Sudah beberapa Minggu Rifat memanfaatkan kebaikan Revina sang saint untuk memuaskan birahinya. Mulai dari hanya sekedar meminta suster itu untuk merawat batang miliknya. Pada awalnya Revina menolak, namun setelah mendengar ancaman jika Rifat akan melakukannya pada perempuan lain secara paksa membuat Revina luluh.
Permainan mulut wanita itu pada awalnya sangat sederhana, namun setelah beberapa hari melakukannya dia menjadi begitu ahli. “Ah, mulutmu memang yang terbaik.” Rifat berkata saat dia membuang s****a didalam mulut Revina.
Tapi tentu Rifat tidak akan merasa puas jika belum menikmatinya tubuh Revina seutuhnya. Di hari berikutnya Pemuda itu memaksa masuk ke bilik yang digunakan oleh Revina. Awalnya terjadi penolakan, tapi itu tidak berlangsung lama setelah Rifat mengancamnya akan melampiaskan pada seorang gadis yang dia lihat di sebuah panti asuhan.
Mendengar ancaman itu membuat Revina menjadi marah besar karena dia mengenal gadis yang Rifat maksud. Tapi Rifat tanpa rasa takut kembali merayu wanita berambut emas itu, hingga akhirnya Revina termakan ucapan Rifat yang saat ini menggunakan skill hipnotis.
Pada akhirnya keduanya masuk kedalam saru bilik yang sama, liur Rifat tidak bisa dia bendung saat melihat lekuk tubuh sexy suster didepannya yang masih ditutupi pakaian ketat yang dia kenakan. Rifat segera menerjang tubuh Revina dari belakang membuat wanita itu begitu terkejut, Revina berusaha memberontak tapi setelah merasakan rangsangan di dadanya membuat wanita itu kehilangan seluruh tenaga untuk melawan.
Mengerti jika dia tidak dapat melakukannya dengan gegabah. Rifat memutuskan untuk melakukannya secara perlahan, hari demi hari pemuda itu mendatangi katedral untuk bermesraan dengan Revina, tingkat kedekatan dengan Npc itu pun semakin bertambah hingga hubungan mereka akhirnya menjadi spesial.
“Aku sudah tidak dapat menahannya lagi, hari ini aku akan menjadikan mu milikku seutuhnya.” di bilik yang sama Rifat saat ini tengah mengacaukan Revina. Saint yang dikenal publik begitu anggun dan menawan, saat ini hanya terlihat seperti seorang pel4cur kepanasan. Seluruh pakaian serba putih yang dikenakan oleh Revina telah di tanggalkan, memperlihatkan kulit seputih s**u yang ternodai oleh memar merah hasil dari kecupan Rifat. Hanya kerudung di kepalanya saja yang masih terpasang yang membuat Revina masih menyadari jika dirinya adalah seorang Saint.
“Ah… tidak aku mohon, aku akan menerima semua yang kau ingin lakukan padaku, tapi jangan yang satu itu.” Revina memohon sambil berusaha menjauhkan batang Rifat dari kewanitaannya yang telah begitu merah karena klimaks berkali-kali.
“Hahaha… kau masih belum mau mengakuinya jika didalam dirimu sebenarnya menginginkan kepuasan lebih dari wanita lain, kau hanya seperti seorang jal4ng yang menawarkan tubuhnya pada setiap pria tanpa imbalan apapun selama kau merasa keputusan.”
“Ti…tidak, kau salah. Aku tidak seperti itu.”
“Haha… kalau begitu biar aku buktikan.” Rifat segera menarik Revina keluar dari bilik m***m mereka. Revina terlihat begitu terkejut karena tidak ingin seseorang melihatnya yang saat ini sedang tidak mengenakan busana.
“Kau mau apa.” tanya Revina yang berusaha menarik tangannya, namun entah kenapa Rifat jauh lebih kuat dari seorang Saint sepertinya.
“Aku akan menunjukkan pada Dewi cahaya, orang seperti apa Revina Lightsaver yang sesungguhnya.” Rifat segera mendorong wanita itu ke meja yang terletak di depan patung Dewi cahaya. Rifat membalikkan tubuh Revina membuatnya terlentang lalu dengan cepat menusukkan jarinya kedalam kewanitaan Santo itu yang membuatnya menjerit keras terutama saat Rifat terus mengacaukannya.
“Ah. Ah no please no.…” dia mencoba untuk menyingkirkan tangan Rifat namun kenikmatan yang dia rasakan membuatnya kehilangan seluruh kekuatannya. Pada akhirnya Revina membiarkan tubuhnya dikacaukan hingga dia mengalami klimaks dengan mengeluarkan cairan bening tepat dibawah kaki dewasa yang dua puja
“Dasar jalang, kau menikmati dikacaukan saat didepan dewa cahaya bukan?.”
“Tidak aku tidak seperti itu!.”
“Hah, benarkah? Tapi bagian bawah mu mengatakan lain. Lihat betapa banyaknya kau muncrat, kau masih tidak mengakuinya?.”
“Itu… itu karena kau yang terus mengocok lubang itu…. Enmh!” Revina terus keluar hingga 2 menit Kemudian dia jatuh lemas. Rifat dapat melihat senyum dibibir Revina yang menatap patung Dewi cahaya.
“Ini belum berakhir sayang.” Rifat kemudian menunjukkan batang miliknya lalu menggosokkan pada kewanitaan Revina. “Tidak aku tidak bisa melakukannya.” Revina segera menutup kedua kaki, tapi dengan kasar Rifat kembali membuka kedua kaki Revina dengan paksa.
“Aku sudah lelah menunggu, malam ini kau akan menjadi b***k ku Revina.”
“Tapi kenapa kau begitu ingin melakukan hubungan seks dengan ku?.”
“Kenapa kau bilang? Bukankah itu sudah jelas. lihat tubuhmu ini yang merupakan p*****r kelas SSS, setiap lelaki yang bertemu denganmu pasti akan berfantasi liar dimana mereka berharap setidaknya dapat meniduri mu satu kali.”
Rifat memeras kedua p******a Revina yang membuatnya berteriak nikmat, sementara batangnya terus memberikan rangsangan pada kewanitaan Revina tanpa memasukinya.
“Tapi mereka tidak beruntung karena setelah ini kau akan menjadi milikku.” setelah merasa semua sudah siap Rifat pun segera memasukkan batangnya secara perlahan. Tidak ada perlawanan dari Revina seperti sebelumnya, dia membiarkan kewanitaannya di terobosan oleh Rifat.
“Aah.… Ooh ini berbeda dengan saat kau menggunakan tangan.”
“Hahaha… ini bahkan belum di mulai.”
Tiba-tiba saja Rifat menghentakkan pinggulnya dengan keras membut batangnya merengsek masuk lebih dalam hingga membentur dinding rahim Revina. Darah keperawanan wanita itu mengalir saat selaput darahnya telah di tembus.
Mata Revina terbuka lebar sementara mulutnya menganga saat tiba-tiba dikejutkan dengan rasa sakit yang teramat sangat patah dari bagian kewanitaannya. Dalam keheningan sesaat itu Rifat menikmati sensasi cengkraman kuat kewanitaan Revina, sementara wanita itu sendiri mula mengalirkan air mata.
“Oh f4ck betapa nikmatnya merebut keperawatan dari saint yang dicintai setiap orang.”
“Tidak aku mohon keluarkan, ini terlalu menyakitkan.”
“Tidak apa sayang, sakitnya hanya sementara itu akan menghilang jika aku menggerakkan pinggulku.”
“Tidak kumohon lakukan dengan lembut… akh akh.”
Tanpa memperdulikan Revina yang baru saja kehilangan keperawanannya, Rifat seenaknya menghentakkan pinggulnya membuat Revina selalu berteriak histeris saat merasakan batang Rifat bergerak di dalam dirinya. Tahu jika tidak memiliki cukup kekuatan untuk mendorong Rifat, wanita itu hanya bisa pasrah membiarkan pemuda itu melakukan apapun yang dia mau pada tubuhnya. Sambil menahan sakit yang masih dia rasakan, kedua tangan Revina menggenggam pinggiran meja sementara giginya terkatup keras menahan suaranya.
“Milikmu sangat luar biasa sayang, begitu rapat seolah ingin menghancurkan milikku.”
Suara m***m terdengar saat kulit keduanya saling berbenturan dengan cepat. Semakin lama perih di kewanitaannya tergantikan dengan kenikmatan membuat jeritan tertahan berubah menjadi desahan kenikmatan.
“Cih, kau tidak seperti para gadis suci yang lain. Kau hanya p*****r yang sangat indah ditiduri” Revina sama sekali tidak marah saat mendengar perkataan Rifat yang menjelekkan dirinya sebagai Holy Maiden sekaligus Saint, tapi dua justru merasakan jantungnya berdetak kencang saat dihina.
Saat Revina terbuai oleh kenikmatan tiba-tiba Rifat mencekik lehernya membuat wanita itu sesak nafas. Kenikmatan dan rasa sakit yang dia rasakan secara bersamaan membut Revina tidak dapat berpikir lagi. Matanya melotot dengan lidah keluar seperti seorang yang kehilangan nafas, sementara raut wajahnya menunjukkan kenikmatan yang tiada Tara.
“Kau akan menjadi b***k ku setelah itu dengan begitu kuat Rifat menghentakkan pinggulnya lalu menginjeksikan rahim Revina dengan s****a miliknya.
Ding.
[Selamat anda telah menjadikan saint Revina sebagai salah satu b***k anda.]
Setelah suara notifikasi berakhir, muncul sebuah tato di bagian bawah pusar Revina. Itu adalah tanda p********n milik Rifat.