Dikerjai

1023 Kata
"Kamu baik-baik saja?" tanya pria yang menolong Dona tadi. "Kamu tidak terluka kan" Dona menggelengkan kepalanya. Wajahnya kini seperti sedang memerah menahan rasa bahagia dan senang karena telah ditolong Ilham. Lagi. Untuk kedua kalinya dia menjadi penyelamat Dona. "Ya Allah, kamu keren banget sih tadi Ham" jerit Dona dalam hati. Ingin sekali dia berteriak histeris saking girangnya. Dia mengira kalau Ilham hanya bercanda untuk menyusulnya ke klub setelah memastikan ibunya minum obat. Ternyata dia benar-benar datang. "Teman lu Don" lirik Irwan ke arah Dona yang masih terpaku dengan kekagumannya pada Ilham. "Pria yang terlihat kemayu dan gemulai, tak disangka sangat jago sekali berkelahi. Ah, saranghaeyo oppa" Dona membatin kagum pada sosok pria yang tinggi dan juga tegap itu. Sambil senyum-senyum tidak jelas, membuat Irwan keheranan awalnya. Namun, kemudian dia sadar dan mengerti. Ternyata, teman tomboynya ini sedang jatuh cinta. "Lagi kesambet setan lu ya jadi budeg kek begini". "Mungkin setan budeg baru lewat, ya kan. Tuh liat muka teman gue kek ondel-ondel begitu memerah" canda Irwan menggoda Dona dengan mengajak bicara Ilham. "Eh, nama lu siapa?". "Nama gue Irwan, mantan terindah Dona" ucapnya dengan sok keren. "Aduh.... " Dona mencubit pinggang Irwan dengan keras. "Sialan lu, copot daging gue. lu bakal gue mutilasi biar tahu rasa" Irwan kesal dengan cubitan yang diberikan oleh Dona yang terasa merontokkan dagingnya. "Lu yang sialan peyek, ngapain bilang ke dia lu mantan terindah gue. Sejak kapan lu dan gue punya hubungan" protes Dona yang merasa malu dan khawatir jika Ilham akan salah sangka dengan perkataan Irwan tadi. "Lha ni anak, kayanya perlu gue benturin kepala lu ya. Lu lupa sama kejadian yang dulu, kejadian yang pernah kita lewati bersama" Irwan pura-pura kesal dengan tingkah Dona. Padahal dia dengan sengaja menggoda Dona, hanya ingin tahu sesesuka apa dia kepada cowok ini. Melihat tingkah nya seperti ini, malah membuat Irwan ingin lebih lagi menggoda Dona. "Kejadian apa yang lu maksud? Lu jangan ngadi-ngadi, lu mau fitnah gue ya" Dona kini terlihat kesal dan juga bercampur malu. Entahlah, kini dia benar-benar sungguh membuat Irwan ingin tertawa. "Oh my god, lu lupa ya sama bercak darah yang ada di seprai waktu itu" pancingan Irwan kini benar-benar membuat Dona emosi. Matanya berair, sedangkan pria tadi masih terdiam diri. Tak mengeluarkan sepatah kata pun. "Lu b******k ya Wan, gue kira lu sahabat baik gue. Ternyata lu b******k. Dona menangis dan hendak pergi" Irwan pun seketika tertawa terbahak-bahak. Tentu Dona kaget dengan sikapnya yang begitu aneh ini. "Lu sinting ya, udah nggak waras lu" tunjuk Dona kepada Irwan. "Eh, bro. Gue mau nanya, kok bisa sih lu mendapatkan hatinya ni cewek batu. Suer deh, baru ini gue liat di jaim banget depan cowok. Dia kayaknya suka banget deh sama lu" bisik Irwan di telinga Ilham yang tambah membuat Dona menggeram. Dia pun menarik Irwan menjauh dari Ilham, kemudian memukulinya dengan topi yang dipakainya. "Eh, sadis amat lu sama teman sendiri" protes Irwan. "Lu, sendiri kan cari gara-gara sama gue. Tadinya gue tersentuh karena lu mau nyelamatin gue. Tapi ternyata lu..... " Dona masih memukuli Irwan dengan kesal. Ilham langsung menarik tubuh Dona dan merangkulnya. Kini mereka saling berhadapan, tatapan mereka saling menatap dalam pada bayangan yang ada pada retina bola mata masing-masing. "Ada aku disana" ucap mereka masing-masing di dalam hati. Jika bisa ku atur waktu Tak ingin ku lepas menatap indah dirimu Meski hanya sedetik Kan kupuaskan merekam siluet wajahmu Tak mampu hati menahan rindu Dikala tak bertemu Tentangmu, hanya dirimu Segala indahnya duniaku "Ehm.... Ehm.... ". "Kalau mau saling memadu kasih jangan disini ya, gue baperan tau" celetuk Irwan yang menatap kearah dua sejoli yang sedang di panah asmara oleh dewi cinta. Keduanya pun langsung saling melepaskan diri dari saling berhadapan. Terjadi kecanggungan diantara Dona dan Ilham. Momen indah dan romantis mereka seakan terjadi sangat begitu lama, padahal hanya sekejap. "Ya sudah, mending lu pulang saja dianter sama dia. Takutnya lu nanti diikutin sama yang lainnya" ucap Irwan memecah kecanggungan diantara Dona dan Ilham. "Eh, lu masih punya hutang sama gue" ucap Dona masih bernada menyolot. "Hutang apaan, perasaan gue nggak pernah pinjam duit ke lu deh" Irwan jadi tampak kesal karena dituduh Dona memiliki hutang dengan dirinya. "Yang tadi, lu bilang tentang bercak darah di seprai. Lu punya hutang penjelasan sama gue. Gue nggak mau dia pikir gue cewek apaan" ucap Dona tanpa sadar. Setelah beberapa detik baru dia sadar akan ucapannya tadi. Dona langsung menutup mulutnya. "Ntar dia pikir gue nggak perawan" ucap Dona sangat lirih, namun Ilham dapat menangkap ucapan Dona itu dari daun telinganya yang membuka lebar. Senyuman manis tersungging pada bibirnya yang begitu seksi di mata Dona. Entah kenapa, setiap kali Dona melihat bibir sensual Ilham. Dia seakan merasa b*******h ingin mencumbuinya. Dona kini dalam kondisi yang benar-benar siaga tiga mode pengen cepat kawin. Hehehe "Lu lupa kejadian di Villa, waktu lu rebahan di kasurnya Bella. Lu mens kan, gue kan orang yang pertama kali liat bercaknya dan memberitahukan lu". "Gue juga kan orang yang ngasih lu jaket buat nutupin p****t lu yang bocor. Gue juga kan yang akhirnya beliin pembalut". "Lu masih lupa tentang kejadian itu. Hah!" teriak Irwan seakan merasa puas. Iya, dia puas sudah ngerjain teman tomboy nya yang super gila sama dengan dirinya. "Owh itu... Aku pikir tadi" Dona menggantungkan perkataannya. Dia menjadi tidak enak dan merasa bersalah kepada teman seprofesinya yang sudah begitu sangat baik pada dirinya. "Lu pikir gue apain lu gitu". "Lu kaya baru kenal gue, lu tau sendiri gue nggak seb*jing*n itu juga kali". "Dasar bara bere". "Ouw... " Irwan menjerit karena mendapat cubitan lagi dari Dona. Dona terkekeh dengan sikap jahil temannya yang selalu suka mengisengi dia ini. "Demen amat lu nyubit gue, dah buruan pergi dari sini. Sebelum ada yang lain lagi yang datang buat nangkap lu" usul Irwan yang memang sedikit cemas dengan keadaan Dona sekarang. Mumpung kedua orang tadi masih terkapar pingsan disamping mobil hitam. Sehingga tidak terlihat ada dua orang yang tengah terbaring dalam keadaan mata tertutup. Semoga saja mata mereka tidak tertutup untuk selamanya. Bisa lain urusannya jika mereka koid alias dead. Kan nggak lucu, kalau nanti bakal berurusan dengan polisi, hancur dong imej cowok baik dimata Wulan. Pikir Irwan menerawang entah kemana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN