Seorang pria membawa arit memasuki kawasan sebuah gedung terbangkalai yang sekelilingnya sudah dipadati rumpul liar. Di punggungnya, ia membawa brokoh, atau tempat yang ia gunakan sebagai wadah rumput yang baru saja ia babat.
Dua hari sekali, ia pergi ke tempat itu untuk membabat rumput untuk makan sapi- sapi peliharannya. Gedung sederhana itu adalah gedung bekas sanggar kesenian yang kini sudah tak terpakai dan tak terawat. Langkah kaki membawanya ke area yang masih dipenuhi rumput- rumput yang mulai tinggi.
Tiba- tiba langkahnya berhenti saat merasakan kakinya menginjak sesuatu. Ia terkejut dan melangkah mundur saat menyadari bahwa yang ia injak adalah potongan telapak tangan. Tubuh pria itu bergetar ketakutan. Matanya sekali lagi memicing hanya untuk memastikan bahwa pengelihatannya tidak salah. Setelah menyakini apa yang ia lihat, ia segera pergi dari sana dan menelepon polisi.
***
Kara mematung saat mendengar berita yang disampaikan Karin. Ia sudah terlalu lelah menangis sehingga tak ada buliran air matanya yang jatuh. Ia hanya menatap Karin dan Petra yang ada di depannya dengan tatapan kebingungan. Berharap yang barusan masuk ke gendang telinganya bukanlah kenyataan. Ia berharap ia hanya berhalusinasi. Ia masih terus percaya bahwa di tempat lain, ibunya masih baik- baik saja. Ibu masih bertahan dan menunggu untuk diselamatkan.
“Polisi menemukan jasad ibumu.” Kata- kata Karin mengelilingi otaknya. Ia masih mematung, sekali lagi berharap ia sedang bermimpi. Ia berharap kini ia sedang mengalami mimpi buruk. Tak apa jika ia bermimpi buruk, ia akan bangun dengan segera.
Ia mencubit lengannya dan merasakan sakit. Kedua orang di depannya menatapnya dengan tatapan tak kalah sedih. Apakah ini bukan mimpi? Sekali lagi, Kara mencubit lengannya dan merasakan sakit.
Karin mendekat lalu memeluknya. Kara bisa mendengar gadis itu terisak. Tapi kenapa air matanya tak juga mengalir. Kara merasakan dadanya tiba- tiba terasa sesak. Ia melepas pelukan Karin dan jatuh terduduk. Ia memeluk lututnya sendiri. Polisi menemukan jasad ibumu. Kalimat itu terus berputar di otak Kara seperti sengaja diembuskan di dekat telinganya.
Jasad... Itu artinya ibuku sudah meninggal. Kara sudah cukup terpukul saat beberapa hari yang lalu pihak forensik mencocokan potongan telingan itu dengan DNAnya dan memastikan bahwa sepotong telinga itu benar milik ibunya Dan kini polisi telah menemukan jasad ibunya. Kara tak menyangka hal ini akan benar- benar terjadi padanya.
***
Kara terlalu sulit untuk mencerna semuanya. Ia bingung apa yang terjadi padanya, bahkan saat ia melihat jasad ibunya di rumah sakit, air matanya tak juga jatuh. Ia hanya menatap ibunya dengan tatapan sedih, bingung, sakit dan sesak. Tak cukup membunuh ibunya, pembunuh itu memotong beberapa bagian tubuhnya.
Rumah Kara kembali ramai. Semua koleganya mengirim bunga papan ucapan bela sungkawa. Beberapa rekan artis mengunjunginya dan ikut mengungkapkan kesedihan. Ratusan orang turut mengiringi langkah ibunya hingga ke liang lahat. Kesedihan tak hanya menjadi milik Kara hari itu, tapi juga orang- orang yang mengenal baik dirinya, penggemarnya dan juga orang- orang yang simpatinya tergugah melihat bagaimana gadis itu kehilangan ibunya.
Kara masih tegar saat menerima tamu di rumahnya. Ia masih tak menangis, ia hanya merasakan dadanya yang begitu sesak. Buncahan kesedihan itu harusnya terlepas bersama air mata, namun ia tak bisa. Air matanya sepertinya mengering. Karena tak bisa menangis, ia menyunggingkan senyum tipis dan mengucapkan terima kasih pada orang- orang yang menyempatkan diri menghiburnya.
Rasanya ada rongga besar dalam hatinya. Rasa kehilangan itu begitu terasa. Ia menjatuhkan diri di ranjangnya dan menatap langit- langit kamarnya. Selama ini, hanya ibunyalah alasan ia bertahan hidup. Dan sekarang, untuk apa ia hidup.
Karin, Sandra dan Kinan menatap Kara dengan wajah sedih. Ketiganya tak tahu bagaiman caranya menghibur gadis itu. Ketiganya tahu bahwa yang bisa mereka lakukan adalah berada di samping gadis itu. Gadis itu tak butuh penghiburan, mereka tahu penghiburan seperti apapun tak akan bisa mengurangi kesedihannya. Ketiganya hanya memastikan bahwa gadis itu dalam keadaan baik- baik saja dan tak melakukan sesuatu diluar kendalinya.
***
Kara mengurung diri di kamar selama beberapa hari. Ia tak makan dengan teratur dan tak tidur dengan cukup. Gadis itu tak punya gairah untuk hidup. Ia hanya menatap langit- langit kamarnya hingga lelah lalu tertidur. Makanan yang setiap hari diantar oleh Karin tak terolah di lambungnya dengan benar. Ia kerap merasakan mual, sehingga ia makan hanya untuk sekadar mengisi perut. Toh, ia tak punya kegiatan yang membuatnya harus memiliki tenaga ekstra.
Ia hanya akan menghabiskan waktu di kamarnya, menatap langit- langit kamarnya sambil termenung lalu tertidur dan ke kamar mandi jika butuh.
Karin dan Petra banyak menghabiskan hari di ruang tamu tepat di depan pintu kamar Kara. Berharap gadis itu akan keluar, namun sudah berhari- hari, Kara tak pernah membuka pintu kamarnya. Ia dan Petra akan bergantian mengantar makanan dan membujuk gadis itu untuk makan. Tak selalu berhasil, kadang mereka harus mengambil kembali piring yang isinya belum tersentuh.
***
Penyelidikan kepolisian masih terus berlanjut namun seperti tak mengalami kemajuan. Kara masih suka mengurung diri di kamar. Ia menyuruh Karin untuk tak menerima pekerjaan dalam waktu dekat.
Petra masuk ke kamar Kara dan melihat gadis itu tengah duduk di depan meja riasnya. Tangannya memegang sebuah bingkai berisi foto ibunya. Petra menaruh nampan di atas nakas lalu berdiri di samping gadis itu.
“Ibumu sudah tenang.” lirih Petra, “dia pasti tidak akan suka jika melihatmu seperti ini.” Lanjutnya.
“Aku tidak bisa membayangkan apa yang dialami ibuku. Malam- malam penuh ketakutan dan penderitaan hingga akhirnya meregang nyawa.” Bibir Kara bergetar. Ia mengusap wajah ibunya dalam foto. Ia menelan ludahnya sambil menggeleng- gelengkan kepalanya. Tak percaya bahwa ibunya akan pergi dengan cara seperti itu.
Petra mengusap pundak gadis itu pelan.
“Aku gagal menjaga ibuku.” Lirih Kara. “aku harusnya tak membiarkan hal itu terjadi padanya.”
“Jangan menyesal berlarut- larut. Aku yakin ibumu akan sedih jika melihatmu seperti ini.” Kata Petra, “jalanmu masih panjang. Kamu tidak boleh berhenti sampai di sini.” Petra menarik dagu Kara agar menatap ke arahnya. “jangan berhenti sampai di sini. Bertahanlah sampai akhir.”
***
Kara keluar dari kamar saat jam menunjukkan lewat tengah malam. Di ruang tamu, ia melihat Petra tertidur di sofa. Semenjak kematian ibunya, Petra, Karin dan dua sahabatnya memutuskan untuk menginap sementara untuk bergantian menjaganya. Setiap Kara keluar tengah malam, ia selalu melihat Karin, Kinan dan Sandra tertidur di ruang tamu bergantian. Keempatnya bergantian menjaga Kara. Mereka tahu mereka tak bisa menghapus kesedihan gadis itu, menjaganya adalah satu- satunya yang bisa mereka lakukan. Memastikan bahwa Kara tak mencoba melakukan hal- hal yang membahayakan nyawanya.
Karin pernah masuk ke dalam kamar Kara dan melihat putung rokok yang berserakan di mana-mana. Sandra pernah memergoki Kara tengah minum- minuman beralkohol di kamarnya, entah dari mana ia mendapatkan minuman itu, Kinan pernah masuk ke kamarnya dan melihat tengah melamun di meja riasnya dengan jari yang sedang memainkan cutter di tangannya. Kara melewati kesedihan dengan cara yang begitu buruk.
Kara mendekat dan berjongkok di depan Petra yang tampak tertidur pulas. Ia menatap wajah itu baik- baik. Wajah asing yang sekarang bahkan terasa begitu dekat. Entah sejak kapan, Kara mulai bergantung pada pribadi di depannya. Tangannya bergerak untuk mengusap kening Petra. Napas pria itu teratur dan Kara tersentak saat tangan Petra terangkat dan memegang tangannya. Mata pria itu masih terpejam. Pria itu membawa tangan Kara ke pipinya.
“Kamila...” Petra melirih. Kara merasa genggaman pria itu semakin kuat. Kamu pasti merindukan istrimu. pikir Kara. Kara mencoba melepas genggaman pria itu namun genggamannya terlalu kuat. Kara akhirnya membiarkannya untuk beberapa saat, hingga akhirnya kedua mata pria itu terbuka perlahan. Petra terkejut lalu melepas genggamannya.
“Maaf.” Katanya lalu bangun dari tidurnya. Kara tersenyum lalu menatap Petra yang mengucek-ucek matanya. Kara berdiri lalu duduk di depan pria itu.
“Sepertinya kamu merindukan istrimu.” Kata Kara, “kamu boleh mengambil libur untuk mengunjungi istrimu.” Lanjutnya. Ia melihat Petra menggeleng pelan.
“Aku tidak perlu.” Jawabnya. “Kamu membutuhkan sesuatu?” Petra menatap Kara yang melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Aku butuh udara segar.”
***
Petra membawa Kara berkeliling menggunakan mobil. Mengitari jalanan kota yang tampak lenggang. Kara membuka jendela mobilnya dan angin seketika menerpa wajahnya. Kara tersenyum dan menghirup udara luar dalam- dalam. Ia tahu bahwa ia sudah terlalu lama berada di dalam kamarnya, hingga merasakan udara diluar terasa begitu melegakan.
“Aku sudah kehilangan banyak hal selama mengurung diri di kamar.” Kata Kara. Ia melihat warung-warung yang masih ramai. Gerombolan anak muda yang berkumpul sambil tertawa. Para karyawan yang habis bekerja masih berbincang di dalam cafe dengan jendela transparan dan gelas kopi di atas meja. Kara menatap senyum dan tawa itu. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia tertawa seperti mereka. Kematian ibunya benar- benar membuatnya hancur. Ia bahkan tak punya keinginan untuk kembali memulai hidupnya. Ia merasa tak pantas menikmati hidup sementara ibunya mati dengan cara yang begitu mengenaskan.
“Kamu harus kembali. Kamu tak bisa terus menerus mengurung diri di kamar.” Kata Petra. Ia menepikan mobilnya di sebuah taman kota yang masih cukup ramai padahal jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.
“Aku tidak tahu apakah masih ada orang yang mau mempekerjakan aku.” Kara menatap Petra sambil tersenyum sinis. “Kara si anak durhaka, Kara yang malang, Kara yang egois, Kara dengan masa lalu yang begitu buruk. Aku tak pantas berdiri di depan kamera, berakting, tertawa seperti tidak terjadi apa- apa. Aku akan terlihat seperti orang yang tidak tahu malu.” Lanjutnya.
“Tidak semua orang membencimu.” Petra memberitahu bahwa masih ada orang- orang yang mendukungnya, masih ada yang mengharapkan dirinya kembali tampil di layar kaca, masih ada banyak yang mencintainya. “kamu tidak boleh menyerah seperti ini.”
Kara menatap keluar jendela. “Ayo makan itu, aku lapar.”
Keduanya turun lalu mengampiri sebauh warung lesehan yang baru saja ditinggali pembeli terakhir. Warung itu kini kosong, menyisakan penjual yang tengah memberekan piring- piring kotor.
Kara duduk di salah satu meja sementara Petra memesan makanan pada penjual. Kara menatap sekeliling. Beberapa orang masih terlihat di warung- warung makan sekitar. Petra duduk lesehan di depannya, dipisahkan dengan meja kayu dengan kotak tisu di atasnya.
Dua buah gelas berisi es teh manis disajikan di atas meja. Petra mengambil sendok dan mengaduk isi gelas Kara dan mendekatkan gelas itu pada gadis di depannya. Kara menyesap minumannya melalui sedotan lalu menatap Petra yang duduk di depannya.
“Temuilah istrimu.” Kata Kara, “kamu memimpikannya karena merindukannya.” Lanjutnya, “aku akan baik- baik saja di rumah.”
Kara menatap Petra yang menggeleng pelan. Ia tidak tahu apa yang membuat Petra selalu menolak setiap Kara menyuruhnya mengunjungi istrinya. Pria itu tak punya alasan untuk selalu berada di dekatnya meskipun pria itu terikat kontrak dengannya. Kara sudah berbesar hati memberikan pria itu waktu untuk bertemu dengan istrinya. Tapi, pria itu bahkan tak pernah mau repot- repot untuk mempertimbangkannya.
Dua buah piring berisi nasi goreng disajikan di depan keduanya. Petra mengucapkan terima kasih lalu memberikan sendok dan garpu pada Kara. Kara menatap isi piringnya. Nasi goreng dengan topping ayam dan sayur. Telor ceplok ditaruh di atasnya dan potongan timun dan tomat diletakan dipinggir.
Kara memulai suapan pertama. “sejak ibuku meninggal, semua yang masuk tenggorokkanku terasa seperti pasir.” Ujar Kara. Petra menatap gadis di depanynya. Mulut gadis itu mengunyah, sebelah tangannya mengaduk- aduk nasi di dalam piring. Lapar yang ia rasakan tak serta merta bisa menggunggah seleranya.
Petra mengerti perasaan gadis itu. Ia sendiri pernah mengalaminya saat kehilangan Kamila. Kepergian gadis itu mengambil sebagian semangat hidupnya. Tapi bedanya, Petra tak punya waktu untuk meratapi kematian itu karena polisi langsung menangkapnya dan menuduhnya sebagai pembunuh Kamila. Petra bahkan sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya. Ia tak peduli jika harus masuk penjara karena tahu bahwa tak ada yang bisa ia lakukan sepeninggal Kamila.
Petra sangat mengerti bagaiamana rasanya kehilangan orang dicintai. Berhari- hari ia merutuki diri karena merasa gagal menjaga Kamila, seperti yang Kara rasakan. Tapi, waktu akhirnya menyembuhkan semua lukanya. Ia mulai bisa menerima kepergian wanita itu meski tetap bersikeras mencari pembunuhnya.
Petra percaya bahwa yang dibutuhkan gadis itu hanyalah waktu. Waktu yang perlahan akan menghapus luka kehilangannya. Waktu akan membuat gadis itu iklhlas atas kepergian orang yang dicintainya.
Kara tak menghabiskan isi piringnya. Hanya empat sendok yang bisa masuk ke mulutnya. Selebihnya, ia hanya mengaduk- aduknya dengan sendok dan garpu di tangannya.
“Jangan begitu. Banyak orang diluar sana yang tidak bisa makan.” Petra memberitahu. Gerakan tangan Kara berhenti. Ia menengadah dan menatap Petra yang tampak kesal.
“Bukankah kamu yang tadi mengajak makan di sini?” omel Petra yang membuat Kara mengerucutkan bibirnya.
Petra berdecak, ia mengambil sendok dari tangan Kara dan mengisinya dengan nasi yang ada di piring gadis itu dan mengarahkannya ke depan mulutnya.
“Rasanya seperti pasir.” Lirih Kara.
“Kara!!!” Petra mengertak sambil melirik sekeliling, berharap penjual nasi goreng tak mendengar kata- kata Kara barusan. “ayo buka mulutmu.” Desak Petra.
Kara menatap tatapan tajam pria itu dan memutuskan untuk menurutinya. Ia membuka mulutnya, mengunyah makanan itu dan memaksanya melewati tenggorokkannya.
Petra menyuapi Kara hingga nasi di piring itu habis.
“Kamu bukan tak napsu makan, kamu hanya malas.” Gerutu Petra yang langsung membuat Kara terseyum kecil.
TBC
LalunaKia