Aksi Irwan

1098 Kata
"Halo anak tiriku tersayang" sapa wanita berlipstik merah yang tengah tersenyum sinis kepada Dona yang tidak lain adalah Melda. Ibu tiri Dona, istri muda ayahnya. "Ada apa bos memanggil saya?" tanya Dona kepada bos pemilik klub tempat dia bekerja. Dia mengacuhkan sapaan dari wanita yang dia benci. "Wow, kamu mengacuhkan aku". "Tidak apa. Sebentar lagi juga kamu akan memohon kepadaku untuk mengampunimu" Melda mengambil sebatang rokok yang tergeletak di atas meja dan menyesapnya dengan penuh percaya diri atas ucapannya tadi. Sedangkan Dona sudah bersiap untuk mewaspadai, jika dia akan mengalamj sesuatu yang buruk. "Maaf Dona, kamu tidak bisa lagi bekerja di klub lagi" mata bosnya melirik ke arah Dona. Dona menghembuskan nafas mengerti akan kode mata yang diberikan oleh sang bos yang sudah begitu akrab dengannya. Pasti Dona telah melakukan sesuatu hingga membuat sang bos terlihat seperti tak berdaya. "Dasar licik" itulah yang terucap dalam benaknya Dona. "Kamu sudah dengar bukan, kalau kamu sudah dipecat. Jadi sebaiknya kamu segera meninggalkan tempat ini" Melda masih begitu asyik menikmati gulungan kertas putih yang mengeluarkan asap itu. "Apakah kamu tidak puas dengan mengambil yang seharusnya aku miliki?" Dona melangkahkan kakinya mendekati Melda tanpa rasa takut. "Hehehe" Melda terkekeh dengan perkataan dari Dona. "Aku belum puas sebelum melihat dirimu hancur". "Kamu ingin tau kenapa? Kamu itu adalah benalu. Aku benci hama sepertimu" Melda menatap nyalang kepada Dona. Terlihat tatapan kebencian dari sorot matanya. Dona bingung dengan yang dia ucapkan. Apa tidak salah? Bukankah dirinya sendiri yang menjadi benalu dalam hidupnya? Sejak kapan dirinya mengganggu hidup Melda? Selama ini dia selalu berusaha untuk menghindari dirinya. Mungkin karena terlalu serakah hingga membuat otaknya sedikit bergeser. "Hahahaha" Dona tertawa nyaring merasa ucapan Melda yang tidak masuk akal. "Aku benalu". "Apa aku tidak salah dengar?". "Siapa yang memasuki kehidupanku terlebih dahulu?". "Bukankah anda nona PELAKOR ?". "Uups salah ya, Benalu" Dona sangat puas melihat wajah kesal Melda. Apalagi saat dia mengatakan Melda seorang pelakor. Sungguh begitu menyenangkan melihat amarah dari wajah iblis yang sudah membuat ibunya bunuh diri. "Akan ku pastikan kau menyesali semua perkataanmu tadi". "Aku tidak ingin meladenimu terlalu lama, karena waktu begitu sangat berharga. Aku pastikan kamu menyesali perbuatanmu yang telah berani melawanku". "Oh ya, kamu masih perawan bukan?". "Pasti sangat mahal jika aku menjualnya" Melda kini tersenyum jahat, dia berhasil sudah menakuti Dona. Merenggut sesuatu yang berharga dari Dona miliki adalah sebuah keberuntungan besar bagi dirinya. "Ayahmu sudah mengijinkan diriku untuk menjualmu kepada mereka yang bersedia menikmati perawanmu" seringai Melda berjalan ke arah Dona dan mengelilinginya. "Uang lebih berharga bagi dirinya dari pada dirimu". "Terserah dirimu saja. Kamu mau menikah dengan pak Adi sebagai istri ketiganya. Atau hanya sebagai p*****r penghangat tempat tidurnya". "Hahaha" Melda tertawa puas. Kini keadaan berbalik, dia yang membungkam mulut lancang Dona. "Plaaak" sebuah tamparan diberikan Dona pada wajah mulus Melda. Marah, tentu saja Dona sangat marah. Racun apa yang sudah dia berikan kepada ayahnya sehingga ayahnya menuruti semua ucapannya. "Dasar wanita iblis" teriak Dona yang sudah tak mampu lagi menahan segala amarah yang lama tersimpan dihatinya. Kebenciannya terhadap Melda begitu besar, hingga ingin rasanya dia mencabik-cabik tubuhnya. Kemudian memberikannya kepada hewan buas yang begitu sangat lapar. "Heh" decih Melda. "Bawa dia pergi sekarang" perintah Melda ke pria yang berbadan besar dengan penuh otot pada lengannya. Dua orang pria kemudian meraih lengannya dan menariknya secara paksa. "Lepaskan aku br*ngs*k". "Dasar wanita jalang, wanita iblis. Sini kamu, akan gue hajar lu j*****m" Melda melambaikan tangannya kepada Dona yang sudah diseret keluar dari ruangan bosnya. Dona meronta untuk melepaskan dirinya. Namun, kekuatan yang dia miliki tidak sebanding dengan kekuatan pria yang tengah menggiringnya. Semua mata para pelanggan klub menatap ke arah Dona. Sebagian dari mereka kenal dengan Dona, mereka tampak bingung. Termasuk teman bartender Dona yang berlari mengejar mereka. "Hei turunkan dia. Kenapa kalian menyeretnya seperti itu?" teman satu profesi dengan Dona bertanya dengan lantang ketika mereka sudah berada di luar klub. "Sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Jika kamu masih ingin bernafas" ucap salah seorang pria yang membawa paksa Dona. "Tapi apa kesalahan yang telah dia lakukan? Kenapa kalian bersikap kasar kepada perempuan seperti dia?" tanyanya dengan nada lebih rendah dan sedikit lembut. Berharap dia bisa menegosiasikan kesalah pahaman yang terjadi. Dia tidak tahu masalah apa yang dihadapi oleh Dona? Hanya meyakini kalau ini sebuah kesalah pahaman saja. "Kamu tidak usah ikut campur. Urusi saja pekerjaanmu". "Jangan mengganggu kami, selama saya masih bersikap baik sebaiknya kamu pergi dari sini". "Anggap saja semua ini tidak pernah kamu lihat, sebelum saya berubah pikiran dan menghabisi dirimu hingga tinggal nama" ancaman pria itu benar-benar membuat teman Dona menjadi sangat takut. Namun hatinya masih tergerak untuk membantunya. "Jangan Wan, sebaiknya lu pergi saja. Gue nggak mau lu kenapa-kenapa. Ini masalah gue, biar semua ini gue urus sendiri" kata Dona yang masih berusaha melepaskan diri dari tangan kekar yang menguncinya begitu erat. "Tapi Don... ". "Sebaiknya dengerin saja ucapan dia tadi. Jangan sampai nasibmu akan mengenaskan" ucap salah satu pria yang membawa Dona pergi tadi dengan sebuah tawa puas membuat Irwan menciutkan nyalinya. "Bugh" sebuah hantaman keras mengenai kepala pria yang memegangi Dona. Secara refleks tangannya melepaskan Dona. Dia menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri ke arah Irwan. Sedangkan pria yang satunya lagi terkejut melihat temannya tadi telah diserang oleh seseorang. "Sialan, siapa kamu?". "Jangan ikut campur" teriaknya kemudian berlari menyerang ke arah pria yang membantu Dona untuk melepaskan diri. Kini Dona bersama Irwan, dia memegang Dona dan memposisikan diri didepan Dona. "Tetap berlindung dibelakang ku, jika pria itu kalah. Maka aku sahabatmu ini yang akan pasang badan untukmu" ucapnya dengan mantap dan yakin kalau dia mampu melindungi Dona. Padahal dalam hatinya ketakutan, dan berdoa semoga pria yang tengah berkelahi dengan preman tadi menang. "Jangan sampai dia kalah ya allah, kasian wajah saya yang ganteng ini jika dipukul preman itu. Nanti pujaan hatiku Wulan akan meninggalkan aku" gumamnya dalam hati, mengingat wajah cewek incarannya yang bernama wulan. "Iya pukul sana, pukul dikirinya. Iya, mantap". "Tendang... Tendang. Iya pelintir" Irwan langsung menjadi komentator dadakan melihat perkelahian didepannya. Tangannya yang memegang tangan Dona pun dilepas, saking fokusnya mengikuti gerakan perkelahian mereka. Seperti sedang memparodikan sebuah aksi, Dona yang tadinya merasa takut seketika langsung tersenyum melihat tingkah konyol Irwan. Seperti sedang akan melakukan energi tenaga dalam, saat itu juga bersamaan pria tadi mengalahkan para preman berbadan besar tadi. "Don, lu lihat tadi nggak. Gue punya tenaga dalam. Hebatkan gue, gue bisa bantuin dia buat ngalahin mereka dari jarak jauh". "Wah, tidak sia-sia gue pantengin film Sun Go Kong buat belajar bela diri dari buku gurunya yang sakti itu" Dona yang mendengar semua perkataan Irwan hanya bisa mengerutkan keningnya. Dona tersenyum kepada pria yang baru saja menolongnya tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN