Iya, saya kenal. Dia menjadi tetangga saya selama beberapa tahun. Kara lahir tanpa ayah. Lalu ibunya menikah lagi dan ternyata pria itu masih memiliki istri. Adiknya meninggal di bunuh oleh orang gila dan ayahnya meninggal karena kecelakaan mobil. Setelah kehilangan anak dan suaminya, mental ibunya memang agak terganggu. Kita tidak pernah dengar lagi kabarnya karena mereka pindah entah ke mana. Kita bahkan tidak tahu kalau artis itu adalah Nina, tetangga kita. Dia terlihat berbeda.
Seorang wanita paruh baya menjelaskan apa yang ia tahu mengenai keluarga Kara pada wartawan yang meminta informasi padanya. Wanita itu menceritakan dengan gamblang apa saja yang terjadi dengan masa lalu Kara. Wanita itu membeberkan semuanya dengan percaya diri.
Empat pasang mata di sana menatap layar televisi. “Masa lalu Kara Karenina terungkap. Lahir tanpa ayah hingga ibu perebut suami orang.” Keempat orang itu menahan kesal melihat berita yang beredar. Bagaimana masa lalu Kara diumbar hingga ke akar- akarnya.
Berita itu masih tayang saat tiba- tiba Kara keluar dari kamar. Sandra langsung mengambil remote dan mematikan layar. Kara menatap Sandra, Kinan, Karin dan Petra yang tampak kikuk.
“Wanita itu tidak berubah. Masih saja banyak bicara.” Kata Kara, mengindikasi kalau ia mengenal baik wanita yang tengah di wawancarai. “Wanita itu sepertinya masih hobi mencampuri urusan orang lain.” Kara membawa gelas berisi air di tangannya dan duduk di depan kedua sahabatnya.
“Setelah bertahun- tahun tidak bertemu, aku tidak menyangka akan melihatnya di televisi dan membeberkan masa laluku kepada wartawan.” Kara meneguk isi dalam gelasnya. “dia melakukannya dengan sangat baik.”
“Kara, aku turut prihatin atas apa yang terjadi dengan ibumu.” Kata Kinan, Sandra mengangguk dengan wajah menyesal.
Kara tersenyum kecut lalu menandaskan isi gelasnya tepat saat pintu utama terbuka. Samuel ada dibaliknya.
“Polisi belum menemukan tanda- tanda keberadaan ibumu.” Katanya tepat saat berhasil mendudukan diri di sebelah Sandra. “Polisi juga sudah mengintrogasi Pak Hendrawan dan menyimpulkan bahwa pria itu tak ada kaitannya dengan ancaman yang dikirim padamu.” Katanya.
“Tersangka memang pernah bekerja dengan pak Hendrawan selama belasan tahun sebagai supir pribadi. Berlian itu diberikan kepada tersangka saat tersangka memutuskan berhenti beberapa tahun lalu sebagai kenang- kenangan.” Jelasnya. “mungkin tersangka memberikannya berlian itu pada anaknya.”
Semuanya memerhatikan penjelasan Samuel baik- baik. “keduanya tak pernah kontak setelah tersangka keluar dari pekerjaannya.”
“Kenapa dia keluar dari pekerjaanya?” tanya Petra.
“Dia bilang istrinya sakit dan ia ingin merawatnya.” Jawab Samuel.
“Istrinya sakit, alih- alih menjual berlian itu, ia malah memberikan pada anaknya. Darimana ia mendapat uang untuk hidup dan berobat istrinya?” Petra menatap Samuel.
“Dia mendapat uang cukup besar sebagai ucapan terima kasih dari Hendrawan dan memilih bekerja sebagai supir perusahaan tak jauh dari rumahnya.” Jelas Samuel, “bekerja untuk Hendrawan menyita begitu banyak waktunya, sedang menjadi supir perusahaan jam kerjanya lebih teratur dan bisa membuatnya pulang ke rumah setiap hari.”
Kara mengangguk mendengar penjelasan Samuel. “Mungkin memang bukan dia yang ada di balik semua ini.” Kata Kara lalu berdiri dan menoleh ke arah Petra. “Tolong siapkan mobil.” Katanya lalu masuk ke dalam kamarnya. Petra berdiri dan menuruti perkataan Kara.
“Aku akan berkeliling. Aku tidak bisa diam saja menunggu hasil dari kepolisian. Paling tidak, aku juga harus bergerak.” Katanya saat sahabatnya bertanya akan ke mana ia.
“Kita juga akan melakukannya. Aku akan pergi bersama Samuel, Karin dengan Kinan. Bagaimana?” Sandra menatap Kinan dan Karin yang mengangguk setuju.
Kara mengangguk, “Terima kasih.” Katanya lalu keluar dan menemui Petra di mobilnya.
“Wartawan kembali berkumpul saat berita wawancara itu muncul di salah satu media.” Kata Petra sambil menoleh pada Kara yang kini duduk di sebelahnya.
Kara menarik napas panjang lalu menoleh pada Petra dan tersenyum. “Aku boleh memilih untuk tidak melakukan klarifikasi apapun. Kita hanya perlu menembus barikade wartawan yang berkuumpul di depan.” Kata Kara dengan nada yakin. Petra mengngguk setuju.
Petra menekan pedal gas hingga roda mobil mulai berputar. Sesaat setelah gerbang di buka, para wartawan langsung berkerumun mendekati mobilnya. Sebagian menghalangi jalan sehingga Petra harus berhenti dan kembali menjalankan mobil dengan sangat pelan. Semua kamera wartawan terarah pada Kara dan Petra. Mereka mengetuk pintu, kaca dan semua yang terjangkau. Mereka meneriakkan pertanyaan- pertanyaan yang sama sekali tak ingin Kara jawab.
Petra terus menjalankan mobilnya dengan pelan hingga akhirnya bisa melewati kerumunan itu dan melaju dengan normal di jalanan komplek rumah Kara.
“Kita harus ke mana?” tanya Petra.
“Kita mulai ke sekitar rumah sakit.” Katanya. Kara masih tidak bisa menemukan kemungkinan kehilangan ibunya. “Mati lampu itu di sengaja bukan?” Kara menatap Petra yang terdiam. “ibuku pasti di culik, kan?” Kara mencoba menggali pendapat Petra.
“Mungkin. Dengan pengawasan yang ketat di rumah sakit itu, tidak mungkin ibumu berkeliaran seorang diri.” Jawab Petra.
“Tersangka rela bunuh diri demi merahasiakan dalang di balik semua ini. Orang itu mencari orang yang tepat. Seseorang yang sudah ditinggal anak dan istrinya.” Kata Kara, “kalau bukan Hendrawan yang ada di balik ini semua, kenapa dari awal potongan surat kabar mengenai dirinya selalu ada di dalam kotak.” Kara tak habis pikir. Semuanya membuatnya bingung. Apa kesalahannya hingga ia berhak mendapat ini semua.
Tanpa petunjuk apapun, yang mereka lakukan hanya berkeliling. Kara tidak tahu, keputusannya untuk menyembunyikan berita kehilangan ibunya tepat atau tidak. Berita tentangnya masih terus bergulir dan entah sampai kapan akan berhenti. Banyak wartawan yang pergi ke rumah masa kecilnya, mewawancarai tetangganya satu persatu dan mengorek habis tentang kehidupannya. Semuanya ikut terseret, ibunya, juga mendiang adik dan ayahnya. Semuanya muncul di berita, bagaimana adiknya meninggal, juga bagaimana kecelakaannya terjadi. Semuanya dikorek hingga ke akar- akarnya.
Masa lalu yang disimpan Kara rapat- rapat kini terbongkar. Tak ada lagi yang bisa ia rahasiakan dari hidupnya. Kini, orang seluruh negeri tahu kisah pilu hidupnya. Anak yang lahir tanpa ayah, ibu yang di cap perebut suami orang dan kini ibunya tinggal di rumah sakit jiwa. Kara kini menjadi artis paling menyedihkan. Banyak orang bersimpati, namun tak sedikit juga yang menghujatnya. Kara yang dulu menjadi panutan kini tak lebih dari artis dengan masa lalu yang buruk. Tak semua penggemar bisa menerima keadaannya.
Kara terus menatap keluar jendela. Menatap lalu lalang manusia dan mobil dalam pandangannya. Semuanya tampak baik -baik saja. Dirinya sedang begitu sedih dan dunia tetap baik- baik saja tanpa dirinya. Benar kata Petra, waktu tidak akan berhenti untuk menunggunya bangkit. Waktu terus berjalan meskipun ia sedang tidak baik- baik saja.
***
Petra sedang berada di restoran saat ponselnya berdenting. Ia membukanya dan melihat pop up pesan dari Gerald. Tak membuka pesan, ia kembali menutup ponsel dan fokus pada makanannya. Kara ada di depannya, menyantap makanannya tanpa selera. Pencarian mereka seharian ini tidak membuahkan hasil apapun, begitu juga Karin, Sandra dan Kinan.
“Haruskah aku memberitahu berita kehilangan ibuku?” tanya Kara tiba- tiba. “Kalau semua orang tahu, aku bisa membuat brosur, atau mungkin menyebarkan berita di internet. Mungkin ibuku bisa ditemukan dengan cara itu.” Lanjut Kara. Petra diam, tampak berpikir namun tak memberikan jawaban apapun. Kara tahu, keputusan itu sepenuhnya ada di tangannya.
Kara menatap Petra lalu menarik napas panjang. Ia akhirnya membuat keputusan. Ia menyuruh Karin memberitahukan berita kehilangan ibunya. Tak butuh waktu lama, puluhan artikel mengenai kehilangan ibunya terbit di internet. Pihak rumah sakit, polisi dan dirinya sendiri kini diburu para kuli tinta. Sekali lagi, Kara Karenina menjadi sosok yang paling banyak di cari di kolom pencarian. Namanya trending di media sosial dan beritanya ditampilkan dihampir seluruh stasiun televisi.
Kara Karenina mengonfirmasi bahwa berita yang beredar adalah benar. Wanita dalam foto- foto itu adalah ibunya. Namun, kemarin, ibunya dilaporkan hilang oleh pihak rumah sakit. Kini polisi tengah mencari keberadaan ibu Kara. Bagi kalian yang melihat orang dalam foto di samping, bisa melapokan ke kantor polisi terdekat atau menghubungi kontak yang tertera.
***
“Masuklah.” Kata Petra sambil menghela Kara masuk ke dalam rumahnya. Para wartawan masih berkerumun di sekitar rumah Kara hingga akhirnya ia memilih untuk menginap di rumah Petra. Ia tahu ia tak akan bisa terus menerus menghindari wartawan, ia akan menghadapi mereka, tapi tidak sekarang.
“Mana istrimu?” tanya Kara saat Petra mempersilakannya duduk.
“Aku tidak tinggal dengannya.” Jawab Petra. Kara membulatkan mulutnya. Ternyata itu alasan Petra menerima pekerjaan ini. Karena pria itu tak tinggal dengan istrinya.
“Kamu hanya tinggal dengan Gerald?” tanyanya lagi saat Petra menaruh segelas air di meja di depanya. Pria itu mengangguk. Kara menatap sekeliling. Rumah sederhana itu tampak rapi karena tak banyak barang di dalamnya.
Setelah membereskan kamarnya yang akan ditempati Kara, Petra menyuruh Kara beristirahat. Kara masuk ke kamar itu dan menjatuhkan diri di ranjang berukuran sedang dengan bedcover warna hitam. Ia memiringkan tubuhnya dan menatap ke nakas di sebelahnya. Tangannya terulur untuk mengambil sebuah bingkai yang ada di sana. Ia tersenyum, menatap Petra dan seorang wanita dalam foto itu. Wanita berkulit kuning langsat dengan rambut panjang melewati bahu. Wanita itu tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya dengan sebalah tangan melingkar di lengan Petra yang juga tersenyum. Mereka berfoto di sebuah pantai. Air yang berwarna biru terlihat begitu indah dengan gambaran tebing di sampingnya.
“Istrinya cantik.” Gumamnya lalu mengembalikan bingkai itu ke tempat semula. Kara kembali terlentang dan menatap langit- langit kamar Petra. Dia tidak tahu akan ada kejutan apa lagi ke depannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah bertahan.
TBC
LalunaKia