12. Grocery date

2103 Kata
Sepulang dari kantor Alle langsung ke apartemen mengingat dia ada janji dengan Jayden untuk pergi ke grocery market. Baru saja akan masuk ke kamar mandi, ponsel Alle berbunyi. Telfon dari Jayden mampu membuatnya tersenyum. "Kenapa mas?" "Udah di apart?" "Iya baru sampai, ini mau mandi dulu." "Yaudah jangan lama-lama." "Mas Jayden kalau mau ke apart saya masuk aja. Lagian tau sandinya juga kan?" "Gak ah, gak sopan." "Ih kan saya ngasih ijin. Lagian mas Jayden gak akan macam-macam kan? Ya sopan berarti." "Ya ya yaudah sana buruan mandi." "Iyaaaaaa." Alle segera membersihkan dirinya dan bersiap pergi. Setelah siap dia keluar dari kamar dan mendapati Jayden sudah duduk di ruang televisi sambil memainkan PS milik Juna yang ada diapartemen. "Tadi bilang gak sopan, sekarang kaya di rumah sendiri," gumam Alle dan duduk di sofa, tepatnya di sebelah Jayden. "Eh udah?" "Udah." "Bentar ya? Bentar lagi nih." "Ck, nanti keburu malam." "Gak apa-apa kan sama saya perginya gak sendiri." "Keburu tempatnya tutup, ishh." "Iya bentar aja ... dah mau kelar nih." Alle hanya pasrah dan menunggu Jayden. Tangannya berselancar di sosial media dari ponselnya. Sedang asiknya scroll toko online, Naka menelfonnya. Alle berjalan sedikit menjauh dari Jayden. "Hmm?" "Sudah di apart?" "Iya." "Aku bosen disini. Apa aku cabut aja terus ke apartement kamu?" "Jangan, itu acara keluarga, takut nanti mereka curiga." "Kenapa?" "Apanya?" "Kenapa aku merasa akhir-akhir ini kita semakin jauh." "Bukankah harusnya sejak awal fakta ini terbongkar kita memang harus saling menjauh? Tapi kamu memaksakan melanjutkan hubungan ini. Padahal ini salah!" "Alle ...  jangan mulai ... aku sedang tidak ingin bertengkar." "Terserah. Fokus pada keluargamu dulu!" "Aku mau ketemu kamu." "Besok juga kita ketemu, jangan memperumit keadaan, Naka! Hidupku sudah cukup rumit! Harusnya kamu ngerti itu!" Terdengar helaan nafas dari seberang sana. Suara Naka juga sedikit bergetar. "I-iya, maaf. Sudah memperumit hidupmu. Aku hanya tidak ingin kehilangan kamu." "Egois! Kamu egois, selalu egois!" "Maaf." "Aku tutup. Aku harus pergi." "Kemana?" "Juna. Aku mau bertemu Juna. Jangan ganggu waktuku dulu." "Oke, hati-hati. Jangan pulang kemalaman, kalau terlalu malam menginap aja di Juna." "Iya." Alle memutuskan telfonnya. Bohong jika Jayden tidak mendengar ucapan Alle. Jayden mendengarnya dan tau jika hubungan Alle dan Naka sedang tidak baik-baik saja. Disisi lain, Ganaka atau Naka, pria ini berdiri di balkon rumah menatap langit yang semakin gelap. Air matanya lolos begitu saja terlebih setelah menelfon Alle, kekasihnya. Tangannya mencengkram pembatas balkon besi itu. "Aku ingin menyalahkan takdir, tapi aku tidak bisa. Aku cuma makhluk yang diciptakan buat mengikuti dan menjalani takdirku. Tapi apa boleh aku meminta untuk ditakdirkan bersama Alle?" gumamnya dengan suara bergetar. "Apa aku dan Alle memang tidak bisa bersatu? Terkadang aku ingin egois hanya untuk memiliki perempuan itu." "Mas Naka?" Naka segera mengusap air matanya dan mencoba tersenyum saat Karin memanggilnya. "Hmm?" "Papa sama mama nyariin mas tuh. Masuk yuk." "Eh iya, maaf tadi aku angkat telfon dulu. Yaudah ayo masuk." Naka mencoba tersenyum dan mengandeng Karin masuk kedalam. Mungkin di luar Naka terlihat baik-baik saja. Tapi, hati laki-laki ini sedang rapuh. *** Berbeda dengan Naka. Berbeda pula dengan Alle dan Jayden. Mereka sudah berada di parkiran grocery market, Alle sudah diluar mobil karena tadi membantu Jayden memberikan aba-aba untuk parkir karena tukang parkirnya sedang tidak ada. "Stopp stoppp ... udahh!!!" teriak Alle saat mobil Jayden sudah dalam posisi sempurna. Jayden turun dari mobilnya dan tertawa melihat Alle. "Apa? Kenapa ketawa?" "Udah cocok jadi kang parkir. Mau training di perusahaan saya gak sebagai kang parkir?" Alle langsung memukul bahu Jayden. "Enak aja kalau ngomong." "Ayo!" Mereka berjalan memasuki grocery market dan berhenti di deretan trolley. Alle mencoba menarik satu trolley namun tak bisa, sepertinya trolleynya tersangkut. "Mas gak bisa." Jayden mengambil alih. Dengan satu tangan dan satu tarikan saja trolley itu bisa dia ambil. "Dasar lemah," ledek Jayden. "Ya beda tenaga saya sama mas Jayden tuh! Ngeledek mulu perasaan." Jayden terkekeh kemudian mendorong trolleynya diikuti Alle disampingnya. Alle mengambil catatan Jayden. Ya memang baru dua kali mereka melakukan hal ini bersama, namun Alle sudah hafal kebiasaan Jayden yang menyerahkan catatan barang yang akan dibeli pada Alle karena Jayden tak hafal tempatnya. "Kesana dulu deh, sayurannya disana." Jayden hanya mengikuti langkah Alle. Alle nampak berjalan pelan sambil mencari sayur yang ada dicatatan Jayden. "Kamu bawa ikat rambut gak?" tanya Jayden. Alle mengangkat satu tangannya yang mana ada ikat rambut di pergelangan tangannya. Jayden mengambilnya. "Buat apa, mas?" "Ikat rambut kamu, gerah liatnya. Nanti kalau ada yang rontok jatuh ke sayurnya gimana?" Alle hanya ber-oh ria sambil terus memilih sayuran, membiarkan Jayden mengikat rambutnya. "Sakit! Kok dijambak." Jayden malah tertawa. "Ya maaf, gak sengaja." Jayden kembali mengikat rambut Alle. Aksi Jayden ini cukup menarik perhatian beberapa pembeli yang ada disekitar mereka berdua. Siapa yang tidak suka di suguhkan ke-uwu-an seperti ini? Tentu mereka suka. Bahkan ada yang tersenyum gemas saat melihat Jayden mengikat rambut Alle. "Nah ketemu." Alle memutar tubuhnya tanpa aba-aba. Membuat posisinya dan Jayden saling berhadapan dan sangat dekat. Pandangan mereka sama-sama terkunci dan membuat tubuh mereka membeku selama beberapa saat. "Emm ... mas ... mas Jayden butuh berapa ikat?" tanya Alle mencoba menetralisir degup jantungnya dan sedikit memundurkan langkah agar tidak terlalu dekat dengan Jayden. Jayden menunjukan dua jari yang artinya dia butuh dua ikat. Alle dengan cepat mengambil sayur satu lagi dan segera memasukan ke keranjang. "Ayo cari yang lain." Mereka kembali mengelilingi grocery market dan membeli semua bahan yang mereka cari. Setelah selesai, Alle mengajak Jayden ke tempat rak snack. "Mau beli apa?" tanya Jayden. "Ini nih, kesukaan Juna. Harus ada stok ini. Mas Jayden juga deh beli ini, kan Juna suka main ke apartemen mas." Jayden mengangguk dan mengambil beberapa snack yang kata Alle adalah snack favorit Juna. "Habis ini mau makan malam gak?" Alle mengangguk saja. "Mau makan nasi goreng kambing gak?" pertanyan Jayden berhasil membuat Alle terdiam. Jayden teringat sesuatu. "Eh gak jadi. Saya baru ingat kamu gak bisa makan kambing ya?" Alle terkesiap menatap Jayden penuh selidik. "Mas tau darimana saya gak suka kambing?" "Juna, dia cerita. Katanya kamu pernah muntah-muntah kaya orang keracunan cuma karena nyium bau daging kambing." Alle terkekeh karena dia mengingat hal itu. "Eh tapi gak apa-apa kalau mas Jayden mau, pasti menunya gak cuma nasi goreng kambing kan ya? Nanti aku makan menu lain." "Okey." Mereka kembali berjalan dan sesekali bercanda karena candaan tak bermutu dari Jayden. Saking asiknya bercanda Alle hampir menabrak anak kecil yang berlari kearahnya. Dengan cepat Jayden menarik Alle, membuat Alle sangat dekat dengan Jayden karena kini Jayden merangkul bahu Alle. "Untung anaknya gak ditabrak titisan Hulk kaya kamu," ledek Jayden. "Terus aja terusss, ledek terus." Jayden tertawa melihat Alle kesal. "Eh Alle?" Alle dan Jayden yang masih bertahan pada posisi yang sama pun menoleh ke sumber suara. Alle tersenyum saat tau yang menyapanya adalah teman sekantornya. "Eh mbak Arin hehe. Sama siapa?" tanya Alle. "Itu, anak aku yang tadi lari." "Wah mbak, tadi anaknya hampir ditabrak Alle loh mbak, kasihan anaknya," celetuk Jayden. Alle langsung melototi Jayden. Sedangkan mbak Arin hanya tertawa tipis. "Siapa Le?" "Oh ini, orang gila mbak hehe." "Sembarangan kamu, masa orang ganteng dibilang orang gila? Saya Jayden mbak. Salam kenal. Temen kantornya Alle ya?" "Iya mas, saya Arin. Pinter ya Le kamu nyari pacar. Tapi kalian cocok sih. Sama cakepnya ini. Udah ya aku pergi dulu keburu anak aku ilang nih. Have fun grocery-date nya!" Alle dan Jayden hanya diam setelah mbak Arin mengucapkan itu. "Tuh Alle, kita cocok katanya. Dibilang ayo nikah aja. Sekalian biar kamu yakin kalau aku ini beneran pemilik JYD Corp." Alle memutar bola matanya dan berjalan mendahului Jayden. "Ngaco kamu, mas!" seru Alle. Jayden kembali tertawa. Setelah berbelanja, Jayden benar-benar mengajak Alle makan malam bersama. Tadinya sudah hampir sampai di tempat nasi goreng kambing ternama itu, namun tiba-tiba saja Jayden berubah pikiran ingin makan All you can eat saja yang mana mereka harus memutar balik lagi. Alle benar-benar tak paham dengan kelakuan random manusia satu ini. Dan sekarang Alle tengah sibuk memanggang daging sedangkan Jayden sibuk makan. Kurang ajar memang. Namun Alle tak protes karena ini ditraktir Jayden. "Yang bener kalau makan, udah tua, katanya sih CEO, masa celemotan," celetuk Alle sambil mengambil tisu lalu membantu Jayden membersihkan sisa bumbu cair yang ada di sudut bibirnya. Jayden sempat terdiam saat Alle melakukan hal tersebut. Tidak pernah terpikir oleh Jayden kalau Alle akan seperhatian itu. "Alle?" "Hm?" "Habis ini anterin saya ya?" "Kemana?" "Kos Juna. Saya mau main ke kos Juna, sekalian ngasih dia cemilan. Kan kamu yang tau kosnya, saya gak tau." Jayden menunggu jawaban dari Alle karena Alle hanya diam saja dan fokus memanggang. "Gimana Alle?" "Iya. Saya antar habis ini." Setelah selesai makan, Alle dan Jayden menuju ke kosan Juna. Alle tidak menunjukan jalan tapi Alle memberikan google map menuju alamat kos Juna pada Jayden sedangkan Alle sekarang tidur. Jayden berhenti didepan gerbang kos Juna, namun dia tidak ada niat sedikitpun untuk membangunkan Alle yang tertidur lelap disebelahnya. Jayden diam sambil menikmati pemandangan cantik dihadapannya yaitu wajah Alle. Ini kedua kalinya Jayden melihat wajah Alle saat terlelap, seperti menjadi candu untuk Jayden. Sudut bibirnya terangkat membuat bibirnya berbentuk bulan sabit dan memunculkan dua cekungan manis di kedua pipinya. "Cantik ...." Gumamnya. 30 menit Jayden diam memandang wajah Alle. Tangan Jayden terulur untuk menyentuh pipi Alle, namun saat itu juga Alle membuka matanya membuat Jayden mengurungkan niatnya. "Eh? Udah sampai? Dari tadi ya, mas?" tanya Alle. "Enggak, baru aja sampai kok, saya baru mau bangunin kamu." "Hah? Tumben lama banget. Jarak tempat kita makan sama disini gak sampai satu jam, ini lebih dari satu jam?" tanya Alle lagi. "Iya tadi jalan macet." Alle menatap Jayden tak enak hati. "Yah tau gitu harusnya tadi saya gak tidur tapi nemenin mas ngobrol pas macet." Jayden tertawa lalu mengusak rambut Alle. "Ayo lah turun!" Jayden mengambil satu kantung besar berisi cemilan dan beberapa minuman untuk Juna. Alle berjalan mendahului Jayden menuju didepan kamar Juna. Sebenarnya Alle masih belum siap bertemu Juna karena perang dingin diantara mereka belum usai. "Ketuk pintunya, kenapa diam?" Alle akhirnya mengetuk pintu kos Juna. Saat itu juga Juna langsung membuka pintunya, awalnya ekspresinya datar saat melihat Alle namun saat tau Alle datang bersama Jayden, dia menjadi sedikit lebih sumringah. "Ayo masuk masuk." Mereka bertiga kini berada di kamar Juna. Alle merapikan cemilan dan beberapa makanan serta minuman dari Jayden ke rak khusus milik Juna. Sedangkan Juna dan Jayden tengah mengobrol. "Kok bisa abang bareng sama kakak?" tanya Juna pada Jayden. "Bisalah!" "Kalian dari grocery market?" Jayden mengangguk. "Berdua aja? Cieee!" Jayden tertawa mendengar ledekan Juna. "Biasa aja kali Jun. Ini bukan pertama kalinya kok abang grocery shopping bareng kakak kamu." Mendengar penuturan Jayden ini, Juna membuat garis senyum di bibirnya. "Grocery date kaliiiii." Juna tak henti-hentinya menggoda Jayden dan Alle. "Hahaha ngawur kamu Jun Jun." "Sibuk ya? Jadi b***k organisasi ya?" Kini gantian Jayden yang meledek Juna. Alle ikut bergabung, duduk dengan mereka. Alle ikut tersenyum saat melihat Juna bergurau dengan Jayden. Sama ketika Juna bergurau dengan Jonathan. Dan Naka, dulu. "Udah ada bang Jayden mending kakak putusin aja bang Naka. Hubungan kalian tuh toxic, bukan cuma buat kalian tapi ada orang lain juga yang merugi." ucapan Juna berhasil membuat Alle diam. "Kakak pengennya gitu, tapi gak bisa. Maaf." Jayden akhirnya benar-benar berani menyimpulkan jika memang hubungan Alle dan Naka tidak baik-baik saja. Sorot mata Alle saat ini sama dengan sorot mata Alle ketika bertemu Naka, menyiratkan sebuah ketakutan yang Jayden tak ketahui itu apa. "Mas, kalau pergi keluar negeri bisa dilacak dari sini gak sih?" tanya Alle tiba-tiba pada Jayden. Juna dan Jayden tak paham arah pembicaraan Alle saat ini. "Saya kurang tau, Le." "Kalau kakak ajak kamu tinggal di luar negeri mau gak?" pertanyaan Alle membuat Juna terkejut. "Apa-apaan sih kak. Juna masih harus lanjut kuliah disini. Lagian Juna ingin tetap disini." "Disini banyak kenangan menyakitkan buat kita Jun. Kakak pengen buang semua kenangan buruk dan menyakitkan itu." Juna terdiam menatap Alle. Sepertinya Alle serius dengan ucapannya. "Kak ...." "Kita tunggu kamu lulus, terus kita pergi dari sini, kakak bisa cari kerja di negara orang. Dengan cara itu juga, mungkin kakak bisa lepas dari Naka." Jayden memijit keningnya sendiri, tak paham dengan percakapan kedua kakak beradik ini karena memang Jayden tak tahu letak permasalahannya. Juna juga diam, tak memberi respon pada Alle. "Kakak capek Jun ...." lirih Alle. Juna mungkin tak mendengar, namun Jayden bisa mendengarnya karena mereka bersebelahan. "Emm ... udah makin malam. Kita pulang yuk, mas. Takutnya makin macet" Jayden mengangguk. "Juna, kita pulang dulu ya? Kamu inget apartemen dong! Mampir gitu, sekarang betah banget di kos!" Juna hanya terkekeh lalu mengantar Alle dan Jayden keluar dari kos.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN