"Anjinc emang Naka, Badjingan benerrr!" gerutu Alle sambil duduk di tempatnya. Tak lama setelah itu Naka dan Jonathan datang. Jonathan duduk di tempatnya sedangkan Naka berdiri dihadapan meja Alle.
"Maaf ya? Aku gak maksud buat kamu marah," ujar Naka lirih.
"Udah sana masuk ke ruanga kamu, nanti ada karyawan yang lihat," balas Alle. Naka hanya mengangguk lalu masuk ke ruangannya. Alle menghela nafasnya, baru saja mood nya bagus saat pergi dengan Jayden tadi, tapi Naka merusaknya.
"Udah, sabar ...." Jonathan mendatangi Alle sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Capek, Jo. Capek banget!" Jonathan menarik kursi dan duduk di dekat Alle.
"Tadi makan siang dimana?" Jonathan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Deket kampus Juna. Ada Juna juga, mas Jayden ngajak Juna," Jonathan mengangguk.
"Bagus dong, bisa makan sama Juna. Kamu kangen kan sama adek kamu?"
Alle hanya mengangguk kemudian dia mengambil ponselnya, mencari kontak Jayden dan mengiriminya pesan.
Alle
Makan malam di apart mas, kapan-kapan aja ya?
Saya males malam ini
Lagi gak mood
Read
"Lah kok gercep di read? Dia kan lagi nyetir!" pekik Alle, Jonathan terkejut saat Alle tiba-tiba memekik.
"Apasih Le?"
"Hah? Eh-- eng- enggak hehe." Jonathan melihat layar ponsel Alle, dia bisa melihat nama Jayden disana.
"Bales tuh chatnya. Aku ke meja aku lagi." Jonathan berjalan membali ke meja kerjanya.
Mas Jayden
Kenapa?
Karena pacar kamu?
Read
13.30
Alle
Hmm
Pokoknya males
Besok aja
Read
13.30
Mas Jayden
Yaudah gapapa
Besok ya?
Read
13.31
Alle
Iyaaaaa
Btw
Mas Jay kan lagi nyetir, kok main hp?
Read
13.32
Mas Jayden
Kata siapa?
Saya di kantor kamu sekarang
Read
13.32
Alle
Hah?
Read
13.32
"Ih di read doang? Bener-bener dah nih bapak- bapak satu!"
"Pak Jo, pak Naka nya didalam? Pak Jo saya telfon gak diangkat!" seorang pegawai resepsionis menemui Jonathan dengan tergesa.
"Kamu nelfon saya? Telfonnya lagi rusak ini. Telfon nomer hp saya aja lain kali. Pak Naka di ruangan kok barusan datang. Kenapa?"
"Ada yang mau ketemu."
"Oh suruh masuk menemui saya aja, nanti saya hubungi pak Naka."
Resepsionis itu keluar dari ruangan. Tak lama setelah itu dia kembali lagi namun tidak sendirian. Membuat Alle terkejut, karena dia datang bersama Jayden dan satu orang pria yang Alle tak kenal.
"Ini pak Jonathan pak. Sekretarisnya pak Naka," ujar resepsionis itu lalu keluar dari ruangan. Alle menatap Jayden tajam sedangkan Jayden malah tersenyum dan mengedipkan matanya membuat Alle bergidik geli.
"Saya Jonathan sekretarisnya pak Naka. Tunggu, Mahesa kan? Sekretaris JYD Corp?" ujar Jonathan pada pria yang bersama Jayden yang ternyata bernama Mahesa.
"Iya, saya Mahesa, ini bos saya." Jonathan langsung terkejut kemudian dia menatap Jayden dan Alle bergantian. Tatapan Jonathan pada Alle membuat Jayden ikut menatap Alle.
"Dia Jo?" tanya Jayden pada Alle dengan nada lirih tentunya. Alle mengangguk. Jayden kembali menatap Jonathan dan tersenyum.
"Jayden, CEO JYD Corp, kamu Jonathan kan? Alle banyak cerita soal kamu," ujar Jayden. Alle melotot tajam pada Jayden. Sering cerita apanya? Dia baru hari ini cerita tentang Jonathan.
"Ahh iya saya Jonathan. Mau bertemu pak Naka ya? Oh, Alle bisa tolong beritahu pak Naka ada yang mau bertemu?" Alle mengangguk dan berdiri, saat akan berjalan, tapi Jayden menahannya.
"Boleh saya minta tolong kalau kamu saja yang bilang ke pak Naka?" Jonathan paham maksud Jayden. Sorot mata Jayden juga menunjukan ketidaksukaan saat Jonathan menyuruh Alle. Hal ini membuat Mahesa sekretaris Jayden ikut bingung.
"Ah, iya saya saja." Jonathan kemudian berjalan memasuki ruangan Naka.
"Apasih mas?" tanya Alle sedikit berbisik pada Jayden. Jayden menggeleng dan melepas pegangannya pada Alle.
"Sana kerja lagi yang bener."
"Hmm ...."
Melihat cara Alle merespon Jayden, Mahesa semakin menjadi bingung dan berpikir bahwa ada yang aneh dengan kantor Ganaka.
"Kok dia gak sopan sama bapak?" tanya Mahesa saat Alle sudah duduk di bangkunya. Jayden terkekeh.
"Biarin aja, dia calon ibu buat anak saya, Hes," bisik Jayden. Mahesa langsung menutup mulutnya karena terkejut kemudian menatap Alle dan Jayden secara bergantian.
"Kenapa mas Mahesa? Ada yang salah sama saya ya? Kok liatin saya gitu?" tanya Alle to the point membuat Jayden menahan tawanya.
"Eh nggak, anu ,.. mbaknya cantik." Jayden langsung menginjak kaki Mahesa saat dia mengombali Alle.
"Aduh pak, sakitttt ampunnn pak sayaa bercanda! Saya masih ingat istri saya hamil tua pak!" rintih Mahesa. Alle terkekeh melihat kelakuan dua orang penting dihadapannya. Gak atasan gak bawahan sama aja. Pikirnya.
"Pak Jayden, silahkan masuk, pak Naka menunggu didalam."
"Oh iya, baik."
Kemudian Jayden dan Mahesa masuk ke ruangan Naka. Sedangkan Jonathan menghampiri Alle.
"Itu tadi Jayden tetangga kamu, Le?" Alle mengangguk.
"Tumben dia mau nemuin Naka langsung biasanya dia nyuruh sekretarisnya. Pasti dia mau modus doang tuh Le sama kamu."
"Sok tau banget sih, udah sana balik kerja yang bener!"
"Galak bener jadi cewek. Kasian Jayden sama Naka suka sama cewek kaya kamu!"
"Berisikkk lu!"
"Ya maap sayang!"
"JONATHAN SUHERMAN! DIEM GAK?" Jonathan tertawa melihat wajah kesal Alle. Memang sejak bertemu Naka tadi Alle sudah kesal ditambah lagi Jonathan membuatnya kesal.
***
Sepulang kerja Alle langsung ke apartemen untuk membersihkan diri dan merapikan apartemennya. Masih sepi, itulah yang dia rasakan. Dulu sebelum Juna memutuskan untuk ngekos biasanya Juna akan ada di apartemen saat Alle pulang kerja dan menyambut Alle dengan memalak Alle agar membelikan Juna makanan yang diinginkan Juna. Tapi sekarang semua berbeda.
Apartemennya terasa dingin dan sunyi seperti tak ada kehidupan didalamnya.
Setelah selesai merapikan apartemen dan selesai mandi, Alle memutuskan menonton televisi, dia ingin makan tapi malas, menunggu nanti saja saat sudah tidak malas dia akan keluar dan membeli nasi goreng di perempatan dekat apartemennya yang terkenal enak itu.
Setelah hampir 1 jam menonton televisi, Alle memutuskan untuk keluar mencari makan. Baru saja membuka pintu, dia dikejutkan dengan Jayden yang berdiri didepan pintunya sambil membawa sekantung plastik.
"Apa? Kan saya udah bilang mas, saya gak mau makan malam sama mas malam ini. Besok aja. Saya lagi badmood."
"Siapa yang ngajakin kamu makan malam? Kepedean banget. Ini saya beli nasi goreng di perempatan situ, kata Juna enak. Jadi saya beli dua, pas dijalan saya pikir-pikir dua kebanyakan, jadi mau saya kasih satu buat kamu. Pasti kamu belum makan kan?" ujar Jayden. Alle terdiam.
"Situ cenayang ya?" Alle heran, karena kenapa bisa kebetulan Jayden membeli nasi goreng yang memang sebenarnya Alle akan keluar membelinya.
"Mau gak? Kalau gak mau yaudah saya kasih ke pak satpam aja."
"IYA MAU!" Alle mengambil satu kantung plastik yang dibawa Jayden. Jayden terkekeh kemudian melangkah mendekat ke pintu apartemennya.
"Mas?"
"Apa?"
"Mas Jayden belum makan juga?" Jayden mengangkat tangannya yang memegang kantung plastik yang sama seperti yang Alle pegang, menandakan dia juga baru akan makan.
"Yaudah, ayo makan bareng aja." Alle menutup pintu apartemennya rapat lalu berjalan mendekati Jayden.
"Tadi katanya badmood gak mau dinner bareng?"
"Yaudah, mas Jayden mau gak? Kalau gak mau yaudah, saya bisa makan sendiri." Alle baru saja berbalik namun langsung ditahan Jayden.
"Ayo makan bareng saya. Gak usah ngambek, makin gemes nanti saya makin suka, makin besar keinginan saya buat ngerebut kamu dari Naka." Alle terdiam, sorot mata Jayden menunjukan keseriusannya. Jari-jarinya mulai menekan beberapa tombol yang terletak di dekat gagang pintunya hingga pintu apartemen Jayden akhirnya terbuka.
"Ayo masuk!"
Alle berjalan berlahan memasuki apartemen Jayden.
"Ini kali ke tujuh kamu masuk kesini kan? Semenjak kejadian kamu salah masuk apart ---"
"IH GAK USAH DIBAHAS YANG ITU SIH MAS! SAYA TUH MALU!" Jayden tertawa melihat Alle berteriak histeris. Ini bukan kali pertama, Jayden sering mengoda Alle seperti ini.
"Saya mandi sama ganti baju dulu. Kamu kalau mau makan duluan ya gak apa-apa. Nih nitip." Jayden menyerahkan nasi goreng miliknya lalu masuk ke kamarnya.
Alle berjalan ke dapur milik Jayden mengambil dua piring untuknya dan untuk Jayden. Alle semakin terbiasa dan sudah mengenal letak barang-barang Jayden karena Alle sering datang ke apartemen Jayden. Alle menyiapkan makan malam miliknya dan Jayden di meja makan.
Tak lama setelah itu Jayden keluar kamar dengan rambut yang masih sedikit basah dan kaos putih oversize serta celana panjang kotak-kotak yang menjadi pakaian santai kebanggaannya.
"Kok belum makan?"
"Nunggu mas Jayden, gak sopan kalau saya makan duluan, yang punya rumah belum makan." Jayden tersenyum kemudian duduk dihadapan Alle.
"Ayo makan."
Mereka menikmati makan malam mereka bersama diiringi dengan candaan dan obrolan acak yang mereka ciptakan agar makan malam mereka tidak kaku.
Setelah selesai makan malam, Alle tak langsung kembali ke apartemennya, dia berada di balkon apartemen Jayden bersama Jayden sambil menikmati coklat panas yang tadi Jayden buatkan. Mereka duduk di kursi yang ada di balkon sambil menatap city night dan langit yang cukup berbintang malam ini.
"Alle, saya mau nyanyi."
"Emang bisa?"
"Dih kamu nantangin saya?" Jayden berdiri dari duduknya kemudian berjalan masuk ke apartemen, dia kembali duduk dihadapan Alle dengan gitar ditangannya. Alle cukup terkejut dengan ini.
"Mas Jayden bisa main gitar?"
"Bisalah, piano juga saya bisa Le. Kalau mau saya bisa mainkan piano buat kamu." Alle berdecak kagum. Selain tampan dan pintar ternyata Jayden juga berbakat dalam hal bermusik. Sepertinya kekurangan Jayden di mata Alle hanya satu, yaitu sikap random dan konyol Jayden yang kadang di luar nalar.
"Yaudah nyanyi, mau nyanyi apa?" tanya Alle. Jayden tersenyum sambil menatap Alle.
"I like me better."
Jayden mulai memetik senar gitarnya hingga membuat sebuah alunan musik indah yang dengan sopan masuk ke telingga siapa saja yang mendengarnya. Bibirnya mampu melantunkan lirik indah itu dengan cukup fasih. Setiap lirik yang terucap dari bibir indah Jayden terdengar sangat tulus.
Alle terdiam dan matanya berbinar saat mendengar suara Jayden. Suaranya sangat indah dan sangat pas dengan lagu tersebut bahkan suaranya hampir mirip dengan Lauv, penyanyi asli lagu yang kini dinyanyikan oleh Jayden. Mata Jayden tak lepas untuk menatap Alle setiap lirik "I like me better when i'm with you" dilantunkan. Hal ini berhasil membuat wajah Alle sedikit memerah dan jantungnya berdegup cukup cepat.
Jayden menatap Alle semakin dalam dan...
"I like me better when I'm with you, Valleria"
Alle semakin diam dan menatap manik teduh milik Jayden. Hanya ketulusan yang bisa Alle lihat dari pancaran mata indah milik lelaki tampan dihadapannya itu. Sampai akhirnya ponsel Alle berbunyi. Jayden menatap ponsel Alle yang terletak di meja dihadapan mereka.
"Naka telfon," ujar Jayden saat melihat nama kontak Naka tertera sebagai penelfon.
"Biarin."
"Angkat dulu."
"Gak dulu."
"Alle ...."
"Iya saya angkat."
Alle mengangkat telfon Naka, dihadapan Jayden. Tidak menjauh dari Jayden seperti biasanya, tapi benar-benar di hadapan Jayden, bahkan dia menyalakan pengeras suaranya.
"Sayang, dimana? Aku tadi ke apartemen kamu tapi kosong."
Itulah suara pertama yang Alle dan Jayden dengar.
"Di kos Juna," balas Alle singkat.
"Tumben? Ini lagi gak weekend loh Le."
"Yaudah si kenapa emang? Gak ada bedanya juga weekend sama gak weekend. Kapan aja aku bisa kan ketemu Juna?"
Melihat Alle emosi, tangan Jayden terulur untuk mengusap pundak Alle, bermaksud untuk menenangkan Alle.
"Iya maaf, bukan gitu maksud aku. Biasanya kan kamu nemuin Juna pas weekend."
"Yaudah. Ngapain telfon?"
"Nyariin kamu. Aku ke apartemen kamu, tadinya mau pamit dulu, kan kamu tau aku ada perjalanan dinas keluar kota sama Jo besok, jadi pasti gak ketemu kamu--"
"Yaudah kerja aja. Biasanya juga perjalanan dinas sampe seminggu gak apa-apa. Ini cuma sehari juga."
"Iya ... dulu padahal kamu protes setiap aku perjalanan dinas meskipun cuma sehari, tapi sekarang---"
"Itu kan dulu Naka! Duluuu, sekarang sama dulu udah beda. Udah kamu siap-siap aja buat berangkat, aku juga mau istirahat."
"Okey, maaf ganggu istirahat kamu. Good night, sayang."
"Hmm, aku tutup."
Alle langsung menutup telfonnya tanpa menunggu jawaban dari Naka.
"Ayo masuk, makin malam makin dingin." Jayden menarik Alle agar masuk kedalam apartemennya dan menutup pintu penghubung balkon.
Alle duduk di ruang tengah sambil menunggu Jayden menutup pintu, kemudian Jayden ikut duduk disamping Alle.
"Netfliix mau?" Pertanyaan Jayden sukses membuat mata Alle berbinar, senyumnya kembali merekah dan dia menganggukan kepalanya dengan semangat.
"Mau nonton apa?" tanya Jayden.
"Girl from nowhere."
"Okeey"
Mereka fokus menonton film yang diputar di smart tv milik Jayden. Sesekali Jayden mencuri pandang pada Alle yang tengah fokus menonton filmnya. Jayden bisa melihat Alle menguap karena memang sudah larut malam.
"Ngantuk?" Alle mengangguk.
"Ayo saya antar pulang sampai depan apartemen kamu." Alle tertawa mendengar penuturan Jayden pasalnya unit mereka bersebelahan, tanpa diantar pun Alle bisa.
"Mas ...."
"Apa?"
"Disini ada dua kamar juga. Kamar yang satu buat apa?"
"Oh itu, kamar buat adek saya. Dulu pas awal-awal saya pindah dia beberapa kali kesini. Tapi sekarang gak pernah, mager katanya. Oh iya, Juna kadang nginep disini, dia pakai kamar adek saya." Alle langsung menegakan tubuhnya saat Jayden bilang demikian.
"Juna?"
"Heem, jangan kamu kira dia jarang pulang. Dia masih rutin pulang Le. Tiap weekend, tapi dia kesini, katanya mau memastikan keadaan kamu. Tapi dia kayaknya gengsi ketemu kamu apalagi dia udah klaim dirinya benci kamu. Jangan pernah berpikir Juna gak suka ke kamu. Karena sebenarnya dia itu sayang sama kamu," ujar Jayden. Alle tersenyum manis ke Jayden kemudian mengenggam tangan Jayden.
"Mas Jayden, makasih. Makasih udah rawat Juna dan nemenin Juna."
"Kan aku udah bilang kalau Juna udah kaya adek saya sendiri Le. Jadi jangan sungkan."
"Kalau malam ini saya yang menempati kamarnya boleh?" pertanyaan Alle berhasil membuat Jayden terkejut.