14. Confess and Believe

1576 Kata
Setelah selesai makan, Alle dan Jayden tak langsung pulang namun memilih ke rooftop restoran dan memesan americano, Alle baru tau jika Jayden juga menyukai americano seperti dirinya. Alle berdiri di dekat pembatas rooftop dengan Jayden disampingnya, mereka menatap pemandangan kota dari atas sana sembari membiarkan angin menerpa wajah dan rambut mereka. "Masih ada waktu 30 menit buat istirahat," gumam Alle. "Heem." "Mas, ada saran gak tempat di luar negeri yang kira-kira nyaman ditinggali untuk waktu yang lama?" tanya Alle. "Eh? Yang kamu bilang di kos Juna buat tinggal di luar negeri itu seriusan?" Alle mengangguk. "Kenapa?" "Kayaknya saya gak cocok disini mas. Banyak kenangan buruk di setiap sudut kota. Dimanapun itu, banyak kenangan buruk yang melekat buat saya. Saya mau pergi ke tempat baru dan membuat kenangan indah di sisa hidup saya dengan Juna, kalau Juna mau". Jayden menatap Alle lamat-lamat. "Seberat itu ya masalah hidup kamu? Juna bilang, bahkan masalah Juna kamu yang nanggung." Alle tersenyum. "Juna itu alasan saya masih hidup sampai sekarang mas. Saya dan Juna ditelantarkan sama orang tua kita sendiri di panti." Jayden mencelos saat mendengar ucapan Alle barusan. Jayden baru tau fakta ini bahkan Juna tidak cerita. "Saya cuma punya Juna, Jo, dan mamanya Jo sekarang. Cuma mereka tempat saya bercerita dan pulang, tapi satu persatu mulai menghilang. Juna, benci saya sekarang. Jo, saya gak bisa cerita banyak karena dia tangan kanannya Naka, suatu saat dia bisa saja diancam dan membocorkan segala informasi. Mama, mama sudah terlalu banyak saya repotkan." Jayden mengeryitkan dahinya tak paham maksud Alle. "Mamanya Jo? kenapa?" "Ahh itu. Saya dan Juna sempat hampir terpisah karena Juna diadopsi. Akhirnya kita kabur dari panti asuhan, saya cuma kenal Jo waktu itu. Saya minta bantuan dia dan keluarganya membantu saya sama Juna. Mereka bahkan merawat saya dan Juna. Mama saya itu mamanya Jo, bisa di bilang mama angkat. Jonathan, sekretaris mas Naka." "Alle ...." Alle menoleh ke Jayden. "Apa?" "Jangan ragu cerita ke saya. Saya juga bisa menjadi tempat kamu bercerita, meminta bantuan, bahkan saya bisa menjadi rumah buat kamu, kalau kamu mau." "Kenapa? Kenapa mas Jayden baik ke saya dan Juna?" "Saya punya adik seusia Juna, itu yang membuat saya memberikan treat yang baik pada Juna, dia sudah seperti adik saya Alle. Kalau ke kamu ... saya rasa kamu tau alasannya." Alle terdiam sejenak. "Sejak kapan?" tanyanya membuat Jayden bingung. "Apanya?" "Sejak kapan mas Jayden punya perasaan ke saya? Punya perasaan lebih dari sekedar teman." Benar kata Juna. Alle memang peka dan tau kalau Jayden menyukainya. "Hh, ternyata Juna gak bohong. Dia bilang, kamu itu peka. Ternyata emang iya, kamu bahkan tau kalau saya suka sama kamu tanpa saya bilang. Saya suka sama kamu sejak kita pertama ketemu, pas saya tersesat di perusahaan Naka. Tapi ternyata kamu pacar bosnya ya hahaha. Sakit sih Le, tapi gak apa-apa sih, selama janur kuning belum melengkung sih gasss ajaa lah ya?" Alle kembali tertawa mendengar candaan Jayden ditengah perbincangan serius mereka. "Saya gak butuh jawaban atau balesan kamu kok, Le. Saya cuma mau confess aja biar lega. Iya saya suka, saya sayang sama kamu. Kalau Tuhan mengijinkan kita bersatu ya aku seneng. Kalau gak, ya aku mau paksa Tuhan buat ngijinin kita bersatu. Bodo amat sama Naka." Alle tak bisa menghentikan tawanya setiap mendengar ungkapan Jayden. Padahal mereka dalam konteks serius, tapi bisa-bisanya Jayden sebercanda itu. "Mas, saya gak akan larang mas Jayden suka atau sayang sama saya. Itu hak mas Jayden. Perasaan kan gak ada yang tau, dia datang tiba-tiba gitu aja. Tapi, maaf, saya sendiri belum bisa pastiin perasaan saya. Saya masih takut buat mengikutkan perasaan saya pada sebuah hubungan. Bisa dibilang ini semacam trauma." Jayden mengangguk. "Trauma karena hubunganmu dan Naka? Maaf, saya terkesan ikut campur. Tapi Juna cerita semuanya. Termasuk Naka selingkuh." Alle menghela nafasnya. "Saya minta ijin ke mas Jayden boleh?" Jayden kembali menatap Alle dengan tatapan tak pahamnya. "Minta ijin untuk apa?" "Saya mau ijin buat menjadikan mas Jayden salah satu tempat saya cerita, tempat saya berkeluh kesah, atau mungkin suatu saat menjadi rumah saya untuk pulang. Perasaan gak ada yang tau kan?" Jayden tersenyum mendengarnya. "Kenapa tiba-tiba mau?" "Melihat Juna cerita semua ke mas, saya yakin, mas itu tempat terbaik buat bercerita. Mas bisa dipercaya. Jadi saya mau percaya sama mas Jayden. Mas keberatan?" Jayden menggeleng dengan cepat. "Bahkan kalau kamu butuh tempat bersandar, saya siap 24/7 buat kamu, Alle." Alle mengangguk. "Cara saya bisa lepas dari Naka itu saya harus keluar dari sini dan membawa Juna. Naka punya kartu as saya yang membuat saya kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Bukan takut miskin, saya takut kalau Juna menderita karena saya. Impian saya itu cuma satu, membahagiakan Juna, itu saja. Saya mau Juna bisa mengapai mimpinya, jadi orang sukses yang nanti keluarga dia kelak tidak menderita seperti saya dan Juna. Saya gak apa-apa menderita, yang penting Juna bisa bahagia." Jayden mati-matian menahan air matanya saat mendengar ucapan Alle barusan. Jiwa ke-kakak-annya merasa ditampar setelah mendengarnya. Selama ini dia menyayangi adiknya, namun tak pernah memiliki pemikiran seperti Alle. "Mas, kalau memang pada akhirnya hanya saya yang bisa meninggalkan negara ini, saya titip Juna ya untuk sementara? Saya pasti pulang lagi. Karena rumah saya ada disini, Juna, dia rumah saya saat ini." "Apa yang Naka lakukan sampai kamu mempertahankan hubunganmu? Padahal Naka selingkuhin kamu," tanya Jayden. "Saya gak bisa kasih tau untuk sekarang. Mungkin awalnya memang dia yang selingkuh, tapi setelah saya tau faktanya, saya ini yang jadi selingkuhannya sekarang." "Maksudnya gimana?" "Mas Jayden gak perlu tau. Selama Juna juga tidak bercerita sejauh itu pada mas Jayden, maka saya akan diam juga." "Jangan sungkan minta bantuan saya ya Alle? Saya akan bantu kamu." Alle tersenyum dan mengangguk, kemudian keduanya sama-sama menatap lurus kedepan sampai akhirnya Alle menyandarkan kepalanya di bahu Jayden dan tangan Jayden merangkul dengan posesif bahu Alle. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka sejak tadi. "Memang dari awal aku udah kalah ya Le kalau perihal perasaan? Sejak awal kamu cuma anggap aku itu kakak kamu ya? Syukur, kalau lelaki itu Jayden, setidaknya dia tidak sebrengsek Naka." Ya, dia adalah Jonathan. Jonathan tidak mengikuti Alle. Kebetulan tadi dia ingin membeli kopi, saat itu dia melihat Alle menaiki tangga cafe sendirian, Jonathan mengikuti Alle dan berniat mengajak Alle minum kopi bersama, tapi siapa sangka, ternyata di rooftop ada Jayden juga. Jonathan mendengar semua pembicaraan mereka. Sakit memang, namun dia bisa menahannya. Dia cukup lega saat tau pria itu Jayden. Didalam mobil Jayden dan Alle bersikap biasa saja. Tak ada kecanggungan diantara mereka meskipun tadi sama-sama confess. Mereka masih bersikap seperti sebelumnya. "Jadi Jonathan itu temennya Dyaksa yang waktu itu bantu Dyaksa nyari foto pegawai itu?" Alle mengangguk. "Lagian mas Jayden kenapa sih minta foto-foto pegawai? Gabut?" "Saya nyari jodoh saya Le, yang waktu itu saya gak tau dia siapa, cuma tau wajahnya." "Hah? Siapa? Tadi baru confess loh ke saya!" "Ya kamu! Kamu orang yang saya cari! Taunya tetangga sendiri." Alle memukul bahu Jayden pelan. "Malah dipukul, padahal serius/" "Ck! Turunin depan situ aja mas." Jayden hanya menurut saja, dia berhenti agak jauh dari kantor Alle. "Makasih makan siangnya mas Jayden. Saya kerja dulu ya? Mas Jayden semangat kerjanya." Jayden terkekeh kemudian mengacungkan jempolnya. "Kabari kalau udah duduk di ruangan kamu!" "Dih lebay kamu mas. Udah ya saya turun." "Iya! Jalannya hati-hati siapa tau kesandung." "Nyumpahin ya?" "Enggak, bercanda. Sana turun udah mau habis waktu istirahatnya." "Iiiyaaaaa!!!!" "Alle bentaarrr!" Alle yang tadinya sudah mau masuk ke dalam kantor menghentikan langkahnya karena Jayden tiba-tiba turun dari mobil dan berlari kecil menghampirinya. "Apa lagi?" "Nanti malam makan malam di apartemen saya! Gak ada penolakan!" Setelah mengucapkan kalimat itu Jayden langsung pergi, padahal Alle belum mengiyakan. "Makin lengket ya?" Alle langsung memukul Jonathan yang tiba-tiba berbisik dari belakangnya. "Ngagetin!" "Hahaha astaga, muka kamu kaya liat hantu aja." "Iya kamu hantunya Jo!" "Gak tau diri emang." Jonathan menjambak pelan rambut Alle, tentu Alle tak terima dan membalas Jonathan. Tidak peduli dengan tempat mereka berdiri sampai akhirnya suara Naka menghentikan aktivitas mereka. "Gak tau tempat kalian. Selalu aja bertengkar disembarang tempat," ledek Naka. "Jo duluan jambak aku!" "Dih kamu duluan yang ngatain aku seetan Le!" "Ya kamu ngagetin!" "Udah! Udah! Gak malu apa dilihatin karyawan lain?" ujar Naka. Alle dan Jonathan langsung diam. Mereka bertiga berjalan memasuki lift. Ketiganya hanya diam didalam lift yang hanya terisi mereka bertiga. "Kamu darimana Le?" tanya Naka. Nafas Alle terasa tercekat. Tidak mungkin Alle menjawab kalau dia pergi dengan Jayden, Naka pasti akan marah. Jonathan dapat melihat perubahan sikap Alle yang seperti ini dan langsung membuka mulutnya. "Makan siang sama gue lah! Yakali sama lu yang lagi bareng keluarga lu? Dikata pelakor beneran ntar," celetuk Jonathan. Alle langsung menghela nafasnya lega. "Tuh udah dijawab sama Jo." "Maaf ya? Aku gak bisa nemenin kamu makan siang," ujar Naka. "Apasih mas? Gak ada yang salah! Yang salah justru kalau aku makan siang sama mas Naka. Dan mas Naka abaikan istri mas! Itu yang salah!" Naka memejamkan matanya kasar, mencoba menahan emosinya. "Aku udah bilang, jangan bahas hal kaya gini! Aku gak suka, Alle." "Ya mas kira aku suka? Gak! Tapi aku cuma mau ngingetin aja biar mas gak lupa kalau ada hati yang harus dijaga! Ada 2 hati mas! Bu Karin dan Cio, anak mas!" "Alle aku lagi gak mau ribut---" Ting Pintu lift terbuka saat mereka sampai di lantai tempat kantor mereka berada. Alle langsung berjalan keluar mendahului Jonathan dan Naka. Naka sebenarnya ingin mengejarnya namun ditahan Jonathan. "Bisa makin perang kalau lu kejar sekarang, Ka. Biarin dulu. Kaya gak tau Alle aja," ujar Jonathan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN