CHAPTER LIMA BELAS

1618 Kata
Petra menatap selembar kecil foto ditangannya. Foto sebuah tato. Ia tidak pernah bosan mengamati foto itu meskipun foto itu mengingatkannya akan kenangan pahit yang terjadi beberapa tahun lalu. Petra masih menatap foto saat Kara mendekati dan duduk di sampingnya. “Foto apa itu?” tanya Kara sambil mengintip untuk melihat lebih jelas. “Kamu pernah melihat ini?” Petra akhirnya memerlihkatkan foto di tangannya ke Kara yang langsung mengambilnya. “Tato?” Kara menatap foto itu baik-Vbaik. “Oh, seperti tato milik Rayyan.” kata Kara akhirnya. Ia ingat, tato dalam foto itu sama seperti tato yang dibuat Rayyan saat laki- laki itu berlibur ke Rusia. Petra mengangguk lalu melihat Kara menatapnya dengan tatapan bingung. “Tato siapa itu? Rayyan akan sangat kecewa saat tahu ada yang membuat tato sepertinya.” kata Kara, “dia selalu merasa tato miliknya spesial dan tak akan ada yang pernah menyamai.” “Bagaimana kalau tato ini Rayyan yang membuat?” kata Petra. Dahi Kara berkerut. Tak mengerti arah pembicaraan pria di depannya. “bagaimana kalau Rayyan dengan sengaja memberikan tato ini.” “Ini gambar siapa? Siapa yang di tato? Dia baru mendapatkan tato itu awal tahun ini saat berlibur di Rusia.” “Awal tahun?” kali ini Petra menatap Kara baik- baik dan melihat gadis itu mengangguk yakin. Tidak mungkin, tato di tubuh dalam foto ini sudah ada beberapa tahun yang lalu. “Kamu yakin?” Petra melihat Kara sekali lagi mengangguk mantap. “Syuting akan berakhir minggu ini. Kamu boleh mengambil libur setelahnya.” Kata Kara. “Keadaan tidak memungkinkan aku untuk mengambil libur.” Kata Petra. “Aku hanya akan di rumah selama kamu libur. Tenang saja. Kamu pasti merindukan istrimu, kan?” Kara melihat Petra tersenyum sambil mengangguk. “Iya, aku sangat merindukannya.” Kara ikut tersenyum lalu menghela napas dan berkata, “Istrimu beruntung karena punya suami sepertimu.” Petra menoleh pada Kara dan menggeleng, “Tidak, aku yang beruntung punya istri sepertinya.” “Stop. Pujian- pujian seperti itu membuatku mual.” Kata Kara sambil tertawa. “Menikahlah. Kamu berhak bahagia.” Kata Petra. “Aku bahagia. Selama punya uang banyak, aku bahagia. Aku tidak perlu menikah.” Jawab Kara dengan nada tegas yang langsung membuat Petra terkekeh. “Kamu hanya belum menemukan orang yang tepat.” Kata Petra. Sudah, aku pikir aku sudah menemukan orang yang tepat. Pikir Kara. *** Kara menyelesaikan tugasnya dengan baik sehingga syuting itu bisa selesai tepat waktu. Kara sedang makan malam dengan semua tim setelah syuting hari terakhir berakhir. Resto yang sudah dipesan itu penuh oleh semua tim produksi. Kara berkumpul bersama semua pemain. Berharap mereka bisa dipertemukan di pekerjaan selanjutnya. Kara tak pernah benar- benar dekat dengan semua pemain yang terlibat di dalam filmnya. Mereka hanya akan menjalin pertemanan selama proses syuting berlangsung dan akan kehilangan kontak seiring berjalannnya waktu. Tak pernah ada yang benar- benar mengenal Kara. “Haruskah kita pergi berlibur?” Karin bertanya pada Petra dan Kara yang baru saja masuk ke mobil. “Kita harus memberi Petra cuti, dia perlu bertemu istrinya.” Kara memberitahu. Karin tersadar lalu mengangguk mengerti. “Aku akan tiduran di atas ranjangku sampai tubuhku sakit.” Kata Kara tepat saat roda mobil berputar. “Aku mungkin tidak akan keluar kamar selama seminggu lebih.” Kata Kara lagi. “Jangan ambil pekerjaan apapun kalau belum kuperintahkan.” Katanya pada Karin. “Bagimana kalau kita pergi minum. Sandra dan Kinan juga sedang makan malam bersama.” Ajak Karin yang langusng disambut anggukan oleh Kara di bangku belakang. *** Alih- alih pulang ke rumah, Petra menghentikan mobilnya di sebuah bar langganan Kara. Setelah menutupi sebagian wajahnya dengan masker dan kacamata hitam, Kara, Karin dan Petra masuk ke dalam bar dan langsung masuk ke dalam ruangan khusus yang sudah di pesan Sandra. Keduanya sudah ada di sana. “Tidak, aku harus menyetir.” Tolak Petra saat Kara memberikan gelas berisi wine padanya. “Benar. Kamu harus menyetir.” Kara akhirnya meminum isi gelas itu dalam satu tegukan. Tenggorokannya terasa hangat dan kepalanya mulai pening. Kara, Karin dan Sandra mulai kehilangan kesadaran. Hanya Kinan dan Petra yang masih terjaga dan bertanggung jawab untuk membawa mereka pulang. “Aku pikir aku tidak akan punya kesempatan minum lagi.” Kata Kara dengan nada lirih. “aku selalu ingin mati, tapi kenapa tetap merasa takut saat tahu ada yang mencoba membunuhku.” Kata Kara lagi. Ia melipat kedua kakinya di atas sofa. Kara memukul kepalanya sendiri dua kali, “harusnya aku senang karena pembunuh itu bisa mempersingkat hidupku yang membosankan.” Kara menggeleng, “tidak...tidak... aku masih punya ibuku. Aku tidak boleh mati dulu.” Katanya lagi, “yang aku inginkah adalah dunia berakhir, bukan mati sendirian.” “Jangan mati sebelum menikah.” Sandra meracau. “Kinan yang menikah setelah berpacaran bertahun- tahun dan kamu yang menikah tak lama setelah kenal sama- sama bercerai.” Kara menggeleng. “aku tidak mau menyerahkan hidupku pada laki-laki yang bisa pergi kapan saja.” Kara siap meneguk satu gelas lagi saat tangan Kinan mengambil gelas itu dari tangannya. “Sudah cukup.” Kata Kinan. “Lebih baik kita membawanya pulang.” Katanya pada Petra. Pria itu mengangguk setuju. Setelah merasa bahwa ketiganya sudah cukup mabuk, Kinan membopong Sandra menuju mobilnya, begitu juga dengan Petra. Ia membopong Kara dan Karin dengan tangan kanan kirinya hingga berhasil mendudukan keduanya di dalam mobil. Petra fokus pada kemudi. Dua orang dibangku belakang sudah tak bersuara. Karin sudah tertidur pulas sementara Kara menempelkan pipinya di kaca. Matanya menatap jalanan yang nyaris kosong. Petra menghentikan mobil di garasi rumah Kara. “Aku bisa jalan sendiri.” Kata Kara saat Petra bersiap menuntunnya. Ia akhirnya membopong tubuh Karin dan berjalan mendahului Kara yang sempoyongan. Setelah merebahkan tubuh Karin di kamarnya, ia kembali dan melihat Kara berjongkok di depan pintu utama. “Ayo.” Petra membantu Kara berdiri dan berjalan menuju kamarnya. “Kepalaku pusing.” kata Kara saat Petra mendudukkannya di tepi ranjang. Petra mengambil segelas air di nakas dan memberikannya pada Kara. Kara menghabiskan isi dalam gelasnya lalu melihat Petra membuka sepatunya dan menaruhnya di rak. “Tidurlah.” Kata Petra sambil duduk di kursi di depan Kara. Gadis itu terdiam. Matanya menatap tepat ke manik mata Petra. “Apakah kamu mencintai istrimu?” tanya Kara tiba- tiba. “Tentu saja.” Kata Petra, “sudah cepat tidur.” Katanya lagi, “dan jangan pernah membahas istriku lagi.” Kara memijit kepalanya yang terasa sakit. Petra tersenyum sumir lalu berdiri. Belum sempat beranjak, tangan Kara menahannya. Gadis itu berdiri, berjinjit lalu mengecup bibir Petra. Petra terpaku, ia melihat mata Kara yang tertutup lalu merasakan aroma alkohol di bibir gadis itu. Selama beberapa detik, bibir keduanya menempel. Petra yang pertama kali tersadar, pria itu bergerak mundur, membuat Kara nyaris limbung. Petra kembali mendekat lalu menidurkan Kara di atas ranjangnya. Ia menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh gadis itu. Mata gadis itu sudah terpejam, napasnya mulai teratur. “Aku tidak suka dicium saat mabuk.” Bisik pria itu. *** Petra keluar dari rumah itu pagi- pagi sekali. Ia berpamitan pada Karin yang sudah ada di ruang tamu pagi tadi. Ia memberi pesan untuk tak menerima tamu asing, paket dari orang tak dikenal dan jangan keluar rumah saat dirinya tidak ada. Karin mengangguk tanda mengerti dan menyuruh Petra menikmati cutinya dengan tenang. Ia yakin Kara akan aman selama ada di rumah. Petra berjalan menyusuri komplek perumahan Kara. Ia menatap sekeliling, ke rumah- rumah besar yang berderet di depan dan di samping rumah Kara. Rumah besar dengan gerbang tinggi dan tampak tak tersentuh. Komplek perumahan itu sepi, sepanjang perjalanannya, hanya terlihat beberapa mobil yang lewat hingga akhirnya Petra sampai di jalan raya. Petra menaiki bus hingga sampai di rumah Gerald. Pria itu ada di ruang tamu saat Perta masuk ke dalam rumahnya. Petra langsung duduk di samping Gerald dan menatap layar laptop di depannya. Sebuah tayangan youtube, video wawancara Rayyan. “Aku sudah menonton setiap tayangan Rayyan. Memang tato itu tidak ada, tato itu terlihat saat foto-foto liburannya di Rusia. Sepertinya apa yang Kara katakan benar.” Petra tampak berpikir. Matanya menatap layar di depannya baik- baik. “Mungkin Rayyan memang tidak ada hubungannya dengan tato di tubuh Kamila.” Kata Gerald lagi. “Oia, aku sempat mendatangi rumah Rayyan beberapa waktu lalu dan menyamar sebagai wartawan, asisten rumah tangganya bilang bahwa Rayyan sedang pergi liburan. Sepertinya memang tidak ada yang tahu bahwa dia sudah kembali.” Lanjutnya. “Tapi kalau memang Rayyan yang meneror Kara, apa motifnya?” Petra menatap Gerald. “Sakit hati, mungkin. Kara menolak lamarannya.” Jawab Gerald. Petra menggeleng, “ini lebih dari sakit hati.” “Kecurigaan kita pada Rayyan tidak berdasar. Untuk apa dia mencoba membunuh Kara? Dia baik-baik saja meskipun Kara menolak lamarannya.” kata Gerald. “Satu lagi...” Gerald mengutak- atik laptopnya dan menanyangkan sebuah video. “Ini CCTV di depan rumah Kara. Dan CCTV komplek yang hanya ada di persimpangan jalan. Ini adalah pengantar paket yang tidak bisa kita identifikasi...” Petra menatap layar laptop baik- baik, “lihat... saat pergi dari rumah Kara, motornya tidak terdeteksi melewati persimpangan jalan.” Jelas Gerald, “aku sudah menonton lebih dari sepuluh kali dan tetap tak melewati persimpangan manapun.” “Itu artinya...” Petra menggantungan kalimatnya. “Kemungkinan dia masuk ke salah satu rumah di sederet rumah Kara.” Gerald menyambung kalimat Petra. “Kita tidak tahu yang mana karena hanya rumah Kara yang dipasangi CCTV.” Petra tampak berpikir, itu berarti ada kemungkinan bahwa pembunuh itu tinggal di rumah itu. Itu berarti, pembunuh itu berada dekat dengan Kara dan mungkin tadi melihatnya pergi dari rumah gadis itu. Petra menggeleng- gelengkan kepalanya “Kara akan aman selama tetap di rumah.” Kata Petra dengan nada yakin. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN