CHAPTER TUJUH BELAS

1525 Kata
            Karin terus menaikkan angka di spidometer. Ia membunyikan klakson beberapa kali untuk mendapatkan jalan. Tak peduli beberapa pengguna jalan memakinya dengan keras. Kara masih menangis di sebelahnya. Pagi ini, mereka mendapat telepon dari rumah sakit yang bilang bahwa ibunya hilang. Kara kehilangan akal. Gadis itu menangis meraung- raung hingga tak sadarkan diri.             Karin masih fokus pada pada jalanan. Kedua tangannya memegang setir kuat- kuat hingga akhirnya ia bisa menghentikan mobilnya di pelataran rumah pemulihan jiwa. Semua petugas menyambutnya dengan tatapan bersalah. Kepala rumah sakit yang sudah dikenalnya langsung membawanya ke ruangan. Kara meminta penjelasan bagaimana mungkin ibunya bisa hilang dan tidak ada yang tahu.             “Kemarin malam, listrik mati, dan saat menyala, Ibu Fani sudah tidak ada di kamarnya. Kami sudah mencari sekeliling namun belum membuahkan hasil.” Jelas kepala rumah sakit.             Air mata Kara mengalir lagi. Ia tidak bisa membayangkan ibunya ada di mana saat ini. Ia tidak berani membayangkan apa yang akan di alami ibunya di luar.             “Kami ingin melaporkan kehilangannya ke pihak kepolisian. Kami ingin meminta izin dari Bu Kara.” Kata pria itu.             Pikiran Kara kosong. Ia menatap Karin yang mengangguk pelan. Tidak ada yang bisa Kara lakukan selain menangis. Ia tak pernah merasa sehancur ini. Apa yang akan ia lakukan jika ibunya tidak di temukan? Bisakah ia kembali melanjutkan hidupnya? Saat ia bertahan hidup untuk ibunya, haruskah ia menyerah sekarang?             Pihak rumah sakit akhirnya melaporkan kehilangan Fani ke pihak kepolisian atas seizin gadis itu. Kara keluar dari ruangan dengan langkah gontai. Di depannya, ia melihat Petra menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Pria itu mengusap punggungnya saat Kara sampai di depannya.             “Kenapa kamu datang?” tanya Kara masih dengan nada terisak.             “Aku harus.” Jawabnya sambil menghela Kara kembali ke mobilnya. Petra mengantar Kara dan Karin kembali ke rumah. Kara langsung masuk ke kamarnya saat sampai di rumah. Ia sudah tak menangis tapi hatinya masih sedih hingga terasa sesak. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap kosong langit- langit kamarnya.   ***               Hari sudah menjelang malam saat Karin keluar dari kamar Kara dengan nampan berisi makan siang yang masih utuh. Ia menatap Petra yang ada di ruang tamu lalu menggeleng. Kara tak menyentuh makanannya sama sekali. Gadis itu hanya memejamkan matanya di atas ranjang namun tidak benar-benar tertidur. Pikirannya campur aduk, tubuhnya lelah, ia bahkan tak punya tenaga lagi untuk menangis.             Ia hanya terus menerus mengumamkan doa kepada Tuhan agar Tuhan menjaga ibunya. Agar ibunya baik- baik saja dan semoga ibunya segera ditemukan. Ia tahu, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika terjadi apa- apa dengan ibunya.             Pintu kamarnya kembali di ketuk. Kara tak mau repot- repot membuka mata dan membiarkan orang di luar masuk ke kamarnya. Ia bisa mendengar suara derap langkah, suara kursi yang ditarik mendekat ke ranjangnya hingga sebuah sentuhan pelan di rambutnya.             Kara membuka mata. Sepasang manik mata serupa jelaga menyapanya.             “Kamu butuh makan.” kata Petra. Kara menggeleng.             “Mana mungkin aku bisa makan sementara ibuku mungkin kelaparan diluar sana.” lirih Kara dari balik selimutnya. “aku akan merasa sangat jahat jika masih merasa baik- baik saja padahal aku tidak tahu apa yang terjadi ibuku diluar sana.” Kara bisa mendengar Petra menghela napas pelan.             “Aku tahu ini tidak mudah. Tapi kamu harus tetap sehat untuk melewati ini semua.” kata Petra. Kara kembali menggeleng pelan. Ia menarik selimut hingga menutupi dadanya.             “Tinggalkan aku sendiri.” usirnya dengan halus. “aku tidak ingin apapun. Aku hanya butuh kabar dari pihak kepolisian mengenai keberadaan ibuku.” katanya lagi. Petra tak bergerak dari kursinya saat Kara kembali memejamkan mata. Ia masih duduk di sana. Memerhatikan wajah gadis itu yang tampak pucat.             “Aku akan membuatkan mie instan kesukaanmu.” kata Petra lalu berdiri dan keluar dari kamar. Kara tak peduli. Ia memiringkan tubuhnya dan menatap fotonya ibunya di atas nakas.             Tak berselang lama, pintu kamar Kara kembali di buka. Petra masuk dengan mangkok di atas nampan di tangannya. Untuk pertama kalinya, Kara sama sekali tak tergugah saat mencium aroma makanan kesukaannya.             Petra menaruh nampannya di atas nakas. Kara meliriknya tanpa selera.             “Aku hanya mau sendiri. “ Kara menatap Petra dengan tatapan memohon. Petra terlalu banyak melihat kerapuhannya. Petra selalu melihat apa yang selalu ia ingin sembunyikan dari orang lain. Ia tak ingin Petra melihatnya lebih dalam lagi. Ia tahu bahwa ia tak bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan pada pria itu. Pria itu sejak awal sudah tahu bahwa Kara kesepian, Kara rapuh dan Kara tak sekuat yang orang- orang lihat di layar televisi.             Petra akhirnya menyerah, ia mengangguk pelan lalu berdiri dan keluar dari kamar. Memberikan waktu sebanyak apapun yang dibutuhkan gadis itu.             Ia menatap Karin yang menunjukkan wajah cemas saat ia keluar dari kamar Kara. Gadis itu duduk di sofa ruang tamu dan terus memantau media sosial dan berita di televisi, memastikan bahwa berita kehilangan ibu Kara tak bocor ke media. Keadaan Kara sudah rumit, orang- orang tak henti- hentinya berspekulasi dengan apa yang terjadi dengan ibu Kara, dan alasan kenapa Kara lebih memilih menaruh ibunya di rumah sakit jiwa. Banyak orang yang menyayangkan sikap gadis itu. Orang berpikir kenapa saat Kara dilimpahi begitu banyak materi, ia malah tega menaruh ibunya di rumah sakit jiwa. Dengan uang yang ia miliki, ia jelas bisa menyewa perawat untuk menjaga ibunya. Orang- orang berpikir bahwa Kara memang tidak mau merawat ibunya. Mereka pikir Kara adalah anak durhaka yang tidak peduli pada ibunya. Semua- semua komentar jahat itu dituliskan oleh orang- orang di media sosial, di berbagai kolom komentar postingan yang memberitakan keberadaa ibu Kara di rumah sakit jiwa. Mereka menulis tanpa berpikir, mereka menulis tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka tak sadar jari- jari mereka melukai hati.             Petra masih terjaga di ruang tamu saat jam menunjukkan lewat tengah malam. Karin sudah masuk ke kamarnya satu jam yang lalu setelah sebelumnya menceritakan perihal kedatangan polisi kemarin. Kali ini, tuduhan terarah pada Isvari Hendrawan. Ia menghela napas panjang, ia akhirnya mencoret nama Rayyan dari daftar orang yang ia curigai. Setelah mengingat bukti yang ditemukan Gerald, mungkin Rayyan memang bukan orang yang ia cari. Juga bukan orang dibalik semua ini. Rasa sakit hati karena ditolak tak cukup untuk membuatnya melakukan ancaman seperti ini.             Jam menunjukkan pukul dua malam saat Petra mendekati pintu kamar Kara dan membukanya pelan. Gadis itu berdiri di depan jendela, tirai di kamar itu di buka dan tatapan gadis itu terlempar keluar. Ia melirik mangkok di atas meja yang letaknya tak berubah sejak ia tinggalkan tadi. Ia menutup kembali pintu dan pergi ke dapur untuk membuat cokelat hangat.             Kara masih menatap ke luar jendela saat Petra kembali masuk dengan segelas cokelat hangat di tangannya. Kara menoleh saat ia mendekat.             “Pulanglah, kamu harusnya cuti selama aku tak ada kegiatan.” Kata Kara dengan nada datar dan dingin. Ia berbalik dan duduk di pinggir ranjang.             “Aku tak punya banyak kegiatan di rumah. Lebih baik aku di sini.” Jawab Petra sambil duduk di kursi tepat di depan Kara.             “Kamu harusnya menghabiskan banyak waktu dengan istrimu selagi bisa.” ujar Kara.             “Ya. Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi, aku akan menghabiskan lebih banyak waktu untuknya.” Jawab Petra. Kara menatap Petra dengan bingung, namun tak bertanya lebih lanjut.             Petra mengulurkan gelas dan Kara mengambilnya. Ia meneguknya pelan. “Mungkin kata orang-orang benar. Dengan uang yang aku punya, harusnya aku merawat ibuku di rumah, bukan malah menaruhnya di rumah sakit jiwa.” Lirih Kara lalu kembali meneguk isi gelasnya. Ia membaca semua komentar- komentar di media sosial. Meskipun ia punya alasan khusus mengapa menaruh ibunya di rumah sakit jiwa, ia tak memmungkiri bahwa komentar itu ada benarnya, bahwa rumah harusnya menjadi tempat paling aman bagi ibunya. “atau  seandainya aku sedikit lebih cepat mengeluarkan ibuku dari sana, ini tidak akan terjadi.” Kara menunduk, menatap gelas dalam genggamannya yang sudah kosong.             “Harusnya saat berita keberadaan ibuku keluar, aku langsung menjemputnya. Hari itu, aku tak sanggup melewati wartawan yang berkumpul di sekitar rumah dan sekitar rumah sakit jiwa. Aku terlalu takut menghadapi mereka dan inilah yang terjadi.” Mata gadis itu berkaca- kaca. “aku seharusnya bisa melindungi ibuku jika aku bergerak lebih cepat. Aku harusnya melakukan itu.” Sebulir air mata gadis itu jatuh. Petra mengangkat sebelah tangannya dan mengusap pipi Kara yang mulai menangis.             “Aku harusnya tak menjadi pengecut.” Petra melihat bibir Kara bergetar, mencoba menahan tangisnya yang sudah pecah. Petra mendekat lalu mengusap pundak gadis itu pelan.             “Kamu korban, tak seharusnya kamu menyiksa diri dengan pikiran- pikiran seperti itu.” Kata Petra. Ia menatap Kara tepat ke manik matanya. Tangannya terulur untuk mengusap pipi gadis itu. “aku tahu ini tidak mudah, tapi bertahanlah.” Kata Petra.             Kara mengambil tangan Petra dan mengenggamnya erat. “Terima kasih karena ada di sini.” Lirihnya. Petra mengusap tangan Kara dengan sebelah tangannya yang bebas sambil tersenyum.             “Kamu tidak perlu selalu terlihat kuat. Kamu boleh rapuh dan menangis sesekali, tapi pastikan kamu bangkit setelah itu.” Kata Petra. Ia meremas tangan Kara sambil tersenyum.             “Tidurlah. Waktu tidak akan berhenti untuk menunggu kamu bangkit.” Petra mengusap rambut Kara lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Kara menatap punggung Petra hingga menghilang di balik pintu. TBC LalunKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN