CHAPTER DUA PULUH

1467 Kata
            Sudah tidak terhitung berapa kali ketiganya harus menelan kecewa karena saat mereka menemukkan jalan, jalan itu buntu.             “CCTVnya bergeser. Mereka merencanakannya dengan sangat baik.” Kata Petra. Kara duduk di sebelahnya, menatap layar komputer dengan putus asa.             “Lalu bagaimana?” Karin tak kalah putus asa.             “Kita harus memantau CCTV di lobi, hanya darisana kita bisa melihat lalu- lalang pengunjung.” Petra menatap Kara. Kara yang harus melakukannya karena hanya gadis itu yang mengetahui dengan jelas wajah perempuan itu.             “Aku akan melakukannya.” Kara mengangguk. “aku akan melakukan apapun untuk mengetahui keberadaan ibuku.”             Kara dan Petra memulainya. Manager hotel sudah memberikan izin untuk Kara mengecek semua CCTV yang terpasang di hotel. Karin kembali ke rumah untuk mengurus urusan yang lain.             Mereka mengecek CCTV satu per satu. Mereka tak menemukan rekaman wanita itu di CCTV ujung lorong kamar mandi. Petra memastikan bahwa wanita itu pasti melewati tangga darurat yang tak terpasang CCTV. Keduanya tak tahu, wanita itu naik atau turun.             “Dia tidak mungkin menginap di sini. Terlalu beresiko.” Kata Petra, “kalau dia turun, kita harusnnya bisa melihatnya dari kamera di lobby.” Tangan Petra dengan lincah menggerakkan mouse hingga rekaman di lobby memenuhi layar. Pria itu mengatur waktu yang berdekatan dengan waktu kejadian di toilet dan mempercepatnya, Kara memerhatikan baik- baik. Matanya fokus pada layar di depannya, ia tak ingin melewatkan sesuatu yang berharga.             Mereka tak menemukan apapun, layar yang berada dekat pintu utama yang mengarah ke tengah lobby tak menampakkan sosok wanita yang mereka cari.             “Dia menghindari CCTV dengan baik.” Petra menyimpulkan. “kalau ia berjalan mendekat ke tembok saat keluar dari tangga, ia tak akan terekam.” Kata Petra sambil menunjuk layar dengan jari telunjuknya.             “Kalau dia tidak melewati lobby, dia pasti melewati lift. Coba cek CCTV dekat lift.” Kata Kara. Petra menuruti perintah Kara dan mencari CCTV di dekat lift lantai dasar.             Tapi wanita itu tak juga terekam dalam kamera itu. Wanita itu menghindari CCTV seperti seorang ahli.             Keduanya menoleh saat pintu ruangan itu terbuka, dua orang petugas polisi yang sudah mendapat kabar dari Karin mendekat dan menyuruh Kara menceritakan kronologi kejadian yang ia alami. Polisi mengambil alih, salah satu petugas yang sedang dalam perjalanan akan meminta Kara membantu membuat sketsa wajah wanita yang ditemuinya, sehingga mereka bisa menyebar sketsa- sketsa itu dan menangkap wanita itu.             Setelah sketsa itu selesai, Kara meyakini bahwa gambar itu benar- benar mirip. Keduanya kemudian kembali pulang sementara polisi masih melanjutkan penyelidikan melalui CCTV hotel.   ***               Kara tahu bahwa ia berhadapan dengan orang yang benar- benar ahli. Orang yang bisa memanipulasi orang lain, orang yang bahkan bisa membuat orang lain menyerahkan nyawa demi melindunginya, orang yang ahli bersembunyi dan susah ditangkap. Semakin berpikir, ia semakin tidak mengerti, apa yang orang itu inginkan darinya.             Selama berhari- hari, ia berdiam di rumah menantikan hasil. Tak ada kemajuan hingga akhirnya ponsel Karin berdering dan seseorang di ujung sambungan mengatakan pernah melihat ibunya di tempat pengisian bahan bakar yang pernah ia datangi.             Karin menerima laporan itu dengan baik dan mencatat tempat dan waktu yang diyakini pria di ujung sambungan saat melihat ibu Kara. Ia juga memohon agar pelapor bersedia jika polisi membutuhkan keterangan lengkap darinya.             Saat Kara dan Petra mendatangi pihak SPBU, mereka tidak mau memberikan rekaman CCTV tanpa surat dari kepolisian. Keduanya akhirnya menunggu petugas kepolisian membawa surat agar pihak SPBU mau memberikan rekaman CCTV.             Tangis Kara nyaris pecah saat melihat ibunya dalam rekaman. Wanita paruh baya itu terlihat jalan terseok- seok tanpa alas kaki mendekati seseorang. Orang yang didekati kebingungan hingga akhirnya sebuah mobil berhenti di sampingnya dan seseorang keluar dari mobil lalu kembali menyeret ibunya masuk ke dalam mobil. Polisi mencatat plat mobil yang membawa ibunya pergi dan akan mengeceknya. Mereka menyuruh Kara kembali dan berjanji akan mengabari hasil penyelidikan mereka.             Ini adalah satu- satunya harapan Kara. Ia tidak tahu apakah ia sanggup menanggung jika ini bukan akhir dari pencariannya. Sudah berhari- hari ia tidak bisa tidur karena terus menerus memikirkan ibunya. Ia tidak sanggup membayangkan apa saja yang sudah dilalui ibunya dalam malam panjangnya akhir-akhir ini.   ***               Kara tahu akan selalu ada kejutan di hidupnya. Tapi, ia tidak menyangka bahwa kejutan- kejutan seperti ini yang akan datang padanya. Kara melempar kotak di tangannya ke atas meja di depan polisi.             “Sampai kapan kalian akan menyelesaikan kasus ini? Semakin lama, aku mungkin akan dikirimi potongan tubuh lain.” Kara berteriak. Ia protes pada polisi yang dinilainya terlalu lamban. Ia menahan air matanya, tak sanggup membayangkan jika memang potongan  telinga dikirimkan orang itu padanya benar- benar milik ibunya. Tapi, sebuah anting masih menggantung di daun telinga itu, anting yang sama yang ditaruh di tasnya beberapa hari lalu. Anting yang ia yakini milik ibunya.             Berkali- kali Kara menolak mempercayainya. Kara menekan otaknya untuk tak pernah berpikir bahwa daun telingan itu milik ibunya. Tapi sekuat apapun ia mencoba, ia tidak bisa. Jauh dilubuk hatinya, ia tahu bahwa daun telinga itu memang benar milik ibunya. Setelah semua yang terjadi, ia tahu bahwa orang itu mampu melakukan apapun. Bahkan hal- hal yang tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya.             Salah satu petugas polisi membuka kotak yang dilemparkan Kara ke atas meja. Pria terkejut mendapati sepotong daun telinga di dalamnya. Yang lainnya tak kalah terkejut.             Petra melirik Karin dan menyuruh ia membawa Kara keluar dari kantor polisi. Polisi meminta maaf pada pria itu karena masih belum menemukan titik terang untuk kasus ini. Polisi akan membawa kotak itu untuk di cek tim forensik.             Setelah mengobrol dengan polisi, ia kembali ke mobil dan melihat Kara menangis di kursi belakang. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Petra pikir, air mata gadis itu sudah habis. Saat menerima kotak itu, gadis itu histeris, lalu menangis sejadi- jadinya. Gadis itu mengeluarkan semua energinya untuk menangis. Ia meraung- raung, memikirkan bahwa potongan telinga dalam kotak itu benar- benar milik ibunya.             Petra menatap Karin yang mengisyaratkannya untuk masuk ke dalam mobil. Ia merangsek ke belakang kemudi dan menjalankan roda mobil kembali ke rumah. Keduanya membiarkan gadis di kursi belakang menangis, mengeluarkan semua kesedihannya. Petra dan Karin tak mengucapkan sepatah katapun. Membiarkan Kara menganggap keduanya tidak ada dan membiarkannya menangis demi melegakan sesak di dadanya.   ***               Karin mengetuk pintu kamar Kara lalu membukanya pelan. “Kara. Rayyan ada di depan.” Katanya. Wajah Kara menyembul dari balik selimut, matanya merah lengkap dengan kantung mata. Sepertinya gadis itu benar- benar menghabiskan air matanya semalaman.             Karin pergi ke dapur dan menaruh segelas teh hangat di atas meja. Rayyan mengucapkan terima kasih lalu mengucapkan keprihatinan karena kejadian yang menimpa Kara. Beberapa menit kemudian, Kara keluar dari kamar dan duduk di depan Rayyan. Gadis itu mengulas senyum tipis pada pria di depannya.             Rayyan menatap gadis di depannya. Gadis itu tak seperti Kara yang dikenalnya. Wajah gadis itu pucat pasi dengan raut wajah kelelahan dan mata merah juga kantung mata yang membuatnya tampak berbeda dari Kara yang biasa dilihatnya.             “Aku turut prihatin atas apa yang terjadi padamu.” Pria itu berdiri lalu duduk di sebelah Kara dan memeluknya. Menunjukkan bahwa ikut ikut bersedih atas apa yang menimpanya. Sebelah tangan pria itu terangkat untuk mengusap pundak gadis itu pelan.             Kara mengangguk lalu melepas pelukannya. “Kapan kamu pulang?” tanyanya.             “Seminggu yang lalu. Maaf aku baru sempat mengunjungimu.” Katanya.             “Tidak apa- apa.” Jawabnya. Mereka mengobrol ringan. Rayyan tak henti- hentinya mengungkapkan keprihatinannya dan menyuruh gadis itu menghubunginya jika membutuhkan bantuan apapun. Ia akan melakukannya jika bisa. Ia senang jika bisa menjadi orang yang gadis itu andalkan meskipun hubungan keduanya telah berakhir. Ia ingin tetap menjalin hubungan yang baik dan menyuruh gadis itu untuk tak sungkan jika membutuhkan bantuannya.             Kara tidak baik- baik saja. Sekeras apapun ia bilang baik- baik saja, ia tak memungkiri bahwa perasaannya campur aduk, sedih, takut, kalut dan semua rasa yang hanya ia yang bisa merasakannya. Sekeras apapun ia berbohong, matanya menunjukkan bahwa dirinya hancur.   ***               Kara masih di ruang tamu selepas kepergian Rayyan. Ia menatap bungkusan di depannya, oleh-oleh yang diberikan Rayyan untuknya. Petra menatap Kara dari ambang pintu kamarnya. Tatapan gadis itu kosong, wajahnya pucat karena tak makan dengan teratur, lingkar matanya menghitam karena tak tidur dengan cukup.             “Mau jalan- jalan keluar?” tanya Petra seraya mendekat. Kara menoleh, menggeleng lalu berdiri dan kembali ke kamarnya.             Petra keluar dari rumah. Ada satu mobil polisi yang parkir tak jauh dari rumah Kara. Kepolisian memutuskan untuk memberikan perlindungan pada Kara dan memantau daerah sekitar.             Petra menyalakan rokoknya dan berjalan di sekitar komplek. Langkah kakinya berhenti di sebuah rumah bernomor tiga puluh empat. Rumah yang beberapa hari terakhir dipantau oleh Gerald, sahabatnya. Ia menyandar di sebuah pohon besar tepat di seberang rumah itu.             Tak ada yang berbeda dengan rumah itu. Rumah itu tampak sepi dari luar, seperti rumah- rumah lainnya. Dengan gerbang yang menjulang tinggi dan tembok- tembok tinggi yang mengelilinginya, Orang diluar tak akan tahu apa yang terjadi di dalamnya.   TBC  LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN