Malamnya Alle sudah sampai di apartemennya. Dia memarkirkan mobilnya di basement kemudian berjalan masuk ke apartemen. Baru beberapa langkah, suara seseorang mengintrupsinya.
"Sayang?" Alle menoleh, mendapati Naka berjalan dibelakangnya.
"Hm? Kamu kok disini? Aku belum ngabarin kamu kalau pulang. Maaf, hpku lowbat." Naka tersenyum lalu merangkul Alle masuk kedalam apartemen.
"Emang aku sengaja mau kesini, charger aku tertinggal di apartemen. Gimana keadaan Juna?" tanya Naka.
"Baik,"jawab Alle seadanya. Dia hanya bisa pasrah saat bersama Naka. Selain itu, dia juga merasa malas saat bersama Naka.
Mereka masuk kedalam lift bersama. Hanya ada mereka.
"Capek banget ya kamu?" tanya Naka sambil menekan tombol untuk menutup pintu lift. Alle mengangguk, Naka mengusak pelan rambut Alle. Tepat saat pintu lift hampir tertutup, namun pintu itu kembali terbuka karena ada orang yang akan masuk. Alle segera menyingkirkan tangan Naka dari kepalanya.
"Eh Alle?" ujar orang itu, dia adalah Jayden. Alle tersenyum manis pada Jayden. Pandangan Jayden mengarah pada Naka.
"Eh? ... mas Naka, ini mas Jayden, tetangga sebelah aku. Yang waktu itu kamu cerita ketemu dia sama Juna." Naka mengangguk kemudian mengulurkan tangan pada Jayden. Jayden tentu menerima uluran tangan Naka.
"Jayden tetangganya Alle."
"Naka, calon suami Alle." tatapan berbinar Jayden kini mulai pudar ketika mendengar ucapan Naka. Mereka sama-sama melepaskan tuatan tangan mereka dan tersenyum canggung terlebih lagi saat tangan Naka melingkar dengan posesif di pinggang Alle. Netra Jayden bertemu dengan mata Alle. Mata Alle tidak menunjukan kebahagian layaknya saat bersama kekasihnya melainkan seperti tatapan memohon pada Jayden namun Jayden tak paham apa maksud tatapan Alle tersebut.
Mereka bertiga keluar dari lift bersamaan dan memasuki unit apart mereka masing-masing. Sebelum masuk, mata Jayden sempat bertemu dengan tatapan Alle yang lagi-lagi sulit untuk diartikan.
"Ambil aja chargermu, aku mau mandi," ujar Alle saat sudah berada di apartemennya. Dia langsung menuju ke kamar mandi. Naka terdiam melihat perubahan sikap Alle yang semakin terlihat menjauh darinya akhir-akhir ini.
Naka tak langsung pulang. Dia malah ke dapur membuat teh hangat untuk Alle karena melihat Alle yang terlihat kelelahan. Setelah Alle selesai mandi dia kembali ke ruang tv dan melihat Naka masih disana.
"Eh? Aku kira kamu langsung pulang, mas?" Naka tersenyum lalu menyodorkan secangkir teh hangat untuk Alle. Alle menerima dan duduk dihadapan Naka sambil meminum tehnya.
"Kamu terlalu memforsir diri buat kerja ya? Makanya kamu keliatan kecapekan banget." Alle hanya tersenyum menanggapi ucapan Naka barusan.
"Gimana kata Juna? Kenapa dia akhir-akhir ini seperti menjauhi kita bahkan terlihat membenciku?" Alle meletakan cangkirnya pada meja lalu menyandarkan dirinya di sofa dan menghela nafas.
"Dia lihat kamu sama istri dan anakmu di mall. Dia ngira kamu selingkuh---"
"Aku memang selingkuh kan, Le?" tanya Naka tiba-tiba. Pandangannya menunduk kebawah.
"Aku yang selingkuhanmu tepatnya," jawab Alle cepat. Naka meringgis, daddanya serasa sesak saat Alle mengucapkan kalimat itu.
"Mas Naka, jangan bawa Juna ke masalah kita. Cukup kita berdua." Naka kembali menatap Alle.
"Tanpa membawa Juna saja aku tau kamu sudah sebenci apa sama aku, apalagi kalau aku membawa Juna dalam masalah ini, mungkin kamu nekat membunuh aku kan? Alle, jujur saja, aku ingin memperbaiki semuanya dan mengembalikan semuanya ke tempat awal Alle." Alle tersenyum remeh. Tak ada harapan untuk kembali ke tempat awal.
"Anak Karin itu bukan anak aku." Atensi Alle langsung dialihkan saat Naka mengatakan hal tersebut. Alle langsung tertawa remeh, dia berpikir ini hanya akal-akalannya Naka saja.
"Jangan mengarang cerita hanya demi mengembalikan semuanya ke tempat semula, perasaanku sudah tidak bisa dikembalikan ke tempat semula."
"Karin dan aku memang dijodohkan saat aku dan kamu masih menjalin hubungan. Aku menolak perjodohan itu dan berjanji membawamu ke hadapan orang tuaku, mereka menyetujui keputusanku, itu juga kenapa aku berani menjanjikan akan menikahimu Alle! Karena aku sudah berencana mengenalkanmu pada orang tuaku, tapi ....'" Naka tampak memejamkan matanya sebentar. Seperti menahan sesak dan sakit dalam dadanya.
"... tiba-tiba saja Karin datang dan bilang kalau dia hamil anakku. Memang sebelumnya aku dan dia pergi ke klub tapi tidak hanya kami berdua, ada teman lainnya, termasuk Jo juga. Kita memang mabuk saat itu tapi aku ingat dengan jelas kalau aku pulang dengan Jo. Bukan Karin! Dia bilang ke keluargaku kalau dia hamil anakku. Dan keluargaku percaya itu, lalu memaksaku menikahinya. Anak itu bukan anakku, Alle. Dia sama sekali tidak memiliki kemiripan denganku!"
Alle dapat melihat Naka meneteskan air matanya yang membuat Alle bersusah payah menahan air matanya juga. Alle mengalihkan pandangannya kemanapun asalkan tidak menatap Naka.
"Sejak awal perasaanku cuma milik kamu Alle."
"Bagaimanapun juga, Cio sekarang anakmu meskipun kamu bukan ayah biologisnya. Secara hukum, kamu ayahnya." Akhirnya Alle membuka mulutnya dan berbicara.
"Cio butuh sosok ayah seperti kamu Naka. Jangan pernah berpikir untuk menceraikan Karin. Asal kamu tau, hidup tanpa keluarga yang lengkap itu menyiksa. Jangan sampai Cio merasakan apa yang aku dan Juna rasakan."
"Aku bisa saja memenangkan hak asuh Cio. Kita bisa rawat Cio bersama," ucapan Naka benar-benar di luar nalar bagi Alle. Alle menghembuskan nafas beratnya dan memijit keningnya pelan.
"Aku mau makan malam, aku mau delivery, kamu mau apa?" tanya Alle mencoba mengalihkan pembicaraan dan memang dia sudah sangat lapar. Baru saja Naka akan menjawab, ponselnya berbunyi menghentikan pembicaraan mereka. Alle bisa melihat nama kontak 'Karin' tertera disana.
"Angkat!" Naka menggeleng.
"Angkat telfonnya mas!"
"Kamu angkat telfonnya atau aku yang pergi dari sini?" ancam Alle. Naka menghela nafasnya dan mengangkat telfonnya.
"Halo."
"Papaa!"
"Eh iya Cio kenapa?"
"Papa dimana? Cio dari rumah kakek sama nenek kok pulang ke rumah gak ada papa? Kata mama tadi papa udah pulang. Papa dimana? Cio kangen mau tidur sama papa."
Naka memejamkan matanya kemudian menatap Alle sebentar. Alle langsung mengalihkan perhatiannya ke cangkir berisi teh dari Naka dan membawanya ke dapur untuk mencucinya.
"Iya papa ini mau pulang. Cio tunggu papa ya? Papa pulang sekarang."
Alle tersenyum mendengar ucapan Naka barusan. Alle memang terkejut saat mendengar cerita Naka tentang Karin dan Cio, namun Alle juga tau bahwa Naka menyayangi Cio seperti anaknya sendiri. Cio menjadi salah satu kelemahan Naka.
"Alle, aku pulang dulu." Alle mengangguk dan membiarkan Naka pergi.
Setelah Naka pergi, Alle kembali duduk menonton tv, melupakan kalau dia akan makan malam. Beberapa menit diam didepan televisi, suara ketukan pintu terdengar. Alle segera berdiri dan melihat dari pintu siapa yang datang.
"Mas Jayden?" gumam Alle. Segera dia membuka pintu.
"Hai ..." sapanya. Alle tersenyum.
"Tadi saya lihat pacar kamu pulang tapi wajahnya kelihatan kalut, kalian bertengkar?" Alle tersenyum dan mengangguk. "Biasa, dalam sebuah hubungan. Mas Jayden kesini cuma mau nanya itu?"
"Eh? Enggak. Saya mau kasih makan malam juga kebetulan saya tadi beli tapi kebanyakan." Jayden mengangkat kedua kantung plastik di tangannya. Alle menerima satu kantung dengan senang hati.
"Makasih, mas."
"Iya, dimakan ya? Jangan tunggu sampai sarapan besok." Alle tertawa mendengarnya. Baru saja Jayden akan melangkah ke apartemennya, Alle memanggilnya.
"Mas ...."
"Apa?"
"Mau makan malem bareng gak? Di apart saya atau di apart mas Jayden, terserah. Saya lagi males makan sendiri." Jayden langsung antusias dan kembali mendekat ke Alle.
"Tentu, ayo ke apartemenmu."
Jayden dan Alle akhirnya menikmati makan malam mereka di apartemen Alle. Sesekali mereka tertawa karena obrolan random mereka.
"Jadi Juna takut sama kodok?" Alle mengangguk.
"Hahaha dasar, badan gede, muka galak, sama kodok aja ciut."
"Dulu pernah sampai pingsan gara-gara anak kodok masuk ke bajunya." Jayden tertawa mendengar cerita Alle soal Juna. Jayden bisa melihat betapa Alle menyayangi adiknya itu, namun entah kenapa Juna dan Alle tak bisa akur sekarang.
"Kamu kangen Juna ya, Le?"
"Tadi habis ketemu dia sih. Bentar doang tapi soalnya dia ada acara kampus gitu."
"Eh iya dia anak Hima ternyata. Gilaaa Juna jadi ketua tuh niatnya jual tampang doang kali ya bukan kemampuan."
Alle langsung menendang kaki Jayden.
"Sembarangan kamu mas! Jual kemampuan juga lah disamping jual tampang haha ...."
Setelah selesai makan malam, Jayden tak langsung pulang. Dia dan Alle masih mengobrol bersama sambil menonton film yang sedang di putar di telivisi.
"Eh iya Le, kamu kalau grocery market dimana?"
"Dideket sini ada kok, kenapa mas?"
"Kapan mau grocery shoping? Saya mau ikut soalnya belum terlalu hafal daerah sini," ujar Jayden. Alle mengangguk.
"Boleh, nanti saya kabari kalau saya mau grocery shoping ya mas." Jayden mengangguk dengan senyumannya. "Saya pulang dulu ya, Le?"
"Okey! Makasih udah nemenin." Jayden mengacungkan jempolnya lalu keluar dari apartemen Alle.
***
Alle kembali sibuk memeriksa berkas-berkas yang berada di atas mejanya. Sesekali dia meregangkan tubuhnya dan mengerjapkan matanya yang lelah melihat berkas dihadapannya dan juga layar monitor dihadapannya. Matanya seketika terbelalak saat melihat sebuah tulisan di salah satu berkas.
"JYD Corp.?" pikirannya tertuju pada Jayden, pria yang hampir satu bulan ini selalu menghabiskan waktu dengan Alle. Iya, sudah satu bulan sejak kejadian Alle salah masuk apartemen hingga menukarkan paket. Jayden pria baik dimata Alle. Bahkan kehadiran Jayden membuat Alle menciptakan banyak alasan untuk menolak ajakan Naka bertemu.
Dia langsung berdiri dan menghampiri Jonathan dan duduk di bangku Jonathan. Tangannya mengetuk meja Jonathan beberapa kali agar pria tampan itu menyadari keberadaannya.
"Apa?"
"JYD Corp."
"Iya punya Jayden," jawab Jonathan cepat sebelum Alle menyelesaikan pertanyaannya.
"Bukan itu ish!"
"Ya apa?"
"JYD Corp jadi salah satu patner yang punya saham besar disini?" Jonathan mengangguk.
"Iya. Itu perusahaan gede. Susah kerjasama sama mereka. Kalau ada perusahaan yang kerjasama bareng mereka, otomatis akan banyak yang menanam saham di perusahaan tersebut."
"Segede itu impactnya?" Jonathan mengangguk.
"Kenapa nanya JYD Corp.?"
"Hah? Kepo aja soalnya CEOnya absurd." Jonathan langsung tertawa.
"Kurang ajar banget kamu Le! Eh tapi bener sih. Ngapain kan ya dia perintah Dyaksa buat minta foto pegawai kita?"
"Nah kan Jo? Aku bilang juga apa. Absurd banget CEO nya. Tapi baik sih dia." Jonathan langsung menatap Alle. "Baik?" tanyanya.
"Iya, Jayden tuh baik. Dia juga sering bagi makanan ke aku. Terus ya Jo, masa pas itu kita lagi di basement ada anak kucing kan. Dia bela-belain balik ke unitnya cuma buat ngambil makanan kucing buat itu kucing. Aku tanya kan, dia punya kucing atau gak? Dia bilang gak punya. Dia sengaja beli makanan kucing buat kucing-kucing jalanan katanya. Terus, pas itu pernah aku sama dia pergi ke minimarket dekat apartemen kan, ada ODGJ disitu, dia kasih roti sama air minum dong, mana dia ajak ngobrol meskipun ngelantur."
Jonathan menatap Alle semakin dalam setelah Alle selesai bercerita tentang Jayden. Tak lama setelah itu senyum Jonathan mengembang.
"Kenapa?" tanya Alle.
"Sepertinya, perihal perasaan, aku kalah lagi ya? Tapi aku seneng lihat kamu kaya gini." Alle mengerutkan dahinya, tak paham dengan maksud Jonathan.
"Maksudnya?"
"Maksudnya ... balik kerja sana! Jangan makan gaji buta!" seru Jonathan sambil memutar kursi Alle agar berbalik membelakanginya. Alle hanya tertawa dan kembali ke meja kerjanya.
Baru akan kembali mengetik, seseorang masuk ke ruangan mereka membuat mereka menyapanya dengan ramah. Karin, istri Naka datang bersama Cio anaknya. Alle tersenyum manis pada Karin dan tentunya dibalas juga dengan Karin.
"Aduh Jo, gimana perkembangannya sama Alle?" goda Karin saat sampai didepan meja Jonathan dan Alle, karena meja mereka berhadapan.
"Waduh bu Karin. Saya kayaknya kalah. Pawangnya ngeri"
"Apaan gitu aja nyerah!" ledek Karin.
"Yang ini lawannya berat bu."
"Apaan sih Jo!" protes Alle. Karin tertawa melihat reaksi Alle.
"Naka didalam kan?" Alle mengangguk. "Iya bu, baru saja selesai meeting. Masuk aja bu." Karin mengacungkan jempolnya lalu masuk ke ruangan Naka diikuti Cio.
Alle memainkan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhan sejenak. Pikirannya tiba-tiba saja tertuju pada bahan makanannya.
"Ah iya mas Jayden," gumamnya, lalu dia mencari kontak Jayden.
Alle
Mas
Mas Jayden?
P
P
P
P
Read
Jayden unit sebelah
Sopan kamu nge-PPPP orang tua?
Apa?
Read
Alle
Hahaha ampun om
Mau grocery shopping.
Minat?
read
Jayden unit sebelah
Oke nanti ya habis kita sama-sama pulang kerja
Biar saya yang bawa mobil
Gak usah pake dua mobil ribet!
Kita juga harus menyehatkan bumi Alle, dengan cara mengurangi asap kendaraan. Jadi pake satu mobil aja.
Nanti mandi dulu jangan lupa
Bau keringet kasian grocery marketnya!
Read
Alle
Tmi, skip
Gak jelas
Yakin mas tuh CEO?
Read
Jayden unit sebelah
Meragukan saya kamu?
Makanya nikah dulu sama saya biar tau!
Read
Alle tertawa pelan sebelum akhirnya kembali membalas pesan Jayden.
Alle
Habis nikah, terus tau soal mas, terus cerai ya?
Read
Jayden unit sebelah
Enak aja!
Kalau udah nikah sama saya ya gak boleh minta cerai
Saya orangnya setia
Read
Alle
Ada suara buaya
Read
Jayden unit sebelah
Ngawur! Mana ada buaya bersuara, kecuali buaya darat
Read
Alle
Ya itu mas maksud saya buaya darat
Read
Jayden unit sebelah
Hah?
Kamu ngatain saya buaya?
Punya adab kamu?
Sama orang tua gak sopan
Heh!
Bales?
Alle?
Kok cuma diread
Kualat kamu loh!
Alle?
Cantik?
Yaudah lah.
Bisa-bisanya saya dikacangin anak muda!
Alle kembali terkekeh membaca semua spam dari Jayden. Sudah dua kali dia grocery shopping dengan Jayden, selalu ada saja kelakuan Jayden yang tidak mencerminkan bahwa dia memang CEO. Alle sering meragukan itu. Mungkin saja Jayden CEO palsu yang menutupi CEO aslinya.
"Tante Alle kenapa ketawa sendiri?" Alle menoleh kesamping dan sedikit kebawah. Senyumnya mengembang saat melihat Cio sudah berdiri disebelahnya.
"Eh Cio? Mama mana?" Cio menunjuk ruangan Naka.
"Didalam sama papa, Cio bosen jadi mau keluar." Alle tersenyum kemudian menarikan kursi untuk Cio duduk disamping Alle.
"Cio baru pulang dari taman penitipan ya?" Alle tau, karena Naka pernah bercerita jika Cio dititipkan di tempat penitipan anak, bisa dibilang PAUD mungkin. Cio di titipkan karena Naka dan Karin sama-sama bekerja. Setelah selesai dari penitipan biasanya Cio akan di antar ke rumah orang tua Naka atau orang tua Karin dan baru dijemput sore.
"Iya tante" Diusianya yang menginjak usia 3 tahun ini Cio sudah didaftarkan ke paud anak.
"Seneng gak sekolahnya?" Mata Cio berbinar saat Alle menanyakan hal tersebut.
"Seneng tante. Cio punya temen, namanya Leo. Terus, tadi dia dibawain bekal sama neneknya kan, Cio di kasih. Leo baik banget sama Cio tante." Cio menceritakan banyak kejadian di sekolahnya hari ini pada Alle dengan mata berbinar. Semua cerita benar-benar keluar dari bibir polos Cio dengan mudahnya, membuat anak kecil tampan itu nampak semakin mengemaskan.
"Leo gak punya mama, tan. Dia dirawat neneknya, papanya gak tinggal sama dia, cuma kadang pas weekend aja mereka ketemu. Kasihan ya tan? Papanya Leo ganteng. Soalnya meskipun Leo tinggal sama neneknya, papanya selalu antar jemput Leo." Alle tersenyum pahit saat mendengar cerita Cio. Ternyata ada juga anak kecil yang memiliki keluarga tak lengkap seperti dirinya dan Juna.
"Cio harus bersyukur ya? Masih punya papa sama mama lengkap. Masih punya nenek sama kakek juga. Cio harus sayang sama mereka. Tanpa keluarga, mungkin hidup Cio gak akan bahagia." Cio mengangguk dengan polosnya.
"Kalau tante Alle gimana? Sayang sama mama papanya tante?" pertanyaan Cio berhasil membuat Alle bungkam. Bahkan Jonathan yang sejak tadi memperhatikan mereka juga langsung terdiam.
"Cio? Mau es krim gak? Om Jo mau beli nih," ujar Jonathan. Cio langsung berseru bahagia dan turun dari kursi lalu menghampiri Jonathan. Jonathan tersenyum ke Alle sebelum akhirnya pergi dengan Cio.
Alle langsung menelfon Juna. Entah di angkat atau tidak. Dia tetap menelfon adiknya.
"Apa?" Jawab Juna ketus. Alle tersenyum mendengarnya.
"Jangan kelamaan. Buang waktu Juna! Urusan Juna banyak"
"Kakak mau nanya sesuatu"
"Apa?"
"Juna sayang gak sama bunda dan ayah?"
Tak ada suara diseberang sana. Seperti Alle tadi, Juna juga diam.
"Juna sibuk, Juna tutup telfonnya."
"Eh? Iya, jangan lupa makan siang."
"Ya."
Juna langsung memutus telfonnya. Alle diam merenungkan hal ini. Bertanya pada dirinya sendiri apakah dia menyanyangi orang tua yang menelantarkannya atau tidak? Dia bahkan tidak bisa menjawabnya.
"Alle, lihat Cio gak?" lamunan Alle buyar saat Naka datang menghampirinya dengan Karin yang menautkan tangannya pada lengan Naka.
"Cio? Oh, sama Jo, di cafetaria, tadi katanya Jo mau traktir Cio es krim," ujar Alle. Naka berdecak kesal.
"Minta diplintir ginjalnya si Jo, anak saya dikasih es krim mulu," ucapan Naka berhasil mengundang gelak tawa Karin dan beberapa orang yang ada didalam ruangan. Sedangkan Alle hanya tersenyum tipis, menyadari posisinya saat ini hanyalah pengganggu keluarga kecil Naka.
"Pak Naka mau pulang lebih awal?" tanya Alle dengan sopan.
"Iya saya ijin pulang dulu, soalnya ada acara keluarga. Saya titipin kantor ke kamu sama Jo ya, Le." Alle mengangguk. Karin tersenyum lalu menepuk pelan pundak Alle.
"Titip kantor suami saya ya, Alle."
"Siap bu Karin."