13. Romance and Apartment

1745 Kata
Sesampainya di apartemen, Jayden ikut masuk ke apartemen Alle untuk memisahkan belanjaan mereka yang tercampur, memang mereka selalu seperti ini setiap selesai grocery shopping. "Ini punya mas Jayden. Ini punya saya. Udah." "Alle ...." "Apa?" "Tolong kali ini saja jangan tolak niat baik saya ya? Hari ini kamu belanjanya lebih sedikit dari biasanya. Saya yang traktir, kamu gak usah ganti uangnya." "Yaaa gak bisa dong mas. Teteplah saya ganti. Saya ini tetangga mas bukan istri mas, saya bukan tanggung jawabnya mas Jayden. Udah ih, mas Jayden tuh suka banget traktir traktir saya terus." "Yaudah kalau gitu nikah sama saya aja, biar kamu jadi tanggung jawab saya." "Ihhh apaan, gak! Ngardus mulu!" "Saya gak terima uang kamu ya! Pokoknya kali ini saya yang traktir! Gak boleh nolak, ini bukan penawaran tapi perintah." "Isshh, yaudah. Tapi kali ini aja ya?" Jayden tersenyum karena pada akhirnya Alle menerima tawaran Jayden. Setelah itu Jayden beranjak dari duduknya, bukan pulang ke apartemennya, tapi dia justru kembali memainkan PS milik Juna. "Malah main PS." "Yang tadi belum kelar." "Yaudah, main aja. Kalau mau pulang nanti jangan lupa tutup pintunya. Saya mau ganti baju dulu." Alle masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Tak lama setelah itu Alle kembali lagi ke ruang tv dimana Jayden saat itu duduk di lantai dan fokus bermain game. Alle memilih untuk merebahkan dirinya di sofa sambil menonton Jayden yang bermain game meskipun sebenarnya dia tidak paham. "Kalau ngantuk tidur aja, Le. Jangan peduliin saya. Habis ini saya pulang kok. Tenang Le, saya CEO gak bakal ada barang kamu yang ilang meskipun kamu biarin saya sendirian disini." Alle tertawa menanggapi ucapan Jayden. "Masih gak yakin saya kalau mas itu CEO." "Makanya nikah sama saya. Nanti saya yakinkan." "Gak dulu!" "Yaudah terserah. Tapi kalau berubah fikiran dan mau nikah sama saya bilang ya?" Alle langsung memukul kepala Jayden dengan bantal sofa yang membuat Jayden tertawa cukup keras. Alle terus memperhatikan Jayden yang memainkan PS milik Juna, membuat Alle penasaran ingin mencobanya. "Mau nyoba dong mas." Jayden menoleh ke Alle. "Mau nyoba jadi istri saya?" Alle langsung memukul lengan Jayden. "Sembarangan! Mau nyoba main PSnya ih!" "Ya makanya ngomong yang jelas dong. Sini!" Kini Jayden dan Alle bertukar tempat duduk. Jayden duduk di sofa dan Alle duduk di lantai. "Ya gimana ini, diajarin dulu ish ...." "Iyaa sabar, marah mulu perasaan." Jayden sedikit mencondongkan tubuhnya mendekati Alle yang ada di bawahnya, kedua tangannya terulur memegang stick PS yang kini dipegang Alle, karena posisi Jayden di sofa dan Alle di lantai, kini posisinya seolah Jayden sedang memberikan pelukan pada tubuh Alle dari belakang. Alle dapat merasakan hembusan nafas Jayden. Menoleh sedikit saja dia sudah bertemu dengan wajah tampan Jayden tentunya Alle sangat gugup, detak jantungnya juga menjadi tak karuan. "Ini kalau mau lari, loncatnya pake tombol ini." Jayden terus memberikan arahan pada Alle, namun Alle tak bisa fokus sama sekali karena posisi mereka sekarang. "Alle? Denger gak?" Alle menoleh kesamping, matanya langsung bertemu dengan manik indah milik Jayden. Pergerakan keduanya sama-sama terkunci. Maju sedikit saja hidung mereka bertabrakan. Sampai akhirnya Jayden sadar akan posisinya dan menjauhkan badannya dari Alle. "Udah sana coba main." Alle berdehem untuk menenangkan dirinya. Kemudian dia meletakan stick PSnya dilantai dan memilih duduk disamping Jayden. "Males, susah," ujarnya. Jayden tertawa lalu kembali duduk dilantai dan memainkan PSnya lagi. Alle memilih untuk berbaring di sofa sambil melihat Jayden yang membelakanginya hingga kesadarannya hilang dan dia menuju ke alam mimpinya. Jayden melirik ke arah jam dinding sudah menunjukan pukul 2 pagi. Jayden menoleh kebelakang mendapati Alle yang sudah terlelap, perlahan Jayden mencoba membangunkan Alle. "Alle, bangun, pindah ke kamar." Beberapa kali Jayden mencoba membangunkannya namun nihil. "Oke, maaf Alle. Tapi ini yang terbaik daripada kamu digigit nyamuk." Jayden bermonolog sebelum akhirnya dengan hati-hati dia mengangkat tubuh Alle dan membawanya ke kamar Alle. Membaringkannya secara perlahan di ranjang milik Alle. Jayden juga membenarkan selimut Alle dan menyalakan pendingin ruangan yang suhunya sudah di atur. Sebelum pergi, Jayden duduk disebelah Alle, menatap wajah teduh wanita itu. "Good night, future wife, kalau takdir mengijinkan sih hehe," gumamnya kemudian dia keluar dari apartemen Alle menuju ke apartemennya sendiri. *** Alle hari ini bekerja dengan lebih sumringah. Entahlah ketika bangun tadi dia merasa mood-nya sangat baik hari ini. Ditambah lagi kabar dari Jonathan yang bilang kalau besok Naka akan ada perjalanan dinas keluar kota, tentu saja Alle senang karena Naka tidak akan datang ke apartemennya atau menemuinya. Alle mengambil ponselnya dan mencari kontak orang yang sejak tadi pagi ada di pikirannya. "Jayden unit sebelah?" gumamnya saat membaca nama kontak Jayden di ponselnya. Nama yang dia sematkan saat pertama kali mereka kenal karena insiden paket yang tertukar. Alle nampak berpikir kemudian jarinya mulai menari diatas layar ponselnya. Nama kontak Jayden kini berubah menjadi menjadi 'Mas Jayden' sebuah nama panggilan yang membuat keduanya menjadi semakin akrab. Alle Mas? Read 10.45 Mas Jayden Alle, bentar Kalau kamu mau nanya soal semalam Iya itu saya pindahin kamu ke kamar soalnya banyak nyamuk Saya gak macem-macem kok ke kamu Saya cuma pindahin kamu aja Kasihan kamu jadi santapan nyamuk di ruang tv Read 10.46 Alle tertawa membawa balasan dari Jayden. Jayden mengetik banyak balasan dengan cepat. Memang Alle mau menanyakan itu dan mau berterima kasih pada Jayden karena dia memindahkan Alle ke kamar. Alle juga percaya kalau Jayden tidak akan berbuat macam-macam. Alle benar-benar geli melihat jawaban Jayden seperti seorang anak yang terciduk mencuri barang. "Husst Le? Kenapa kamu tuh?" tanya Jonathan yang melihat Alle tak berhenti tertawa sambil menatap ponsenya. Alle masih tertawa sambil menatap Jonathan. "Orang gila!" ledek Jonathan. "Hahaha, gak bisa Jo gak bisa berhenti, Jayden lucu banget." Ekspresi Jonathan langsung berubah saat Alle mengucapkan nama Jayden. Sekarang Jonathan tau alasan Alle tertawa seperti ini. Perlahan Jonathan ikut tersenyum melihat Alle yang tertawa. Alle Apasih mas? Iya tau mas Jayden pindahin saya semalam Saya mau bilang makasih kok Read 10.50 Mas Jayden Makan siang sama saya Nanti Read 10.51 Alle Hah? Gimana mas? Read 10.52 Mas Jayden Buat ucapan makasihnya makan siang sama saya Nanti siang saya jemput kamu ya? Read 10.52 Alle Iya siap bos Read 10.52 Mas Jayden Oke, 1 jam lagi berarti istirahat Saya jemput ingat itu! Udah saya mau lanjut meeting dulu Read 10.53 Alle Lah gimana sih? Meeting kok bales chat saya gercep Read 10.53 Mas Jayden Buat Alle harus gercep Udah saya mau meeting Jangan chat lagi Read 10.54 Alle Ya gak usah dibales dong mas! Read 10.54 Mas Jayden Gak bisa. Kalau dari kamu harus saya bales Udah jangan chat lagi! Alle terkekeh melihat kelakuan Jayden ini. Bisa-bisanya CEO seperti itu. Tanpa Alle sadari, Jonathan masih setiap memperhatikan Alle sejak tadi. Jonathan sadar, dirinya kalah lagi perihal perasaan pada Alle, sejak awal memang Alle hanya menganggapnya sebagai seorang kakak, tidak lebih. "Makin dekat ya sama tetangga kamu?" Alle menoleh ke samping, Jonathan sudah berdiri disampingnya kemudian menyeret kursi untuk duduk disebelah Alle. "Hah? Yaa gimanaa, namanya juga tetangga." Jonathan tersenyum. "Biasanya sama Jayden ngapain aja?" "Ya gak ngapa-ngapain, paling belanja bareng, ngobrol bareng, main ke apartemen gantian, dia suka mainin PSnya Juna. Oh iya kemarin kita habis dari kos Juna." Jonathan mengangguk mendengar ucapan Alle. "Kapan-kapan kenalin Jayden ke mama Le, biar dapat restu dari mama, dan aku juga tentunya." Alle mengeryitkan dahinya tanda tak memahami maksud ucapan Jonathan. "Maksudnya?" "Hahaha udah gak usah dipikirin, nanti juga tau." "Oh iya Jo, nanti makan siang Naka ada agenda gak?" "Kayaknya pergi makan sama istri dan anaknya sih. Kenapa?" "Oh itu, mau makan bareng Jayden. Kamu mau ikut gak?" Jonathan menggelengkan kepalanya. "Aku pulang aja, makan siang dirumah, mama masak." "Ih kangen masakan mama." "Makanya main." "Iya kapan-kapan kesana lagi. Tidur sana lagi. Kangen kamar juga hehe." Jonathan hanya terkekeh menanggapi Alle. Dia bahagia melihat Alle tertawa meskipun hatinya sedang patah sekarang. *** Jam makan siang pun datang. Alle berjalan ke depan kantor menunggu Jayden yang katanya akan menjemputnya. Dia sedikit bernafas lega saat Naka tadi pergi bersama Karin dan Cio, artinya Naka tak akan melihat Alle bersama Jayden. Melihat mobil tak asing berjalan mendekat, Alle langsung tersenyum. Saat mobil tersebut berhenti, tanpa aba-aba lagi Alle langsung masuk ke dalam mobil. "Saya lagi pengen makan pasta nih. Kamu mau gak?" "Boleh." Jayden melajukan mobilnya ke salah satu restoran pasta yang ternyata Alle biasa makan pasta bersama Juna karena tempatnya dekat dengan kampus Juna. "Ayo, Juna nunggu kita." Alle melotot tak percaya dengan ucapan Jayden. "Juna?" "Heem, saya ajak Juna juga. Ayo masuk." Kini mereka bertiga duduk di meja yang sama. Juna sempat terkejut saat melihat Jayden datang bersama Alle, kakaknya. Berbeda dengan Juna yang bisa menetralkan ekspresinya, Alle justru terlihat sangat takut. Takut bila Juna semakin membencinya. "Abang jemput kak Alle?" tanya Juna ditengah aktifitas makan mereka. "Heem, kan seru makan siang rame-rame." Juna hanya mengangguk sambil melirik Alle yang menunduk. "Dilihat-lihat makin dekat ya kalian?" tanya Juna. "Iyalah tetangga ini, masa gak deket." Juna tersenyum mendengar jawaban Jayden. "Saya ke toilet dulu." Alle berdiri dan pergi ke toilet. "Abang suka sama kak Alle kan?" tanya Juna sekali lagi. Jayden terkekeh. "Emang kelihatan banget ya Jun?" Juna mengangguk mantap. "Bahkan mungkin kak Alle tau kalau abang suka sama dia. Tapi dia diam aja, karena masih ada yang mengikat dia." Juna diam sejenak sebelum akhirnya kembali bicara. "Kalau abang mau serius sama kak Alle. Tolong jaga kak Alle ya bang? Jangan disakitin, kak Alle udah terlalu banyak mendapat masalah. Masalah Juna aja di tanggung kak Alle haha," Jayden terdiam menatap Juna, mata Juna tampak sedikit berkaca-kaca. "Alle sama pacarnya itu kenapa Jun?" "Toxic. Cowoknya toxic, kakak juga jadi ikutan toxic. Juna gak suka bang sama bang Naka. Dulu suka, tapi pas tau Naka selingkuh, Juna benci." Jayden terkejut mendengar ucapan Juna. "Selingkuh? Itu pacar kakak kamu selingkuh tapi Alle masih pertahanin?" Juna mengangguk. "Juna gak tau, kakak diancam seperti apa sampai bertahan kaya gitu. Kelihatan banget kakak tersiksa." "Maksudnya diancam gimana Jun? Kenapa kamu yakin dia diancam? Gimana kalau ternyata memang mereka mau bertahan?" Juna menggeleng. "Kak Alle itu orang yang akan ninggalin hal-hal yang dia benci. Sorot mata dia sekarang ke Naka aja udah beda, bukan sayang lagi tapi ada sorotan benci. Tapi kakak gak bisa lepas, pasti ada sesuatu, bisa aja kakak diancam." Jayden menghembuskan nafas beratnya, tidak mengerti dengan kehidupan aneh Alle. Alle kembali bergabung dengan Jayden setelah dari toilet namun Juna sudah tidak ada disana. "Juna mana, mas?" "Balik ke kampus dia. Ada hal mendesak katanya. Cih, sok sibuk banget dia." Alle terkekeh mendengarnya kemudian kembali menyantap makan mereka dan menghabiskannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN