun lebih awal dari pada Alle. Alle masih terlelap di sebelah Jayden, membuat Jayden menyungingkan senyumnnya di pagi hari ini. Tangannya terulur untuk mengusap pipi milik gadis yang dia cintai itu. Mengusapnya pelan agar tak menganggu mimpi indah sang gadis. Kemudian Jayden bangun dengan perlahan dan keluar dari kamar Alle. Juna juga belum terlihat, mungkin masih tidur. Jayden memutuskan untuk kembali ke apartemennya untuk membersihkan dirinya. Setelah membersihkan dirinya dia kembali lagi ke apartemen Alle. Dia mendapati Juna sudah berada di dapur sedang minum. "Kakak kamu belum bangun Jun?" Juna menggeleng. "Rajin banget pagi-pagi udah kesini? Kalau gak ada Juna abang juga sering ngapel ya?" "Iyalah. Apalagi kalau gak ada kamu Jun. Jangan kan datang pagi, nginep juga abang jabanin." "Bulol!" Jayden hanya tertawa kemudian berjalan ke dapur dan mengambil beberapa bahan masakan. "Mau ngapain bang?" "Bikin sarapan buat kalian. Sana kamu bangunin kakak kamu." "Emang abang bisa masak?" "Dih ngeledek." "Nanya astagaaa." Juna memasuki kamar Alle dan mendapati Alle masih terlelap. Alle tampak kelelahan dan membuat Juna tak tega membangunkannya. Akhirnya Juna memutuskan untuk melihat-lihat sekeliling kamar Alle. Terdapat banyak foto-foto Juna dan Alle dari saat Juna masih sekolah hingga liburan terakhirnya kemarin bersama Alle, Naka, dan Jonathan. Juna menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman saat mengingat momen tersebut. "Kenapa abang hancurin hidup kakak? Padahal Juna udah percayain kakak ke abang. Padahal Juna udah berharap abang selalu menjadi kebahagian kak Alle, tapi Juna salah. Memang sejak awal harusnya Juna mending suruh kak Alle sama bang Jo aja daripada bang Naka," lirih Juna saat melihat foto Naka disana. "Kakak pantas bahagia." "Jun ...?" Juna memutar badannya saat mendengar namanya dipanggil. Alle baru saja bangun dan duduk di atas ranjangnya. "Bang Jayden nyuruh Juna buat bangunin kakak. Bang Jayden lagi masak. Mending kakak cepetan keluar, takut dapurnya malah kebakar." Alle tertawa mendengar penuturan Juna. "Jayden jago masak kok Jun. Lebih jago dari kakak." Juna mengerjapkan matanya mendengar jawaban dari Alle. Apa yang Juna lewatkan sehingga tak tau jika kakaknya dan Jayden sudah sedekat ini bahkan Alle tau jika Jayden pandai memasak, bukankah artinya mereka sering makan masakan Jayden? "Kamu mandi aja. Kamu mau masukin surat magang ke perusahaan temennya bang Jayden kan? Jangan malu-maluin bang Jayden." "Iya. Gak bakal Juna malu-maluin, gak tau kalau temennya Juna." Alle sudah selesai bersiap dengan pakaian kerjanya kemudian keluar kamar karena Jayden dan Juna sudah berteriak untuk mengajak sarapan sejak tadi. "Lama banget sih!" omel Jayden saat Alle baru keluar kamar. "Ya sabar." "Buruan sarapan." "Iyaa astagaaa!" "Nanti Juna aja yang cuci, kakak sama bang Jayden langsung berangkat aja," ujar Juna. Setelah selesai sarapan, Alle langsung berangkat kerja. Sedangkan Jayden kerumahnya dahulu untuk bersiap-siap. Juna sudah siap untuk membereskan bekas makan mereka. Alle mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Namun di tengah jalan dia merasa mobilnya aneh dan tak enak dikendarai. Akhirnya Alle memutuskan menepi untuk memeriksa mobilnya. Setelah menepi Alle turun dari jalan dan mengecek ban mobilnya. Ternyata ban-nya kempes. "Yahh, bocor ya?" gumam Alle. Tanpa pikir panjang Alle langsung menelfon seseorang untuk menolongnya. "Kenapa?" "Mas Jayden udah berangkat?" "Belum. Baru mau ke basement." "Mas mobil saya bocor didekat apartemen. Tolongin saya ...." Alle mengatakan itu dengan nada memohon namun justru mendapat ledekan dan tawa dari Jayden. "Gak usah memelas gitu! Tunggu. Saya kesana" Alle tersenyum setelah mematikan telfon Jayden. Entah mengapa dia tak menghubungi Jonathan ataupun Naka seperti biasanya. Tapi justru menghubungi Jayden. Tak lama setelah itu, Jayden datang. "Bocor ya?" "Iya kayaknya." "Bentar ya? Saya udah panggil orang bengkel langganan saya. Bentar lagi sampai. Nanti kamu bareng saya aja biar gak telat." Alle hanya mengangguk. Tak lama, dua orang datang mengunakan mobil dan menghampiri Jayden. "Sorry bos agak macet tadi. Mana mobilnya?" ujar seorang pria pada Jayden yang nampaknya sudah cukup akrab dengan Jayden. "Itu. Oh iya mas Bulan. Saya titip dulu mobilnya ya? Nanti saya ambil. Soalnya harus ke kantor." "Siapp itu sih boss. Nanti langsung ambil aja di bengkel." "Oke, thanks ya mas. Ayo Le!" Jayden dan Alle akhirnya masuk kedalam mobil Alle. Sebelumnya Alle juga mengucapkan terimakasih kepada mas-mas bengkel yang berjasa untuknya itu. "Nanti mobilnya biar di ambil Juna sama adek saya aja." "Gak usah ih nanti ngerepotin adeknya mas. Biar Juna aja." Jayden hanya tersenyum menanggapi ucapan Alle sambil terus fokus menyetir. Selama perjalanan mereka hanya diam, hanya musik di radio mobil yang menemani. Jayden fokus menyetir sedangkan Alle sibuk bermain game di ponselnya. Sesekali Alle berdecak kesal karena kalah bermain game. "Udah sampai tau Le." Alle menoleh. Dia menatap sekeliling. Benar dia sudah di kawasan kantornya. "Yah cepet banget. Mas ngebut ya?" "Ngawur. Ini udah paling lambat saya kendarain mobilnya." "Ck, yaudah makasih. Makasih juga udah dibantuin tadi pas mobil bocor." "Khusus buat kamu kalau mau terima kasih ke saya gak bisa cuma dengan kata-kata." Alle memutar matanya malas. Dia tau maksud Jayden. Ini bukan pertama kalinya bagi Alle. "Yaudah apa? Makan bareng." Jayden menggelengkan kepalanya lalu menunjuk pipinya. "Ih enggak ah! Udah saya mau kerja." Alle baru akan membuka pintu mobil tapi Jayden malah mengunci pintunya. "Mas Jayden ih! bukain!" "Sini dulu makasihnya." Jayden menahan tangan Alle. "Gak mau ih malu." "Gak ada yang lihat ini. Masih sepi." "Males ih. Mending makan bareng aja gak apa-apa." Jayden menggeleng. Dia masih kekeh meminta terima kasih dari Alle dalam bentuk kecupan di pipinya. "Ngelunjak lama-lama ya nih om-om," gumam Alle. "Yaudah sini buruan!" Jayden langsung tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Alle. Dengan cepat Alle mendaratkan kecupat kilat pada pipi Jayden. "Apaan sih gak kerasa. Yang satunya kalau gitu." Jayden menunjuk pipi satunya lagi dan langsung mendapat pukulan dari Alle. "Ishh sakit tau." "Makanya jangan ngelunjak!" "Yaudah kamu gak bisa turun." "Mass ihhh!" "Buruan kasih dulu ciumannya." "Hmm" Alle kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Jayden dan mendekatkan bibirnya pada pipi Jayden, saat akan menyentuh pipi, Jayden dengan sengaja menoleh, alhasil bibir Alle mendarat dengan mulus ke bibir Jayden terlebih lagi Jayden langsung menahan tengkuk Alle dan memperdalam ciumannya. Alle langsung mencubit perut Jayden hingga Jayden melepas tautan mereka. "Lancar bener itu bibirnya!" omel Alle. Jayden tertawa kemudian menatap bibirnya di kaca, melihat apakah lipstik Alle menempel di bibirnya. "Gak ada bekas lipstiknya kan?" "Gak ada lah lipstik gue anti transfer mahal. Besok kalau jadi suami, mas harus beliin tuh lipstik yang mahal!" Jayden kembali tertawa lalu mengusap rambut Alle. "Se-tokonya pun saya sanggup belikan buat kamu. Udah sana kerja yang bener." Alle mengangguk. Sebelum turun, Jayden kembali mendaratkan kecupan pada puncak kepala Alle kemudian Alle turun dari mobil dan berlari kecil memasuki lobi kantornya. Jayden terkekeh melihat tingkah Alle kemudian sebuah benda persegi berwarna putih dengan stiker bergambar idol Korea menarik antensi Jayden. Ponsel Alle tertinggal di jok yang di duduki Alle tadi. "Kebiasaan," gumamnya lalu turun dari mobil sambil membawa ponsel Alle. Jayden memasuki lobi kantor Alle. Kehadiran Jayden ternyata menarik perhatian beberapa pegawai disana. Bagaimana tidak? Jayden adalah seorang pria tampan, bertubuh tinggi dan tegap, memiliki jawline yang tegas dan hidung mancungnya menambah pesona pada diri Jayden. Jayden mencari keberadaan Alle untuk menyerahkan ponsel Alle. Senyumnya mengembang hingga membuat kedua dimple di pipinya terlihat, menambah kesan manis pada diri Jayden. Senyumnya mengembang karena dia melihat Alle sedang berjalan dengan seorang pria yang lebih tinggi darinya. Jayden yakin pria itu adalah Jonathan. "Alle!" suara Jayden ternyata menarik atensi beberapa pegawai yang sedang berjalan di lobi. Alle dan Jonathan kompak menoleh ke Jayden. "Eh? Kenapa?" "Ponsel kamu," ujar Jayden sambil menunjukan ponsel Alle di tangannya. "Lagi? Kemarin dompet, sekarang ponsel? Kamu sengaja kan biar Jayden nganterin ke kamu?" ledek Jonathan. "Iya kayaknya dia sengaja," balas Jayden. "Enak aja! Beneran lupa tau, aduh kalau ilang nangis nih, photocard oppa-oppanya mahal." baru saja Alle akan mengambil ponselnya. Naka datang menghampiri mereka. "Loh Jayden ... maksudnya pak Jayden?" sapa Naka pada Jayden. Jayden tersenyum kepada Naka, jelasnya senyum terpaksa. "Pagi pak Naka," balas Jayden. "Ini ponsel kamu," ujar Jayden lalu memberikan ponselnya ke Alle. Alle menerimanya. "Makasih" "Iya kali ini makasih kamu saya terima meskipun cuma kata-kata. Tapi lain kali kaya biasa ya?" goda Jayden. Alle langsung berdecih sambil memasukan ponselnya ke tas. "Saya pergi dulu. Pak Naka, Jo, saya pamit dulu ya? Kerja yang bener kamu, Le," ujar Jayden lalu pergi sambil melambaikan tangan ke Alle membuat Alle tertawa kecil. Berbeda dengan Naka yang terlihat menahan amarahnya. "Kenapa bisa ponsel kamu ada sama Jayden?" tanya Naka penuh intimadasi. Jonathan yang ada di sana sampai ikut merinding, namun dia harus bertahan di sana. Takut-takut nanti terjadi sesuatu pada Alle. "Tadi aku berangkat bareng sama mas Jayden," balas Alle santai. Naka menghembuskan nafas kasarnya lalu berjalan pergi. "JONATHAN! ALLE! IKUT SAYA!" teriak Naka tiba-tiba hingga membuat beberapa pegawai terkejut. Alle dan Jonathan mau tak mau mengikutinya. "Kalian masuk dulu saja," ujar Naka pada pegawainya yang mengantri di depan lift. Para pegawai itu menurut. Kemudian sebuah lift satunya lagi terbuka. Naka, Jonathan, dan Alle masuk kesana. Naka tak mengijinkan pegawai ikut kali ini. Hanya untuk dirinya, Alle, dan Jonathan. "Kenapa kamu bisa bareng sama Jayden?" tanya Naka setelah pintu lift tertutup. "Ya karena mobil aku tadi pagi bocor. Akhirnya aku minta bantuan mas Jayden karena masih deket sama apartemen." "Kenapa gak minta bantuan aku atau Jo? Kenapa Jayden?" "Posisi Jayden terdekat mas! Mungkin dulu aku meminta bantuan mas Naka atau Jo karena kalian yang terdekat posisinya. Tapi ini di dekat apartemen. Mas Jayden tetangga aku, jadi posisinya sama tempat mobil aku masih deket. Ngerti gak sih mas?" Jonathan hanya diam memperhatikan pertengkaran pagi antara Naka dan Alle. "Kamu ada hubungan apa sama Jayden? Jawab jujur Alle!" "Dia tetangga aku mas!" "Jawab jujur Alle!" bentak Naka. Alle langsung menatap Naka tajam. "DIA TETANGGA AKU! KAMU HARAP DIA SIAPA AKU?" Alle balik membentak. Bahkan Naka dan Jonathan sampai terkejut karena Alle membentak balik Naka. Biasanya saat Naka membentak, Alle akan diam, nyalinya ciut. Tapi kali ini Alle balas membentak Naka. "Kamu tuh terlalu posesif tau gak? Tapi kamu gak posesif ke bu Karin yang notabennya istri kamu! Kamu kira kamu siapa sampai membatasi pergaulanku? Bahkan kamu pernah cemburu sama Jonathan yang kamu tau dia itu kakak angkat ku! Udah gak beres kamu tuh mas!" bentak Alle panjang dan lebar. Naka sampai bungkam karena Alle sangat berbeda hari ini. Tidak seperti Alle biasanya. "Kamu suka sama Jayden?" tanya Naka. Belum sempat Alle menjawab, pintu lift terbuka. Alle langsung keluar meninggalkan Naka dan Jonathan yang masih mematung. "Jo, kalau gue suruh lu buat awasi Alle seperti dulu, bisa?" "Naka, Sorry. Gue gak bisa. Alle adik gue" jawab Jonathan singkat. "Udah gak bisa, ya?" "Kali ini gue mau lihat adik gue itu bahagia, Ka. Sorry, ini bukan masalah lu udah berkeluarga atau belum. Tapi ini masalah kebahagiaan Alle. Semesta terlalu jahat pada Alle. Dan gue pengen mulai sekarang lihat Alle bahagia dengan pilihannya. Gue gak peduli lu mau habisin nyawa gue atau apapun itu, kalau ini menyangkut kebahagian Alle, gue sebagai kakak dia rela mati," balas Jonathan lalu ikut keluar dari lift baru kemudian diikuti Naka yang masih mencerna semua ucapan Jonathan. "Alle, pak Jayden dari JYD Corp. Beneran pacar kamu ya?" tanya seorang pegawai. Tepat saat itu ada Jonathan dan Naka juga yang masuk ke ruangan. "Hah? Orang yang tadi di lobi? Yang ganteng itu? Itu pacar kamu Alle." Alle hanya menggelengkan kepalanya lalu duduk di bangkunya. Dia langsung membuka ponselnya dan melihat pesan yang baru saja masuk dari Jayden. Jangan lupa nanti kita ke tokonya Julian. Ambil hadiah Juna. Alle tersenyum membaca pesan tersebut dan tidak sadar jika sejak tadi Naka memperhatikannya. Jonathan menepuk pelan bahu Alle lalu duduk di bangkunya yang kini dia pindah di sebelah Alle. Alle juga baru menyadari hari ini kalau Jonathan berpindah tempat. Alle melirik ke arah Naka yang sedang memasuki ruangannya dengan wajah masam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN