CHAPTER ENAM BELAS

1920 Kata
            Kara terbangun dengan rasa pusing di kepalanya. Ia menatap langit- langit kamarnya dan memijit kepalanya yang masih terasa sakit. Setelahnya, ia mencoba mengingat apa yang terjadi kemarin.             “Ah, aku mabuk kemarin.” Ingat Kara. Ia bangun dari ranjang dan mengambil gelas yang isinya tersisa setengah dan meneguknya hingga habis. Ia masih memegang gelas saat sebuah ingatan tiba- tiba muncul. Gelas itu meluncur dari tangannya dan membentur lantai marmernya, serpihan gelas berserak di dekat kakinya. Ingatan saat ia mencium Petra tadi malam berkeliling diotaknya.             “Aku pasti sudah gila.” Ia memukul kepalanya. Merutuki kebodohannya. “aku pasti sudah gila.”             “Ada apa?” Karin masuk ke kamar Kara dan terkejut melihat pecahan gelas. “kenapa?” tanyanya lagi saat melihat Kara kembali menjatuhkan diri di ranjang dan menutup semua tubuhnya dengan selimut.             Karin membereskan pecahan gelas sementara Kara sibuk merutuki kebodohannya.             Aku tidak suka dicium saat mabuk. Kalimat itu tiba-tiba muncul dalam ingatan Kara. Ia memijit kepalanya di dalam selimut. Apa benar Petra bilang seperti itu? Atau ia bermimpi?.             Kara mengeluarkan kepalanya dari selimut dan melihat Karin masih mengumpulkan pecahan gelasnya. Kedua tangan gadis itu secara lincah memunguti pecahan dan menaruhnya di atas sebuah koran yang ia ambil dari salah satu lemari di kamar itu.             “Di mana Petra?” tanyanya dengan nada pelan.             “Dia sudah pergi pagi- pagi sekali. Ini hari pertama dia cuti.” Jawab Karin. Kara mengembuskan napas lega lalu menyingkirkan selimutnya. Karin menghentikkan kegiatannya lalu menatap Kara dengan tatapan menyelidik.             “Ada sesuatu di antara kalian?” Tanya Karin.             “Tidak ada.” Sentak Kara yang langsung membuat Karin tertawa.             “Ada pun tidak apa- apa. Kalian sudah dewasa.”             “Dia suami orang.” Kara melotot pada Karin yang langsung terdiam.   ***               Petra yang sedang berada di kamar terkejut saat Gerald memanggilnya dengan keras. Petra bergegas keluar dari kamarnya.             “Petra...cepat ke sini.” Sentak laki-laki itu saat melihat Petra berdiri diambang pintu.             “Ada apa?”             “Lihat.”             Seorang wanita paruh baya yang berada di rumah pemulihan jiwa diketahui ibu dari artis Kara Karenina. Dalam foto- foto yang diunggah oleh seorang wartawan di beritanya, Kara Karenina terlihat menghabiskan waktu di taman rumah sakit. Sampai saat ini, pihak rumah sakit dan pihak Kara belum juga bisa dimintai keterangan mengenai kondisi sang ibu.             Petra menatap layar televisi di depannya. Ia menatap foto- foto Kara yang sedang bersama ibunya yang ditampilkan di layar. Foto- foto itu tampak jelas dan sepertinya diambil dari dalam rumah sakit dengan jarak yang tak begitu jauh.             “Wah, ini sudah benar- benar keterlaluan.” Kata Gerald sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.             “kenapa mereka selalu menyeret anggota keluarga demi memenuhi isi perut mereka? Apa mereka tidak bisa mencari berita lain?” lanjutnya. Keduanya menatap foto- foto yang di tampilkan, yang hampir memenuhi setengah layar.             Di tempat yang berbeda, Kara tak kalah terkejutnya kala membaca berita yang mengupas semua tentang ibunya. Pandangannya teralihkan saat pintu kamarnya di buka.             “Banyak wartawan di luar.” Kata Karin dengan nada panik.             “Minta pihak rumah sakit untuk tak memberikan penjelasan apapun . Lalu minta rumah sakit mengurus surat kepulangan mama. Kita akan membawa mama kembali besok.” kata Kara. Karin mengangguk lalu melaksanakan semua perintah Kara.             Kara menutup ponselnya dan menghabiskan seharian di dalam kamar. Para wartawan masih berkumpul di depan rumahnya, entah darimana mereka tahu keberadaannya, ponsel Karin tak berhenti berdering. Kara merebahkan diri di kasurnya meskipun matanya tak bisa terpejam.             Ia berpikir, apa yang kini orang pikirkan tentangnya. Kenapa ibunya di rumah sakit jiwa sedangkan dia hidup mewah? Kenapa dia menyembunyikan ibunya? Apa dia malu karena ibunya gangguan jiwa?             Pikiran Kara membawanya ke beberapa tahun lalu. Selepas kematian ayahnya karena kecelakaan dan kondisi ibunya yang mulai mengalami gangguan jiwa, Kara pergi ke ibukota berbekal tabungan yang ditinggalkan ayahnya. Kara yang baru lulus SMP memutuskan untuk pergi karena lingkungan sekelilingnya yang terasa semakin toksik. Kara tak bisa melanjutkan sekolah dan memilih bekerja. Selama bekerja, ibunya dititipkan pada tetangga yang bersedia menjaganya dengan imbalan uang. Kara bekerja lebih dari sepuluh jam sehari. Pagi, ia menjadi pengantar koran, lalu menjadi penjaga toko, sales event sampai tukang cuci piring di sebuah restoran yang bisa memberikannya makan setiap ada makanan yang tidak laku di jual.             Kara tak punya waktu untuk meratapi nasibnya. Waktu tidak akan berhenti berputar jika ia menangis dan tidak ada yang peduli padanya. Ia menabung bertahun- tahun demi bisa melanjutkan sekolah dan memberikan pengobatan yang layak untuk ibunya             Hingga akhirnya ia tak sengaja bertemu dengan Karin. Gadis itu sedang berdiri di atas jembatan penyebrangan. Matanya menatap ke bawah. Menimang apakah ia berani jika harus meloncat ke sana. Kara yang baru saja pulang kerja dan melewati jembatan yang sama memerhatikan gadis itu hingga akhirnya menghampirinya. Kara masih ingat pembicaraan mereka.             “Kamu belum tentu langsung mati jika menjatuhkan diri.” kata Kara. Karin menoleh, Kara bisa melihat mata gadis itu yang sembab. “Tubuhmu mungkin hancur, tapi kamu belum tentu mati, mungkin koma, atau malah cacat.” kata Kara. Keduanya menatap lalu lintas di bawah jembatan yang tak begitu ramai.             Mereka berdua akhirnya mengobrol. Karin bercerita bahwa ia baru saja menjadi korban perampokan dan pelecehan seksual. Uang yang akan ia gunakan untuk membayar uang kuliah dan biaya pengobatan adiknya yang sedang sakit di rampok dan ia hampir di perkosa. Ia tak ingin pulang ke rumah dan sekelebat, ada keinginan untuk bunuh diri, makanya ia ada di sana. Ia sudah mencoba lapor polisi namun ia tahu, bahwa mengharapkan uang itu kembali dan pelakunya tertangkap bukan pilihan yang baik.             Kara memeluk Karin tanpa rasa canggung saat gadis itu menyelesaikan ceritanya. Ia merasa seperti sudah begitu mengenal Karin sehingga tangannya terulur begitu saja untuk memeluk gadis itu. Ia seperti melihat dirinya yang lain. Gadis yang tengah putus asa. Hanya saja Kara sedikit lebih kuat. Ia akhirnya memberikan Karin sebagian dari uang tabungannya untuk biaya kuliah gadis itu dan biaya pengobatan adiknya yang tengah sakit. Ia juga memberikan uang untuk Karin dan menyuruh gadis itu pergi ke psikiater karena merasa gadis itu penuh tekanan.             Keduanya menjadi dekat setelah itu hingga memutuskan untuk tinggal bersama. Kara pindah ke rumah Karin sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk sewa, kedua adik Karin juga bersedia menjaga ibunya bergantian. Untuk sementara Kara menjadi tulang punggung untuk empat kepala di rumah itu sampai Karin mendapat pekerjaan baru karena kontraknya habis di tempat Kerjanya yang lama. Kedua orangtua Karin sudah meninggal empat tahun yang lalu karena kecelakaan.             Kara menemukan lagi kehangatan sebuah keluarga. Adik- adik Karin yang duduk di bangku SMA dan SMP juga dekat dengannya. Keduanya tak pernah mengeluh membantunya mengurus ibunya.             Hingga akhirnya Kara secara tak sengaja mendapat tawaran menjadi figuran di sebuah FTV. Untuk dirinya yang hanya lulus sekolah menengah pertama, pekerjaan itu terasa mudah dengan bayaran yang lumayan. Karin yang kebetulan sudah menyelesaikan kuliahnya mulai membantu Kara menerjuni dunia entertain. Karin tak segan mendekati orang lapangan demi mendapatkan peran untuk Kara. Kara akhirnya lebih sering menjadi figuran di sela- sela waktunya yang kosong. Ia terus menggeluti itu selama bertahun- tahun, dari mulai tanpa dialog sampai mendapat beberapa dialog. Karin juga mulai menyuruh Kara untuk ikut casting iklan, jalan yang tak mudah untuk keduanya hingga akhirnya Kara menjadi seperti sekarang.             Mata Kara masih menyalang tajam saat pintunya di ketuk pelan, tak lama wajah Karin muncul dibaliknya.             “Polisi ingin bertemu.” katanya. Kara mengangguk lalu berdiri dan berjalan gontai menuju ruang tamu. Di sana sudah ada dua orang pria berseragam. Kara  duduk di depannya dan keduanya menunjukkan tanda pengenalnya.             “Kami mencari tahu latar belakang tersangka. Ia hanya tinggal sendiri. Kami menggeledah rumahnya dan tidak menemukan apa- apa. Ini adalah foto istri dan anaknya. Apa Anda mengenal salah satunya?” seorang petugas polisi berperawakan kurus dengan garis wajah tegas mengulurkan selembar foto. Kara menatapnya baik- baik, lalu menggeleng pelan. Ia yakin, ia tak mengenal keduanya.             Ia hampir mengembalikan foto itu saat sesuatu menarik perhatiannya. “Bukankah ini berlian limited edition dari Silver Luxury?” Kara memerhatikan kalung yang dipakai gadis dalam foto itu. Ia memberikan foto pada Karin yang langsung mengangguk. Karin berdiri lalu masuk ke dalam walk in closet Kara.             “Ini kalung limited edition dari Silver Luxury karena Pak Hendrawan sendiri yang mendesain liontinnya.” Kata Kara tepat saat Karin kembali duduk di sebelahnya dan memerlihatkan kalung yang sama dalam kotak beludru warna biru.             “Pak Hendrawan bilang bahwa kalung itu hanya di buat tujuh buah. Yang satu ada pada istrinya, ini diberikan padaku karena waktu itu aku menjadi brand ambassador perusahaannya.”             Polisi di depannya memerhatikan kalung miliknya dan mencocokannya dengan kalung dalam foto.             “Lalu sisanya? Apakah di jual?” tanya pria di depannya.             Kara berpikir dengan ragu lalu menggeleng, “sepertinya tidak. Tapi aku tidak tahu pasti.” kata Kara akhirnya.             “Kalian harus menanyakan gadis itu, darimana ia mendapat kalung itu.” kata Karin.             “Gadis itu sudah meninggal.” kata salah satu petugas polisi. “ia meninggal besama ibunya dalam sebuah kecelakaan satu tahun lalu.”             Kara dan Karin tampak terkejut. Keduanya saling pandang.             “Mungkinkah Pak Hendrawan ada di balik ini semua?” Karin menatap petugas polisi yang menolak memberikan pendapat.             “Kami akan meninta keterangan pada Pak Hendrawan langsung. Terima kasih atas informasinya.”             Dua petugas polisi akhirnya pamit dan berjanji akan melakukan tugasnya dengan baik. Kara dan Karin saling bertatapan setelah dua punggung tegap itu menghilang di balik pintu.             “Menurutmu, apakah anak tersangka itu ada hubungan dengan Pak Hendrawan? Atau mungkin hanya sebuah kebetulan?” tanya Kara pada Karin. Karin menggeleng, sama sekali tak bisa berpendapat. Kasus ini masih terlalu abu- abu.   ***               Laki-laki itu menatap wanita paruh baya di depannya. Wanita dengan tangan dan kaki terikat, juga mulut yang ditutup paksa. Wanita itu menatapnya dengan tatapan sayu, ia terdiam setelah lelah meronta-ronta.             Laki- laki itu tersenyum sinis. Ia menatap wanita lemah di depannya baik- baik. Ia menatap garis- garis halus di wajahnya, tatapan sayu di matanya, tubuh kurus dengan telapak kaki yang penuh bercak darah yang sudah mengering.             Ia berdehem lalu menatap wanita lemah itu dengan kobaran amarah yang sudah tidak dapat di bendungnya. Ia berjongkok di depan wanita itu dan sebelah tangannya mengambil dagu wanita itu dan menolehkan ke kanan dan kirin dan menatapnya baik- baik.             “Anda pasti cantik saat muda.” Kata pria itu. “tapi bukan berarti anda bisa berbuat semaunya.” Ia mendorong wajah itu hingga kepala belakang wanita itu membentur ke dinding yang ada di belakangnya.             “Wajah cantik anda seharusnya digunakan sebagai mestinya.” Ia menjambak rambut wanita di depannya yang sudah kusut itu. Wanita itu meringis kesakitan. Kakinya yang terikat meronta. Pria itu merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan sebuah cutter dari sana. Ia mengeluarkan mata pisau cutter dengan mendorong dengan ibu jari sehingga pengaitnya bergeser.             Ia mengatur panjang mata pisau lalu mendekatkanya ke pipi wanita di depannya. Ia menyeringai lalu perlahan menyentuhkan ujung mata pisau pada pipi wanita itu dan menggoresnya hingga darah langsung keluar. Mewarnai pipi wanita itu dan mata pisau dalam tangannya.             Ia tersenyum sinis, lalu tawanya menggelegar. Ia mengusap darah di pipi wanita itu dengan ibu jarinya lalu menatapnya baik- baik. Ia mendekatkan ibu jarinya dan mencium bau khas nya.             Pria itu lalu  memikirkan dengan cara apa ia harus mengakhiri hidup wanita itu.             “Aku akan berpikir malam ini. Aku akan membuatnya sederhana, cepat dan minim rasa sakit.” Kata laki -laki itu. “sepertinya kamu sudah cukup menderita.”             “Aku punya tali, pistol, belati, kapak, gergaji, racun, dan masih banyak lagi. Kalau kamu sedikit waras, aku akan memberimu kebebasan untuk memilih ingin mati dengan apa.”             “Bukankah aku cukup baik hati?”  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN