CHAPTER SEMBILAN BELAS

1372 Kata
            Lima belas bulan sebelumnya,             “Aku tidak menginginkan anak itu. Gugurkan saja.” kata Pria itu sambil fokus pada jalanan. Gadis di sebelahnya menahan tangis.             “Aku nggak mau gugurin. Ini anak kita, mas.” Katanya dengan nada terbata- bata.             “Kamu sadar dong. Kamu ini selingkuhan. Kalau kamu mau ngelahirin anak itu, aku bisa kasih biaya untuk merawat, tapi kita putus hubungan. Aku nggak pernah mengharapkan anak dari hubungan gelap kita.”             Gadis itu mengusap air matanya. Ia tahu, mengandung anak ini adalah sebuah kesalahan. Hubungannya dengan pria di sebelahnya adalah hubungan rahasia yang tidak diketahui siapapun. Pria di sebelahnya adalah pria beristri dengan dua orang anak. Pria yang selalu tampak menyayangi istri dan anak- anaknya. Pria yang tampak sempurna di depan orang- orang. Ia tahu, ia tak seharusnya berharap pria itu mau menerima janin dalam kandungannya.   ***               Kara masuk ke dapur dan melihat Petra tengah sibuk di sana. Di atas meja makan sudah ada satu gelas berisi cokelat panas dan secangkir kopi. Petra membalik badan dan terkejut melihat Kara sudah berdiri diambang pintu dapurnya.             “Selamat pagi.” Sapanya sambil menaruh dua buah piring berisi nasi goreng di atas meja. Kara membalas lalu mendekat dan duduk di meja makan.             “Tidurmu nyenyak?” tanya Petra. Kara mengangguk sambil tersenyum. Ia mengambil gelas berisi cokelat dan menyesapnya pelan.             “Di mana temanmu?” tanya Kara yang tak melihat keberadaan Gerald.             “Dia sudah pergi bekerja.” Jawabnya singkat. “Makanlah, aku harap rasanya enak.” Kata Petra lalu menyuapkan sendok berisi nasi goreng buatannya ke mulut. Kara melakukan hal yang sama.             “Ini enak.” Puji Kara lalu mengunyah dan melanjutkan tiap suapan hingga isi piring itu tandas.             Kara duduk di ruang tamu dan menyalakan televisi. Sebuah acara gosip langsung terlihat di layar. Pembawa acara tengah membawakan berita mengenai kehilangan ibunya. Foto ibunya memenuhi hampir setengah layar. Wajah ibunya yang sudah dihiasi kerutan halus. Kini, semua orang bisa melihat dengan jelas wajah ibu yang sekian lama ia sembunyikan.             Kara tak punya pilihan lain. Ia sudah tak peduli apa yang orang pikirkan tentangnya. Yang ingin ia lakukan adalah menemukan keberadaan ibunya. Ia berharap ada orang yang bisa memberikan informasi yang akan mempermudah pencariannya.             “Apa yang mau kamu lakukan hari ini?” tanya Petra seraya duduk di sebelah Kara.             “Aku sudah menyuruh Karin mengumpulkan wartawan sore nanti. Aku akan mengadakan konferensi pers.” Katanya.             Petra menepuk pundak Kara sambil tersenyum, “kamu pasti bisa.” Katanya memberi semangat.             Entah sejak kapan, Kara merasa kehadiran Petra mempermudah semuanya. Ia tahu, tak seharusnya ia menyimpan perasaan pada pria itu. Ia jelas tak ingin mengulang kembali luka seperti ibunya. Ia tak ingin menjalin hubungan dengan pria beristri, secinta apapun ia pada pria itu. Ia berjanji, setelah semuanya terkendali dan keadaan kembali seperti semula, ia tak akan lagi mempekerjakan pria itu. Ia akan kembali ke kehidupannya yang membosankan. Itu jelas lebih baik dari pada lika- liku yang akan ia alami jika ia nekat berhubungan dengan pria beristri.   ***               Kara akhirnya menjelaskan semuanya. Semua berita yang simpang siur tentangnya. Ia duduk di depan puluhan wartawan. Puluhan kamera terfokus kepadanya, kilat blitz menerpa wajahnya, puluhan microphone ada di atas meja di depannya. Diapit oleh Petra dan Karin, Kara mengonfirmasi semuanya. Bahwa benar, ia lahir tanpa ayah, ibunya pernah menikah dengan pria beristri serta kematian adik dan ayah tirinya.             “Aku pernah menyewa perawat untuk merawat ibuku di rumah, tapi suatu saat, perawat itu lengah dan ibuku keluar dari rumah lalu tertabrak mobil. Beliau mengalami patah tulang dan harus menjalani operasi dan pemasangan pen. Sejak sembuh, aku berpikir bahwa rumah sakit adalah tempat yang paling aman saat itu. Ada perawat yang berjaga bergantian selama dua puluh empat jam. Beliau bisa di tangani dokter lebih intens. Beliau mendapatkan perawatan yang baik dan mengalami banyak kemajuan di rumah sakit. Saya pikir tindakan saya tepat.” terangnya.             “Saya memohon kepada seluruh masyarakat yang mungkin memiliki petunjuk apapun mengenai keberadaan ibu saya, informasi sekecil apapun dari kalian akan sangat membantu kami.” Katanya lagi.             “Sekali lagi, dengan segala kerendahan hati, saya meminta maaf atas apa yang terjadi akhir- akhir ini. Saya sadar sebagai public figur, masa lalu saya tak layak dijadikan contoh sehingga  saya memilih untuk menutup rapat- rapat masa lalu saya. Saya tak pernah memilih untuk lahir dengan kondisi seperti ini. Tapi saya bangga bisa melewati semuanya dan ada di sini sekarang. Saya mungkin pernah merasa malu karena lahir tanpa ayah, ataupun memiliki ayah tiri yang ternyata sudah beristri, tapi saya ada di sini karena diri saya sendiri. Saya masuk ke dunia entertain murni karena bakat, karena saya bisa dan saya sanggup.”             Kara mengakhiri klarifikasinya. Ia berdiri lalu menunduk sedikit di hadapan para wartawan, ia membiarkan para wartawan mengambil gambarnya sebanyak mungkin.   ***               Kara kembali ke rumahnya. Sudah tak ada lagi wartawan di sekitar rumahnya. Ia harus mengakui bahwa perasaan kini sedikit lega. Ia tak lagi menyembunyikan apapun. Kini semua orang tahu ia seperti apa. Biarkan orang- orang menilainya, seburuk apapun masa lalunya, itu tidak akan menutupi fakta bahwa Kara aktris yang berbakat, ia sudah membintangi puluhan judul Film, belasan sinetron, Ftv, mengeluarkan album yang meledak di pasaran. Seburuk apapun masa lalunya, orang- orang toh tetap menikmati karya- karyanya. Seburuk apapun masa lalunya, Kara tak pernah berubah, ia tetap menjadi Kara Karenina yang baik dan pemurah.             Petra masih berada di mobil saat sampai di rumah Kara. Kara dan Karin sudah masuk ke dalam rumah sedangkan Petra merogoh sakunya dan membuka kembali video yang di kirimkan Gerald kemarin.             Dalam video yang direkam secara diam- diam itu terlihat seorang wanita cantik masuk ke dalam mobil, suara security terdengar berbicara dengan Gerald hingga akhirnya gerbang di buka lebar untuk mempersilakan mobil hitam itu keluar. Rekaman itu diambil di salah satu rumah di deretan rumah Kara. Salah satu rumah yang dicurigai tempat pengantar salah satu kotak teror Kara yang tak terekam kamera pengawas di tikungan komplek.             Petra mengenal wanita itu. Salah satu artis juga. Yasmin.   ***               “Rumah itu bukan rumahnya. Aku memantau rumah itu berhari- hari dan ia tak pernah kembali lagi sampai sekarang.” Kata Gerald dalam pesan singkatnya. “aku sudah mengecek plat mobilnya, namun terdaftar bukan atas namanya.”             Petra tampak berpikir, bisakah Yasmin dicurigai ada dibalik semua ini? Jika memang benar, apa motifnya? Apakah pengantar kotak itu juga masuk ke dalam rumah yang sama? Kalau memang benar, adakah kemungkinan ibu Kara ada di dalam rumah itu juga?             Petra menggeleng- gelengkan kepalanya, bukti- bukti itu masih begitu kasar dan ia tidak mau gegabah. Bisa saja keberadaan Yasmin hanya sebuah kebetulan, bisa saja rumah itu bukan rumah yang didatangi pengantar paket setelah mengantar paket teror untuk Kara.             Petra keluar dari mobil dan menatap Kara yang terdiam menatap sebuah benda di tangannya.             “Ini anting ibuku.” Katanya dengan nada lirih. “aku yakin, ini anting yang dipakai ibuku.” Kara mendongak dan menatap Petra dan Karin yang ada di depannya secara bergantian.             “Kamu yakin?” Petra mendekat dan mengambil benda kecil dari tangan gadis di depannya.             “Kenapa anting itu bisa ada di tasmu?” Karin tak kalah bingung.             “Seseorang pasti memasukkannya tanpa sepengetahuanmu.” Petra menaruh benda kecil itu di atas meja. Bibir Kara bergetar, tubuhnya mematung.             “Bisakah kita melacaknya melalui CCTV tempat konfrensi pers tadi?” tanya Petra pada Karin.             “Di toilet.” Kata Kara. Ia menatap Petra, “aku yakin wanita paruh baya yang kutemui di toilet.” Lanjutnya. “dia menabrakku dan menumpahkan air mineral yang dibawanya ke bajuku. Aku mengelap bajuku dengan tisu dan menaruh tasku di dekat westafel. Aku yakin dia.” Kata Kara dengan nada lirih. Bayangan saat ia bertemu dengan wanita paruh baya itu berputar diotak kecilnya. Tak ada yang aneh dan berbeda dari wanita paruh baya itu. Semua yang terjadi terasa alami dan tak dibuat- buat.             “Sepertinya ada CCTV di lorong kamar mandi. Mungkin kita bisa mengeceknya darisana.” Petra menatap Karin yang langsung mengangguk.              “Aku akan menelepon manager hotel dan meminta izin untuk melihat rekaman CCTV.” Katanya lalu bangkit dari kursi dan sibuk mengutak- atik ponselnya.             Petra menatap Kara yang masih di depannya. Gadis itu terdiam, pandangannya kosong. Petra menghela napas lalu bangkit dan duduk di sebelahnya.             “Bertahanlah sedikit lagi.” Petra mengusap pundak gadis itu.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN