Suara desahan dalam ruangan kantor bos Dona menggema. Tampaknya dua orang insan yang berbeda jenis kelamin tersebut tengah menikmati persatuan tubuh mereka. Rintihan dan erengan kenikmatan seakan menjadi lagu syahdu dalam peraduan mereka memadu kasih. Hentakan demi hentakan dari kedua tubuh itu seakan menjadi tarian memabukkan. Candu dunia yang tak bisa diruntuhkan dalam dari diri manusia, yaitu hasrat dan nafsu.
Melda dan bos Dona tengah dalam kubangan birahi yang harus segera dituntaskan. Tubuh indah Melda meliuk dan bergoyang dalam pangkuan lelaki yang telah menuruti keinginannya. Yakni melepaskan Dona serta membantunya untuk mendapatkan Dona agar bisa diberikan kepada pak Adi. Sebagai balasannya, Melda harus memberikan tubuhnya malam ini untuk dia nikmati dan tubuhnya harus memuaskan hasrat liarnya. Begitu pun dengan Melda, dengan suka hati menerima permintaan sang lelaki tampan dan gagah itu. Dia tidak akan mungkin menolak untuk digagahi oleh lelaki sekeren dirinya. Disaat tengah asyik menggoyangkan bagian bawah tubuhnya. Ponsel Melda berdering, panggilan dari anak buahnya yang membawa Dona tadi. Melda tersenyum bahagia, mungkin anak buahnya itu telah berhasil membawa Dona pada lelaki hidung belang itu. Kini dia tinggal menunggu kucuran dana dari pak Adi atas harga keperawanan Dona.
"Halo, bagaimana sudah selesai?" tanya Melda yang langsung mendapatkan jawaban yang tidak menyenangkan hatinya.
"Maaf bos, saya hanya ingin melaporkan kalau non Dona kabur" ucapan dari sang anak buah membuat murka Melda.
"Sialan, bagaimana bisa dia meloloskan diri dari kalian?" teriak Melda penuh amarah. Tubuhnya yang semula bergoyang begitu lincah kini terhenti dari aksi erotisnya.
"Cari dia sampai dapat" teriak Melda dan melepaskan diri dari pangkuan lelaki hidung belang yang memang doyan main perempuan. Melda berniat untuk kembali memakai pakaiannya.
"Permainan belum berhenti sayang. Aku belum puas menikmati tubuh indahmu ini" bos klub tempat Dona bekerja menarik tangan Melda kemudian mendaratkan ciuman yang bertubi-tubi di punggung belakangnya.
"Biarkan masalah yang ada ini dulu. Kita selesaikan nanti saja. Kita selesaikan masalah yang ada sekarang ini" pria itu kembali menggagahi tubuh bugil nan mulus milik Melda. Kini mereka kembali mengerang penuh kenikmatan hingga hasrat keduanya tuntas.
****
"Terimakasih" ucap Dona malu-malu kepada Ilham. Ini untuk kedua kalinya dia menyelamatkan Dona. Ada perasaan yang tengah berbunga-bunga dihati Dona. Kemaren dia bilang Ilham seperti banci tapi sekarang malah dirinya merasa kagum dengan sikap gentleman Ilham.
"Sama-sama".
"Kalau boleh tau, mereka siapa?" Ilham berhati-hati untuk bertanya kepada Dona. Dia tidak ingin mengusik hal pribadi kehidupan Dona. Namun, jika dirinya tidak keberatan untuk menceritakan hal tersebut. Maka dengan senang hati Ilham akan mendengarkan.
"Mereka adalah orang suruhan mama tiri aku" Dona mencoba untuk menceritakan tentang masalah hidupnya. Dengan perasaan malu dan juga ragu menyeliputi hatinya. Malu jika hal ini akan membuat Ilham membenci dirinya. Malu, karena dirinya akan dijual oleh wanita iblis tersebut. Meski bukan keinginan dirinya. Tetap saja, dia merasa malu jika Ilham mengetahuinya.
"Jika kamu percaya untuk menceritakan hal ini kepadaku. Aku bersedia untuk mendengarkan. Siapa tahu nanti beban dihatimu sedikit berkurang?" ujar Ilham yang masih fokus menyetir. Sesekali dia memperhatikan Dona yang duduk disampingnya. Rona pucat masih menghiasi wajah cantiknya yang manis itu.
Ilham merasa senang dan bahagia bisa menolong wanita yang sudah mengambil hatinya itu. Dia merasa seperti seorang pangeran berkuda hitam yang selalu datang tepat waktu menyelamatkan sang putri yang tertindas dan sengsara di dalam kastilnya. Bak cerita dongeng khayalan yang selalu dibaca anak-anak. Hal seperti itulah kini yang ada dalam pikiran Ilham. Sesekali dia tersenyum kecil membayangkan kisah cintanya akan seperti cerita dongeng romantis. Hal ini membuat Dona menjadi bingung dengan tingkah aneh dari Ilham.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dona menepuk tangan Ilham yang memegang kemudi.
"Iya tuan putri" jawab Ilham yang memang refleks menyahut pertanyaan dari Dona tadi. Dia tengah menghayal berbincang-bincang dengan tuan putrinya itu. Duduk berdua disebuah taman yang penuh bunga. Menikmati indahnya bunga-bunga yang tengah bermekaran. Kupu-kupu berterbangan menghiasi indahnya kebun bunga dengan warnanya yang cantik. Menambah kesan romantis diantara mereka berdua. Astaga, khayalan seperti anak ABG saja.
Dona bingung namun wajahnya merona malu karena dipanggil tuan putri oleh Ilham. Hatinya bagaikan digelitik ribuan kunang-kunang. Bahagia, tentu saja. Dia tidak pernah diperlakukan manis seperti ini sebelumnya oleh siapapun setelah maminya.
"Ada apa Dona?" tanya Ilham yang terlihat bingung dengan sikap diam Dona. Padahal hati Dona kini tengah begitu gembira. Seperti baru saja melihat indahnya warna warni kembang api.
"Bercintalah denganku" Ilham langsung merem mobilnya. Terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Dona. Perkataan Dona bertepatan dengan pikiran Ilham yang ingin mencumbu dirinya. Tentu saja antara malu atau tidak percaya. Seakan Dona seorang cenayang yang bisa membaca pikiran seseorang. Ilham pun memarkirkan kendaraannya ke pinggir. Tepatnya diparkiran sebuah ATM.
"Apa yang kamu bicarakan tadi?" Ilham masih setengah tidak percaya dengan yang diucapkan oleh Dona tadi. Meski dirinya tengah menghayal sesuatu yang agak dewasa. Tapi dia masih dalam kondisi yang sadar.
"Aku ingin memberikan perawanku kepadamu" Dona sedikit takut dan gugup mengutarakan keinginannya. Meski dia terlihat cuek dengan laki-laki. Sejatinya dirinya tetap membutuhkan hadirnya seorang pria untuk membuat dirinya merasa lengkap dan bahagia. Ilham bingung dengan ucapan Dona. Meski dia juga menginginkan hal ini, tapi tidak dengan melakukannya diluar nikah. Dia tidak ingin menyentuh yang namanya berzina.
"Kamu jangan berpikir untuk melakukan hal itu. Dosa Dona, aku tau kita sama-sama sudah dewasa. Tapi aku tidak ingin merusak dirimu" Dona merasa dirinya bersalah meminta Ilham melakukan hal yang terlintas begitu saja dalam kepalanya.
"Maafkan aku. Hanya saja, aku ingin memberikan perawanku kepada orang yang aku suka" Dona memberanikan diri untuk menatap mata Ilham. Ada sebuah cinta terlihat disana.
"Aku mohon, mungkin jika aku sudah tidak perawan lagi. Mama tiriku mungkin tidak akan menangkapku lagi, karena harta berharga yang kumiliki sudah tidak ada lagi".
"Wanita itu, wanita itu ingin menghancurkan hidupku. Setelah dia merebut papi, dan membuat mami meninggal. Dia sudah mengambil segalanya Ham" kini Dona sudah tidak bisa lagi menahan rasa sedihnya. Dia menumpahkan rasa sakit hatinya yang selama ini dia pendam. Dia curahkan semua kekesalan serta kekecewaan yang dia rasakan kepada papinya.
"Please aku mohon. Bercinta denganku Ham. Mungkin jika aku sudah tidak berguna lagi. Aku tidak mereka ganggu lagi" Dona memohon dengan memegang tangan Ilham. Untuk pertama kalinya dia bersikap seperti itu kepada laki-laki. Ilham menyapu air mata yang membasahi pipinya.
"Dusta jika aku tidak tertarik padamu. Sungguh hati ini ingin sekali memiliki dirimu. Tapi aku tidak bisa melanggar norma agama yang melarang perzinahan Dona. Aku ingin menghalalkanmu" Ilham memberikan penjelasan kepada wanita dihadapannya yang terlihat begitu rapuh.
"Aku takut untuk pulang Ham, aku takut mereka akan menangkapku lagi" isak Dona.
"Bagaimana untuk sementara kamu tinggal di hotel dulu? Aku akan minta izin bunda dulu untuk menerimamu tinggal di rumah sementara waktu" Dona mengangguk dengan saran yang diberikan oleh Ilham. Dirinya bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, manut apa yang dikatakan oleh Ilham. Bukan seperti Dona yang biasanya terkenal keras kepala.
Sebuah panggilan masuk dari ponsel Dona, tertera nama om Beni ditampilan layar ponsel pintarnya. Tumben dia menelpon Dona malam-malam begini. Apa ada hal yang penting?
"Ada apa om?" tanya Dona to the point.
"Apa kamu bisa ke rumah om sekarang? Ada yang om ingin beritahukan sama kamu Dona?" pinta om Beni di panggilan suara.
"Baik om, Dona akan langsung kesana. Kebetulan Dona lagi dijalan, sekalian ada yang Dona ingin bicarakan juga sama om" kemudian panggilan pun berakhir.
"Ham, kita ke perumahan Orchid Park. Aku ingin menemui om ku" kata Dona sedikit tegas. Kini dia kembali menjadi Dona yang sebelumnya, tidak menjadi Dona yang seperti orang lemah tadi.