CHAPTER EMPAT BELAS

1773 Kata
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Kara pada Petra dengan nada heran. “Aku mengamatinya waktu berjaga diluar. Dia di dekati seseorang lalu dititipkan sebuah kotak. Modus yang sama seperti penyebar video itu. Mereka memanfaatkan orang lain yang tidak tahu apa-apa.” jelas Petra. Petra berdiri lalu pergi keluar dari ruangan sementara Kara dan Karin mengangguk sambil saling pandang. “Dia hebat.” kata Karin. “sayang sudah punya istri.” Lanjut Karin sambil terkekeh, ia menoleh pada Kara yang masih menatap pintu yang baru saja menghilangkan sosok Petra. “Kamu menyukainya?” tanya Karin. Kara tersadar lalu menggeleng cepat. “Mana mungkin.” sangkal Kara. “Seandainya dia lajang?” Karin menatap Kara dengan tatapan intens. Kara berdecak lalu kembali menggeleng. “jangan bohong. Aku juga mungkin akan naksir dia kalau dia masih lajang.” kata Karin, “dia terlihat dingin, tapi sebenarnya hangat.” lanjutnya. Karin benar, pikir Kara. Pria itu memang terlihat begitu tenang dan dingin, namun beberapa kali kontak fisik sederhana yang pria itu lakukan padanya, membuatnya sadar bahwa pria itu begitu lembut dan hangat. “Mbak, barang- barang sudah dimasukkan mobil semua.” seorang panitia memberitahukan Karin bahwa hadiah- hadiah untuk Kara sudah dimasukkan ke dalam mobil. “Terima kasih.” Kata Karin sambil membereskan barang- barangnya lalu beriringan bersama Kara keluar dari restoran. Para wartawan sudah tidak terlihat, tapi masih ada beberapa remaja yang menunggu di luar resto yang langsung mengerubunginya dan memotretnya dengan ponsel. Para penjaga yang berada di luar langsung membuat barikade untuk melindungi Kara dan membawa gadis itu ke mobilnya. Belum sampai di mobilnya, sebuah suara mengagetkan semuannya. Semua mata tertuju pada seorang pria yang sedang terlibat baku hantam dengan pria lain. Kara mencoba melihat lebih jelas dan terkejut mendapati Petra tengah menghajar seorang pria dengan membabi buta. Semua orang terdiam, tatapannya terfokus pada perkelahian yang ada di sana, begitu juga dengan Kara yang kebingungan. Pria berjaket hitam itu tersungkur, ia mengelap sudut bibirnya yang berdaraah. Petra menarik jaket pria itu hingga berdiri lalu merogoh saku jaket pria itu dan mendapatkan sebuah revolver darisana. Orang- orang yang terpaku tiba- tiba tersadar. Karin yang pertama kali tersadar langsung mendorong Kara agar masuk ke dalam mobilnya yang pintunya sudah terbuka. Karin langsung menutup pintu mobil dengan sentakan keras. “Siapa yang menyuruhmu?” tanya Petra sambil mengacungkan moncong revolver ke dahi pria itu. Pria itu tertawa sumbang lalu menatap Petra tanpa rasa takut. Seakan ia memang tengah menunggu kematiannya. “Bunuh saja, sekarang atau nanti, gadis itu akan tetap mati.” kata Pria itu dengan nada tenang. Petra menggertakkan giginya karena menahan marah. Sementara di dalam mobil, Karin baru saja menghubungi polisi. Kara menatap keduanya dengan perasaan campur aduk. Dilihatnya wajah Petra yang penuh amarah, juga pria yang terduduk di depannya. Pria itu tertawa seakan tahu bahwa Petra tak akan berani menekan pelatuk revolver itu ke arahnya. “Jawab selagi aku bertanya baik- baik.” Sentak Petra. Lagi- lagi, pria itu tertawa, tidak merasa terintimidasi oleh tatapan penuh amarah pria di depannya. “JAWAB!!!” teriak Petra, tak lama suara letusan revolver yang diarahkan ke udara terdengar. Orang-orang berteriak ketakutan dan mulai menjauh, mencoba mencari tempat berlindung. Letusan yang membuat proyektil meluncur dari larasnya itu tak juga membuat pemilik senjata itu takut. “sayang sekali, hanya ada satu peluru di sana dan kamu menyia- nyiakannya.” *** Kara mondar- mandir di ruang tamu. Pikirannya campur aduk, Karin yang duduk di sofa tak kalah cemas. Lagi- lagi, Kara nyaris celaka jika saja Petra tak bergerak cepat. Ia pikir dengan mengetatkan penjagaan, Kara bisa lebih aman. Tapi ternyata pembunuh itu tak kenal takut, ia bahkan berani muncul di tengah kerumunan orang. Keduanya menoleh ke arah televisi yang menyala. Percobaan pembunuhan kepada artis Kara Karenina. Seorang pembawa berita menceritakan kejadian yang baru saja ia alami. Mereka juga menayangkan CCTV dari tempat kejadian. Di mana pria itu sudah berkeliaran di luar restoran, hingga pada akhirnya mendekat saat Kara hendak keluar dari resto. Pria itu terlihat menatap Kara dengan fokus lalu merogoh saku jaketnya dan terlihat mengeluarkan senjata api dari sana. Belum sempat pistol itu keluar sepenuhnya dari saku jaketnya. Petra sudah menendang pria itu hingga tersungkur ke aspal. Petra lalu kembali memukulnya lalu berlibat baku hantam hingga akhirnya Petra berhasil melumpuhkan pria itu. Suara pintu yang terbuka membuat fokus keduanya teralihkan. Petra muncul dari balik pintu dengan darah yang sudah mengering di beberapa bagian wajahnya. Pria itu duduk di depan Karin. “Kamu baik- baik saja?” Kara duduk di samping Petra dan menatap luka di wajah pria itu. Pria itu mengangguk pelan. mencoba menyakinkan Kara dan Karin bahwa ia baik- baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Bagaimana?” kali ini Karin bertanya. Petra memang langsung di bawa ke kantor polisi untuk menjadi saksi. “Dia mengaku kalau ingin membunuhmu, tapi belum mengaku motifnya apa dan kemungkinan dibayar oleh siapa. Polisi akan mengintrogasi lagi besok, kamu juga mungkin dipanggil sebagai saksi.” “Samuel akan melengkapi berkas- berkas teror dan percobaan pembunuhan sebelumnya kepada polisi. Kali ini, polisi harus bergerak cepat. Mereka akan memulai penyelidikan secepatnya.” kata Petra lagi. Karin beranjak dari ruang tamu dan kembali dengan kotak P3K. Kara masih memerhatikan wajah Petra yang penuh lebam. Tapi seperti biasa, pria itu tampak tenang, seakan tak merasakan sakit. Seperti tak terjadi apa- apa. Kara mengambil kotak yang ditaruh Karin di atas meja tepat saat ponsel Karin berdering. Karin keluar dari ruang tamu sementara Kara mengambil kapas dan menuangkan antiseptik. Petra menatap Kara yang mulai membersihkan luka di wajahnya. Air mata menggenang di kelopak mata gadis itu. “Jangan menangis.” kata Petra. “jangan pernah menangis di depanku.” kata Petra lagi. Kara menarik napas, mencegah air mata jatuh dari kelopak matanya. “Kalau begitu, jangan pernah terluka.” gumam Kara. Tangannya kini mengoleskan salep ke bagian wajah yang membiru. Petra menatap Kara yang terus menerus menarik napas panjang. Ia akhirnya merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya, tak butuh waktu lama, Kara akhirnya terisak. “Aku tidak tahu kenapa aku menangis.” lirih Kara. Petra mengusap pundak gadis itu. “aku mengkhawatirkan diriku, kamu dan semua yang ada di sekelilingku.” katanya dengan nada terbata. *** Petra menatap selembar kertas yang diulurkan sahabatnya. “Penumpang atas nama Rayyan sudah kembali lebih dari sebulan yang lalu.” kata Gerald pada Petra. Gerald mendapatkan manifest penumpang pesawat dari sahabatnya yang bekerja di maskapai. Cukup sulit memaksa sahabatnya karena daftar penumpang termasuk rahasia dan tidak boleh disebarkan pada siapapun. “Berarti semua postingannya di media sosial?” “Bohong. Dia hanya liburan beberapa hari lalu kembali. Tapi tidak ada yang tahu.” Petra tampak berpikir sejenak, “kita tidak punya bukti yang cukup kuat. Kita harus menunggu introgasi polisi besok.” Petra melihat pria di depannya mengangguk sambil menyesap kopi dalam gelasnya. Keduanya duduk di beranda kediaman Kara. “Aku akan meminta rekaman CCTV dari tiap persimpangan di komplek ini besok. Mungkin akan membantu.” kata Gerald. “kamu yakin dia Rayyan?” Gerald melihat Petra tampak ragu, lalu mengangkat bahu. “Katamu tato yang sama ada pada penculik Kara waktu itu.” Petra menggeleng, “Tato itu tidak ada pada penculik itu.” “Kamu gila? Lalu kenapa kamu menjadi pengawalnya? Kamu membahayakan nyawa untuk sesuatu yang belum pasti.” sergah Gerald. Mencoba menyadarkan sahabatnya bahwa ia sudah salah langkah. Petra menelan ludah, lalu teringat bagaimana wajah ketakutan Kara malam itu. Ia tidak tahu apakah orang dibalik ini adalah Rayyan, orang yang juga sedang dicarinya. Jika bukan, jelas ia membuang- buang waktu dan membahayakan nyawanya sendiri. Namun, ia tidak punya pilihan selain bertahan. Ia tidak mungkin meninggalkan Kara saat ini. “Jangan sampai kamu kehilangan fokus.” Gerald mengingatkan. *** Kara sudah bersiap pagi- pagi sekali. Ia sudah rapi dan siap pergi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Ia berharap semuanya bisa berakhir hari ini. Ia berharap pria itu mau mengakui siapa yang ada di balik semuanya, sehingga polisi bisa bergerak secepatnya untuk menangkap pelakunya. Ia harap semuanya berjalan lancar. Ia tidak sanggup menanggung lebih banyak beban. Sepertinya energinya terkuras habis setiap harinya. Ia ingin hidupnya kembali tenang. Ia ingin menikmati hari-harinya kembali, tanpa rasa takut. Ia ingin merasa aman bersama orang di sekitarnya. Kara keluar dari kamar dan melihat Petra dan Karin sudah ada di meja makan. Ia menghampiri keduanya yang juga sudah dalam keadaan rapi. Kara mengambil roti isi yang sudah disiapkan Karin. Ia menatap Petra yang wajahnya masih dihiasi lebam, pria itu tengah menikmati kopi hitamnya di dalam cangkir berornamen bunga. Dering ponsel memecah keheningan. Karin mengangkat telepon yang masuk lalu terpaku. Ia menatap Kara dan Petra secara bergantian. “Kenapa?” tanya Kara saat melihat Karin melemparkan raut wajah tak terbaca. “Tersangka kemarin bunuh diri.” lirih Karin. Potongan roti yang ada di tangan Kara jatuh seketika. Ia berteriak lalu mengambil gelas yang ada di depannya dan melemparkannya hingga membentur dinding dan pecahannya jatuh di atas lantai marmer rumah itu. Karin dan Petra menatap d**a Kara yang naik turun. keduanya tahu apa yang dirasakan Kara. Petra mengusap pundak Kara sementara Karin membereskan pecahan gelas yang sudah berserakan di lantai. *** Ketiganya menatap jenazah pria yang ada di depannya. Sama- sama tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Satu- satu orang yang bisa menjadi kunci untuk mengatahui siapa dalang dari semua yang terjadi pada Kara ternyata lebih memilih bunuh diri dibanding memberitahukan kebenaran. “Dia meminum racun, entah didapat dari mana.” kata Polisi yang ada di sana. Karin mengusap pundak Kara. Lagi- lagi, mereka harus menelan kecewa. Pembunuh itu masih berkeliaran, mengintai mereka dan mungkin ada di sekitar mereka. “Aku sudah memberikan berkas lengkap ke kantor polisi. Mereka akan tetap menyelidiki kasus ini.” kata Samuel. Kara mengangguk meskipun tahu kalimat Samuel tidak juga menenangkan hatinya. Kara, Karin dan Petra dalam perjalanan ke lokasi syuting. Syuting film itu dijadwalkan selesai seminggu lagi dan Kara akan memberikan yang terbaik. Dia tidak akan membiarkan masalah itu menganggu kualitas aktingnya. Ia yakin, selama Petra di sampingnya, ia akan baik- baik saja. Yang perlu ia lakukan hanya melakukan kegiatan seperti biasa dan bersikap professional. Lokasi syuting terlihat lebih ramai dari biasanya. Puluhan wartawan ada di sana dan langsung mengerubung saat Kara keluar dari mobil. Kara hanya mengulas senyun, ia tak bersedia berkomentar sehingga Petra membantunya untuk melewati kerumunan manusia dengan kamera dan perekam suara itu. Kara mulai muak melihat wartawan itu. Gerombolan itu terus membututinya ke mana pun ia pergi. Privacynya mulai terusik. Ia mulai membenci sorot blitz dan pertanyaan yang terus diberondong kepadanya tanpa empati. Bagaimana tanggapan Anda mengenai tersangka yang bunuh diri? Apa anda tahu kira-kira motif percobaan pembunbuhan terhadap Anda? Apakah Anda merasa punya musuh? Bagaimana rasanya hampir menjadi korban pembunuhan? TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN